logo text

Bab 19 PERTUNJUKAN

Bab 19
PERTUNJUKAN
Aldi membuka matanya. Dia memandang lekat sekretarisnya, lalu beralih pada gundukan kembar yang seakan sedang menantangnya.
Tanpa ba-bi-bu, Aldi merengkuh tubuh sekretaris barunya itu dan memberinya serangan pagi. Tak mendapat penolakan, Aldi melanjutkan aksinya.
Tak lama berselang, tiba-tiba pintu ruangan Aldi terbuka.
"Aldi!" sebuah teriakan menggelegar mengagetkan aktivitas mereka.
Aldi dan Asri yang terkejut pun seketika membenahi posisi dan pakaian mereka.
"Dasar b*jing*n!" umpat Hisyam.
"Aw …," rintih Hisyam sembari meremas dadanya.
"Papa!"
"Pak Hisyam!" teriak Agus dan Aldi bersamaan.
Agus segera menyerahkan obat milik Hisyam.
"Kamu keluar saja!" ujar Aldi kepada Asri. Asri pun segera meninggalkan ruangan Aldi.
"Papa gak papa?" tanya Aldi khawatir setelah Hisyam agak tenang.
"Masalahmu dengan Nasha belum selesai, sekarang kamu berani berulah lagi?" ujar Hisyam geram.
"Maaf, Pa!"
"Maaf saja bisanya! Apa tidak ada kata lain selain maaf?" ujar Hisyam kesal.
Aldi menunduk. Dia tak berani menyanggah ucapan Papa mertuanya.
Tok tok tok ….
"Maaf, Pak! Di luar ada Pak Nizam. Katanya, sudah membuat janji dengan Pak Hisyam!" ujar Asri.
"Suruh beliau masuk!" sahut Hisyam.
"Baik, Pak!"
"Selamat pagi, Pak Hisyam!" sapa Nizam.
"Selamat pagi, Pak Nizam. Silahkan duduk!"
Nizam pun mengangguk hormat, lalu duduk di sofa.
"Pa, siapa dia?" tanya Aldi penasaran.
"Pak Nizam sudah paham dengan tugas yang saya berikan?" ujar Hisyam tanpa memperdulikan pertanyaan Aldi.
"Tentu, Pak!"
"Bagus! Agus, berikan suratnya!"
Agus pun menyerahkan sebuah map kepada Nizam.
"Itu surat kuasa yang Anda minta. Anda bisa melaksanakan tugas mulai hari ini! Apapun yang terjadi, tolong usut sampai tuntas!" lanjut Hisyam.
"Baik, Pak! Akan saya laksanakan sesuai perintah Bapak!" sahut Nizam.
"Good! Gus, antar beliau dan timnya ke ruangannya!"
"Baik, Pak! Mari, Pak Nizam!" ujar Agus hormat.
Agus dan Nizam pun melangkah meninggalkan ruangan tersebut. Kini, tersisa hanya Hisyam dan Aldi.
"Pa, siapa dia? Tugas apa yang Papa berikan? Kenapa saya tidak tahu?" tanya Aldi beruntun.
"Dia kepala tim audit swasta."
"A—apa? A—audit?" tanya Aldi gugup.
"Benar. Papa mau mengecek keuangan perusahaan."
"Bukankah kita punya tim audit sendiri? Lagipula, Papa rutin menerima laporan tersebut," ujar Aldi gusar.
"Benar. Tapi melihat kelakuan kamu, Papa jadi ragu. Kamu pasti sudah mengeluarkan banyak uang untuk kekasihmu."
"Pa—Papa jangan asal menuduh!" ujar Aldi berusaha membela diri.
"Justru itu Papa gak mau asal menuduh, makanya Papa memanggil mereka. Kalau kamu merasa tidak bersalah, ya nurut saja! Jangan banyak protes!" ujar Hisyam.
"Satu lagi. Kamu harus mau bekerja sama!" lanjutnya.
Si*l. Umpat Aldi dalam hati. Dia harus bisa mencari jalan keluar.
********************************
"Selamat pagi, Bapak Alvano Rustam Hadiwijaya!" sapa Sekar.
"Selamat pagi, Nona Sekar Arum Wardani!" sahut Vano.
"Silahkan duduk!" lanjutnya.
"Bagaimana? Apakah tugas pertama dari saya sudah selesai?" tanya Vano.
"Tentu saja, silahkan diperiksa!" sahut Sekar, lalu menyerahkan berkas-berkasnya.
Vano terbahak.
"Kenapa tertawa?" tanya Sekar.
"Rasanya aneh ngobrol serius sama kamu," sahut Vano sembari tersenyum kecil.
"Apa mending aku cabut saja tawaran pekerjaannya?" lanjut Vano.
"Jangan dong! Apa kata bunda kalau tahu anaknya dipecat di hari pertama? Pasti mikirnya macam-macam," sahut Sekar sewot.
Vano memeriksa pekerjaan Sekar. Dia mengangguk-angguk puas.
"Bagus! Ternyata kamu masih secerdas dulu!" puji Vano.
"Tentu saja! Kamu pikir kecerdasanku bisa hilang gitu?" sahut Sekar sewot.
"Bisa saja, kan? Kebanyakan bergaul sama Aldi," ejek Vano.
"Ish … kamu ini!" Sekar ngedumel.
Vano kembali terbahak.
"Mau lihat pertunjukan, gak?" tanya Vano usai tawanya reda.
"Pertunjukan apa?" tanya Sekar penasaran.
"Masih ingat kamera mini yang tak suruh naruh di ruangannya Aldi?" Vano balik bertanya.
"Iya. Kamera itu aku sembunyikan di pot bunga. Ada apa?" tanya Sekar penasaran.
"Lihat ini!" Vano memperlihatkan laptopnya. Sekar memperhatikan video tersebut dengan seksama. Dia tampak terkejut.
"Gila tuh orang!" ujar Sekar tak percaya.
"Benar kan, dugaanku! Dia itu tidak benar-benar bucin sama kamu! Dia hanya terobsesi! Selama ini kan, kamu menggodanya, tapi gak mau disentuh. Makanya, dia jadi terobsesi untuk memiliki kamu seutuhnya," Vano memberi penjelasan.
"Jadi ini tujuan kamu minta aku mencarikan sekretaris baru Aldi model begituan?" tanya Sekar sembari menunjuk ke arah Asri.
Vano mengangguk mantap. Memang, ketiga kandidat sekretaris baru Aldi memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Namun, hanya Asri yang hobi berpenampilan terbuka dan minim. Jadi, Sekar memilihnya sesuai permintaan Vano untuk menjebak Aldi.
"Video ini bisa kamu pakai untuk menolak ajakannya kembali menjalin hubungan. Bisa juga kamu gunakan untuk mengancamnya jika dia berani macam-macam," ujar Vano.
"Sayang, baru sekali udah ketahuan!" ujar Sekar menunjuk Hisyam.
"Itu ayah kamu?" tanya Vano.
"Bukan. Dia bukan siapa-siapa. Ayahku sudah lama mati."
Vano mengangguk. Dia paham dengan ucapan Sekar, jadi dia tidak memperpanjangnya.
******************************************
"Pak Hisyam, kita makan dimana?" tanya Agus.
"Kita ke rumah makan Irma saja!" jawab Hisyam.
"Bagaimana kalau ke restoran Sekartaji saja? Bukankah itu favorit Anda dulu?" ujar Agus.
"Dulu. Sekarang aku mau ke tempatnya Irma saja."
"Atau kita ke restoran D'lavia saja?" Agus masih mencoba bernegosiasi.
"Kenapa kamu sepertinya mencegah saya kesana?" tanya Hisyam.
"Saya mencemaskan kesehatan Anda, Pak! Akhir-akhir ini, terlalu banyak kejutan!"
Hisyam terkekeh mendengar penuturan Agus.
"Agus … Agus! Kamu gak usah khawatir, saya baik-baik saja! Apalagi, kejadian Winda dan Aldi tadi sudah saya prediksi! Sudah, jangan kebanyakan alasan! Ayo kita berangkat!"
Agus tak dapat mengelak lagi. Dengan terpaksa, dia membawa majikannya ke tempat yang diminta. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, kini mereka telah sampai tujuan.
Seperti biasa, rumah makan itu selalu ramai pengunjung, apalagi pada jam makan siang seperti ini.
"Gus, antarkan saya ke ruangan Irma!" ujar Hisyam usai menyematkan siangnya.
"Baik, Pak!"
Agus segera mendorong kursi roda Hisyam ke salah satu ruangan di area belakang.
Tok tok tok ….
Irma tampak terkejut mendapati Hisyam di depan ruangannya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tolong izinkan saya masuk. Ada yang ingin saya bicarakan!" ujar Hisyam serius.
Irma melebarkan pintu ruangannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Irma setelah Hisyam masuk dan Agus meninggalkan ruangan. Kini, mereka hanya berdua.
"Apa kamu benar-benar tidak bisa memaafkan aku?" tany Hisyam.
"Ekhm … jadi, masih masalah itu! Maaf, jawaban saya tetap tidak! Saya sudah bahagia sekarang!" sahut Irma.
"Bukan itu maksudku!"
"Lalu?"
"Kenapa kamu tidak menghubungi aku saat Arum akan menikah? Bukankah hanya aku wali sahnya?" cecar Hisyam.
"Kenapa kamu mempermasalahkannya? Toh, dia tidak jadi menikah." Irma balik bertanya.
"Tapi tetap saja, harusnya kalian menghubungi aku!" ujar Hisyam.
"Sebenci itukah kamu sama aku hingga kamu tidak mengizinkan aku menjadi walinya?" lanjut Hisyam.
"Sebenarnya … aku sudah lama memaafkan kamu. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang dendam. Sayang, Sekar sebaliknya. Dia mendedikasikan hidupnya untuk membalas kamu. Kepergian kamu bukan hanya meninggalkan luka yang begitu dalam, tapi juga menghancurkan masa depannya!"
"Apa maksud kamu?" tanya Hisyam penasaran.

Komentar Buku (80)

  • avatar
    CallJuan

    good

    30/06/2025

      0
  • avatar
    DoloksaribuTinur

    bagus

    30/05/2025

      0
  • avatar
    Siti Nur Baya

    bagus batttt kaaaaakk

    27/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru