logo text

Bab 45 My Opinion

Berbincang-bincang memang selalu memakan waktu tanpa sadar, sekitar pukul 22.20 pun Rangga baru kembali ke rumah.
Rupanya Gilang cukup menyenangkan juga diajak berbicara, meski image nya memang sedikit bermasalah bagi Rangga.
Jaket merahnya diletakkan sembarang di punggung kursi, usai berkeliling dengan si motor ternyata haus juga. Paling cocok dengan air dingin di kulkas, mungkin tiga gelas tidak cukup untuk meredakannya.
"Kakak abis dari mana?"
Muncul tiba-tiba di balik pintu kulkas hampir saja membuat Rangga jantungan, belum lagi rambut panjang adiknya yang berantakan menambah kesan horor saat melihatnya.
Berbeda dengan Cinta menatap Rangga dengan wajah datar, sepertinya ia sudah tidur lalu terbangun.
"Ngagetin aja lu, Dek. Sisiran dulu kan bisa, malah jadi kayak hantu perawan," celetuk Rangga.
Suara pukulan begitu jelas terdengar, Cinta memukul kakaknya tepat di belakang leher menggunakan telapak tangannya.
"Sembarangan, lagian kan gua nanya abis dari mana. Bukannya jawab malah ngeledekin," ucap Cinta, tangannya mengambil botol minum lain dengan kesal.
Rangga menutup pintu kulkas lalu menempatkan dirinya duduk di kursi. "Gua abis dari luar."
"Ngapain?" Cinta mulai meneguk minumannya.
"Abis ngobrol sama Gilang."
Byuuurrr
Pemandangan yang mirip sekali persis dengan adegan di berbagai film, namun ini sangat natural melebihi apa pun. Semburannya mirip seperti orang yang sedang dijampi-jampi oleh dukun.
Untungnya Rangga bukanlah lelaki yang suka mengumpat dan berkata kasar, tapi raut wajahnya menunjukkan kalau ia tengah menahan emosi. Dengan tenang, ia mengambil tissue di atas meja makan mengelap wajahnya.
Sementara Cinta tidak merasa bersalah sama sekali, ia masih memandangi kakaknya dengan ekspresi terkejut.
"Kok bisa? Emang ketemu di mana? Kakak kenal Gilang? Sejak kapan? Perasaan baru dateng," tanya Cinta bertubi-tubi.
"Gua gak kenal dia, baru ketemu tadi di jalan," jawab Rangga sempat terkejut melihat respon Cinta. "soalnya gua tadi hampir dibegal orang."
Sekarang Cinta pindah tempat ikut duduk di dekat Rangga, akibat dari rasa penasarannya membuat Cinta terlihat seperti ibu-ibu yang tak mau ketinggalan gosip terbaru.
"Begal di mana, anjir? Tapi lu gapapa kan?" panik Cinta, matanya menatap Rangga dari ujung kepala sampai ujung kaki memastikan tidak ada luka yang menempel di tubuhnya.
"Gua gapapa, itu juga berkat si Gilang," balas Rangga santai.
"Emang si Gilangnya ngapain?"
"Ternyata yang begal tadi masih anak buahnya, jadi ya ... Gak berani macem-macem."
Dugaan Rangga ternyata tidak meleset, Cinta dan Gilang memang sangat dekat. Cara keduanya bereaksi pun sangat tidak wajar, ini jadi terlihat mulai menarik.
"Alhamdulillah, syukur lu gak kenapa-kenapa mah." Cinta menghela nafasnya lega. "Lagian lu ngapain kelayapan malem-malem? Baru dateng tadi juga."
"Bosen, di rumah juga ketemunya lu terus kan?"
"Dih, resek ya lu, Kak."
Sepertinya sebuah kesalahan karena sudah mengkhawatirkan kakaknya itu, Cinta lupa kalau kakaknya ini sangat menyebalkan melebihi siapa pun.
"Gua mau nanya deh," ucap Rangga.
"Apaan?" balas Cinta ketus.
"Lu ada hubungan apa sama Gilang?"
Jawaban yang Cinta berikan adalah diam. Selain terkejut dengan pertanyaannya, hal lainnya karena ia juga tak tahu harus menjawab apa.
Untuk apa Rangga menanyakan hal itu?
"Apaan sih nanyanya malah begitu," ucap Cinta menghindari kontak mata dengan Rangga.
Akan berbahaya jika Rangga mengetahui hubungannya dengan Gilang, bisa-bisa ia mengejeknya terus menerus setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu.
Sikap adiknya sekarang tentu bisa ditebak oleh Rangga, bahkan ini terlalu jelas. Cara Cinta menanggapi pembicaraannya tentang Gilang tadi pun sangat antusias, lalu sekarang adiknya itu gugup berusaha mengalihkan pembicaraan. Rangga yakin, keduanya ada sesuatu.
"Mau denger pendapat gua gak?" tanya Rangga tiba-tiba.
Cinta hanya menggerakan matanya tanpa membalas dengan ucapan.
"Menurut gua ... Gilang orangnya baik."
Cinta menaikkan satu alisnya. "Kenapa gitu?"
"Hmm ... Dia mau berhentiin motornya cuma buat nolongin gua, terus ... " Rangga menjeda kalimatnya sambil tersenyum. "dia peduli sama lu."
Kalimat terakhir sukses membuat wajah Cinta bersemu merah, sejujurnya ia sangat senang karena sang kakak menilai Gilang baik. Namun ia selalu tidak bisa menahan diri, ia tak bisa mengontrol perasaannya yang terus berdebar-debar.
"Emang lu tahu dia peduli sama gua dari mana?" tanya Cinta, ia berusaha bersikap normal sebisa mungkin.
"Kepo banget sih adek gua, biasanya juga cuek bebek. Tapi giliran yang gini antusias banget, kenapa coba?"
Gemas sekali melihat sikap Cinta seperti ini, Rangga langsung mengacak-acak rambutnya hingga membuat adiknya kesal.
"Ih, serius, Kak!" Cinta mengerucutkan bibirnya.
Bukannya menjawab, Rangga malah melangkah pergi meninggalkan Cinta yang masih bersungut-sungut.
"Males ah, gua ngantuk. Besok tanya langsung aja ke orangnya, suka makan bareng kan?"
Hampir saja Cinta ingin melemparkan perabotan yang ada di dapur, untung pikirannya belum terbang terlalu jauh.
Langkah Rangga tertahan sesaat kemudian berbalik menatap Cinta, pasti ia akan melakukan hal yang membuat Cinta tambah kesal.
"Lain kali pinter dikit cari gantungan kunci, masa singa warnanya pink."
"SUMPAH LU NGESELIN BANGET YA, KAK!"
Kesabaran Cinta sudah habis, ia mengejar Rangga yang sedang tertawa puas. Padahal hari sudah hampir larut malam, tapi mereka malah kejar-kejaran seperti film kartun 'Tom & Jerry'.
Namun sang kakak berhasil masuk ke kamarnya dengan selamat, tanpa mendapat pukulan dari Cinta.
Nafas Cinta tersenggal-senggal, rasa kesalnya berakhir menendang pintu kamar Rangga cukup keras.
"Awas lu ya, besok pagi!" ancam Cinta menggedor-gedor pintu kamar.
"Sorry, kakak gak denger," ledek Rangga.
Menyebalkan, lama-lama Cinta bisa nekat menghancurkan pintu kamar kakaknya menggunakan kapak.
Kali ini Cinta membiarkan Rangga selamat, suasana hatinya sedang baik jadi ia memutuskan masuk ke dalam kamar juga. Sebelum menjatuhkan diri ke kasur, Cinta memeluk boneka pemberian Gilang terlebih dahulu.
"Kok bisa gitu, ya? Gilang ketemu sama kakak gua di jalan? Aneh banget."
Cinta jadi mengingatkan kembali saat pertama kali jumpa dengan Gilang, siapa sangka pertemuan itu akan menjadi hal manis seperti sekarang.
Terlalu indah untuk jadi nyata, seperti drama Korea yang diinginkan terjadi di kehidupan asli.
Lagi-lagi jantung Cinta berdebar, tanpa sengaja mengingat adegan ciuman pertamanya dengan Gilang di apartemen. Cinta hampir saja pingsan di tempat saat itu, rasanya hampir tenggelam di tumpukan bunga yang indah.
Kesan yang didapat dari kedua orang tuanya dan Rangga sangat baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai hal yang tidak direstui.
Perlahan senyuman Cinta memudar digantikan perasaan gelisah, ia mengeratkan pelukan bonekanya dengan wajah murung.
"Semoga aja masalah Gilang sama ayahnya cepet selesai dan ... Hubungan kita gak akan pernah berubah sampai kapan pun."

Komentar Buku (222)

  • avatar
    Chrystian Lomboris

    bagus boss

    30/06

      0
  • avatar
    MineBfly

    keren bingit iima

    05/01

      0
  • avatar
    EmeberfellCrystalla

    keren!!!

    08/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru