"Kamu sudah dengar, kan? Sudah, kami harus pulang malam ini, karena besok pagi Gianira harus datang ke persidangan kalian, saya harap kamu tidak mempersulitnya, ayo, Gi!!” putusku, kemudian mengajak Gianira segera bangkit dari kursinya. Dari ekor mataku, aku dapat melihat jika Jazirah masih terbengong dengan apa yang ku katakan barusan, liat aja, Bro, lu akan lebih terkejut saat nanti nerima undangan pernikahan gue sama mantan istri lu ini!! ===================================================== Setelah Jazirah menyelesaikan administrasi perawatan Langit, aku, Gianira dan Dhanis segera membawanya pulang ke rumah ibuku, di sana semua sudah menunggu kehadiran kami. Perjalanan akan kami tempuh kurang lebih selama dua jam, mungkin paling lama kami akan tiba pukul sebelas malam. Aku lega akhirnya Jazirah mau menyerah untuk membujuk Gianira kembali rujuk dengannya, tidak bisa kubayangkan jika akhirnya Gianira menerima ajakan Jazirah agar mereka bersama-sama lagi, bisa layu sebelum berkembang bunga yang sedang kutanam di hatku ini. Jujur saja aku tidak tau sejak kapan tepatnya hatiku mulai terpaut dengan wanita beranak dua ini, mungkin karena ketelatenannya dalam merawat ibu dan juga anakku, sehingga akhirnya aku mulai menaruh simpati kepadanya. Saat siang hari di mana aku menyakiti hatinya, dengan perkataan yang membuatnya sakit hati dan menangis, di situ hatiku sadar, jika caraku salah, aku sudah terlalu kejam kepadanya. Aku hanya ingin melindungi diriku dari perasaan yang sudah lama ingin ku kubur, rasanya aku tidak ingin merasakan yang namanya jatuh cinta lagi setelah kepergian almarhumah istriku, aku takut jika harus kehilangan lagi, aku tidak ingin kembali terluka. Sudah cukup rasanya aku menangung beban dari kepergian istriku. Namun, semakin aku menyangkal, hatiku semakin sulit mengingkarinya, hatiku sudah terpaut dengannya, si peri laut yang sangat sederana, tapi memliki banyak keistimewaan. Saat ku tau Dhanis juga menginginkannya, aku seperti sadar diri, siapa sainganku, namun, hati kecilku berkata, jika kamu hanya menginginkan ku. Anggap saja aku terlalu percaya diri, tapi aku bisa melihatnya, caranya melihatku berbeda dengan caranya melihat Dhanis, mungkin Gianira merasa nyaman ngobrol bersama Dhanis, itu karena dia tidak memiliki perasaan apapun padanya, berbeda jika sedang bebicara kepadaku, dia grogi, menandakan ada yang dirnyaa rasakan ketika bersamaku. Dari kaca spion tengah in, akui dapat melihat Gianira tertidur pulas sambil memeluk Langit, pemandangan yang sangat menetramkan hati, raut gelisah dan bingung, yang selama beberapa hari ini tergurat di wajahnya telah sirna, berganti senyuman manis yang sejak tadi terlukis indah. “Jangan dilihatin terus, Bro! belum resmi jadi janda dia, masih status istri orang!” tegur Dhanis saat mendapatiku sedang memandangi Gianira melalui spion. “Siapa yang ngelihatin sih, Bro, gue lihatin spion, takut ada kendaraan tiba-tiba nyalip dari arah belakang,” kataku mencoba mengindar. “Nenek-nenek jompo juga tau, Bro, mata lu kemana, sudah nyetir yang benar, mata ke depan!” katanya lagi, membuatku jadi tidak enak hati. Aku tau Dhanis masih menginginkan Gianira, walaupun secara tidak langsung Gianira sudah menolaknya saat permainan truth or dare ketika di pantai malam itu. Tapi mengingat karakternya yang tidak pantang menyerah, menjadi alarm untukku agar selalu waspada dari upayanya menyalipku nanti, setela Gianira resmi bercerai. Sesuai prediksiku, kami tiba di rumah tepat jam sebelas malam, Harsa berlari membukakan pintu pagar ketika melihat sorot lampu mobilku. Sebenarnya aku cukup puas dengan cara kerjanya, hanya saja, keteledorannya yang membuat Langit bisa dibawa pergi orang suruhan Jazirah kemarin, membuatku sangat kecewa. “Kita sudah sampai rumah, Gi,” aku mendengar Dhanis membangunkan Gianira, bah, curi start saja dia rupanya. “Oh, iya, Mas,” Dhanis membukakan pintu untuk Gianira, kemudian membawa Langit yang tertidur pulas ke dalam gendongannya, sementara aku mengikutinya dari belakang bersama Gianira. “Kalian sudah pulang? Bagaimana keadaan Langit, Gi, Za?” ternyata ibuku belum tertidur, beliau menyambut kami di depan pintu. “Alhamdulillah suda baikan, Bu, dia sudah mau makan dan minum lagi,” sahut Gianira setelah mencium takzim tangan ibuku. “Syukurlah kalau begitu. Kalian sudah makan malam?” “Sudah, Bu, tadi sebelum pulang kami makan malam dulu di jalan,” kali ini aku yang menjawabnya. “Yasudah kalian istirahat! Ibu juga mau tidur," “Iya, Bu. Gi, besok jadwal sidangmu jam sepuluh pagi, jangan lupa!” kataku mengingatkan sebelum dia masuk ke dalam kamarnya. “Baik, Mas! Sekali lagi terima kasih atas bantuan Mas Riza dan Mas Dhanis, karena sudah mengantar saya menjemput Langit,” “Sama-sama, Gi! Sudah sana tidur, Langit sudah saya tidurin di kasur,” “Iya, Mas Dhanis, permisi saya duluan!” ===================================================== Pov Author Hari ini sidang lanjutan perceraian Gianira dan Jazirah dilaksanakan, sejak pagi-pagi Gianira sudah terbangun sejak sebelum subuh, selain menunaikan sholat sunnah, dia juga mencuci pakaian yang belum sempat dia cuci kemarin, karena harus menjemput Langit. Saat bangun tidur dan menyadari jika kakaknya sudah ada di sampingnya, membuat Bumi berteriak kegirangan, dirinya yang beberapa hari ini terlihat lesu dan sedih karena kehilangan sosok Langit, hari ini dapat tertawa gembira lagi, karena kakak yang di sayanginya sudah kembali. Sama seperti Bumi, Tiara pun tidak kalah gembira dengan kehadiran Langit, rumah neneknya kini kembali ramai karena Langit sudah kembali. “Masak apa, Gi?” tanya Rosmalia ketika menghampiri Gianira di dapur. “Saya bikin nasi goreng ayam, Bu, saya lihat di kulkas ada ayam goreng, sayang kalau sampai tidak kemakan,” “Oh, iya, kemarin ibu minta Harsa belikan untuk makan malam kami, itu yang dikulkas jatah kalian bertiga,” Gianira hanya menanggapi ucapan Rosmalia dengan senyuman, setelah itu dia kembali sibuk dengan penggorengan dan spatulanya, mengaduk-aduk nasi, yang baru saja dia taburi kecap manis. ===================================================== Jazirah masih berlum beranjak dari posisinya duduk, sejak semalam dia tidak dapat memejamkan mata, dirinya tidak percaya jika Gianira menolaknya untuk kembali rujuk. Ingin hatinya menerima keputusan Gianira, namun akalnya tidak bisa memungkiri, jika pendar cinta itu sudah tidak terpandar dari mata istrinya. Jazirah sadar, jika dirinyalah yang telah menghancurkan rumah tangganya sendiri, membuatnya harus rela melepas wanita terbaik dalam hidupnya. Mungkin saat ini karma tenga menemuinya, setelah banyak kegaduhan yang dia perbuat, akhirnya dia harus menghadapi semuanya, mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia lakukan. Kembali Jazirah menghisap rokoknya, menahan asapnya di dalam mulut, kemudian mengeluarkan kepulannya perlahan-lahan. Tidak pernah dia merasa hidupnya hampa seperti ini, hatinya merasa kosong, tidak ada gairah sedikitpun untuknya menghadapi masa depan. Drtt . . . ddrrttt . . . ddrrt Ponselnya bergetar, nama ibunya tertera di layar ponsel, sejak kemarin dia masih enggan menjawab panggilan dari ibu maupun adiknya. Kepalanya masih pening, enggan untuk menerima teriakan yang akan di lontarkan keluarganya. Drtt . . . ddrrttt . . . ddrrt Ponselnya kembali bergetar, dengan malas dia melihat siapa kali ini yang menghubunginya, namun, nama Gianira yang tertera kali ini, membuatnya terbelalak tidak percaya, segera dia menekan tombol hijau untuk menjawabnya, dia berharap jika Gianira berubah fikiran dan mau menerimanya kembali. “Ha halo, Gi! Ada apa?” ucapnya penuh semangat. “Mas, maaf saya ganggu pagi-pagi,” “Oh, enggak, Gi, kamu enggak ganggu, ada apa?” jantungnya berdetak sangat kencang, Jazirah seperti anak muda yang sedang menerima telpon dari kekasihnya, sangat grogi dan bersemangat. “Bumi katanya mau mendengar suara ayahnya, apa mas mau ngobrol sama Bumi?” hanya langsung melengos, karena yang membuat Gianira menghubunginya bukan karena ingin rujuk, tapi karena anaknya ingin mendengar suaranya. “Tentu saja boleh, Gi, mana sini Bumi nya, aku rubah ke video call, ya!” kata Jazirah akhirnya. Jazirah segera mengubah panggilan menjadi video call, dalam beberapa detik dapat dia lihat wajah putra bungsunya tengah tersenyum di ujung sana, giginya putih bersih, tubuhnya lebih gemuk dari terakhir kali tinggal bersamanya. Gianira berhasil mengurus kedua putra mereka dengan baik. “Assalamu’alaikum, Ayah! Ayah ini Bumi, kata kakak kemarin kakak tinggal di rumah ayah, ya?” suara Bumi menggema di telinganya, membawa aliran sejuk mengisi relung hati Jazirah, yang sejak semalam dirasakannya sangat kosong, hampa. Tes! Air matanya tidak bisa dia bending, gemuruh sesal di hatinya semakin terasa, kala lagi-lagi Bumi bercelote riang dengannya. Di antara Langit dan Bumi, memang Bumi yang merasa lebih dekat dengan dirinya, sementara Langit lebih dominan kepada Gianira. “Ayah, kemalin Bumi ke pantai sama ibu, nenek dan om-om baik, semua ajak Bumi sama kakak belenang di pantai, ail nya asin lho, ayah! Ayah sudah pelnah ke pantai, belum?” celoteh Bumi dengan suara cadelnya, membuat hati Jazirah sebagai ayah benar-benar terpukul. Selama ini dia tidak pernah sekalipun memikirkan keluarganya, asal bisa memberikan uang untuk makan, dirinya merasa aman, tidak peduli cukup atau tidak uang yang dia berikan. Tidak pernah juga sekalipun dirinya mengajak anak-anaknya berlibur, walaupun hanya ke sebuah pasar malam. “Bumi suka main air di pantai?” tanyanya dengan suara terbata karena menahan tangisnya agar tidak pecah. “Suka, Ayah, Bumi senaaang sekali, kapan-kapan kita sama-sama ke pantai ya, Ayah!” “I-iya, Sayang! Nanti kita ke pantai, ya!” “Ayah, ibu mau ngomong katanya, dadah, Ayah, Assalamu’alaikum,” tutup Bumi, kemudian menyerahkan ponsel ke ibunya, yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka. “Mas, jangan lupa hari ini sidang kita dilaksanakan, saya mohon mas Jazi mau melepaskan saya,” ujar Gianira mengingatkan, walaupun pelan, namun tetap menyakitkan untuk Jazirah dengar. “Apa kamu benar-benar mau kita berpisah, Gi? Kamu yakin bisa mnegurus anak-anak hanya seorang diri? Aku janji akan berubah untuk kalian, aku mohon fikirkan lagi!” “Mas, kita sudah membahasnya kemarin, cerita kita sudah selesai, biarkan saya hidup bersama anak-anak, kami bisa tanpamu, Mas. Saya tunggu di pengadilan jam sepuluh! Saya harap Mas Jazi bisa datang tepat waktu, sudah dulu, ya! Assalamu’alaikum,” Klik Wajah Gianira menghilang dari layar ponsel Jazirah, membuat pria tersebut mengeram penuh sesal. Ada banyak sekali kalimat perandaian berputar dipikirannya, namun nasi sudah menjadi bubur, Gianira, wanita yang dia fikir akan menderita ketika berpisah dengannya, justru dapat membuktikan jika hidupnya baik-baik saja, bahkan terlihat jauh lebih baik dibandingkan saat bersama dirinya. Sebagai seorang pria, tentu Jazirah merasa harga dirinya terkoyak, dirinya telah gagal menjadi pemimpin yang bertanggung jawab untuk keluarganya sendiri. Kenyataan istri dan anak-anaknya lebih bahagia tanpa dirinya seakan mengulitinya hingga ke relung hati terdalam. Terkadang, manusia baru merasakan penyesalan, ketika yang dimilikinya pergi meninggalkannya. Itula mengapa, Allah selalu menyukai hambanya yang bersyukur dan bersabar, karena itu adalah kunci kebahagiaan menghadapi kehidupan. Manusia tertbaik adalah dia yang selalu bersyukur, atas segala nikmat dan rejeki yang diberikan Allah kepadanya, meskipun hanya sedikit, juga manusia yang sabar, dalam mengadapi segala permasalahan hidup. Andai kedua hal tersebut ada pada diri seorang Jazirah, bersyukur memiliki istri dan anak yang seperti Gianira dan anak-anaknya, serta sabar dalam mengais rejeki yang belum banyak di dapat, tentu, saat ini mereka masih menjadi keluarga yang utuh. Bersambung …. Terima kasih buat kalian yang masih mau mengikuti ceritaku, Yuk … nantikan kelanjutan ceritanya ya kakak! Jangan lupa like, komen dan kasih bintang lima di cerita Kami Bisa Tanpamu Mas, ya! Dan jangan lupa follow akun author juga Happy Reading semua 💚💚
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (113)
UtamaRansum
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
03/08
0bgus
16/04
0bagus
14/10
0Lihat Semua