logo text

Bab 24 Tentang Haz

"Semua usaha tidak akan sia-sia, semua sudah Allah perhitungkan dengan sempurna. Kita hanya perlu berserah setelah semua perjuangan kita lewati. Biarkan hasil akhirnya Dia yang menentukan."
****
Apartemen Haz yang letaknya di pusat kota tidak membuatnya kesulitan untuk mendapatkan transportasi umum. Karena jalan kota masih sangat licin, tidak memungkinkan Haz untuk pergi mengendarai mobil. Dia memilih untuk menggunakan jalur kereta menuju rumah sakit.
Seselesainya check up, Haz menyempatkan waktu untuk berkunjung ke taman kota di belakang bekas Gereja Santa Maria Utrecht. Dia berjalan menyusuri tebalnya salju yang menggunung di sekitar taman, lalu duduk di kursi panjang. Butiran putih yang menggumpal di ranting pohon sesekali menjatuhkan dirinya ke bawah. Pikirannya kembali ke masa silam. Dulu, ayahnya sering mengajak Haz ke taman tersebut sambil menceritakan kisah perjalanan hijrah sang ayah. Ayahnya yang keturunan asli Belanda, juga seorang katolik bertemu ibunya Haz di taman tersebut. Mereka kemudian semakin dekat. Ayahnya melamar sang ibu di lokasi pertama kali mereka berjumpa. Meski orang tua Haz sudah berpisah, tetapi sang ayah masih memeluk keyakinannyaislamhingga napas terakhirnya.
Joe Berend, adalah ayah kandung Haz. Sepeninggalnya sang ayah, Haz di asuh sang nenek. Terkadang, pengasuh datang menggantikan neneknya. Ayahnya mengalami kecelakaan saat hendak pergi meeting ke kantor. Kecelakaan nahas itu merenggut nyawa ayahnya. Dari kesaksian petugas medis, Joe Berend meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Anak kandung Joe bukan hanya Haz. Satu anak laki-laki dia tinggalkan bersama mantan istrinyaibunya Hazdi Indonesia. Dari catatan yang ditemukan Haz pada laci meja kamar sang ayahlah dia menemukan petunjuk tentang keberadaan ibu dan adiknya. Hingga akhirnya Haz memutuskan untuk belajar Bahasa Indonesia, lalu pergi ke Indonesia dan mencari mereka.
Langkah Haz selanjutnya menuju ke Oudegracht. Kanal tua yang mengalir melalui pusat kota UtrechtBelandaini berhulu di tenggara kota, dimulai dengan Kromme Rijn (hulu atau sumber air di Kanal berasal dari sungai Rhine) dan Vaartse Rijn (kanal abad pertengahan yang menghubungkan kembali Utrecht ke aliran utama baru Rhine, The Lek) hingga akhirnya tiba untuk bertemu di delta berupa kanal asli pada saat kota Utrecht masih merupakan benteng Romawi dan dari situ Kanal Tua mengalir ke pusat kota. Aliran sungai yang membeku tak mengurangi keindahan dan keeksotisannya. Haz menghentikan langkahnya di cafe dekat kanal. Aroma cappucino tercium dari jarak yang tidak jauh. Dia memilih duduk di depan cafe, menikmati suasana senja dan tenangnya kota.
"Zeg u het maar." (Silakan) Seorang pelayan menghampirinya. Dia menyerahkan buku menu dan berdiri di samping Haz.
"Wat zal het zein?" Pelayanan tersebut menanyakan pesanan Haz. "Anda ingin memesan apa?"
"Mag ik een koffie?" Haz menanyakan apakah kopi di cafe tersebut masih tersdia.
"Ja," jawab pelayan.
"Ok, Ik wil graag een broodje kaas." Haz juga menginginkan sari roti keju. Pelayan tersebut lalu pergi dan menyiapkan menu yang dipesan Haz.
Pria berlesung pipi itu duduk menyandarkan punggungnya, menyilangkan kaki, lalu tersenyum. Bola matanya menilik ke arah depan. Beberapa orang tampak menikmati senja yang sama. Sesaat kemudian, pelayan datang membawa kopi dan roti yang Haz pesan. Dia menyeruput dan menikmati aroma kopi yang masih mengepul. Sesekali Haz menggosok telapak tangannya. Saat sedang menyantap roti keju, netra Haz tertuju pada laki-laki yang menggunakan jaket tebal, kupluk, dan syal coklat yang diikatkan pada leher. Laki-laki tersebut pun menengok ke arah Haz. Mereka kemudian saling mengadu pandang.
"Yohanz?" Laki-laki itu menyebut nama Haz.
Haz mengangguk. "Ja, ik?"
Laki-laki yang membawa payung itu mendekati Haz. "Hoe gaat het met je?" Dia menanyakan kabar Haz.
Haz terkejut ternyata laki-laki tersebut adalah teman ayahnya. "Denish? Prima, dank je." Haz mengatakan kalau dia baik-baik saja. "En met Jou?" tanya Haz.
"Ja, dank je." Denish memeluk Haz.
"Aangenaam kennis met u te maken." Denish mengatakan kalau dia sangat senang bisa bertemu dengan Haz.
"Fijn om je te zien." Haz pun menyatakan kalau dia juga senang berjumpa dengannya.
Denish duduk di kursi yang berada di depan Haz. Mereka bercengkrama saling menanyakan kabar. Sekian lama tidak berjumpa dengan kawan ayahnya. Mereka bertemu kembali di kanal tua. Tidak lama laki-laki tersebut duduk, lalu pergi.
"Prettige dag! Tot ziens, Haz." Denish melambaikan tangannya. Pergi kembali dengan payung di tangannya.
Hari semakin gelap, butiran salju satu per satu turun dari langit. "Sepertinya salju turun lagi," ucap Haz. Pandangan lelaki itu menyipit dan tangannya membuat gerakan seperti menangkap butiran salju yang hendak terhempas jatuh. Khawatir akan terjadi badai salju lagi, Haz pulang lebih cepat dari biasanya.
"Kan ik even betalen?" Haz memanggil waiter cafe tersebut untuk membayar.
"Mag ik de rekening?" Waiter datang dan Haz meminta jumlah tagihannya. Lalu membayar.
"Dat is dan." (Ini....) beberapa lembar Haz berikan, lalu pergi meninggalkan cafe dan Oudegrachtkanal tuayang menawan.
****
Sesampainya di apartemen, Haz melepaskan jaket tebalnya, menyimpan sepatu ke tempatnya. Dan menggantungkan jaket ke lemari. Dia menuju ke lantai dua. Dibukanya pintu kamar, lalu duduk di kursi kerja. Laptop yang tergeletak di laci meja dia ambil. Haz akan menyelesaikan pekerjaanya yang sempat tertunda pasca kecelakaan.
Gawai yang masih dia simpan di kantong jaketnya berbunyi. Segera Haz mengambil gawai tersebut. Satu pesan whatsapp masuk.
[Haz. Ini nama ibumu, dia pemilik Gallery Batik "Selaras" dan kelas membatik di Jogjakarta.] isi pesan whatsapp Rian.
Haz menyunggingkan senyumnya, dan menyimpan nama juga alamat yang Rian kasih di note gawainya. "Ok, Rian. Thans, ya," ucap Haz.
[Biar nanti saya datang sendiri ke tempat itu. Tapi tolong, jangan bilang ke siapa-siapa.] Haz membalas pesan Rian.
[Of course! Ngomong-ngomong, kapan kamu kembali ke sini?] tanya Rian dari balik telepon.
[InsyaAllah, saat musim semi atau musim panas tiba.] ucap Haz.
Dia memandang gambar diri, ayah, ibu dan adik kecilnya pada sebuah klise yang mulai usang. Potret keluarga yang dulu masih utuh itu Haz simpan pada pigura klasik berukuran 5R, lalu dia letakkan pada meja kerjanya. Betapa dia sangat merindukan mereka yang jauh dengannya. Namun, apakah mereka juga merindukan Haz?
Seorang nama dan alamat yang dia simpan di gawainya. Membuatnya merenungkan beberapa hal. Dia khawatir saat bertemu nanti, ibunya tidak akan menerima kehadirannya. Dia juga khawatir adiknya tidak mau menganggapnya. Meski begitu, Haz berharap semuanya akan baik-baik saja dan sesuai rencana. Setelah semua petunjuk yang dia dapatkan. Kini dia serahkan hasil akhirnya kepada Allah. Apapun hasilnya nanti, Haz sudah pasrah. Dia hanya ingin memeluk ibu yang selama ini hanya hadir dalam mimpinya. Sambil menunggu hari itu tiba, Haz mulai menyibukkan dirinya dengan segudang aktivitas yang sempat dia tinggalkan.

Komentar Buku (440)

  • avatar
    Xaviera

    Bagus banget nget... ceritanya😍😍

    18/05/2022

      0
  • avatar
    Damaya_29

    Senangnya Shanum bisa ketemu si anu🙈

    17/05/2022

      0
  • avatar
    ishaqlaila

    secangkir teh, secangkir harapan. selalu ada jalan utk rekonsiliasi. mantap

    04/05/2022

      1
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru