logo text

158. Mereka Buka Mata-mata, Ai!

Bab 158. Mereka Bukan Mata-mata, Ai …!
===========
“Anda aneh!” gumam Aisyah pelan.
“Aneh lagi. Udah aku jelasin, kan? Lalu anehnya apa lagi?”
“Bagaimana mungkin saya berharga di hati Anda. Anda masih ragu saya akan mencelakai Pak Deva lagi, itu mungkin jawaban yang sebenarnya.”
“Tidak, Saya tidak ragu sedikitpun. Saya tahu kamu gadis yang baik. Kamu hanya terpengaruh bujuk rayu dan tipu daya Ardho, itu saja. Tapi sekarang, kamu sudah sadar, iya, kan? Jadi, apa lagi yang saya ragukan, coba?”
“Terserah Anda! Sekarang ke mana saya harus mengantar Anda! Saya ada urusan! Maaf, saya buru-buru.”
“Ai, bisa gak sih, kamu berhenti menyebut saya ‘Anda’?”
“Maaf, saya masih kecewa karena Anda memata-matai saya.”
“Mereka bukan mata-mata, Ai!”
“Kalau bukan mata-mata, apa namanya? Mereka mengikuti saya saat ke kampus. Mereka menguping pembicaraan saya dengan teman-teman pengacara saya. Bahkan mereka mengikuti saya saat mau bertemu dengan seseorang. Mereka terus mengikuti saya. Bukankah itu namanya mata-mata!”
“Saya khawatir keselamatan kamu, Ai. Kamu bilang akan melaporkan Ardho. Itu sebab aku meminta anggota Mas Deva menjaga kamu! Menjaga, Ai! Bukan memata-matai!”
“Apa peduli Anda! Apa peduli Anda pada saya?” Wajah Aisyah mulai mendung. Suaranya berubah agak serak, sepertinya ada tangis yang sengaja ditahan.
“Sudah aku jawab tadi, kan? Perlu diulang lagikah?” Raja menatap lekat wajah yang memerah itu.
“Karena saya berharga? Begitu?” Aisyah balas menatap. Mata jernih itu mengembun.
“Ya. Karena kamu berharga. Sangat berharga.”
“Berharga sebagai saksi untuk menuntut Ardho? Karena saya saksi kunci rencana lanjutan dia untuk melenyapkan nyawa kakak Anda, begitu, bukan?”
“Tidak ada hubungannya dengan itu. Kamu sudah begitu berarti di hati saya, sejak pertama aku melihatmu. Waktu itu aku malah tak tahu kalau kamu mantan kekasih pria berengs*k itu. Yang aku tahu kamu adalah adiknya Dr. Ilham. Itu saja.”
“Bohong!”
“Kamu tidak percaya? Tidak apa-apa. Aku gak akan memaksa.”
“Tolong Anda turun dari mobil saya! Anda naik taksi saja!” Tiba-tiba Aisyah memegangi kepalanya. Wajah jelita itu semakin memucat.
“Kamu kenapa, Ai?” tanya Raja bingung.
“Anda turun! Turun dari mobil saya! Sakit kepala saya! Keluar!” Aisyah mulai berteriak.
“Tidak! Kamu sakit, Ai! Aku tahu kamu sakit! Aku tidak akan meninggalkanmu di saat seperti ini!”
“Tidak, aku baik-baik saja! Tolong Anda turun! Saya gak mau liat Anda di sini! Auuugh! Sakit kepalaku!” teriakan Aisyah makin kencang sambil masih memegangi kepalanya. Wajah pucat itu meringis seperti sedang menahan sakit yang teramat sangat.
“Aku tidak mau!” Raja berteriak, mengalahkan teriakan gadis itu.
Aisyah terkejut. Lama dia menatap wajah Raja. Pria itu tak mau menunduk. Tatapan Aisyah dia balas tajam.
“Baik, kalau Anda tidak mau pergi, saya yang akan pergi!” Spontan gadis itu menekan gagang pintu mobil. Secepat itu pula Raja menahan tangan itu gadis itu. Kini, tangan mereka beradu. Raja melepas dari gagang pintu mobil, lalu menggenggam tangan putih gadis itu, dan meremasnya dengan lembut.
“Katakan kenapa sakit kepalanya, Ai! Bilang kenapa! Itu bukan sakit kepala biasa, bukan? Sakit kepala kamu setelah mendengar pengakuan aku, bahwa kau sangat berharga buatku. Kau sakit karena mendengar kalimat itu, kenapa?” Suara Raja melunak. Sorot mata tajamnya berubah sendu. Tatapan lembut itu menundukkan Aisyah. Gadis itu menundukkan wajah. Sementara tangan kanannya masih berada di kepala. Aisyah masih memegangi kepala.
“Bukan kepala kamu yang sakit, kan, Ai?” Raja mengambil tangan itu, menurunkannya perlahan. Aisyah tak menolak.
“Yang sakit itu adalah hati kamu? Kamu sakit hati mendengar penuturanku, Ai! Kenapa, Sayang?” tanya Raja dengan suara begitu lembut. Kini dia menggenggam kedua tangan gadis itu.
“Anda ….” Aisyah mendongak. Mengangkat wajah yang pucat, menatap lekat bola mata Raja.
“Ya, Ai? Kenapa?” Raja membalas tetap dengan sorot mata lembut. Dia tahu, saat ini hanya kelembutan yang bisa mengobati luka hati Aisyah.
“Kamu?” gumam gadis itu dengan mata mengerjab. Titik air yang sedari tadi di tahan di mata bagusnya, kini bergulir perlahan
“Aku kenapa?” Raja menanti kalimat gadis itu dengan sabar.
“Kenapa memanggilku dengan sebutan ‘Sayang’? Tolong jangan sakiti aku dengan kalimat dusta seperti itu lagi? Aku gak sanggup didustai lagi, kumohon!” air mata kian deras bergulir, meninggalkan jejak di pipi putih lembut tanpa polesan itu.
“Aku tak berdusta, sedikitpun tak ada dusta. Aku berkata yang sesungguhnya, aku sayang sama kamu Aisyah! Kau sangat berharga buatku. Tolong percayalah! Jika kamu memohon agar aku tidak mendustaimu, maka aku juga memohon padamu agar mempercayai aku.”
Raja melepas sebelah tangannya yang masih menggenggam kedua tangan gadis itu. Penuh kelembutan jari telunjuknya menyeka bulir bening di pipi Aisyah.
“Kenapa?” Tanya Aisyah masih ragu.
“Apanya yang kenapa?”
“Kenapa Anda bisa sayang pada saya. Anda bahkan belum tahu siapa saya yang sebenarnya.”
“Kamu pasti pernah mendengar istilah orang-orang ‘cinta pada pandangan pertama’ bukan?”
“Itu hanya kiasan. Sama sekali tidak benar.”
“Buktinya aku merasakannya, Ai. Aku jatuh hati padamu sejak pertama kali melihat kamu. Bahkan rasa di hatiku tumbuh dengan begitu suburnya, tanpa peduli dengan segala kekurangan pada dirimu. Saat kakak kamu menceritakan tentang keadaan kamu yang sebenarnya, kukira rasa di hatiku akan berkurang. Saat dia bilang kau bukan Dokter, tetapi sedang sakit dan tenggelam di dunia hayal, kukira rasa itu akan mati. Nyatanya apa, Ai?”
Alisya masih membisu
“Rasa itu justru bertambah dalam. Justru ada tekad yang menyeruak, aku harus bisa menyembuhkan sakitmu. Tekat itu menyiksaku, Ai. Itu sebab aku menjaga kamu! Itu sebab aku perintahkan bodyguard itu mengikuti ke mana pun kamu pergi. Bukan untuk memata-matai, tetapi aku ingin tahu keadaanmu setiap saat, Ai.”
Aisyah tercekat. Pandanganya kian mengabur. Bulir air bening menghalangi pandangannya. Kembali jemari Raja menyeka lembut mata basah itu.
“Tolong pahami rasa di hatiku ini, kumohon! Jika memang tak kau terima rasa ini, setidaknya jangan usir aku! Jangan suruh aku pergi, ya, Ai! Aku ingin menjagamu, menyembuhkanmu, meskipun tak bis akau balas rasaku, tak apa. Setidaknya aku bisa tenang, karena yakin kau baik-baik saja. Aku tak akan memaksakan rasa ini, Ai. Cinta tak bisa dipaksakan, bukan? Tapi, tolong izinkan aku menjagamu!”
Aisyah menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Lelah hati gadis itu sekarang. Kalau sebelumnya hanya ada rasa sakit karena merasa dipermainkan dan diperalat oleh Ardho, pria yang dia cintai. Pria yang yang tak pernah mengungkapkan apalagi menunjukkan bentuk perhatian apalagi cinta. Namun, Aisyah tak pernah berhenti mencintai. Bahkan sempat menyetujui akan berbuat nekat menghilangkan nyawa orang, demi sang lelaki itu. Sakit itu masih meninggalkan bekas.
Kini hatinya bertambah lelah. Hal yang bertolak belakang dipertunjukkan oleh Raja. Seorang putra konglomerat, termasuk dalam daftar orang terkaya di kotanya. Raja bukan hanya mengungkapkan rasa hati, tetapi juga menunjukkan lewat perbuatan dan perhatian. Lelaki ini jauh lebih tampan daripada Ardho. Jauh lebih mapan. Bahkan jauh lebih mendebarkan hati belianya.
Namun, mungkinkah ini nyata? Sedangkan lelaki seberengsek Ardho saja tak bisa menerima cintanya, konon lagi seorang pria yang begitu sempurna? Ini tidak mungkin! Tetapi, kenapa pria ini tetap memaksa?
“Ai, boleh aku tetap mendampingi kamu, kan? Hingga kondisi kejiwaan kamu betul-betul stabil. Hingga kau tenang? Hingga kamu menemukan pria yang kamu anggap pantas mendapat tempat di hati kamu. Boleh?”
Raja kembali memohon.
“Anda belum punya kekasih?” lirih suara gadis itu bertanya.
Raja menggeleng.
“Kenapa? Bukankah begitu banyak wanita di sekeliling Anda?”
Raja mengangguk.
“Bukankah pria pemilih? Anda bisa memilih sebanyak apapun yang Anda mau, bukan? Kenapa membuang waktu Anda kepada saya. Apakah karena saya sedang terluka dan sakit, sehingga Anda ingin menjadi pahlawan kesiangan buat saya?”
“Apa untungnya buat saya? Apakah saya tak punya kesibukan lain selain menjadi pahlawan buat kamu?”
“Kalau memang saya berharga, Lalu, kenapa Mas Ardho menolak saya?”
“Karena dia tak layak mendapatkan kamu, seperti tak layaknya dia mendapatkan Alisya, kakak ipar saya, kau mengerti?”
*******

Komentar Buku (211)

  • avatar
    MimieSharmila

    jalan ceritanya menarik

    30/08/2022

      0
  • avatar
    BontenAnwar

    saya sangat terhibur

    15d

      0
  • avatar
    SyafitriZahrawahyu

    bagus banget cerita nya

    18d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru