logo text

Bab 38 SIDANG PERDANA

BAB 38
SIDANG PERDANA
Aldi mengumpat dalam hati. Pengacara handal yang dia harapkan, ternyata hanya pengacara kelas teri yang datang.
“Sialan memang mereka!” umpat Aldi.
“Lihat saja, begitu aku bisa bebas, aku akan buat perhitungan dengan mereka.”
“Kalau kalian tidak bisa membantuku, aku akan mencari jalan kebebasanku sendiri,” ujar Aldi kepada dirinya sendiri.
“Pak, saya minta izin mau menelepon!” ujar Aldi kepada petugas sipir. Usai mendapatkan izin, aldi segera menghubungi seseorang.
“Halo!” ujarnya.
“___.”
“Aku butuh bantuanmu! Datanglah kemari!”
“___.”
“Oke, aku tunggu.”
Klik. Aldi menutup sambungan ponselnya.
**************
“Halo, Bro! Gimana kabarnya?” sapa Erlangga.
“Yach ... kayak ginilah!” sahut Aldi lesu.
“Ada apa nih? Tumben kamu nyariin aku!”
“Aku butuh bantuanmu! Carikan aku pengacara!” ujar Aldi mantap.
“Apa? Kenapa mesti aku? Memangnya keluarga istri kamu mana?” tanya Erlangga heran.
“Mereka brengsek semua. Masak, aku dikasih pengacara kelas teri,” umpat Aldi.
“Kamu serius?” tanya Erlangga tak percaya.
Aldi mengusap wajahnya kasar.
“Makanya, aku minta bantuan kamu. Carikan aku pengacara yang handal!”
“Oke, kamu bisa mengandalkan aku. Tapi, bagaimana masalah pebayarannya?”
“Kamu ambil pemasukanku dari cafe.”
“Oke, bisa diatur,” sahut Erlangga.
Thanks, Bro! Cuma kamu yang bisa aku andalkan saat ini!” ujar Aldi.
********************
“Bagaiamana menurut Bapak?” tanya Winda kepada pengacaranya. Dia sudah menceritakan perihal pembagian harta waris itu dan apa yang dia inginkan.
“Sepertinya ini akan sulit, Bu!” ujar Pak Adnan Wijaya.
“Tolong usahakan, Pak! Saya akan berikan bonus kepada Bapak 3% dari apa yang bisa Bapak dapatkan,” ujar Winda.
“Baik, Bu, akan saya usahakan. Saya siapkan berkas-berkasnya dulu. Kalau sudah siap, kita langsung ajukan tuntutan.”
Winda ternyum puas. Sebentar lagi, saya akan menguasai perusahaan itu seutuhnya, ujar Winda dalam hati.
‘Aku tidak rela wanita itu menguasai perusahaan. Enak saja, aku yang mendampingi Mas Hisyam hingga seperti sekarang, malah dia yang dapat warisan. Rugi dong perjuanganku selama ini!’ ujarnya dalam hati.
“Maaf, Bu, untuk keperluan administrasi, saya tetap meminta pembayaran di depan!” ujar Pak Adnan.
“Tentu saja, Pak! Berapa saya harus membayarnya?” tanya winda dengan gaya elegannya. Pak Adnan menyerahkan sebuah kertas yang berisi rincian dana yang harus dibayarkan. Wind amenelan ludah kasar melihat angka tersebut. Sebenarnya itu memang harga yang pantas untuk pengacara sekelas Adnan Wijaya. Masalahnya, saat ini dia sedang pailit. Uang segitu tentu saja sangat berharga untuknya.
“Em ... saya akan membayarnya separuh. Untuk sisanya ... bagaimana kalau saya bayar dengan cara lain!” ujar Winda.
“Maksudnya?” tanya Pak Adnan bingung. Dengan penuh percaya diri, Winda melangkah mendekati pria paruh baya tersebut seraya melepaskan beberapa kancingnya sehingga menampakkan pakaian dalam yang hanya mampu menyangga separuh dari gundukannya saja, lalu duduk di pangkuannya.
“Apa yang Anda lakukan?” tanya pria tersebut. Dia menelan ludah kasar melihat pemandangan menantang di hadapannya.
“Saya tahu Anda seorang duda. Saya yakin, saat ini anda membutuhkan sentuhan!” ujar Winda dengan suara yang dibuat mendayu-dayu “Bu Winda!”
“Kenapa? Bukankah Anda juga menginginkannya?” bisik Winda.
“Sepertinya Anda sedang membangunkan singa yang sedang tidur!” ujar pria tersebut. Tak menunggu lama, pria tersebut membawa Winda ke sebuah ruangan tersembunyi di balik almari kantor.
*****
Dua minggu telah berlalu. Hari ini adalah sidang perdana untuk kasus penculikan dan pelecehan yang dilakukan oleh Aldi.
“Nona Sekar, apa Anda hari ini akan menghadiri persidangan?” tanya Nizam.
“Tidak, Pak! Bapak saja yang hadir. Agenda hari ini tidak membutuhkan kehadiran saya bukan?” tanya Sekar balik.
“Tidak, Nona! Agenda hari ini adalah pembacaan tuntutan terhadap terdakwa.”
“Baiklah, saya serahkan semuanya sama bapak saja. Saya cukup terima beres saja!” ujar Sekar.
“Baik, Nona!” sahut Nizam mantap.
Sementara itu, di kediamannya, Nasha telah selesai bersiap. Hari ini dia sedang ingin menghadiri persidangan sang suami.
“Kamu jadi berangkat, Sha?” tanya mamanya.
“Iya, Ma! Mama gak ikut?” tanya Nasha.
“Malas ah, kamu sendiri saja!” sahut Winda santai.
“Ih ... mama kok gitu sih. kalaupun mama gak suka sama mas Aldi, setidaknya mama dampingi aku!” protes Nasha.
“Malas. Kamu sih, susah banget dibilangin. Mending kamu lepasin saja laki-laki seperti itu, tidak ada gunanya. Kamu ini masih muda dan cantik, pasti banyak yang mau sama kamu!” sahut Winda.
“Mama kok bilang gitu sih?” protes Nasha lagi.
“Memangnya apa yang mau pertahankan dari laki-laki itu?”
“Tapi kan aku sedang hamil anaknya Mas Aldi, Ma!”
“Gak masalah. Di luar sana, banyak kok single mom yang berhasil,” sahut Winda santai.
“Ih ... Mama gak asyik ah! Malesin!” Dengan kesal, Nasha segera melangkahkan kakinya meninggalkan rumah. Sementara itu, Winda masih asyik bersantai seraya menonton televisi.
“Dari pada bosan, mending aku samperin Erlangga ke apartemennya, sekalian kasih kejutan!” ujar Winda dengan riang. Dia pun segera melangkah ke kamarnya dan bersiap. Setelah siap, dia pun segera meninggalkan rumahnya menuju apartemen sang kekasih. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk segera tiba di sana.
Setelah memarkirkan kendaraannya, Winda segera menuju lift yang akan membawanya ke lantai tempat apartemen Erlangga berada. Sesampainya di depan kamar, Winda segera memasukkan pin yang sudah dia hafal di luar kepala. Perlahan, dia memasuki apartemen tersebut seraya mengendap-endap. Dia ingin memberikan kejutan pada kekasihnya tersebut.
Winda terlihat mencari ke sekeliling, namun tak ada tanda-tanda keberadaan sang kekasih. Akhirnya, dia pun melangkah mendekati kamar. Sesampainya di depan kamar, Winda menghentikan langkahnya seketika. Samar-samar, dia mendengar suara desahan pria dan wanita yang saling bersahutan. Winda mengepalkan kedua telapak tangannya dengan erat.
“Sarah! Jadi seperti ini kelakuanmu di belakangku!” sentaknya seraya merangsek masuk ke dalam kamar. Sarah yang tengah berbaring karena kelelahan, tak mengindahkan kedatangan teman sosialitanya tersebut.
“Kenapa gak kasih tahu kalau mau kesini?” tanya Erlangga. Dengan santai, dia bangkit dari posisinya, lalu meraih celana pendek yang tergeletak di lantai, lalu mengenakannya. Winda menatap gerakan pria di hadapannya tersebut seraya menelan ludah kasar.
“Sejak kapan kamu ada main sama dia?” cecar Winda.
“Sudah lama sih. Lagian kan dia berani bayar mahal. Sayang dong kalau dilewatkan!” sahut Erlangga santai.
“Tapi kamu milikku!” sentak Winda tidak terima.
“Bukannya kamu sudah bangrut ya sekarang? Mana bisa kamu bayar dia?” ejek Sarah.
“Jaga ucapamu!” sentak Winda tidak terima. Dia segera merangsek maju hendak menyerang Sarah, namun dicegah oleh Erlangga.
“Jangan ganggu dia!”
“Tega kamu, Lang!” sentak Winda.
“Saya bekerja untuk uang. Kalau dia berani bayar, kenapa tidak? Lagipula, benar yang Sarah katakan. Kamu kan sudah bangrut. Jadi, aku harus cari pengganti kalau tidak mau mati kelaparan!” sahut Erlangga.
“Tega kamu, Lang! Ingat, ini apartemenku!” sentak Winda.
“Tidak masalah. Aku akan segera meninggalkan tempat ini. Lebih baik aku kehilangan apartmen ini dari pada tidak memiliki pemasukan!” sahut Erlangga santai.
“Sayang, bagaimana kalau kamu tinggal di apartemen tante? Tante ada aprtemen yang masih kosong!” ujar Sarah.
“Kalau Tante memberi izin, tentu saja aku mau!” sahut Erlangga dengan senyum manisnya.
Erlangga segera mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper. Sementara itu, Sarah tanpa merasa bersalah, melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara itu, Winda menatap aktivitas kekasih brondongnya tersebut seraya mengacak rambutnya frustasi.
‘Sial! Habis semuanya! Bahkan hiburanku satu-satunya pun ikut pergi. Setelah ini, teman-teman sosialitaku pasti menjauh. Benar-benar sial!’ umpatnya pada dirinya sendiri.
Setelah selesai, tanpa mengindahkan keberadaan Winda, Erlangga dan Sarah melangkah meninggalkan apartemen tersebut.
“Aaa..!” teriak Winda. Dia mengamuk dan mengobrak-abrik tempat itu. Sprei dan selimut dia lembarkan ke sembarang arah. Pernik-ernik hiasan dinding dan meja apartemen tersebut sudah tidak di tempatnya lagi.
“Sekar! Ini semua gara-gara kamu. Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membalas perbuatanmu dan merebut kembali perusahaan itu. Ingat itu!” serunya frustasi.
Sementara itu, saat ini Nasha sudah tiba di pengadilan tempat jalannya persidangan. Hatinya teriris melihat sang suami berjalan dengan tangan di borgol dan dikawal polisi.
“Mas Aldi!” seru Nasha. Dengan berlari kecil, dia menghampiri sang suami. Aldi menatap Nasha sekilas, lalu melanjutkan langkahnya.
“Mas!”serunya lagi, namun Aldi tak perduli. Dia terus melangkahkan kakinya memasuki area persidangan.
Hati Nasha terasa semakin nyeri. Entah kenapa sikap suaminya tiba-tiba berubah. Padahal, dia sudah meluangkan waktu untuk datang ke persidangan dan memberinya dukungan moral. Tapi yang dia dapatkan, justru sikap dingin sang suami. Dengan hati berdenyut nyeri, Nasha turut memasuki area persidangan. Dia ingin mengikuti jalannya persidangan tersebut hingga selesai.
Dalam ruang persidangan, dahi Nasha mengernyit heran. Pasalnya, sang suami bukan didampingi pengacara yang disiapkan oleh pengadilan, namun didampingi seorang pengacara yang cukup cukup diperhitungkan.
‘Bagaimana bisa Mas Aldi menyewa pengacara sekelas dia? Dari mana dia mendapatkan uang? Apa jangan-jangan, sebenarnya dia masih punya simpanan dan tidak mau cerita sama aku?’ tanya Nasha dalam hati. Sayangnya, Nasha harus menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu dalam benaknya. Dia tidak bisa mendekati sang suami, apalagi bertanya langsung mengenai hal ini.
Sidang perdana kali ini, berjalan dengan lancar. Tak ada kendala yang cukup berarti yang terjadi. Agenda hari ini hanyalah pembacaan tuntutan dari pihak penggugat dan pembelaan dari pihak tergugat. Sidang selesai selang dua jam kemudian. Rencananya, sidang lanjutan akan dilaksanakan dua minggu lagi.
“Pak, apa saya tidak bisa menjadi tahanan luar saja?” tanya Aldi pada pengacaranya.
“Maaf, Pak, permohonan anda ditolak sama hakim. Anda sudah melakukan kesalahan saat dalam posisi tahanan rumah. Karena keberadaan Anda di luar di anggap membahayakan korban, jadi anda permohonan tersebut ditolak!” sahut pengacara Aldi memberikan penjelasan.
“Apa tidak bisa diusahakan, Pak?” tanya Aldi lagi.
“Tidak bisa, Pak. Untuk sekarang ini, yang isa kita lakukan hanyalah mengikuti jalannya sidang dengan tertib. Di lihat dari bukti-bukti yang mereka bawa, Anda memang bersalah. Dlam hal ini, jika Anda mau mengakui kesalahan, saya bisa membantu anda untuk mendapatkan meringankan hukuman. Sebaliknya, jika kita berkeras membantah semua tuduhan, masalah ini akan semakin rumit dan pelik. Apalagi jika kita sampai kalah, hukuman anda bisa semakin besar karena dianggap memberikan keterangan palsu!” sahut pengacara tersebut memberikan penjelasan.
“Lalu, apa yang harus saya lakukan?” tanya Aldi pasrah.
“Mengaku adalah jalan terbaiknya!”
“Apa anda sudha gila?” sentak Aldi.
“Kalau saya mengaku, itu artinya bisa dipastikan saya akan mendekam di penjara lebih lama!” lanjut Aldi.
“Saya tahu, pak. Masalahnya, bukti-bukti yang mereka bawa itu memang akurat. Kita bisa mengakui semua itu, namun dengan membeberkan alasan kamu melakukannya! Itu nanti bisa menjadi nilai lebih untuk kita untuk meringankan hukuman anda!”
“Anda yakin?” tanya Aldi sanksi.
“Saya menjadi pengacara sudah lebih dari dua puluh tahun, Pak. Saya sudah hafal dengan semua jenis. Untuk kasus anda, seperti itulah solusi dari saya,” sahut sang pengacara.
Aldi terdiam. Dia tampak sedang memikirkan keputusan terbaik yang akan dia pilih nantinya.

Komentar Buku (80)

  • avatar
    CallJuan

    good

    30/06/2025

      0
  • avatar
    DoloksaribuTinur

    bagus

    30/05/2025

      0
  • avatar
    Siti Nur Baya

    bagus batttt kaaaaakk

    27/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru