Episode 29

Di sebuah kamar apartemen mewah di tengah kota Paris, seorang wanita cantik dan seksi sedang duduk di atas ranjang sambil memandang kesal layar ponselnya. Baru saja seseorang mengirimkan foto-foto Dinan dan Ruby yang sedang berada di Bali.
"Aaarrgghh!!! Sialan!!!" Teriaknya geram, sembari melemparkan ponselnya ke cermin meja hias, hingga membuatnya pecah berkeping-keping.
Seorang wanita paruh baya bernama Lena berlari tergopoh-gopoh menghampirinya karena mendengar suara cermin pecah itu.
"Samara! Ada apa?" Tanya Lena cemas.
"Aku kesal, Ma." Jawab wanita bernama Samara itu.
"Kesal kenapa?"
"Ada yang mengirimkan foto Dinan bersama wanita lain di Bali, mereka berdua masuk ke kamar hotel yang sama." Adu Samara. Dia benar-benar merasa marah dan cemburu.
"Astaga! Dinan berani melakukan hal itu?" Lena memekik tak percaya.
"Iya, Mama."
"Siapa yang mengirimkan foto-foto itu ke kamu?"
"David."
Lena mengernyitkan keningnya. "David teman SMA kalian itu, ya?"
Samara mengangguk dengan wajah cemberut.
"Sayang, bisa saja itu hanya rekayasanya David untuk merusak nama baik Dinan. Sebab mereka kan tidak akur sejak di bangku sekolah, jadi kamu jangan percaya begitu saja!"
"Tidak, Ma. Aku yakin itu bukan rekayasa." Sanggah Samara. "Pokoknya aku mau pulang ke Indonesia dan secepatnya menikah dengan Dinan."
"Sayang, tenanglah dulu!"
"Aku tidak bisa tenang, Ma. Aku tidak mau Dinan jatuh ke tangan wanita lain, dia itu milikku dan hanya akan jadi milikku. Aku lebih baik mati dari pada harus kehilangan dia."
Lena mengembuskan napas berat melihat sikap protektif dan keras kepala putrinya itu jika sudah menyangkut tentang Dinan. Dia tahu sudah sejak lama sang putri memang sangat menyukai anak dari sahabat suaminya itu, yang kebetulan satu sekolah dengannya.
"Aku akan minta Papa untuk bicara dengan Om Surya. Aku harus bisa memiliki Dinan." Lanjut Samara.
"Terserah kamu saja!"
Lena tak ada pilihan lagi selain mengalah, dia tak ingin putrinya bersedih. Lena memang sudah berpisah dari suaminya beberapa tahun yang lalu dan memilih pindah ke Paris. Dan setahun belakangan ini Samara pun ikut tinggal bersamanya karena tak terima sang ayah menikah lagi.
Keluarga Samara dan Dinan memang sangat dekat. Kedua keluarga sudah sepakat akan menjodohkan mereka, tapi Dinan selalu beralasan jika dia belum ingin menikah. Padahal yang sebenarnya, Dinan sama sekali tidak tertarik dengan Samara yang angkuh, keras kepala dan cenderung pemarah.
***
Keesokan pagi, Ruby mulai terbangun dari tidurnya. Dia mengerjap, berusaha memfokuskan pandangan yang masih mengabur, kepalanya juga masih terasa berat.
"Kepalaku pusing sekali." Ujar Ruby sembari memegangi kepalanya.
Dengan perlahan Ruby bangkit dan duduk di atas ranjang, membuat selimut yang menutupi tubuhnya melorot. Ruby sontak melirik ke bawah saat menyadari ada sesuatu yang tidak beres, matanya seketika melotot.
"Astaga! Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak memakai baju?" Seru Ruby sambil menarik selimut menutupi dadanya. Dia mencoba mengingat kejadian semalam, tapi yang dia ingat hanya saat mereka di kafe itu saja.
"Aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun." Ruby memijit pelipisnya, tapi kemudian sebuah kecurigaan muncul di benaknya. "Apa jangan-jangan ...."
Ruby segera mengintip ke dalam selimut dan tercengang saat tahu ternyata dia polos tanpa sehelai benang pun.
"Ya Tuhan! Apa dia melakukannya?" Ruby mulai panik dan celingukan kesana-kemari. "Aku harus segera memakai pakaianku sebelum dia datang."
Ruby buru-buru turun dari atas ranjang dan memakai pakaiannya dengan asal-asalan, dia berpikir Dinan sedang berada di dalam kamar mandi.
Setelah berpakaian, Ruby bergegas menggedor pintu kamar mandi dengan penuh emosi. "Mas! Keluar kamu!"
Tapi tak ada sahutan, pintu juga tak terbuka.
Ruby kembali menggedor pintu dan berteriak. "Mas, keluar! Kita harus bicara! Aku tidak terima dengan semua perlakuan kamu, jangan mentang-mentang aku seorang janda, kamu bisa seenaknya."
Pintu tetap tertutup dan tidak ada tanda-tanda seseorang di dalam kamar mandi. Ruby yang penasaran pun memutar handle perlahan lalu membuka pintu, dan ternyata Dinan memang tidak ada di dalam sana.
"Loh, tidak ada. Lalu ke mana dia?" Ruby bertanya-tanya. "Apa jangan-jangan dia kabur setelah melecehkan aku?"
Ruby mengedarkan pandangannya dan terfokus pada koper Dinan yang masih teronggok di sudut ruangan.
"Tapi kopernya masih ada."
Ruby pun bergegas meraih ponselnya dan menghubungi nomor telepon Dinan, tapi sama sekali tidak ada jawaban.
"Berengsek! Dia pasti ingin menghindari aku, dasar laki-laki pengecut, tidak bertanggung jawab!" Gerutu Ruby kesal.
Ruby benar-benar marah, sedih dan kecewa karena merasa terhina. Dia tak menyangka Bosnya itu akan berbuat hal serendah ini. Ruby pun keluar dari kamar dan mencoba bertanya ke resepsionis hotel.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Sapa resepsionis itu ramah sembari tersenyum geli.
"Selamat pagi. Saya mau tanya, Pak Dinan yang menghuni kamar 132 ke mana, ya? Apa dia titip pesan sebelum pergi?" Cecar Ruby.
"Oh, yang kemarin cek in bersama Ibu, ya?"
Ruby mengangguk.
"Tadi malam sekitar pukul sebelas, dia memesan satu kamar lagi."
Ruby tercengang. "Memesan kamar lagi?"
"Iya, Bu."
"Kenapa?"
"Wah, kalau alasannya saya kurang tahu, Bu."
Ruby menghela napas. "Kalau begitu, sekarang dia berada di kamar berapa?"
"134, Bu."
"Baiklah, terima kasih." Ruby berlalu dengan tergesa-gesa.
"Pasti telah terjadi sesuatu kepada mereka, sampai dia keluar kamar seperti itu." Gumam resepsionis itu sambil memandangi kepergian Ruby.
***

Komentar Buku (269)

  • avatar
    Sya Salim

    ceritanya best

    17/04/2022

      1
  • avatar
    Lovely

    bagus ceritanya...... gak sabar nunggu episode lanjutannya....cepat up dong 😁

    20/01/2022

      0
  • avatar
    azaro 2septian

    wah semakin seru nah ceritanya sangat bagus g bnyk ML nya aku mersa puas jd tambah penasaran coba cepet lanjut g sabaran nih

    19/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru