logo text

15. Alisya Merebut Kedudukan Fajar

Bab 15. Alisya Merebut Kedudukan Fajar
========
“Danan nangis, Nenek!”
“Iya, Sayang!”
“Oh, iya! Kamu siapa sebetulnya?” Wanita itu menatap Alisya beberapa saat kemudian.
Alisya menceritakan semuanya, termasuk apa sebab dia dipindah tugaskan di rumah ini.
“Jadi, itu yang membuat putri kamu trauma pada sosok seorang nenek, dan itu alasan kamu membawa dia ke pabrik?”
“Ya, seperti itu, Bu, maafkan saya. Tapi sungguh, saya sangat butuh pekerjaan ini. Saya mohon, agar Ibu bisa memakluminya. Tolong jangan pecat saya, Bu.”
“Kamu sarjana?” Sang Nyonya Dirut masih menyelidiki.
Ragu Alisya menjawab. Berpikir keras, khawatir akan di pecat juga. Seorang sarjana ditempatkan menjadi pelayan istri Direktur Utama. Sungguh tak pantas. Tetapi Alisya bersyukur, karena teramat sulit baginya mendapatkan pekerjaan. Tak masalah meski hanya seorang pelayan.
“Kamu kelihatannya cerdas, saya yakin kamu wanita berpendidikan, betul begitu?” cecarnya. Alisya tak mampu berkelit.
“Iya, Bu. Saya lulusan Sarjana Ekonomi.” Alisya menjawab pasrah.
“Hem!” Gumaman itu membuat jantung Aliya makin berdegup kencang.
“Sekarang, Ibu makan, ya? Saya suapin?” Alisya mengingat tugas selanjutnya, yakni membujuk sang Nyonya Dirut untuk makan. Semoga dengan ini, hati snag Nyonya tersentuh, sehingga tak jadi memecatnya.
“Enggak. Saya enggak mau makan,” tolaknya mendorong piring di tangan Alisya.
“Kenapa? Enggak enak, ya?”
“Hem.”
“Saya ganti, ya! Saya masakin bubur yang lebih enak, pasti Ibu suka. Bapak saya juga sering sakit, Ibu saya mengajari cara masak bubur yang enak. Mau Ibu mencobanya?”
“Begitukah?”
“Mama, Lena juga mau, Lena lapan.”
Alisya tercekat. Baru ingat kalau dia dan putrinya memang belum sarapan.
“Oh, ya? Kamu lapar, sayang?” tanya wanita itu mengelus perut Rena!
“Iya, Nenek. Lena lapan.”
“Iya, kamu sarapan, ya. Biar nenek yang suapin! Ambil HP saya!” perintahnya kepada perawat. Dengan sigap sang perawat mengambilnya di atas nakas.
“Sambungkan dengan nomor Bapak!” titahnya.
“Baik, ini, Bu. Sudah tersambung!”
“Pa, kalian di mana?”
“Kenapa, Ma. Ini di portcar, mau berangkat ke kantor.”
“Naik ke lantai empat, pindahin dulu Mama balik ke lantai satu!”
“Oh, ya, kenapa, Ma? Ada apa?”
“Mama mau sarapan di meja makan aja, mau makan nasi biasa, mau main di kolam renang bersama Tasya, eh, Rena maksud Mama. Mau main di taman, mau ---“
“Iya, iya. Kami datang!”
Haga Wibawa keluar lagi dari mobilnya. Deva dan Raja berbuat yang sama, keluar dari mobil masing-masing.
“Ada apa lagi, Pa?”
“Tumben, Mama kalian minta dikembalikan ke lantai satu. Katanya mau makan di meja makan, mau main di kolam renang dan taman, bersama bocah anak buruh itu.”
“Rena? Bocah itu berhasil mengambil hati Mama.”
“Sepertinya. Ayo!”
Ketiganya bergerak cepat menuju lantai empat.
“Itulah perlunya lif di rumah ini! Tapi kalian gak setuju, kan?” sungut sang Papa.
“Iya, Pa. besok Papa pasang aja, kalau gitu.”
“Sekarang kita butuhnya.”
“Besok-besok juga masih butuh, kok, Pa!”
Diujung tangga, di atas sana, sang Nyonya Dirut sudah menunggu, di dampingi Alisya, perawat dan Rena.
Pelan-pelan mereka mengangkat tubuh sang Mama, hingga tiba di lantai satu. Wanita itu kembali didudukkan di kursi rodanya.
Terengah-engah Deva dan Raja, menghenyakkan tubuh di sofa, di ruang keluarga itu.
“Maaf, mama nyusahi kalian,” ucap sang ibunda mengulas senyum.
“Besok pasang lif, Pa. Gak sanggup lagi, kalau misal Mama minta naik lagi ke lantai empat. Raja nyerah, pokoknya!” Raja terbatuk karena tersengal.
“Mama gak minta naik lagi. Kalu pun mau naik, mama gak akan nyusahin, karena mama mau belajar jalan sendiri, Tasya , eh , Rena pasti mau ngajari nenek belajar jalan lagi, iya kan, Sayang?” Ditatapnya Rena lekat.
“Mau Nenek!” Rena menedekatinya, memeluk lengan wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Semuanya terpana. Wanita itu menunduk, balas memeluk bocah kecil yang telah menawan hatinya.
“Rena mau, misalnya Mama Rena berangkat kerja, sementara Rena tinggal di sini bersama nenek, nanti sore mama kamu singgahi lagi?”
Rena menoleh ke Mamanya.
“Maksud Ibu, apa?” pelan suara Alisya bertanya. Wanita itu benar-benar tak paham apa maksudnya. Dalam bayangannya, dia akan dipecat, itu saja. Itu yang membuatnya semakin pucat pasi kini.
“Ma, apakah Alisya tidak Mama butuhkan di sini? Kalau memang tidak, dia balik ke pabrik saja! Begitu maksud Mama, kan?” Haga Wibawa bertanya, menuntut penjelasan istrinya.
“Tidak!” tegas wanita itu menjawab.
“Lantas, apakah Mama mau dia dipecat?” Deva tak sabar.
“Bukan!”
“Lantas?” serempak Deva dan Papanya bertanya. Hanya Raja yang tenang-tenang saja. Sikapnya santai seolah tak peduli, tetapi sangat memahami, hanya saja tak mau mencampuri.
“Tempatkan Alisya di kantor!”

“Apa?” kali ini semuanya terkejut hebat. Semua mata menatap lekat Alisya penuh selidik.
“Maaf, saya tak ada mempengaruhi Ibu. Sugguh. Ibu hanya bertanya, apakah saya seorang sarjana. Saya jawab iya, karena saya gak bisa berdusta. Tak sedikitpun saya mempengaruhi Ibu agar di tempatkan di kantor. Suster ini saksinya, sungguh, Pak. Maafkan saya!”
Alisya ketakutan. Air mata bahkan mulai luruh di matanya. Bayangan akan dipecat semakin nyata.
“Tidak ada yang membujuk mama. Alisya sama sekali tak membujuk. Ini murni perintah saya. Perusahaan itu milik saya! Tak ada yang bisa membantah keputusan saya! Siapa di antara kalian yang tak setuju, ha?” ancam sang Nyonya Dirut.
“Bukan begitu, Ma. Saya tahu Alisya seorang sarjana, tetapi dia tak punga pengalaman apa-apa dalam mengelola perusahaan. Pengalamannya hanya di pabrik, mengandalkan tenaga, bukan otak. Baru sebulan lulus masa percobaan kerja, dia udah ngelanggar peraturan. Itu yang mau Mama tempatkan di kantor?” Deva tampak sangat tidak setuju.
“Pernah kamu bertanya kenapa dia sampai membawa anaknya ke pabrik? Ada kamu tanya? Kamu hanya melihat kesalahan yang kali pertama dilakukannya. Begitukah sikap calon Direktur Utama? Seperti itu cara kamu besok memimpin perusahaan? Itu sebab Papa belum juga mau melepas kursi Dirut padamu, paham!”
“Mama terlalu berlebihan!”
“Ini menyangkut keselamatan nyawa anak kecil, Deva! Begitu kau menyikapi masalah anak kecil, makanya Tasya tak sudi kau rengkuh sesaatpun. Darah dagingmu sendiri! Karena kau memang tak punya empati sedikitpun pada anak kecil! Juga pada anakmu sendiri!”
“Cukup, Ma!”
“Ops, sudah-sudah! Tenang, ya.” Raja melerai pertengkaran sang Mama dengan kakaknya.
“Saya pamit saja, Bu. Saya berhenti kerja tidak apa-apa, asal Ibu dan Pak Deva tetap akur, maafkan saya telah menyebabkan kekacauan ini,” tutur Alisya menunduk.
“Tidak, tidak. Keputusan Mama tak bisa dibantah. Dia pemilik perusahaan itu, Alisya. Kamu ikut kami ke kantor! Kami memang butuh tenaga sarjana satu orang lagi. Rencananya, teman aku yang akan mengisinya. Gak apa-apa kamu masuk, Fajar terpaksa aku tolak,” ucap Raja, tegas, namun sangat tenang.
Alisya tercekat.
*****
Bersambung, ya.

Komentar Buku (211)

  • avatar
    MimieSharmila

    jalan ceritanya menarik

    30/08/2022

      0
  • avatar
    BontenAnwar

    saya sangat terhibur

    15d

      0
  • avatar
    SyafitriZahrawahyu

    bagus banget cerita nya

    18d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru