logo text

190. Malam Pertama Tiara yang Tertunda

Bab 197. Malam Pertama Tiara Yang tertunda
=============
“Bet, kamu di mana, Nak? Udah seminggu, kok, enggak pulang ke rumah?” Suara sang Mama terdengar khawatir di ujung telepon. Dr. Robert menjauhkan benda pipih itu dari telingannya. Menatap lembut Tiara yang tengah menyendokkan nasi ke dalam piring, di sampingnya.
Tiara mengangguk, isyarat agar suaminya menjawab saja pertanyaan ibundanya.
“Bet! Kamu dengar Mama enggak, Nak? Kamu kenapa jadi acuhin Mama seperti ini?” Terdengar lagi ungkapan tanya kecewa sang ibunda.
“Maaf, Ma! Aku lagi malas pulang. Udah, ya!”
“Bet! Tunggu sebentar! Jangan tutup dulu telponnya, Nak!”
“Apalagi, sih, Ma?”
“Kata Riris, kamu … kamu … tiap hari di rumah sakit, ya, Nak? Katanya kamu udah nikah diam-diam, betul begitu?”
“Maaf, Ma! Riris benar.”
“Kok, bisa, ya, kam nikah tanpa memberi tahu Mama? Tanpa memberi tahu semua keluarga?”
“Janagn bilang begitu, dong, Ma! Yang ngelamar Tiara justru Mama dan Papa, iya, kan? Aku izin sama kalian, Ma. Setelah ditentukan hari pernikahan, malah kalian yang batalkan secara sepihak! Kalian memutuskan tanpa membicarakannya lebih dulu dengan aku? Siapa yang salah? Aku?”
“Bet, kamu ….”
“Maaf, Ma! Aku mau makan malam. Mau istirahat, capek!”
“Tapi, Mama masih mau ngomong, Bet. Pulang, ya, Nak!”
“Untuk saat ini, belum bisa, Ma. Maaf!”
“Kalau gitu, mama yang ke situ. Mama akan jemput kamu. Kamu di mana?”
“Aku udah punya istri, Ma! Aku bukan anak kecil lagi yang perlu dijemput-jemput!”
“Pernikahan kamu itu gak sah! Tak ada seorangpun keluarga kita yang menyaksikan. Bagi kami, kamu tetap Robert putra lajang kami. Belum beristri, ok!”
“Terserah!”
Dr. Robert langsung menutup teleponnya. Tiara menatap sendu. Terdengar dia menghela napas berat.
“Kenapa? Kok, risau, gitu?” Dr. Robert menyentuh punggung tangan istrinya.
“Tidak, kita makan, ya! Ini piring Mas Robert!”
“Makasih, Sayang!”
“Mas!”
“Hem? Kenapa? Jangan resah, gitu! Jangan pikirin omongan Mama!”
“Riris itu, maksudnya … Dokter Riris, kan?”
“Iya, kenapa?”

“Aku bertemu dia tadi pagi di ruangan Papa.”
“Iya, lah. Jadwal dia visit, kan?”
“Dia cantik, Mas.”
“Dari dulu, sampai sekarang juga tetap cantik.”
“Sadar, enggak, sih, Mas Robert itu?”
“Sadar apa?”
“Sepertinya dia ….”
“Bukan sepertinya, tapi memang iya.”
“Mas?”
“Hem.”
“Jadi Mas Robert tahu?”
“Ya, tahu, dong, dia udah ungkapin perasaannya.”
“Dia bilang kalau dia suka sama Mas Robert? Terus, Mas bilang apa?”
“Aku bilang, tak ada yang bisa menggantikan posisi Tiara di hatiku, dan dia pun paham.”
“Mas?”
“Sayang, perlu kamu tahu, yang menyukaiku itu bukan hanya Dr. Riris, tetapi banyak, Sayang! Aku seorang Dokter, perempuan banyak di sekitarku. Tetapi, kamu perlu tahu, apa alasanku memilih kamu! Aku harap, kamu tak pernah berpikir yang tidak-tidak tentang perempuan-perempuan di sekitarku, bisa, Sayang?”
“Aku tahu, aku tahu semua tentang perempuan-perempuan itu. Tapi, Dr. Riris beda, Mas.”
“Bedanya?”
“Dia sepertinya mendapat dukungan dari keluarga kamu.”
Dr. Robert tertawa kecil. Menggeser kursi mendekati istrinya, lalu memeluk bahu wanita itu dengan tangan kanan.
“Perasaan kamu benar. Riris masih keluarga. Putri dari sepupu jauh Mama. Mereka menjodohkan kami sejak kanak-kanak. Kamu tahu kan, istilah pariban?”
Tiara mengangguk.
“Nah, itu tahu. Riris itu paribanku. Secara adat, kami wajib nikah untuk menjaga garis keturunan. Tapi itu, adat yang udah mulai ditinggalkan. Buktinya mama juga nikah sama Papaku, yang jelas-jelas bukan paribannya, iya, kan? Papa malah keturunan Belanda. Jadi, kamu, gak usah mikirin Riris, ok!”
“Iya, Mas. Aku percaya sama kamu.”
“Harus, dong.”
Tiara mengukir senyum. Dr. Robert sangat menikmati senyum indah itu. Tangannya lepas dari bahu Tiara.
“Boleh makan, nih, sekarang?” tanyanya menatap lembut mata wanita itu.
“Boleh, dong, kan udah terhidang.”
“Serius, boleh?”
“Boleh, dong, Mas!”
Dr. Robert menangkup wajah istrinya. Menatap tepat ke bibir yang basah itu. Tanpa bertanya lagi, pria itu mengecup lembut. Kerinduan yang selama tertahan, dia coba tuntaskan.
“Mas.” Tiara terkejut.

“Hem? Kenapa? Katanya boleh?”


“Makan malam, dong, Mas, bukan ini?”
“Ya, aku udah lapar banget, Sayang. Udah seminggu, lho, kita nikah. Tapi, sampai sekarang belum makan. Sampai kapan lagi, coba?”
“Mas udah janji, sampai Papa keluar rumah sakit, kan?”
“Begitu, ya? Baiklah.” Dr. Robert menggeser kursinya kembali. Hasrat yang sempat memuncak, perlahan tenang, karena memang dia paksa untuk seperti itu. Ibarat lahar di dalam kawah gunung berapi. Telah begitu menggelegak, menanti saat yang tepat untuk dimuntahkan, tetapi kini terpaksa dia tenangkan lagi. Kawah itu kini diam. Gunung berapi itu, kini tidur kembali.
Sesungguhnya Tiara juga memiliki perasaan yang sama. Punya keinginan yang sama. Tetapi, rasa khawatir akan kelanjutan pernikahannya. Membuat dia harus bertahan. Tiara belum paham akan keluarga suaminya. Bagaimana kalau tiba-tiba mereka datang dan membatalkan lagi pernikahan Dr. Robert. Sementara dirinya telah menyerahkan segalanya. Itu yang membuat Tiara masih ragu untuk melalukannya.
Tetapi, melihat rona kecewa di wajah suaminya, Tiara luluh juga. Pertahanannya lekang. Bangkit dari duduknya, menghampiri sang suami, Tiara memeluk leher pria itu dari belakang.
“Makan, Sayang!” bisiknya lembut di telinga Dr. Robert. Sentuhan bibir di daun telinga Dr. Robert, membuat pria itu menggelinjang.
“Makannya nanti saja,” jawabnya, lalu bangkit.
Kini keduanya berdiri berhadapan. Tak ada jarak di antara mereka.
“Boleh?” Dr. Robert menatap sayu tepat di manik-manik mata istrinya.
“Hem.” Tiara menunduk.
“Sekarang, ya?”
“Makan malamnya?”
“Hem?”
“Makanan itu?”
“Nanti saja. Boleh, ya?”
“Hem.” Tiara mengangguk lagi.
Dr. Robert mengangkat wajah yang menunduk itu. Mebelai lembut bibir wanita itu dengan ujung jemarinya. Tiara memejamkan mata, bibir basah itu sedikit terbuka. Dr. Robert yakin itu isyarat, bahwa dia sudah ada izin untuk menyentuhnya. Pria itu melakukannya dengan pelan, penuh perasaan. Perasaan cinta yang begitu membara, tetapi lembut dan tertata.
Desah napas Tiara bangkitkan rasa yang kembali bergejolak di dalam sukma. Dr. Robert tak mampu lagi menahannya. Ini sudah sangat lama, kawah gunung berapi itu bergejolak lagi. Lahar yang menggelegak, minta dimuntahkan sekarang juga. Tetapi, dia ragu, apakah Tiara sudah bisa. Pria itu tak ingin menyakiti hati istrinya, sedikitpun tidak. Karena ini adalah kali pertama.
Bulan madu yang dia janjikan, adalah hutang yang harus dia bayar. Dr. Robert berjanji, akan melakukan malam pertama di kamar mewah sebuah hotel. Di hari bulan madu mereka. Itu adalah bentuk ungkapan penghargaan kepada seorang wanita, atas sesuatu yang begitu berharga, bahkan paling berharga dalam dirinya, yang akan dia persembahkan untuk sang suami.
Dr. Robert akan menuggu itu. Dia tak mau melanggar janjinya. Setelah ayah Tiara pulang dari rumah sakit, dia akan menabung lagi, untuk biaya bulan madu impian mereka.
Tiara yang tengah hanyut, tetiba tersadar saat Dr. Robert melepas bibirnya.
*******

Komentar Buku (211)

  • avatar
    MimieSharmila

    jalan ceritanya menarik

    30/08/2022

      0
  • avatar
    BontenAnwar

    saya sangat terhibur

    15d

      0
  • avatar
    SyafitriZahrawahyu

    bagus banget cerita nya

    18d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru