173. Aisyah Menyelamatkan Rena

Bab 180. Aisyah Menyelamatkan Rena
==========
Intan dengan tubuh Rena yang tetap terseret tak mau lepas, kini sudah berada di teras rumah, diirngi dengan seluruh keluaga besar yang kebingungan untuk membujuk bocah itu. Bik Warsih berlari-lari menuju pintu gerbang. Sebuah mobil berwarna putih memasuki halaman rumah besar itu. Berhenti persis di samping mobil Raja.
Seorang gadis berbusana syar’i keluar dari dalam mobil. Dua buah boneka besar dia peluk. Boneka yang masih berbungkus plastik transfaran. Boneka yang hampir sebesar tubuh Rena. Bocah kecil yang tengah berteriak histeris itu tiba-tiba menghentikan tangisnya. Mata kecil dan basah itu menatap ke arah tamu yang belum dikenalnya. Menatap takjub dua buah boneka yang sedang dipeluk oleh sang tamu.
“Assalamualaikum, benarkah ini rumah Rena dan Tasya?” Suara merdu gadis itu.
Intan terperanjat kaget. Dadanya begermuruh hebat. Cemburu menciptakan amarah. Gadis itu merasa terbakar. Dia mengeretakkan giginya menahan amarah. Apalagi saat Raja langsung berjalan menghampiri kekasihnya. Membantu membawakan satu boneka besar.
“Yang mana, ya, yang bernama Rena? Tante belum kenal, sih?” Gadis itu berjalan menuju teras.
“Caya, Ante! Caya Lena!” Rena menjawab sambil masih sesegukan. Dia mulai melepas cengkramannya di baju Intan. Mengusap matanya yang basa dengan punggung tangan kecilnya. Ingus masih meler dari hidungnya. Dia sapu dengan pungung tangannya yang satu lagi. Kedua tangan dan wajahnya kini basah air mata bercampur ingus.
“Hey! Salam kenal, Cantik! Aku Tante Aisyah Panggil aja Tante Ai!” Gadis itu berjonglok menyamakan tinggi badan dengan Rena, lalu menjulurkan tangannya.
“Maaf, Ante. Tangan Lena bacah, tenak inus. Jolok.” Rena tak mau menerima uluran tangan yang bersih putih milik gadis itu.
“Oh, enggak apa-apa, dong! Sini Tante bersihin!” Aisyah mengeluarkan tisyu basah dari dalam tasnya, setelah menyerahkan boneka peganganya kepada Raja.
“Boleh Tante bersihin wajah dan tangannya, Sayang?” tanyanya lemah lembut.
Rena mengangguk, sesekali masih terdengar suara sesegukannnya. Aisyah menyeka kering sisa air mata dan ingus di wajah Rena, lalu penuh kelembutan dia bersihkan kedua tangan bocah itu.
“Nah udah bersih, deh. Sekarang boleh, dong kita salaman?” tanya Aisyah ramah. Senyum merekah di bibirnya.
“Boyeh, Ante tantik. Ante patek apa, nih? Ini tantik! Ini duga tantik!” Rena menyentuh jilbab dan perhiasan jilbab yang dikenakan oleh Aisyah. Mata bulat Rena memandangi lekat wajah gadis itu. Begitu takjub, karena memang jarang dia bertemu dengan orang yang berbusana seperti Aisyah. Rasa kagum terlihat jelas dari mata polosnya.
“Ini namanya jilbab. Yang ini pengait dan hiasannya. Rena mau?”
“Mau, Ante!”
“Nanti Tante belikan buat Rena, mau warna apa?”
“Melah!”
“Oh, suka warna merah?”
“Em.”
“Boleh, kita beli sekarang?”
“Cekalang?”
“Hem. Mau?”
“Ndak, Lena mau pelgi cama Ante Intan!” Rena spontan menoleh ke arah Intan. “Ante!” Rena seolah tersadar, bocah itu kembali mendekati Intan. Intan tersenyum sinis.
“Sayang, bonekanya juga mau kenalan, dong!” Raja tak kurang akal.
Rena menoleh.
“Tatak Lena, main tama tami, yuk! Tatak Lena … mau main cama Tatak Lena!” Raja menirukan suara dan cara berbicara Rena.
Bocah kecil itu terperangah melihat kedua boneka di tangan Raja seolah berjalan mendekatinya. Tak sadar Rena tersenyum melihat tingkah Raja.
“Boyeh main ayunan? Tami mau main ayunan cama Tatak Lena!” Raja melanjutkan aksinya.
“Ayunan? Itu! Ada ayunan! Mau?” Rena mulai terpengaruh.
“Temanin, dong, Tatak.”
Rena mendongak, menatap wajah Intan. Gadis itu menggeleng, jelas perbuatannya itu disaksikan oleh semua yang ada di tempat itu.
“Bental aja, main ayunannya, Tatak Lena! Boyeh, ya?” Raja kembali merayu Rena.
“Boleh, ya, Sayang! Boneka itu, kan teman Rena, buat Rena, sengaja Tante beliin buat Rena. Masa gak diajak main, sih? Kasihan, dong, dia sedih, tuh!” Aisyah yang sebetulnya tidak tahu apa yang telah terjadi ikut membujuk.
“Monekanya buat Lena?” Rena menatap tak percaya wajah Aisyah.
“Iya, dong. Buat Rena satu, buat Tasya satu. Suka enggak?”
“Cukak, Ante?”
“Ajak main, dong, kalau suka!”
“Main ayunan?” Rena semringah.
“Iya.”
“Ayuk! Tapi monekanya buat Lena, ya, Ante?”
“Iya, dong, Sayang!”
“Hole!” Rena segera memeluk salah satu bonek besar di tangan Raja. Dengan sigap Raja menggendongnya beserta kedua boneka menuju ayunan di sudut halaman.
Alisya segera bertindak. Mencengkram lengan Intan, dia menyeret mantan adik iparnya itu menuju gerbang.
“Rena! Ikut Tante Enggak? Rena!” Intan berteriak-teriak.
Raja berupaya mengalihkan perhatian Rena agar tak terpancing dengan teriakan Intan.
“Cukup Intan! Sekarang pergi! Kau boleh tempati rumah itu, tapi ingat, suatu saat aku akan mengambilnya lagi! Pergi dari sini!” perintah Alisya mendorong tubuh Intan ke luar dari gerbang, lalu segera mengunci pintu besi itu dari dalam.
Alisya menyenderkan tubuh lelahnya di pagar besi kokoh itu. Ular itu sudah disingkirkannya. Bahkan sudah dicampakkanya jauh. Tetapi, Rena masih terkontaminasi oleh racun yang sempat disemburkkan oleh sang ular berbisa, mengotori jiwa putrinya. Masih butuh perjuangan panjang, untuk menyembuhkan putrinya. Semoga dia bisa. Keluarga besarnya terutama Aisyah yang lemah lembut, pasti bisa membantunya. Semoga, begitu harapan Alisya.
Wanita itu menatap ke arah ayunan. Raja dan Aisyah terlihat begitu tulus menghibur kembali putrinya. Bahkan Tasya sudah ada di antara mereka. Semoga Aisyah bisa menyatukan kembali keakuran Tena dan Tasya, begitu doa Alisya.
Tatapannya dia alihkan kini ke arah teras. Para orang tua tampak masih membicarakan tentang kelakuan Intan. Hanya Deva yang terlihat menyendiri di dekat tiang penyangga. Pria itu bersender di sana. Semua orang tak ingat kalau dia baru saja keluar dari rumah sakit. Perhatian tercurah pada kelakuan Intan yang begitu mengagetkan.
Alisya tiba-tiba tersadar. Gegas dia berjalan menuju teras, mendekati suaminya yang sedikit pucat.
“Sayang, kamu capek. Wajah kamu pucat?” Alisya menyentuh lembut lengan suaminya.
“Tidak, Sayang. Aku hanya sedikit pusing.”
“Oh, iya, Mas. Maaf! Karena keriwehan putri dan mantan adik iparku, aku lupa kalau kamu masih butuh perawatan sepulang dari rumah sakit. Ayo, aku antar istirahat di kamar, ya!”
“Ya. Maaf, aku memang agak capek.”
“Ya, Sayang. Maaf, aku sempat mengabaikanmu.”
Alisya memapah Deva menuju kamar mereka, setelah meminta izin kepada kedua orang tua dan mertuanya.
“Ini kamar pengantin kita, Sayang?” Deva melirik Alsiya begitu Alisya menutup pintu kamar kembali.
“Iya, tapi, gak boleh sekarang! Mas Deva harus istirahat yang cukup dulu, ya?” Alisya memaksa Deva berbaring.
“Baiklah. Tapi janji, nanti malam, ya!”
“Iya, Sayang. Aku janji.”
“Sekarang boleh ini aja dulu, ya?”
Deva menarik bahu Alisya. Mendekatakn wajah wanita itu ke arahnya. Alisya tak menolak. Deva teramat merindukannya, begitu juga sebaliknya. Namun, saat keduanya tengah hanyut dalam cumbuan itu, ponsel Deva berbunyi.
Enggan, Deva melepas wajah Alisya. Meraih benda pipih itu dari saku celananya.
“Ya. Ada apa?” tanya Deva mengusap layar ponselnya.
“Lapor, Pak. Ardho sudah keluar dari penjara, lusa adalah pernikahan adiknya. Kami akan memantau dua puluh empat jam segala gerak geriknya. Harap Bapak dan Bu Alisya berhati-hati, jangan pernah lepas dari pantauan kami.”
********

Komentar Buku (211)

  • avatar
    MimieSharmila

    jalan ceritanya menarik

    30/08/2022

      0
  • avatar
    BontenAnwar

    saya sangat terhibur

    15d

      0
  • avatar
    SyafitriZahrawahyu

    bagus banget cerita nya

    18d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru