Beranda/Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK/
11. Tendangan Alisya Membuat Fajar Meringis Tak Bersuara
Bab 11. Tendangan Alisya Membuat Fajar Meringis Tak Bersuara ========== “Kamu memang udah biasa naik angkot. Perempuan kampung, naik angkot itu udah mewah banget. Dari kecil hidup di lingkungan keluarga miskin, gak kenal apa itu mobil pribadi. Beda dengan Fajar dan Intan. Dari kecil sudah hidup mewah, gak pernah sejarahnya naik angkutan umum!” Sang Mertua makin meradang. Sakit hati Alisya mendengar itu. Jadi, itu sebabnya dia dibabukan selama ini? Begitu rendah harga dirinya di mata mertuanya. Alisya ingat, sejak awal dirinya memang tak disukai oleh ibu mertua. Sudah lebih seribu kali wanita itu mengatai dirinya sebagai perempuan kampung. Memang benar dirinya adalah perempuan yang berasal dari kampung, sama seperti Desy, yang juga bearasal dari kampung. Tetapi kenapa Desy diperlakukan berbeda? Apakah karena Desy putri dari adik kandungnya? Baiklah, aku akan buktikan kepada perempuan yang seharusnya aku hormati ini, bahwa perempuan dari kampung ini, tak pantas dia hina. Akan kubuat dia menyesali setiap perkataannya, begitu tekat Alisya. Berbalik gadis itu melanjutkan langkah yang sempat terhenti. “Alisya! Mana uangnya!” Sang mertua mengejarnya. “Sudah, Ma! Biar Fajar yang bujuk dia nanti!” Sang putra menghentikan ibundanya. * Mengunci pintu kamar, lalu Alisya membaringkan tubuh lelahnya di samping Rena. Pikiran kalut berusaha ditepisnya. Meski saat ini, dia merasa bahwa dirinyalah perempuan yang paling malang. Kadang dia berpikir, kalau penderitaannya ini adalah sebagai balasan dari kedurhakaannya dahulu. Ya, Alisya merasa menyesal sekarang, menikah terlalu buru-buru. Banting tulang orang tuanyanya di desa sana, demi membiayai kuliahnya. Namun, begitu lulus sarjana, langsung menikahi Fajar. Sempat terlihat rona kecewa di wajah Bapak dan Ibu, tetapi orang kampung yang sederhana dan lugu itu, tak mau menghalangi keiinginan sang putri. Alisya begitu berbahagia, karena Fajar sangat mencintainya, meski sikap dingin ibu mertua terhadap kehadirannya. Untuk mengatasi itu, Alisya langsung minta pindah, tak ingin serumah dengan mertua, untuk menjaga segala sesuatunya. Fajar mengabulkannya. Berpisah rumahpun, sang mertua tak henti merecoki rumah tangganya, apalagi serumah seperti saat ini. Di tambah lagi dengan pengkhianatan Fajar. Tak ada jalan lain lagi, Alisya memilih mundur. Aku akan mencari cara yang paling tepat, untuk mengabarkan pada Bapak dan Ibu, begitu rencananya. Alisya tertidur dengan dengan rencana dan harapannya. * Alisya tak tahu berapa lama sudah dia sempat tertidur, ketika terdengar ketukan halus di pintu kamar. “Sya! Buka sebentar!” Itu suara Fajar. Meraih ponsel di atas nakas, Alisya ingin memastikan ini jam berapa. Pukul dua dini hari. Untuk apa Fajar membangunkannya jam segini? “Sya! Buka sebentar!” Ketukan semakin kencang. Tak tega kalau sampai Rena terbangun, Alisya beringsut turun dari pembaringan. Berjalan agak sempoyongan ke arah pintu kamar, karena kepala terasa sangat pening. “Ikut Aku sebentar!” Tangan Fajar langsung menarik lengannya dengan kencang, begitu pintu kamar terbuka. “Maaf, Mas! Kamu mau apa?” tanya Alisya, sambil berusaha mengembalikan kesadarannya. Fajar masih terus menariknya menuju kamar utama. Mengunci rapat pintu kamar, lalu memapah Alisya ke bibir ranjang. “Maaf, aku masih pening banget. Sebentar aku cuci muka dulu!” Alisya berjalan menuju kamar mandi yang tersedia di kamar utama itu. Memaksa otaknya untuk berpikir keras, sembari membasuh wajah dan berkumur dengan air dingin. Alisya kembali sepenuhnya sadar. Pening berangsur hilang. Teringat Fajar menariknya paksa menuju kamar utama ini, pasti ada yang lelaki itu ingin lakukan, apa maksudnya kali ini? Teringat pertengkaran dasyat yang terjadi di meja makan tadi malam. Ketika mertuanya mengamuk meminta uang belanja dan cicilan mobil. Mertuanya bahkan hendak mengejar, lalu dilerai Fajar dengan janji dia yang akan membujuk Alisya. Oh, aku yakin sekarang. Jadi ini maksudnya, aku harus bertahan. Begitu batin Alisya. Dengan langkah tegak dan penuh kepastian, di berjalan keluar. “Kenapa tidur di kamar Rena, sih, Sya! Ini kamar kita, bukan?” Fajar menyambutnya, menggandeng menuju ranjang. Alisya menepis masih dengan sangat sopan. “Seprei nya sudah aku ganti, Sayang! Lihat, tak ada noda lendir, atau apapun di sana!” Fajar menunjuk ranjang. “Mana kunci kamarnya, Mas?” Alisya bertanya lembut. “Sya, aku tahu kamu butuh ini. Sejak kamu sibuk lembur selama ini, kamu jarang aku nafkahi. Kamu pulang saat aku telah tertidur, lalu berangkat kerja lagi sat aku masih belum bangun. Saat terbangun tengah malam, aku gak tega melihat kamu begitu pulas, lelah dan letihmu tak ingin aku tambahi. Itu sebabnya aku tak pernah lagi memenuhi kewajibanku, Sayang!” Alisya bergeming. Bukan membuat hatinya tentram mendengar alasan manis Fajar, tetapi justru membuatnya bertambah muak. Karena nyatanya, bukan hanya sekali dua kali dia memberikan isyarat, berkali-kali Alisya menyentuh tengkuk dan punggung sang suami dengan bibirnya, kala rindu begitu memuncak, sambil berbaring sepulang lembur. Fajar tak selalu sudah lelap, sangat sering dia bahkan masih asyik bermain game online, saat Alisya meminta dengan isyarat. Tetapi, karena Desy sudah memuaskannya di sore hari, membuat sang durjana mati rasa pada isyarat istri. Parahnya Alisya baru kemarin sore menyadari itu. Setelah menyaksikan sendiri tubuh suaminya bersatu dengan tubuh Desy tanpa pembungkus. Saat ini, Alisya tak lagi marah, tak ada rasa cemburu atau sejenisnya. Yang ada hanya jijik, muak, dan ingin melepaskan diri. Itu saja. “Buka pintu kamarnya, Mas!” Suara Alisya meninggi. “Bobok di sini saja, Sayang!” Tangan Fajar mulai beraksi. “Maaf, kalau ini adalah usahamu demi mendapatkan uang dariku, sayang sekali, Mas, aku sedang tak butuh jasa seorang Gig*lo!” Alisya berkata ketus. “Apa maksud kamu, Sya? Aku suamimu, bukan laki-laki bayaran!” “Nyatanya kamu melakukan itu demi mendapatkan uangku, bukan?” “Sayang! Kenapa kamu begitu rendah menilaiku?” “Karena kau memang laki-laki rendah! Kau dan juga ibumu!” “Sya?” Fajar tak berani marah. Dia khawatir maksudnya tak terpenuhi. Lelaki itu berusaha menekan harga diri, dan menahan amarah. Demi uang Alisya tentu saja. “Ibu mana yang membiarkan anak lelakinya berbuat mes*m di depan matanya, ha? Hanya ibumu, Mas! Tapi, sudahlah! Aku toh sudah tak peduli! Kau talak aku, lalu aku pergi baik-baik dari rumah ini, itu saja yang paling penting sekarang bagiku! Dan bilang pada Ibumu, agar jangan mengatakan yang tidak-tidak pada orang tuaku! Siniin kunci kamarnya!” Alisya berusaha merogoh anak kunci dari saku celana panjang Fajar. “Tidak, Sayang. Malam ini, kamu harus aku dapatkan. Bukan karena uangmu, tetapi karena memang aku sangat merindukanmu!” Fajar menangkap tubuh Alisya, berusaha melakukan sentuhan di sekujur tubuh wanita yang sebetulnya masih halal baginya, tetapi sudah dikhianatinya. Alisya hampir kewalahan. Tenaga lelaki itu jelas lebih kuat daripada tenaganya, tetapi dia tak kurang akal. Rasa sakit akibat pengkhianatan, mematikan segala rasa di tubuhnya. Yang ada hanya dendam. Akal harus dimainkan. Alisya Pura-pura pasrah, Fajar bersorak gembira di hati. Alisya sudah tunduk lagi padanya. Kini dia leluasa menjalankan aksinya. Sedikitpun tak menyadari, apa yang terjadi beberapa detik setelah dia berhasil menangalkan pintalan benang di tubuhnya. Terjangan itu terlalu tiba-tiba. Alisya berhasil menendang tepat di titik lemahnya. “Alisya …,” lirihnya meringis tak bersuara. ****** Bersambung, ya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
jalan ceritanya menarik
30/08/2022
0saya sangat terhibur
15d
0bagus banget cerita nya
18d
0Lihat Semua