Damara membuka pintu kamar sambil membawa air minum, sudah ada Reno tengah duduk termenung di samping Alya yang tertidur. "Ren, lebih baik kamu pulang. Lagian kan Alya sudah tidur," ucap Damara mengingatkan. "Iya, sebentar lagi," balas Reno tanpa menolehkan kepalanya. Damara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, sikap perhatian Reno pada Alya menyentuh hatinya terharu. Ia sangat bersyukur, ada orang yang sangat perhatian pada anaknya. Ketika pukul 09.18 pagi tadi, Damara menghubungi Reno kalau Alya pingsan karena penyakit TBC—tuberkulosis—yang dideritanya kambuh. Dengan sigap, Reno meminta izin pada guru pengajar dan wali kelas pulang lebih awal ingin menemani Alya. Dia bahkan belum pulang, makan pun hanya dengan roti isi lantaran tak ingin jauh dari Alya. "Ya sudah kalau begitu, tante keluar dulu ya?" Damara membiarkan Reno di sini lebih lama. Reno sungguh mengkhawatirkan kesehatan Alya, gadis kecil ini anak tunggal sama dengannya. Karena kedekatan keduanya, Reno sudah menganggap Alya seperti adik kandungnya. Tidur Alya begitu lelap, deru nafasnya teratur dan terlihat tenang. Di usianya yang masih sangat muda, Reno sungguh tidak terima kenapa Tuhan harus menyimpan penyakit pada tubuh Alya. "Alya, kamu yang kuat ya? Kamu pasti bisa kok sayang, Kak Reno ada di sini sama kamu. Jadi ... Jangan takut." tangannya membelai lembut puncak kepala Alya, Reno benar-benar khawatir dan takut terjadi apa-apa. Karena hal itu, Reno jadi lupa dengan ponselnya. Melihat jam beker di atas meja belajar Alya, ternyata sudah pukul 20.00 malam. Ketika mengecek ponsel, ternyata mati gara-gara lowbat. Reno segera keluar kamar berniat meminjam casan pada Damara. Damara sedang di ruang tamu sambil menonton televisi bersama Ari—suaminya, ternyata mereka tengah menonton acara Sule dan Andre. "Tante," panggil Reno. "Kenapa Reno?" tanya Damara. "Pinjem charger hp." "Ohh, coba kamu lihat di atas kulkas. Kayaknya ada deh di situ satu." "Iya tante, makasih." Sepertinya hampir di setiap rumah selalu ada casan yang diletakkan atas kulkas, tidak beda jauh dengan kebiasaan orang-orang di rumah Reno. Ponsel Reno mulai menyala ketika disambungkan dengan kabel, ia langsung menekan tombol power barangkali ada pesan masuk. Matanya membulat saat melihat notifikasi pesan yang begitu banyak, siapa lagi kalau bukan ulah Melan. Ada 13 pesan yang belum terbaca, Reno jadi merasa bersalah karena sempat melupakan keberadaan gadis itu. 06.50 Melaniezella ❤: gua udah nyampe di sekolah, jangan telat yaaa 10.10 Melaniezella ❤: reno dimana? gak istirahat? Melaniezella ❤: ke mana sih? kok ditelepon gak diangkat²? Melaniezella ❤: lu marah sama gua? gua ada salah ya? gua minta maaf :( 10.19 Melaniezella ❤: reno? Melaniezella ❤: seriusan gak mau bales chat gua? Melaniezella ❤: maaf udah bikin salah :(((( Melaniezella ❤: renoo iiihhh bales chat gua kek, seenggaknya ada tanda dilihat dong ngeselin banget --" 11.52 Melaniezella ❤: astagfirullah masih belum dibales Melaniezella ❤: kemana sih? apa jangan² lu lagi sakit ya gak masuk sekolah? Melaniezella ❤: gua mau solat dhuhur dulu, semoga lu mau bales chat gua aaaamiiiiin 15.23 Melaniezella ❤: gua balik duluan ya Melaniezella ❤: doain gua ya ren, semoga gak terjadi apa². maaf udah bikin salah tanpa sadar :) Isi pesan terakhir sedikit mengganggu Reno, kenapa Melan harus mengatakan itu seakan berpisah darinya? Tapi sungguh, ia tidak habis pikir dengan anggapan Melan yang menganggap dirinya marah. Tengah asyik menatap isi chatan, sebuah telepon masuk atas nama Cinta Sarasvati. Tumben sekali gadis itu meneleponnya, Reno tidak basa-basi untuk segera mengangkatnya. "Halo, Ren? Lu di mana?" Cinta langsung melempar pertanyaan, suaranya terdengar tergesa-gesa. "Gua lagi di luar, kenapa?" balas Reno. "Melan masuk rumah sakit." "Hah?! Kenapa? Dia sakit?" "Ceritanya panjang, sekarang lu ke dateng aja ke rumah sakit. Alamatnya gua kirim lewat chat." "Oke, gua ke sana sekarang." Gila, seharian tidak berkabar dengan Melan langsung dihadiahi kabar buruk. Reno jadi merasa bersalah tidak memberi kabar padanya sama sekali, ia sudah bersikap kurang ajar berani mengabaikan gadis itu. "Om, Tante. Reno pamit dulu, ya?" ucap Reno sambil memakai jaketnya. "Hati-hati di jalannya, jangan kebut-kebutan," ucap Damara. "Iya, assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." *** Begitu memarkirkan motornya depan rumah sakit, Reno berlari mencari keberadaan Cinta. Ternyata ada Gilang juga di sana, ia pasti datang untuk menemani Cinta. Reno mengatur nafasnya lebih dulu sebelum mendekat, ia juga sedikit gugup untuk menanyakan keadaan Melan. Cinta mendongak begitu menyadari kedatangan Reno, tak menyangka kalau Reno akan datang tepat waktu. "Gimana kondisi Melan sekarang?" tanya Reno, dadanya masih naik turun karena kelelahan. Cinta menggelengkan kepalanya. "Belum tahu, dokternya belum keluar." "Ah, sial," umpat Reno mengusap wajahnya kasar. "Duduk, tenangin diri dulu," titah Gilang. Reno mendudukan diri di dekat Cinta dengan perasaan gusar, hatinya gelisah tidak bisa tenang sama sekali. "Ren, maafin Melan, ya?" ucap Cinta tiba-tiba. "Maaf? Soal apa?" tanya Reno. "Sebenernya beberapa hari belakangan ini ... Melan diganggu sama Angel," jawab Cinta. "dia nyuruh Melan putusin lu." Reno tidak langsung mengatakan sesuatu, tapi dari sorot matanya sudah jelas ada kemarahan yang tengah ditahan olehnya. Ia masih menunggu kelanjutan cerita Cinta. "Gua udah nyuruh dia buat kasih tahu lu, tapi dia tetap aja gak mau." Cinta menghela nafasnya dengan wajah tertunduk. "Angel yang bikin Melan masuk rumah sakit?" tanya Reno langsung, ia sudah bisa menyimpulkan penjelasan yang Cinta sampaikan. Cinta menganggukan kepalanya tanpa berniat menutupi, sedari awal ia memang tidak setuju dengan Melan. "Penjaga sekolah nemuin Melan dikurung dalam kamar mandi, sebelumnya juga dia bilang mau ke sana pas mau balik," balas Cinta. "Melan pingsan, bajunya juga basah. Gua yakin, ini ulah Angel." "Lu udah hubungin orang tua Melan?" "Udah, tapi orang tua Melan lagi di luar kota. Mungkin, sekarang lagi di jalan." Bertepatan dengan hal itu, pintu terbuka menampakkan dokter yang baru selesai memeriksa Melan. Reno langsung saja berdiri mendekati sang dokter. "Gimana kondisinya, Dok?" "Pasien mengalami dehidrasi dan tekanan darahnya 90. Tapi untuk sekarang, kondisinya sudah mulai membaik meskipun belum sadar," tutur dokter menjelaskan. "Saya boleh jenguk ke dalem, Dok?" tanya Reno lagi. "Silakan, tapi hanya diperbolehkan satu orang saja dengan pasien." "Baik, Dok. Terima kasih." Setelah kepergian dokter, Reno masuk lebih dulu sendirian. Hari ini, Reno harus melihat dua orang yang paling disayanginya dalam kondisi sakit. Reno menarik salah satu kursi ditempatkan di samping Melan, tangannya merambat menggenggam tangan Melan yang terasa dingin. Ia sama sekali tidak menyangka akan melihat Melan dalam kondisi yang memprihatinkan. "Mel ... Gua minta maaf," lirih Reno. Melihat wajah gadisnya yang pucat pasi membuat hatinya terluka, Reno merasa gagal menjadi kekasih yang baik. "Kenapa lu gak jujur aja sama gua? Gua bisa aja nyingkirin Angel detik itu juga." Reno menempelkan punggung tangan Melan pada pipinya, rasa rindu ia salurkan lewat kehangatan ke tangan mungil gadisnya. Andai saja ia tidak sampai lupa mengabari Melan, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Reno benar-benar merasa sangat bodoh, tidak berguna, Melan berada dalam bahaya dan dirinya malah tidak ada. Emosi Reno kembali memuncak ketika mengingat penuturan Cinta sebelumnya, rupanya Angel ingin bermain-main dengannya. Sama seperti Gilang, Reno juga bukan laki-laki yang baik hati meski pada seorang wanita. Ada ponsel Melan di atas nakas, layarnya terlihat retak dan mati. Reno sangat penasaran, bagaimana rinci kejadian yang sebenarnya. Sungguh, ia tidak akan ragu-ragu membalas perbuatan Angel meski dengan cara yang kasar. "Jangan larang gua buat ladenin permainan ini, Mel. Lu cukup mantau aja dari sini dan lihat hasilnya." Reno mengecup punggung tangan Melan sebelum pergi, ia juga membelai lembut pipinya sambil tersenyum getir. "Gua pulang dulu, gua mau nyiapin hadiah spesial buat kesembuhan lu."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus boss
30/06
0keren bingit iima
05/01
0keren!!!
08/12
0Lihat Semua