Beranda/Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK/
176 . Hasrat dan Dendam
Bab 183. Menuntaskan Hasrat Beriring Dendam =========== Ardho kembali dari belakang dengan dua gelas minuman di tangannya. Teh manis hangat untuk Dinda, dan kopi buat dirinya. “Silahkan diminum!” ucapnya menyerahkan gelas untuk Dinda. “Makasih, Mas!” Dinda menerima gelas itu. Menyeruput beberapa teguk, lalu meletakkannya kembali di atas meja. “Jadi, kita mulai saja, ya! Pertama dulu masalah gugatan kamu, aku setuju. Aku tak akan menahan perceraian kita. Karena itu yang terbaik buat kita, iya, kan?” Ardho memulai pembicaraan. “Iya, Mas, makasih, tapi kok, tenggorokanku rasa kering, ya? Maaf aku minum lagi, ya, Mas?” Dinda meraba tenggorokannya. “Mium saja! Habiskan bila perlu, sepertinya kamu memang kehausan. Cuacanya agak gerah malam ini!” Ardho tersenyum samar. “Iya, Mas, maaf.” Dinda meneguk habis minuman bercampur obat perangsang itu, lalu meletakkan kembali gelas di tempat semula. “Jadi, gimana tadi, Mas? Mas Ardho setuju, kan, kita berpisah?” Dinda memastikan keputusan suaminya. Suami yang saat ini sangat ingin diceraikannya. “Ya, karena kita tidak pernah saling mencintai. Lebih baik kita sudahi saja, pernikahan ini. Aku mendukung gugatan kamu. Maafkan aku, ya, Dinda. Aku sempat mengecewakan kamu, aku bahkan sempat membuatmu sangat menderita. Mau, kan, maafin aku?” Ardho berkata sangat lembut. Dinda merasa lega. Ardho sudah berubah. Meskipun itu sudah terlambat, Dinda tak akan mau menjalani rumah tangga ini lagi, meskipun Ardho sudah berubah. Perceraian ini harus tetap dilaksanakan. Namun, setidaknya Ardho sudah bertobat di ujung pernikahan mereka. “Aku maafin, Mas. Aku juga minta maaf, ya, karena aku gak bisa menjadi istri seperti yang kamu harapkan. Duh, kenapa tiba-tiba aku merasa gerah banget, ya?” Dinda mulai tak tenang. Aliran darah di tubuhnya mulai tak norma. Ada hasrat yang tiba-tiba menghentak. “Aku juga merasa gerah. Cuacanya mungkin.” Ardho yakin, obat yang telah dia campur di dalam minuman Dinda sudah mulai bekerja. “Iya, kali. Terus, gimana dengan hak asuh anak kita, Mas? Boleh enggak aku aja yang rawat putri kita. Secara, dia kan, masih balita, Mas? Boleh, kan, dia ikut aku, aja, Mas?” tanya Dinda sambil mulai mengipasi leher dan wajahnya. “Boleh, Din. Nanti tiap bulan aku akan transfer biaya hidupnya sama kamu. Tenang aja, aku akan tetap bertanggung jawab.” “Makasih, ya, Mas! Aku doakan, semoga Mas Ardho akan segera mendapat pengganti aku, yang bisa membahagiakan Mas Ardho. Yang bisa menggantikan posisi Alisya di hati kamu.” Dinda mulai merasa tidak nyaman. Ucapannya mulai tak terkontrol. “Menggantikan posisi Alisya di hatiku?” Ardho menatapnya lekat. Dinda menunduk, tatapan Ardho membuat dia kian gelisah. Tatapan mata Ardho membuatnya berdebar. Entah apa yang telah terjadi ini. Kenapa aku menginginkan sesuatu, kenapa aku merasa membutuhkan pria ini. Aku merindukan sentuhannya. Aku ingin dia menyentuhku. Kenapa aku ini? Dinda semakin gelisah. “Kamu bisa sebenarnya menggantikan posisi Alisya di hatiku, Dinda. Asal kamu mau. Kenapa selama ini kamu tidak mau, Sayang?” Ardho mendekatinya. Dinda semakin berdebar. “Kamu itu cantik, mirip sama Alisya. Apalagi, sejak kamu berubah penampilan seperti ini, kamu persis seperti Alisya. Rambut kamu, alis kamu, mata kamu, bibir kamu, semua mirif Alisya.” Ardho mulai menjalankan aksinya. Tangannya membelai rambut panjang wanita itu, mulai meraba mata, alis, dan berakhir di bibir Dinda. “Mas, aku gak bisa gantiin posisi Alsiya di hati kamu! Gak akan pernah bisa. Kau sudah begitu terobsesi pada Alisya! Duh, aku kenapa, sih ini? Mas Ardho, aku kenapa?” Dinda menatap sayu tepat di mata Ardho. Tatapan yang begitu memohon. Penuh pengharapan. “Kamu sedang menginginkan aku, Alisya. Aku akan penuhi keinginan kamu, Sayang!” Ardho merengkuh tubuh Dinda, menggendong dan membawanya menuju kamar utama. “Aku bukan Alisya, Mas! Aku Dinda! Tolong lepasin aku, Mas! Jangan lagi kau jadikan aku sebagai alat untuk mencumbu Alisya! Tolong jangan lakukan lagi! Kumohon!” Dinda memelas. “Mulutmu bilang jangan, tetapi tubuhmu menginginkan aku, Alisya! Jangan munafik, Sayang! Aku akan memenuhi permintaan kamu, ya! Aku akan berikan apa yang kamu mau.” “Tapi, aku bukan Alisya, Mas!” Mulut Dinda mampu berkata, tapi tubuhnya tak mampu menolak, saat dibaringkan oleh Ardho di atas ranjang. Ranjang besar milik mereka. Ya, mereka masih sah sebagai suami istri. Kamar itu adalah kamar mereka. Ranjang itu adalah ranjang mereka. Ranjang yang biasa mereka gunakan untuk menghabiskan malam. Meskipun Ardho terlelap dalam bayangan. Ya, bayangan Alisya. Malam ini pun sama. Ardho kembali memperlakukan Dinda sebagai bayangan Alisya. Ternyata Ardho belum berubah. Dan tak ada yang berubah. Sepertinya tak akan pernah berubah. Perubahan sesaat tadi, ternyata hanya pura-pura. Cara yang dia tempuh untuk kembali menjerat Dinda. Dinda sangat sadar itu, dia tahu telah terjerat. Dia tahu kalau dirinya telah masuk perangkap. Namun, dia tak mampu berbuat apa-apa saat ini. Tubuhnya tengah dahaga. Tubuhnya merindukan sentuhan. Itu yang membuatnya tak mampu berbuat apa-apa, selain pasrah dengan segala perbuatan sang durjana. “Terima kasih atas kedatangan kamu, Alisya!” bisik Ardho di telinga Dinda. Pria sakit itu mulai melepas semua yang menempel di tubuh istrinya. Hingga tak ada yang tersisa. Dendam dan hasrat mengaduk benak Dinda. Hasrat itu membuatanya kehilangan tenaga. Dia hanya mampu menunggu, menunggu hingga Ardho benar-benar menuntaskannya. Namun, dendam itu juga sama besarnya. Bergemuruh dengan sama dasyatnya. Menunggu untuk segera dituntaskan juga setelahnya. “Terima kasih, Alisya!” Ardho mengecup lembut kening Dinda, sesaat setelah segalanya telah usai. Peluh membanjiri seluruh tubuhnya. Tubuh lelah itu berbaring lemah di samping istrinya. Senyum penuh kepuasan tersungging di bibirnya. Sebelah tangannya masih memeluk perut Dinda. Dinda melepas tangan itu perlahan, lalu bangkit, beringsut turun dari atas ranjang. Memungut pakaian yang berserakan di lantai, mengenakannya lagi satu persatu. Gontai dia berjalan menuju dapur, mencari benda yang terbilah tajam. Kembali menuju kamar, lalu menuntaskan dendam yang kian mengguncang. Tubuh tanpa pembungkus itu, berubah warna. Saat cairan segar merembes deras dari dadanya. “Alisya! Apa yang kamu lakukan, Sya?” Bibir Ardho bergumam. “Aku bukan Alisya, Mas! Maaf, aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu. Sejak pertama kali kau menyentuhku atas bayangan Alisya!” Dinda berbisik tepat di telinga suaminya. “Dinda! Kau … aku akan membun*hmu!” “Maaf, kau keduluan, Mas!” Dinda meraih ponsel, menelpon, lalu terduduk lemas di lantai dingin. “Hallo! Mbak Aisyah! Tolong telponkan polisi untukku!” ucapnya saat panggilannya sudah tersambung. “Hallo, ini Mbak Dinda, kan? Ada apa tengah malam begini?” “Ini udah pagi, Mbak. Maaf menggangu! Aku terpaksa melakukan ini. Aku membun*hnya! Cepat suruh polisi datang! Sebelum aku berubah pikiran!” “Mbak Dinda di mana? Siapa yang terbun*h?” “Aku di rumah Ardho.”
Dinda langsung mengakhiri panggilannya. Menekuk wajah dengan kedua tangan, lalu meletakkannya di atas lutut yang terlipat. Wanita itu diam, menunggu hingga mobil bersirene terdengar datang. ** Dinda bangkit menuju pintu pagar, membuka gerbang lebar-lebar. Sebuah mobil polisi dan sebuah ambulancs memasuki halaman. “Apa yang terjadi, Bu?” Seorang polisi langsung menghampiri. “Tangkap saya, Pak! Saya sudah membun*hnya!” Dinda mengulurkan kedua tangan. “Siapa yang Anda bun*h? Di mana mayatnya!” “Di kamar!” Petugas lain langsung berlari masuk ke dalam rumah, tubuh bersimbah darah berbungkus kain seprei diangkut ke dalam mobil ambulanc. Ambulanc milik rumah sakit di mana Dr. Robert dan Dr. Ilham bekerja. Dinda digiring masuk ke dalam mobil polisi. ****
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan ceritanya menarik
30/08/2022
0saya sangat terhibur
15d
0bagus banget cerita nya
18d
0Lihat Semua