Beranda/Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK/
187. Rencana Licik Orang Sakit Hati
Bab 194. Rencana Licik Orang sakit Hati ============ “Ok, apa yang bisa kubantu, coba!” “Tolong lindungi aku, bila nanti aku terjerat hukum, Mas! Bukan Mas Ardho, tetapi teman –teman Mas Ardho, maksudku! Mohon Mas Ardho sampaikan sama mereka, untuk melindungi aku.” “Bisa, aku akan telpon teman-teman. Tapi, terjerat hukum bagamimana maksud kamu? Coba ceritakan!” “Aku baru saja menyuruh seseorang menculik kedua putri Alisya.” “Apa? Keponakan kamu sendiri, dan si Tasya, putri Deva?” “Ya, aku meminta agar penculiknya tak melakukan kekerasan dan mengantarkan mereka ke rumahku nanti sore.” “Nekat kamu!” “Aku sakit hati.” “Kenapa?” “Alisya mengusirku dari rumahnya.” “Tak mungkin Alisya seperti itu! Alisya wanita yang baik hati!” Ardho membela wanita pujaannya. “Ya itu dulu. Tapi sekarang dia sudah berubah. Karena hasutan Deva. Karena hasutan Deva pula Mas Raja yang begitu menyukaiku, tiba-tiba berpaling kepada wanita lain.” “Deva?” “Ya. Laki-laki itu sudah menghancurkan semua harapanku.” “Juga harapanku.” “Ya.” Kedua manusia korban sakit hati itu terdiam, tenggelam di dalam pikiran masing-masing. Suasana hening seketika. “Tolong, aku, Mas! Tujuanku agar Mas Ardho lindungi aku secara hukum. Aku mau mengambil alih hak asuh Rena atas nama kakakku! Alisya tak becus mengasuhnya. Setiap hari dia tingalkan. Sejak menikah, baru sehari dia tidur di rumah. Sekarang dia sudah terbang ke Bali. Bulan madu. Rena dia tinggal lagi entah sama siapa. Ibu macam apa itu?” “Bulan madu? Mereka bulan madu?” Ardho berteriak. “Ya. Kemarin pagi mereka berangkat!” “Deva bangs*t! Dia mengambil milikku!” “Iya, Mas.” “Bagaimana kalau kita kerja sama?” “Kerja sama?” “Ya, kau dapatkan anaknya, kuambil ibunya. Jadi kita impas.” “Cepat kau telpon mereka! Suruh pulang sekarang juga!” perintah Ardho gelagapan. Wajah pucatnya kini merah padam. “Maksud Mas Ardho apa?” Intan bingung. “Bilang kalau anak-anaknya diculik! Kita minta tebusannya bukan uang, melainkan Alisya! Kalau dia tak mau pulang juga, kedua putrinya kita lenyapkan.” “Jangan, dong, Mas! Itu putri Mas Fajar!” “Kan cuma gertak, Intan? Gak benar-benar. Cuma ngancam! Pokoknya kamu usahakan Alisya pulang dari bulan madunya sekarang juga! Terserah bagaimana caranya!” “Selamat pagi, Pak Ardho udah bangun, ya? Kita periksa tekanan darah dan suhu tubuh, ya, Pak?” Mereka berdua tersentak kaget. Termasuk Rika, Seorang perawat masuk ke dalam ruangan. “Oh, silahkan Suster!” Intan yang menjawab. Rika beringsut dari tempat persembunyian, lalu mengendap keluar dari ruangan itu. Setengah berlari gadis itu menuju lif, langsung menuju lantai lima. Meneliti ponselnya saat berada di dalam lif. Rika melihat banyak panggilan masuk dari Dr. Ilham. Untung tadi volume dia turunkan habis. Kalau tidak, pasti persembunyianya akan ketahuan. Menelepon Alisya, itu yang pertama terpikir olehnya. Mengirim video rekaman kepada Alisya, gadis itu lalu memanggil sahabatnya itu. Namun, bukan Alisya yang mengangkat. Sempat Rika ragu. “Rika, ya? Maaf Alisya masih tidur, kelelahan sepertinya. Nanti aja telepon lagi, ya!” Telepon di tutup. Rika langsung memanggil nomor Alisya lagi. “Maaf, Pak?” Rika berdebar hebat. Bayangan wajah sangar Deva membuatnya gemetar. “Maaf, Rika. Tolong jangan ganggu, ya!” Dingin dan datar suara Deva memerintahkan. “Tapi, Pak Deva, ini penting banget!” “Bicarakan dengan Pak Raja, ok!” Telepon di tutup lagi. Rika mengulang menelpon lagi. “Rika, kau kupecat!” terdengar teriakan Deva. “Gak apa-apa Bapak pecat saya, asal Bapak dengarkan dulu saya sedetik saja! Ini penting!” “Kau …! Ok. Aku dengarkan! Anggap saja ini sebagai pesangonmu karena telah kupecat! Cepat katakan! Ada apa?” “Tolong lihat video rekaman yang saya kirim! Terima kasih! Dan dengan ini, saya bersedia Bapak pecat, tanpa pesangon!” Rika menutup telepon. Gadis itu berjalan gontai menuju ruangan yang disuruh Dr. Ilham tuju. Tempat akad nikah Tiara dan Dr. Robert sedang berlangsung. “Bagaimana para saksi, Sah?” Terdengar pertanyaan itu saat dirinya sudah berdiri di ambang pintu. Rika berdiri kaku di sana. Terlambat. Dia sudah terlambat. Lantunan doa terdengar setelah itu. Rika ikut menengadahkan ke dua tangan, ikut mengaminkan. Ponselnya berdering tiba-tiba, sesaat setelah doa selesai dilantunkan. Sontak semua mata menatap ke arahnya. “Maaf, Pak Deva. Saya bersedia kok, Bapak pecat,” lirihnya. Raja dan Dr. Ilham langsung bangkit dan mendekatinya. “Kau tidak kupecat, kau bahkan kutarik ke kantor pusat, Rika! Kau managerku sekarang, ok! Itu hadiah untukmu! Kau pegawai terbaik yang aku punya. Maaf, sempat mengabaikan laporanmu. Terima kasih, Rika?” Itu suara Deva. “Manager? Pak Deva mengangkat saya menjadi manager di kantor pusat?” Rika tak sadar berteriak. Dr. Ilham menatapnya takjub. Sekarang tak ada lagi alasan gadis ini untuk menolak cintanya. Selama ini alasannya adalah karena dia bukan siapa-siapa. Kini dia adalah seorang manager di perusahaan terkenal itu, semoga Rika tak mencari alasan lain lagi untuk menolaknya. “Mas, maaf, aku telat datangnya!” Rika menatap lembut Dr. Ilham. Pria itu makin takjub. Beribu kali dia meminta agar Rika memanggil dirinya dengan sebutan ‘Mas’. Tetapi selalu ditolak. Kali ini, Rika memenuhi harapannya, tanpa diminta. Apakah itu artinya? “Tidak apa-apa. Yang penting kamu gak kenapa-napa.” Dr. Ilham menggenggam tangan gadis itu. “Tapi, ada apa? Kenapa Pak Deva menaikkan jabatan kamu, Sayang?” Dr. Ilham memberanikan diri memanggilnya ‘Sayang’. Dan Rika pun kali ini tidak menolak panggilan itu.
Belum sempat Rika menjawab, ponsel Raja berdering. “Iya, Mas?” sapa Raja setelah mengusap layar ponselnya. “Anggotaku sudah menyebar di sekeliling rumah sakit untuk berjaga-jaga. Polisi dalam perjalanan untuk menangkap Intan dan menjaga Ardho. Perempuan itu saat ini ada di dalam ruangan Ardho! Temui Direktur rumah sakit, minta izin anggotaku berjaga di dalam kamar Ardho! Kirim mobil menjemput aku dan Alisya di Bandara Kuala Namu beberapa jam lagi.” “Maksud Mas Deva!” Raja tercekat. “Laksanakan perintahku, Raja!” “Siap, Mas!” Raja kebingungan. Rika mengeluarkan ponsel miliknya, lalu megirim video rekaman tadi ke nomor pria yang kemarin sempat menggetarkan hatinya itu. Raja meneliti video yang baru masuk, mengunduh lalu menontonya dengan seksama. “Jadi, Mas Deva menaikkan jabatan kamu karena ini, Rika? Dan kamu terlambat ke nikahan ini, untuk mendapatkan barang bukti ini?” tanya pria itu, menatap Rika takjub. Gadis itu mengangguk, tangannya masih tergenggam erat di dalam genggaman Dr. Ilham. Tak ada keraguan lagi, dia kini telah memutuskan. Bukan Raja, tetapi Dr. Ilham. “Ai, kamu di mana? Rena dan Tasya bersama kamu, kan? Mereka aman, kan, Sayang?” Raja langsung menelepon Aisyah. “Aku di rumah kamu, Mas. Aku sedang mengawasi mereka main di kolam renang.” Suara lembut dan merdu Aisyah membuat Raja sangat lega. “Tapi, ada apa, sih, mas? Kok tiba-tiba di rumah kamu banyak preman?” tanya Aisyah membuat Raja bertambah tenang. “Mereka bukan preman, Sayang! Tapi anak buah Mas Deva, khusus untuk menjaga Rena dan Tasya. Pastikan anak-anak selalu bersama kamu, ya! Jangan keluar rumah, ya, Sayang! Aku segera pulang. Nikahan Dr. Robert sudah selesai, kok.” *******
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan ceritanya menarik
30/08/2022
0saya sangat terhibur
15d
0bagus banget cerita nya
18d
0Lihat Semua