Beranda/Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK/
21. Keluarga Benalu Kena Batunya
Bab 21. Keluarga Benalu Kena Batunya Alisya tidak menangis. Lebih tepatnya tidak terlihat menangis. Karena tangisnyaa pecah di dalam dada. Ciptakan gemuruh yang begitu hebat di dalam sana. Isaknya bahkan tak terdengar, karena tergantikan dengan detak jantungnya yang berpacu tak beraturan, tak ada isak tangis, yang ada hanya napasnya yang terdengar tersengal. Juga tak ada air mata. Alisya tak mau air matanya tumpah di hadapan keluarga yang sempat dijadikannya sebagai tempat mengabdi, yang ternyata hanya menganggapnya seekor sapi.
“Maaf, Sya! Aku tidak pernah mencintai Desy! Aku hanya mencintaimu saja. Aku sangat mencintai kamu, Sya. Itu sebab aku memilih kamu, bukan Desy!” “Andai aku tahu, kau pernah tidur dengan Desy sebelum kamu menikahiku, maka pernikahan ini tak akan pernah terjadi. Kenapa kau tega menikahi aku sedang kau sudah tidur dengan perempuan yang menumpang di rumahmu!” “Desy yang menggodaku, Sya! Dia memancingku! Dia memang menyukaiku sejak awal, tapi aku tolak!” “Stop! Cukup sudah! Aku pergi! Kita pisah!” Alisya mengangakat kedua tangannya. “Ya, tentu saja kamu akan minta pisah sekarang! Karena kau sudah mendapat pekerjaan hebat, di kantor perusahaan terkenal itu, kau sudah sukses, sedang aku? Aku kere, Sya! Aku pengangguran, sebentar lagi isi rumah ini munkin aku juali satu persatu untuk biaya makan kami. Mungkin juga rumah ini akan aku gadaikan, lalu kami tinggal di kolong jembatan. Itu sebab kau minta pisah, bukan? Ok, selamat jalan, Alisya, semoga kau bahagia!” “Maaf, bukan itu masalahnya. Sama sekali bukan karena harta. Empat bulan aku telah mengabdi di rumah ini! Dijadikan sapi perah olehmu dan keluargamu! Bahkan aku yang telah memberi makan selingkuhanmu! Perempuan yang kau tiduri saat aku banting tulang di luar sana. Begitu balasan darimu dan keluargamu, Mas? Bahkan putri kita Rena kalian siksa fisik dan mentalnya. Tega kalian memperlakukan Rena seburuk itu. Rupanya ini alasannya.” “Maaf, aku memang tak bisa menyayangi anak hasil selingkuhanmu itu!” “Baik, kau akan menyesal telah menyiak-nyiakan Rena. Traumanya terhadap sikap dan perlakuanmu padanya, kau sendiri yang akan memetiknya. Tak perlu kau sesali, Mas. Aku akan mengatakan padamu, meski kau tak akan percaya, bahwa Rena adalah putri kandungmu! Dia darah dagingmu! Tak perlu aku buktikan itu! Karena kau akan lebih percaya pada hasutan ibumu dari pada hasil tes DNA sekalipun! Karena bagimu, Ibumu adalah Tuhanmu! Petunjuknya adalah aturan hidupmu! Aku tak akan pernah menyesal berpisah darimu. Tetapi, perlu kau ingat. Kelak jika Rena menikah, maka aku akan mencarimu. Karena yang berhak menikahkannya hanyalah dirimu. Permisi!” “Alisya!” “Kita berangkat, Pak!” Alisya membuka pintu mobil. “Tunggu Alisya!” Fajar menahan pintu mobil itu. “Apa yang kau katakan barusan? Tolong kau ulangi, Sya!” “Maaf, aku mau pergi, Awas! Tak ada yang perlu dibahas lagi!” “Sebentar, Pak supir! Tolong beri waktu untukku sebentar!” Fajar menoleh ke ibunya, menyeret perempuan itu dengan kasar ke hadapan Alisya yang telah masuk ke dalam mobil. “Jalan, Pak!” titahnya pada Pak Dadang. “Sebentar! Tolong sebentar lagi saja!” Fajar menghiba. Tangannya kembali menahan pintu mobil. “Jelaskan, Ma! Jelaskan sekarang! Apa yang diucapkan Alisya tadi!” teriaknya pada Ibunya. “Kenapa? Kenapa Mama yang kamu salahin?” Sang Mama mulai berkelit. “Mama bilang waku itu, kalau Mama dan Desy pernah pergokin seorang laki-laki masuk ke rumah kami? Iya, kan?” “Iya.” “Kenapa Mama tak bisa membantah ucapan Alisya kalau itu benar! Kenapa Mama diam, saat Alisya bilang bahwa aku tak akan percaya meski ada hasil tes DNA sekalipun, karena aku lebih percaya hasutan Mama?” “Ya, terserah kamu! Mau percaya Mama atau Alisya! Perempuan sombong yang tak punya hati itu! Tega dia mau ninggalin kita saat sulit begini, mau makan apa kita, coba? Kalau kau jual rumah ini, kita akan tinggal di mana?” “Mama, jangan alihkan pembicaraanku! Aku nanya, masalah Rena! Jawab, Ma! Rena anakku atau bukan!” “Terserah!” “Itu artinya Mama telah membohongi aku selama ini? Laki-laki masuk ke rumah di awal pernikahan aku dengan Alisya itu hanya karangan Mama?” “Sudahlah, Jar! Itu bukan masalah penting! Yang penting sekarang kau bujuk Alisya agar jangan pergi! Aku janji akan sayang dan penuh perhatian pada Rena!” “Jangan-jangan Mama juga yang menyuruh Desy mendekati aku! Karena dari awal Mama menyuruhku menikahi keponakan Mama itu, iya, kan? Itu sebabnya Mama membenci Alisya, karena aku menolak jodoh yang Mama pilihkan! Iya, kan?” “Iya, Mas! Mama dan Desy sepakat menyiksa Kak Alisya. Mama berencana menikahkan Mas Fajar dengan Desy, begitu Desy wisuda dan mendapat pekerjaan. Kak Alisya akan diceraikan, begitu rencana mereka, Mas.” Intan tak tahan lagi. Hatinya pedih melihat kekecewaan kakak kandungnya. “Intan! Kau bicara apa! Tutup mulutmu!” “Aku gak bisa melihat Mama tetap tak mau mengakui kebusukan Mama! Padahal Kak Alisya sudah mau minggat! Jujur saja, Ma! Siapa tahu dengan pengakuan Mama, Kak Alisya akan luluh dan mau maafin kita, dan dia gak jadi minggat!” “Benar begitu, Sya? Kalau mama ngaku dan minta maaf, kau akan batalin niatmu menceraikan Fajar, Nak?” Wanita itu menghiba mencoba menyentuh tangan Alisya di dalam mobil. Alisya bergeming. “Maafkan mama, ya! Jujur, dalam hal ini, semua salah mama. Mama yang menghasut Fajar. Mama yang menyuruh Desy merayunya. Mama yang melarang Desy hamil, agar seolah-olah Fajar tak bisa punya anak, kamu selingkuh dan punya anak dari laki-laki lain. Itu semua salah Mama, Nak! Sekarang Mama mau bertobat! Mama akan berubah! Mama akan sayang pada Rena, cucuku satu-satunya! Mama tak akan maksa Fajar lagi buat nikahin Desy, ponakan Mama. Kamu jangan pergi, ya, Nak!” Perempuan itu menangis sesegukan, sambil menatap begitu memelas pada Alisya. “Rena, cucu, Nenek! Maafin Nenek, ya, Sayang!” lirihnya megulurkan tangan pada Rena. “Mammma, atut!” Bocah itu menyembunyikan wajahnya di pangkuan Alisya. “Mama jahat! Mama kejam! Mama telah membuat aku membenci istriku sendiri, Mama membuat aku membenci anakku sendiri, darah dagingku!” Fajar memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Melolong panjang, menangis penuh penyesalan. Intan mencoba menenangkan sang kakak. Beberapa tetangga mulai berdatangan. Ingin tahu apa yang telah terjadi, sehingga seisi rumah itu bertangis-tangisan. “Maafkan aku, Sya! Maafkan Papa, Sayang!” Fajar memohon sambil melolong. “Jalan, Pak!” perintah Alisya datar. “Alisya! Alisya! Jangan pergi, Say! Rena ….” Mobil itu bergerak pelan, meninggalkan kerumunan warga yang menyaksikan. Kedua bodyguard mencoba menjelaskan pada beberapa warga yang penasaran. Setelah yakin tak ada yang perlu dipermasalahkan, kedua orang suruhan Deva itu meninggalkan kerumunan. ***** Bersambung, ya. Semoga suka, semoga semua pembaca sehat-sehat dan murah rezeki. Terima kasih banyak karena masih mau lanjut membaca cerita ini.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan ceritanya menarik
30/08/2022
0saya sangat terhibur
15d
0bagus banget cerita nya
18d
0Lihat Semua