logo text

163. Tak Semua Seberuntung Alisya

Bab 170. Tak Semua Perempuan Seberuntung Alisya
============
“Maaf, saya udah waktunya kembali pulang. Mohon jizin, ya!” Tetiba Rika bangkit. Pembicaraan Alina dengan Aisyah terpaksa terhenti.
“Lho, kok buru-buru? Mbak Rika baru aja sampai, lelahnya juga belum hilang, kan? Perjalanan Mbak Rika jauh, lho?” Alina terkejut.
“Maaf, Bu! Sebenarnya saya udah janji dengan supir taksi yang tadi mengantar saya kemari, kebetulan ayah saya juga sedang di rawat di rumah sakit dekat rumah. Makanya agak buru-buru. Maaf, ya, Bu. Gak bisa lama.”
“Begitu, ya? Ya, sudah. Semoga ayah Mbak segera sembuh, ya! Terima kasih atas kunjungannya! Oh, iya, saya dengar bendahara di pabrik masih kosong, ya? Bagaimana kalau saya rekomendasikan Mbak yang menduduki jabatan itu, Mbak bersedia?” tanya Alina serius menatap wajah Rika yang menunduk.
“Ma-maksud Ibu?” Rika mendongak. Kini Alina dapat melihat dengan jelas kalau mata gadis itu basah. Ada air mata yang dia sembunyikan di mata itu.
“Kamu gadis yang pintar, cerdas, baik dan sepertinya bertanggungjawab. Saya percayakan keuangan pabrik yang di cabang Tanjung itu untuk kamu pegang. Kamu bersedia, kan, Sayang?”
Alina perempuan dewasa, sudah sangat banyak menikmati asam garam kehidupan. Apa bahasa wajah Rika, dia sangat paham. Apa arti air mata yang tertahan di mata jernih gadis itu, dia sangat mengerti. Dan kenapa Rika buru-buru mengundurkan diri pun dia sangat sadari. Tetapi, cinta adalah masalah hati. Dia tak akan pernah memaksa anak-anaknya lagi kalau itu menyangkut hati. Cukup sekali dia mengalami kepahitan memaksakan kehendak hati. Dulu, saat memaksa Deva menikahi Sonya, wanita pilihannya.
Kini, Alina bertekat, anak-anaknya akan memilih sendiri. Tak ingin masa lalu itu terulang lagi. Jika ternyata Raja lebih memilih Aisyah daripada Rika, gadis sederhana ini, tak jua dia ingin ikut campur. Tetapi, tak ada salahnya dia membesarkan hati gadis itu. Memberinya jabatan di pabrik, mungkin mampu membuatnya sedikit terhibur. Menambah semangatnya dalam menjalani hari selanjutnya. Apalagi dia adalah sabahat menantunya juga. Begitu pikir Alina.
“Tapi, saya bukan anak kuliahan, atau seorang sarjana, Bu. Saya tidak punya keahlian apa-apa.” Rika menunduk lagi.
“Jabatan bendarahara pabrik, tak harus seorang sarjana, Sayang! Kamu sudah mempunyai pengalaman kerja yang tinggi, kan? Udah alma kamu mengabdi di pabrik sebagai karyawan biasa. Hari ini, saya angkat kamu sebagai bendahara, ya! Raja akan menelpon ke kantor pusat, untuk mengatur semuanya. Bekerja dengan baik, ya!”
Rika menyerah. Sungguh dia sedang tak ingin membicarakan apapun saat ini. Apalagi urusan pekerjaan. Dia hanya ingin cepat pulang, lalu melemparkan tubuhnya di kasur keras di kamar sempit yang dulu mereka tempati berdua Alisya, lalu menumpahkan air mata yang sejak tadi ditahannya. Itu saja yang terbayang di benaknya saat ini. Tetapi, istri sang Big Bos malah memberinya mandat yang tak pernah dia sangka-sangka. Wajarnya dia bersujud syukur. Tetapi, rasa kecewa di dalam dada, membuatnya hanya terpaku tak lagi bersuara.
“Baiklah, kalau memang taksi kamu sudah menunggu. Hati-hati, ya!” Alina menyadarkannya.
“Ba-baik, Bu! Saya permisi.”
Rika mendekati ranjang pasien, menyalam Deva seraya memaksa bibir untuk tersenyum, mengangguk kepada Raja, demi kesopanan semata. Mengangguk kepada Dr. Ilham tanpa menatap matanya, menyalam Alina dan Aisyah, lalu terakhir memeluk Alisya yang mengantarnya sampai pintu ruangan.
“Yang kuat, ya! Kamu bisa!” Alisya berbisik.
“Apaan, sih! Aku gak apa-apa, lho! Aku pulang, ya!” Rika tersenyum.
“Hati-hati, salam sama Om dan Arfan!” Alisya menggenggam tangan Rika, meninggalkan beberapa lembar kertas di sana.
“Apa ini?” Rika membelalak.
“Tolong belikan sesuatu buat Om dan Arfan, oleh-oleh dari aku.”
“Sya, aku ada pegang uang, kok!”
“Hey, terima!” Alisya memaksa.
“Baiklah. Salam sama Bapak dan Ibuk, ya!”
“Hem, hati-hati!”

Rika berjalan pergi. Alisya menutup pintu, lalu kembali mendekati suaminya.
“Maaf, mobil aku udah diantar ke sini belum, ya? Aku mau cek dulu,” kata Raja tiba-tiba. Pria itu mendekati Aisyah. “Bentar, ya, Ai! Ngobrol sama Mama aja, dulu!” ucapnya pada Aisyah.
Alisya menatap mata Deva. Keduanya saling paham. Tapi, mereka hanya diam. Raja yang memulainya, biarlah dia sendiri yang harus mengakhirinya. Semoga dia bisa membesarkan hati Rika.
*
“Hey, mana taksinya? Katanya udah nunggu?”
Rika terperanjat. Gadis itu tengah berdiri di depan gerbang rumah sakit besar itu. Tak ada lagi jejak kesedihan di wajah ayu itu. Sepanjang perjalanan dari ruang VIP Utama hingga ke depan gerbang, telah mampu mencipta suatu kepasrahan di dalam kalbunya. Rasa ihklas dan sadar akan siapa dirinya. Gadis itu teringat kalimat yang pernah dia ucap sendiri kepada Alisya.
‘Tak semua orang seberuntung kamu, Alisya.’ Itu yang dia katakan waktu itu. Ya, nasip setiap orang berbeda-beda. Kebetulan Alisya begitu beruntung. Seorang wanita biasa kini menjelma menjadi seorang wanita istimewa. Haruskah Rika menuntut nasip serupa menghampiri dirinya juga? Tidak, Rika tak akan berharap dan juga akan pernah menyesalinya.
Tentang rasa yang sempat tumbuh ini, biar akan kubunuh dengan segera. Secepat rasa cinta tumbuh dan berbunga di hati, maka secepat itu pula aku akan mencabut dan melupakanya, aku pasti bisa. Begitu tekat Rika, sambil berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang seolah menatapnya iba.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya kepada setiap yang dilaluinya. Dalam hati tentu saja.
‘Tetapi, setelah ketegaran itu sudah berhasil diraihnya, tetiba pria ini datang pula. Untuk apa? Hanya akan mengorek rasa yang baru saja kupendam. Duh, aku tak ingin melihatnya lagi, sungguh, tolong suruh dia pergi, tolong siapapun, Ya, Tuhan, aku tak ingi melihat pria ini untuk sementara! Tolong aku!’ Rika menjerit tanpa suara.
“Maaf, kebetulan saya mau keluar, mungkin taksi yang Anda janjikan tadi mogok. Mari saya antar sampai terminal!” Seseorang seolah mendengar doanya.
“Alhamdullillah. Kebetulan sekali, terima kasih.”
Tanpa berpikir panjang, Rika masuk ke dalam mobil yang sudah terbuka pintu depannya. Tak peduli siapapun pengemudinya. Dia bahkan tak sempat melihat siapa yang menawarinya jasa yang tepat waktu saat dia sangat butuh itu. Itu tak penting baginya. Yang terpenting adalah Allah langsung menjawab doanya. Mengirimkan seseorang untuk melenyapkan wajah Raja dari hadapannya.
“Pak Raja! Terima kasih banyak atas perubahan adik saya! Sebenarnya saya mau bicara banyak dengan Bapak. Nanti saya telpon saja, ya! Permisi!”
Raja hanya mengangguk seperti orang linglung. Sikap Rika benar-benar membuatnya tak enak hati. Tetapi, dia harus sadar diri. Wajar Rika bersikap seperti itu terhadapnya. Setelah Raja sempat memberikan harapan pada gadis itu, tetapi kenyataan yang terjadi kemudian tak seperti yang diinginkan mereka berdua. Raja tak bisa menolak rasa yang tercurah kepada gadis yang kemudian dikenalnya. Aisyah telah membunuh rasa yang sempat ada di hati Raja pada Rika. Pria itu sudah menjatuhkan pilihannya. Semoga Rika akan baik-baik saja. Seiring waktu, dia pasti akan mampu memahami ini semua, begitu harapan Raja.
*****

Komentar Buku (211)

  • avatar
    MimieSharmila

    jalan ceritanya menarik

    30/08/2022

      0
  • avatar
    BontenAnwar

    saya sangat terhibur

    15d

      0
  • avatar
    SyafitriZahrawahyu

    bagus banget cerita nya

    18d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru