Episode 28

Dan apa yang dicemaskan Dinan pun akhirnya terjadi. Ruby mulai mabuk dan bicara melantur, ternyata kadar alkohol di dalam salah satu minuman khas Bali itu terlalu tinggi untuk Ruby. Apalagi dia bukan seorang peminum alkohol aktif, dia hanya pernah beberapa kali minum di bar saja.
Ruby meletakkan kepalanya yang terasa berat di atas meja, matanya sayu dan wajahnya memerah.
"Itu kan, saya bilang juga apa!"
"Sebaiknya kau pergi dari sini! Pergi yang jauh!" Ruby meracau sembari menunjuk-nunjuk ke arah Dinan, dia berhalusinasi jika saat ini Arkan lah yang duduk di hadapannya.
"Ruby!"
"Aku tidak mau melihatmu lagi! Pergi sana!" Seru Ruby dengan suara yang meninggi, tapi Dinan tak peduli.
Dinan beranjak dan mendekati janda cantik itu.
"Kita akan kembali ke kamar hotel. Ayo berdiri!" Pinta Dinan sambil menarik tangan Ruby.
Ruby berdiri dengan susah payah dan nyaris terjatuh, untung Dinan sigap menahannya.
Tapi wanita itu menepis tangan Dinan. "Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!"
"Berdiri saja tidak bisa, bagaimana mau berjalan ke hotel?"
"Aku bisa, kok. Sumpah, deh! Aku bisa!" Ruby menjawab Dinan asal.
Tanpa perlu persetujuan, Dinan menggantungkan tas Ruby di lehernya, kemudian menggendong wanita itu di belakang badannya.
"Ternyata dia berat juga!" Gerutu Dinan.
Ruby pun refleks mengalungkan lengannya di leher Dinan dan menyandarkan dagunya di pundak lelaki itu. Mendadak jantung Dinan berdebar-debar karena aksi Ruby, tenaganya pun bertambah berkali-kali lipat. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini.
"Baiklah! Aku akan menggendong mu sampai ke hotel." Ujar Dinan penuh semangat.
Mereka meninggalkan kafe, namun tanpa sepengetahuan Dinan, ada seseorang yang memperhatikan mereka kemudian memotret menggunakan ponselnya. Orang misterius itu juga ikut beranjak lalu mengikuti mereka secara diam-diam.
Sepanjang jalan menuju hotel, Ruby terus mengoceh, membuat Dinan merinding dan merasa geli karena hembusan napas wanita itu menerpa leher serta telinganya. Namun hal itu membuat Dinan bahagia karena bisa menikmati adegan romantis ini bersama wanita yang telah berhasil menyentuh hatinya.
Beberapa orang yang melihat mereka saling berbisik karena merasa iri dengan keromantisan yang dipamerkan dua insan itu. Tapi Dinan tak peduli, dia terus berjalan dengan bibir yang menyunggingkan senyuman dan masih tidak menyadari jika seseorang tadi sedang mengikuti mereka sampai ke depan kamar hotel.
"Ini akan menjadi kabar paling seru." Gumam orang misterius itu setelah berhasil mengambil beberapa foto Dinan dan Ruby saat masuk ke dalam kamar yang sama.
Di dalam kamar, Dinan langsung merebahkan Ruby di atas ranjang, wanita itu memejamkan matanya dan ingin tidur. Sejenak Dinan memperhatikan wajah cantik Ruby dan mengelus lembut pipi mulusnya yang merona.
"Wajah ini yang membuatku jatuh hati." Ucap Dinan. Matanya terus memindai setiap inci dari wajah yang selalu hadir dalam ingatannya itu.
Tatapan mata Dinan pun terfokus pada bibir merah muda milik Ruby, perlahan-lahan dia mulai mendekatkan wajahnya dan hendak mencium bibir wanita itu.
Tapi tanpa di duga, Ruby tiba-tiba menggeliat dan membuka mata, membuat Dinan mengurungkan niatnya lalu seketika menjauh dari janda cantik itu.
Ruby bangkit dari pembaringan dan duduk di tepi ranjang, karena pengaruh minuman tadi, dia merasa kepanasan meskipun AC nya sudah menyala.
"Panas sekali." Keluh Ruby, dia mulai membuka satu persatu kancing baju yang dia kenakan.
Melihat itu, mata Dinan melotot dan sontak menahan tangan Ruby agar tidak melanjutkan aksinya.
"Kamu mau apa?"
"Mau buka baju, gerah tahu!" Rengek Ruby manja.
"Jangan lakukan itu! Berbahaya!"
"Apaan, sih?" Ruby lagi-lagi menepis tangan Dinan.
Dinan masih terus berusaha menahan tangan Ruby agar wanita itu tidak melanjutkan perbuatannya.
"Hei, sadarlah! Ada saya di sini, jadi saya mohon jangan lakukan itu!" Dinan mencoba menyadarkan Ruby, tapi sepertinya sia-sia.
"Tapi di sini panas, aku kegerahan. Mana bisa tidur kalau begini."
"Baiklah, saya akan membuat ruangan ini lebih dingin agar kamu tidak kepanasan lagi. Tapi tolong jangan buka pakaian kamu! Saya takut tidak bisa menahan diri." Dinan yang mulai panik mencoba bernegosiasi dengan Ruby.
"Ya sudah, cepat lakukan! Aku mau tidur." Pinta Ruby sembari mendorong tangan Dinan yang masih memegangi tangannya.
Dinan melepaskan tangannya dari tangan Ruby, lalu bergegas mencari remote control AC yang entah ada di mana. Tapi sepertinya Ruby tidak sabar, karena begitu Dinan menjauh darinya, janda cantik itu langsung membuka baju lalu mulai membuka resleting celana panjangnya.
Dinan yang sudah mengatur suhu AC agar lebih sejuk pun berbalik memandang Ruby, betapa terkejutnya dia saat melihat wanita itu tidak lagi mengenakan pakaian, hanya daerah pribadinya saja yang masih ditutupi dalaman.
Mata Dinan sontak membulat sempurna dan berulang kali menelan ludah, darahnya berdesir dengan detak jantung yang tak karuan saat melihat kemolekan tubuh Ruby terpampang di depan matanya.
"Ya Tuhan, kuatkan aku!" Ujar Dinan. Matanya sama sekali tak berkedip.
Sebenarnya Dinan sudah sering melihat wanita hanya memakai bikini di pantai, tapi yang jadi permasalahan, kali ini dia terjebak di dalam kamar dan hanya berdua. Apalagi dia memiliki rasa kepada wanita di hadapannya itu, sebagai pria normal, ini benar-benar godaan besar.
Dengan santainya Ruby kembali berbaring dan tidur di atas ranjang. Sedangkan Dinan, mulai berjalan mendekati wanita itu.
***

Komentar Buku (267)

  • avatar
    Sya Salim

    ceritanya best

    17/04/2022

      1
  • avatar
    Lovely

    bagus ceritanya...... gak sabar nunggu episode lanjutannya....cepat up dong 😁

    20/01/2022

      0
  • avatar
    azaro 2septian

    wah semakin seru nah ceritanya sangat bagus g bnyk ML nya aku mersa puas jd tambah penasaran coba cepet lanjut g sabaran nih

    19/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru