Aku sangat menikmati di mana moment Mas Dhanis salah tingkah seperti ini, karena biasanya dia yang selalu membuatku mati kutu di hadapannya. Pernah suatu kali dia membawa papa dan mamanya makan bubur di sini, kemudian dengan gayanya yang pecicilan, dia memujiku secara berlebihan di hadapan kedua orangtuanya, membuatku tidak bisa berkutik dan menahan malu. “Kenapa kamu ngeliatin saya sambil senyum-senyum? Ganteng, ya?” nah kan, baru ku bilang, sudah mulai pecicilan dia. =================================================== “GR mu kapan sembuhnya, Mas? Masih aja, sudah mau nikah besok pun masih ganjen aja! Saya laporin ke mbak Tiara tau rasa biarin!” kataku mengancam, ya, Mas Dhanis akhirnya bisa menerima keputusanku untuk tidak bisa menerima lamarannya, karena bagaimanapun, ada hati Rima yang mesti kujaga, lagipula, aku merasa lebih nyaman jika hanya berteman dengan Mas Dhanis, level kami terlalu jauh, walaupun keluarga Mas Dhanis seakan tidak keberatan, aku hanya tidak ingin terlalu lupa diri, mengenai siapa aku dan siapa dirinya. Aku pernah mengatakan pada Mas Dhanis, jika Rima mencintainya, namun, Mas Dhanis bilang jika selama ini hanya menganggap Rima sebagai adiknya saja, sama seperti mas Riza kepada Rima, tidak lebih. Saat hari pertunangan Mas Dhanis tiga bulan lalu, aku sampai dibuat repot, selain dibuat repot karena pesanan kue-kue dan aneka bubur yang porsinya sangat banyak, aku juga di repotkan karena harus menenangkan hatinya Rima yang terbakar cemburu. Semalam suntuk aku mendengarkan curhatan gadis itu, mengenai patah hatinya karena di tinggal orang yang dicintai. Aku tidak bisa membantu banyak, selain menasehati jika semua sudah diatur oleh yang maha kuasa. Rezeki, maut, jodoh, semua sudah dituliskan, kita hanya tinggal menjalaninya saja. Aku bersyukur, karena tidak butuh waktu berhari-hari bagi Rima, hingga akirnya dia bisa berbesar hati. “Ha ha ha, mainnya aduan kamu, Gi! Nanti saya balas laporin ke tuan Riza tau rasa juga kamu, ha ha ha,” tawanya membahana, membuat beberapa pembeli memperhatikan ke arah meja kami. “Lapor apa?” “Lapor kalau ada janda sukses minta dikawinin, ha ha ha!!” “Hasem!” Obrolan kami dilanjutkan dengan hal-hal ringan, terutama mengenai persiapan pernikahan Mas Dhanis dan mbak Tiara yang akan di laksanakan bulan depan di Jakarta. Mbak Tiara adalah junior Mas Dhanis dan mas Riza di kampus dulu, menurut cerita Mas Dhanis, sudah sejak lama memang mereka di jodoh-jodohkan, namun, saat itu Mas Dhanis belum kepikiran untuk menjalin hubungan serius dengan seorang wanita, hingga akhirnya mereka bertemu lagi ketika Mas Dhanis berkunjung ke Jakarta. =================================================== Aku sedang menidurkan Bumi di ruang kerjaku, saat tiba-tiba dari luar terdengar Vina, salah seorang pegawaiku di warung bubur memanggil namaku. Bergegas aku keluar ruangan dan menemui Vina yang menungguku dengan wajah cemas. “Ada apa, Vin? Kok panik begitu,” tanyaku saat mendapati wajah Vina sudah pucat pasi. “I-itu, Bu, ada yang marah-marah di luar,” sahutnya panik. “Hah? Marah-marah, kenapa?” “Enggak tau, Bu, ayo, Bu kita temuin di luar!” ucap Vina lagi, kali ini dia menarik tanganku untuk mengikutinya. Saat di depan aku dikejutkan dengan segerombolan preman yang berbadan tinggi besar, mereka merusak beberapa kursi untuk pembeli. Karena sudah keterlaluan, aku langsung mendekati mereka, bermaksud menanyakan apa yang sebenarnya yang mereka lakukan. “Maaf, Bapak-bapak ini siapa, ya? Mengapa membuat onar di warung saya?” tanyaku tegas, kepada para preman-preman tersebut. “Kamu siapa? Mana pemilik warung ini?” tanya salah seorang preman, dari caranya berbicara, sepertinya dia pimpinan dari gelombolan preman ini. “Saya pemilik warung ini, kalian siapa?” “Oh jadi kamu yang punya, kami orang suruhannya ibu Sunarni, ingin memperingatkan kamu untuk segera membagi hasil dari pendapatan yang di peroleh dari warung ini, dia juga meminta pembagian harta gono gini antara kamu dan anaknya, Jazirah,” ucapnya membuatku tercengang. Bagaimana bisa mantan ibu mertuaku meminta harta yang bahkan bukanlah haknya. “Maaf sebelumnya, saya hanya ingin memberitahu kalian semua, jika warung ini adalah warung saya, tidak ada sangkut pautnya dengan mereka, lagi pula saya membangun usaha ini setelah saya bercerai dengan mas Jazira, jadi tidak ada yang namanya harta bersama di sini. Sekarang lebih baik kalian semua pergi dari sini! Sebelum saya telpon polisi karena kalian sudah membuat onar di warung saya dan membuat kerusakan,” ancamku tegas. Kurasakan emosiku sangat meletup-letup, sungguh keterlaluan ibunya mas jazirah, bagaimana mungkin dia berani meminta hakku yang bahkan tidak ku dapat dari menikah dengan anaknnya. “Kami akan pergi, tapi ingat! Kami akan kembali lagi untuk mengambil hak keluarga ibu Sunarni,” “Sampai matipun saya tidak akan pernah memberikannya kepada mereka ataupun kalian!” tandasku menutup percakapan. Sepeninggalnya para preman-preman bayaran tersebut, aku segera menghubungi mas Jazirah melalui ponselku, aku harus segera menyelesaikan masalah ini agar tidak berlaru-larut dan membesar. Enak saja, selama menikah jangankan mendirikan usaha, untuk makan saja kami pas-pasan sekali. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba meminta harta gono gini, benar-benar tidak ada otak. Tuutt tuutt tuutt Tepat pada dering ketiga akhirnya panggilanku dijawab oleh mas Jazirah, tanpa basa basi aku langsung memberondongnya dengan pertanyaan mengenai kejadian yang barusan terjadi di warungku. Namun seperti orang yang bingung mas Jazirah seolah tidak mengerti apa yang kubicarakan. “Kamu enggak usah pura-pura enggak tau deh, Mas! Kamu bilang apa ke ibumu, sampai dia nyuruh preman-preman membuat onar di warungku? Kamu tau tidak mereka sampai merusak kursi-kursiku tau, enggak?” cecarku tanpa ampun, karena sejak tadi Mas Jazirah seakan tidak mengerti maksud dari pembicaraanku. “Aku serius, Gi, aku sama sekali enggak tau masalahnya apa, aku enggak di rumah, kamu kan tau aku kerja di Jakarta, pulang ke Garut sebulan sekali, itupun hanya untuk menjenguk anak-anak,” ujar Mas Jazirah membela dirinya, membuatku geram dibuatnya. “Terus yang barusan apa? Mereka bilang disuruh ibumu, katanya minta jatah gono gini. Maksudnya tuh gono gini yang mana, Mas? Aku bangun usaha ini setelah pisah dari kamu, pakai uang hasil keringatku sendiri, enggak ada harta kamu secuilpun di usahaku, tapi kenapa sekarang tiba-tiba ibumu nyuruh preman buat neror warungku dan meminta jatah?” “Aku enggak tau, Gi, sumpah demi Allah, aku enggak tau sama sekali maksud ibuku apa, gini aja, kamu tenang dulu! Aku akan hubungi ibu dan menanyakan perihal masalah ini, oke?!” “Ya memang sudah seharusnya seperti itu, tolong bilang sama ibumu, jika tidak ada harta gono gini, tidak ada pembagian jatah harta ataupun upeti segala macam, ini hartaku, milikku dan hanya untukku dan juga anak-anak,” “Iya, Gi, aku paham, sudah dulu, ya, nanti kalau sudah dapat kabar dari ibu, aku kabarin kamu lagi,” tandasnya mengakhiri pembicaraan. Selesai menghubungi mas Jazirah, aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruanganku, menengok Bumi yang ternyata masih tertidur pulas. Aku membelai rambutnya yang hitam tebal, mirip seperti rambut ayahnya. Jika mau diperhatikan, Bumi itu fotocopy-an nya mas Jazirah kalau soal wajah dan sifat, sementara Langit lebih condong sepertiku. “Assalamu’alaikum, Ibu!” suara Langit membuatku terkejut, pasalnya anak ini pulang sekolah sambil menangis, tidak seperti biasanya. “Wa’alaikumusalam, Langit kenapa, Nak, kok nangis gitu pulang sekolah?” tanyaku, seraya menghampirinya dan memeluknya. “Ibu, tadi Langit ketemu sama bibi Janirah, katanya ayah mau nika lagi dan Langit akan disuruh tinggal bareng sama ayah dan istri barunya, Langit enggak mau pisah sama ibu dan adek Bumi, Langit maunya sama ibu aja,” ungkap Langit sambil terus menangis. Duh Gusti, apa lagi ini? Kenapa keluarga mantan suamiku selalu saja membuat ulah? Sebelum ini, mereka juga sempat menaruh belatung ke dandang bubur jualanku, sehingga banyak pembeli yang complain dan enggak balik lagi untuk membeli. Kufikir setelah aku memaafkan dengan bersyarat tidak diulangi lagi saat itu, mereka sudah kapok, ternyata kini mereka berani berulah lagi. Kali ini aku tidak akan diam lagi, ibu mana yang mau dipisahkan dari anak kandungnya, padahal secara resmi pengadilan sudah memberikan hak asuh anak-anak kepadaku. Aku harus membahas hal serius ini kepada mas Jazirah, agar dia bisa mengurus keluarganya agar tidak selalu menggangguku dan anak-anak. Bersambung . . . Yuk … nantikan kelanjutan ceritanya ya kakak! Jangan lupa like, komen dan kasih bintang lima di cerita Kami Bisa Tanpamu Mas season 2, ya! Dan jangan lupa follow akun author juga Happy Reading semua 💚💚
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (113)
UtamaRansum
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
03/08
0bgus
16/04
0bagus
14/10
0Lihat Semua