Beranda/The Power of Love/
Bab 31 The Power of Love
~Sesuatu yang sudah menjadi takdirmu, maka akan Allah dekatkan meski harus melalui jalan yang berliku, dan meski betapa jauhnya dia pergi, maka pasti akan kembali padamu~
****
Kepergian Gio membekaskan luka mendalam bagi Haz dan Shanum. Haz yang sekian lama memimpikan kebersamaan dengan ibu dan adiknya, kini harus menerima kenyataan menyakitkan. Gio pergi setelah keinginan Haz terwujud. Begitupun dengan Shanum, dia sangat kehilangan sosok yang selalu ada di sampingnya. Gio, sahabat yang dengan percaya diri meminta dia di depan orang tua dan semua orang, kini pergi mendahuluinya. Dia tidak pernah membayangkan kalau Joni akan bertindak sejauh itu. Semua terjadi begitu singkat.
Beberapa hari setelah kejadian nahas itu, polisi menyergap Joni dan bodyguardnya di hotel kawasan malioboro. Bukti yang pihak berwajib cari, mereka dapatkan dari CCTV juga dari keterangan beberapa orang yang menyaksikan kejadian di TKP. Joni dikenai pasal berlapis, yakni pasal 338 KUHP yang merupakan tindak pidana terkait pembunuhan dengan hukuman penjara paling lama 15 tahun, pasal 351 KUHP yang berkaitan dengan tindak pidana penganiayaan dengan hukuman paling lama lima tahun penjara, juga dikenai undang-undang narkotika karena kedapatan sedang pesta miras dan narkoba di hotel tersebut.
****
Satu tahun setelah kepergian Gio,
"Ma, aku mau minta ijin sama Mama," seru Haz.
"Apa itu?" tanya Bu Hani sambil merapikan kain batik di butiknya.
"Eumm, Haz mau melamar Shanum. Apakah mama berkenan mengantar Haz ke rumahnya?" tanya Haz. Dia merasa gugup dan mengusap kedua telapak tangannya.
Bu Hani terkejut. Matanya terbelalak. "Shanum? Kamu serius? Wah, tentu aja mama setuju dong. Mama tau betul Shanum itu anak yang baik. Selama menjadi pendamping Gio pun tidak pernah bertingkah macam-macam," Jelas Bu Hani. Matanya berkaca-kaca. Dia teringat pada anak bungsunya.
"Maaf, Ma. Haz tidak bermaksud mengingatkan Mama kepada Gio." Haz mendekati ibunya dan memeluk dengan erat.
"Gak papa. Mama senang mendengarnya, Nak." Bu Hani membelai rambut Haz dengan penuh kasih sayang.
"Shanum itu anak yang baik, dia sopan dan cerdas. Kehadiran Shanum di kehidupan Gio membawa kebahagiaan buatnya. Gio yang kurang perhatian mama, selalu menutupi keaepiannya di hadapan mama dan semua orang. Shanum selalu berhasil membuat Gio tertawa dan mengeluarkan Gio dari kesepian." Bu Hani menceritakan hal tersebut dengan butiran netra yang sudah melumuri pipinya.
"Please, Ma. Jangan menangis. Haz tidak akan maju untuk Shanum jika hal tersebut makin membuat mama sedih." Haz menyeka air mata ibunya yang semakin mengalir deras.
"Enggak, Nak. Jangan! Jangan berhenti! Justru mama akan sangat bersyukur karena Shanum akan kembali di tengah-tengah keluarga kita," jelas Bu Hani.
Beliau memeluk Haz dan mengusap punggungnya, "Kapan kamu melamar Shanum?" bisiknya.
Haz melepaskan diri dari pelukan sang ibu. Dia menundukkan kepalanya, lalu memandang kedua binar mata ibunya. "Segera, nanti Haz atur waktunya," tegas Haz dengan senyum simpul nya.
"Terimakasih banyak, Ma. Haz minta restu dan keihklasan dari Mama," lanjutnya.
"Mama ikhlas, Nak. Mama restui kalian berdua." Bu Hani memegang kedua pipi Haz sambil tersenyum.
****
Di taman Graha Sabha Pramana-UGM,
Shanum dan Haz duduk bersebelahan di kursi taman, di bawah pohon yang semakin rindang dengan rumput menghijau di bawahnya. Menikmati senja yang memesona. Semilir angin berembus menerobos tiap helai daun. Tak sedikit pula yang menghabiskan waktu sorenya di tempat yang sama. Mereka duduk berdua bukan sebagai mahasiswa dan dosen, karena Shanum baru saja menyelesaikan strata satunya dengan nilai cumlaude.
"Sayang sekali, Gio tidak sempat menyelesaikan pendidikannya. Padahal, kita pernah janji harus lulus sama-sama dengan nilai yang tinggi. Rupanya takdir berkata lain," tutur Shanum.
Haz memandang wajah oval dan mata sipit Shanum. Dia tidak bisa berkata-kata saat harus menyinggung adik yang lebih dahulu pergi ke sisi-Nya. Haz hanya tersenyum tipis. Hatinya pun ternyata masih menyimpan kesedihan yang serupa.
"Mikirin apa? Sampe liat aku kaya gitu?" Shanum menoleh, memandang Haz dengan tatapan aneh.
"Oh, enggak," ucap Haz. "Shan, apa rencana kamu setelah ini?" tanyanya.
"Eumm, mau cari kerja dan hidup bahagia!" Shanum terkekeh.
"Wat? Dat is simpel?" Haz terkejut dan bertanya dengan Bahasa Belanda. Shanum menoleh, dia tidak paham maksud pertanyaan Haz.
"Maksud aku, sesimpel itu? Hanya itu?" tanya Haz dengan nada terkejut.
"Iya, lalu? Rencana Pak Haz sendiri apa setelah ini?" Shanum berbalik menanyakan hal serupa kepada Haz.
"Pak?" Haz menghela napas dalam-dalam. "Ok, no problem. Aku punya rencana besar, tapi gak yakin berhasil apa gak," lanjutnya.
Shanum mengernyitkan dahinya. Dia penasaran. Haz lalu memutarkan badannya ke arah Shanum. Dia menatap gadis itu cukup lama hingga membuat wajah Shanum memerah. Tak lama kemudian, Haz mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah cincin putih berkilau indah dia hadapkan kepada seseorang yang berada di hadapannya. Melihat hal itu, Shanum salah tingkah.
"Gini, Shan. Aku rencananya mau nglamar seseorang, tapi aku takut dia nolak. Gimana caranya biar dia gak nolak?" Haz mengejutkan Shanum dengan pertanyaan itu.
[Oh, jadi cincin itu buat orang lain?] gumam Shanum dalam hati. Wajahnya mulau berubah seketika.
"Kenapa tanya aku?" tanya Shanum ketus.
"Soalnya kamu 'kan perempuan," jawab Haz singkat.
Shanum mendengus kesal. "Kalau dia memiliki perasaan yang sama dengan Anda, pasti dia langsung terima kok," tuturnya.
Melihat Shanum yang mulai geram, Haz tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak. Sementara itu, Shanum semakin heran melihat tingkah Haz. "Ok, jadi gitu ya. Shan, kamu mau gak nikah sama aku?" Haz melayangkan cincin tersebut di hadapan Shanum.
Shanum yang mulanya terlihat geram, tiba-tiba rautnya berubah. Dia tercengang memandang Haz. "Aaku?" tanyanya.
"Maukah kamu menjadi istiku? Ijinkan aku menjadi imammu, aku janji akan menjaga kamu dan selalu di samping kamu apapun yang terjadi," tutur Haz.
Shanum masih tidak percaya kalau Haz benar-benar akan meminta hal itu darinya. Dia masih terperangah dan merasa haru. "Aaku?" tanyanya lagi.
"Iya, kamu!" jelas Haz. Tanpa berpikir panjang, Shanum mengangguk, tanda kalau dia menerima Haz.
****
Bertahun-taun lamanya Shanum menyembunyikan perasaanya. Akhirnya Allah bukakan jalan melalui arah yang tidak pernah dia duga. Bahkan, rasanya mustahil untuk berjuang mendapatkan Haz setelah Shanum dipersunting oleh Gio. Sungguh, cinta-Nya begitu besar kepada hambanya yang mau berdoa dan berusaha. Lewat keteguhan hati, Shanum percayakan kisah perjalanan hidupnya kepada Sang Pemilik Nyawa. Melalui keteguhan doa dan cinta, Shanum serahkan urusan cintanya kepada Sang Pemilik Cinta. Tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia ini. Semua porsi manusia sudah Allah ukur dengan tepat. Ketika manusia pikir semua hanya mimpi. Allah akan mengatakan semua bisa saja Aku jadikan nyata.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (440)
Share
Selesai
Rekomendasi untuk Anda
Bagus banget nget... ceritanya😍😍
18/05/2022
0Senangnya Shanum bisa ketemu si anu🙈
17/05/2022
0secangkir teh, secangkir harapan. selalu ada jalan utk rekonsiliasi. mantap
04/05/2022
1Lihat Semua