logo text

Bab 48 Travelling Rasa Swiss

“Kirain bakal ramai-ramai,” kata Naya ketika mobilnya telah masuk ke jalan tol Manyaran. “Aku telanjur bilang sama Romo-Mami bakal kedatangan tamu banyak.”
“Mereka sudah ada rencana lebih dulu.” sahut Ji Min yang merasa bersyukur Na Young bersedia ikut. “Sebenarnya mereka ingin ikut kalau tidak mendadak.”
“Ya deh,” balas Naya. “Saya tadinya juga mengajak Bu Sahara. Tapi dia menolak.”
“Bu Sahara?” ulang Ji Min tercekat. Dia menoleh pada Na Young yang duduk di kursi belakang. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Sahara bersedia ikut. Akankah kecanggungan memenuhi ruang mobil? Meski ada secuil hati yang menjadi berharap dia mau ikut agar bisa merasakan sensasi berdenyar alih-alih hampa.
Mata Na Young mengerjap. “Bu Sahara yang itu?”
“Ne,” sahut Ji Min.
“Pak Ji  Min cerita tentang Bu Sahara?” toleh Naya pada Na Young.
“Oh, maaf.” ucap Ji Min cepat. Dia langsung berpikir Naya bakal marah padanya.
“Yah, mau gimana lagi. Dia itu benar-benar batu. Akan butuh waktu bertahun-tahun agar bisa membuat batu itu berlubang kalau kamu itu air. Atau kamu mau menjadi pemahat?” Naya melirik pada Ji Min yang terlihat bingung. “Itu pasti lebih berat lagi.” tutur Naya menggambarkan diri seorang Sahara. 
“Ah, tapi akhir-akhir ini Bu Sahara sudah mulai baik. Dia mudah diajak bekerjasama.” Ji Min membuat satu pengumuman, terutama untuk temannya Na Young. Bagi Ji Min sikap Sahara yang seperti itu sudah cukup melegakan.
“Ihaehaeyo,” ucap Na Young sebagai tanda mengerti.
Percakapan berlanjut membahas berbagai hal. Terutama pengalaman mengajar Na Young selama di SD Telogorejo. Katanya sangat menyenangkan. Anak-anak sangat antusias. Itu membuatnya bersemangat untuk mengajar.
“Ngomong-ngomong kita sedang melewati jalan tol terpanjang di Indonesia, lho.” Naya menginformasikan setelah mereka melewati gerbang tol Ungaran lima belas menit yang lalu. “Dan kita sedang menyeberang jembatan terpanjang di tol ini, namanya Jembatan Lemah Ireng. Coba kamu cari tahu tentang jembatan ini, panorama dari atas cantik sekali.” 
“Benarkah?” Ji Min langsung membuka ponselnya. Tak lama dia sudah terpana melihat satu foto yang menampilkan liukan jembatan dengan kaki-kaki penyangga. Berlatar perbukitan pada sebelah kiri dan sisi kanan berupa ngarai yang dalam. “Ah... lihat.” Ji Min menunjukkan gambar pemandangan itu pada Na Young.
“Bagus sekali.” komentar Na Young. “Tapi dari sini terlihat biasa ya, cuma terlihat bukit yang menjulang.”
“Besok pulangnya kita bisa lihat pemandangan area lembahnya.” kata Naya.
“Ah, benar. Sekarang kita berada di jalur kiri.”
“Setelah ini akan ada pemandangan menakjubkan yang lain. Kalian bisa merasa sedang berada di Swiss.”
“Sepertinya menarik.” tanggap Ji Min merasa tidak menyesal ikut Naya ke Solo. 
“Siapkan saja kameranya.” saran Naya yang makin membawa kedua tamunya menikmati perjalanan sore dengan latar Gunung Merbabu yang mulai terlihat lamat-lamat. Untungnya sore ini cerah. 
Mobil Naya terus melaju dengan kecepatan 70 km/jam. Guratan gundukan abu-abu di depan semakin tampak nyata. Semakin mendekati gerbang tol Salatiga, segitiga yang menjulang di depan menunjukkan pongahnya. Pucuknya yang lancip ganda seakan tertawa pada langit senja dengan nuansa jingga.
Ji Min segera mengabadikan pesona gunung itu, yang kata Naya bernama Gunung Merbabu. 
“Cantik sekali.” gumam Ji Min berdecak menyaksikan pemandangan di depan. Saat itu juga dia merasa sedang melihat seseorang yang dingin dan angkuh, namun menawan. “Kamsamnida, Bu Naya.” lanjutnya senang karena selama perjalanan mendapatkan pemandangan yang menakjubkan.
“Mwo?” tanggap Naya. “Untuk apa?”
“Sudah mengajak saya ke Solo.”
Naya tersenyum menoleh sekilas pada Ji Min. Konsentrasinya sedang penuh pada antrian mobil menuju loket pembayaran tiket masuk. “Beruntung sore ini cerah. Kalau mendung, gunung itu tidak terlihat.”
“Benar, sore yang cerah.” Ji Min memandang langit yang masih penuh cahaya menyilaukan.
“Kalau kalian ada waktu, kalian bisa ke Wonosobo. Di sana kalian bisa merasakan sensasi berkendara dengan diapit oleh dua gunung yang sangat dekat.” Naya memberi informasi.
“Kita harus mengagendakan itu, Ji Min-ssaem.” kata Na Young. 
“Ne, mari kita cari waktu setelah kita perpisahan.”
Saat bersamaan Naya telah lepas dari antrian yang tadi mengular. Namun, mengantri di gerbang tol kali ini menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tentu saja, karena ada pemandangan indah yang melatarinya, membuat orang ingin berlama-lama memandang dan memotretnya.
Perjalanan berlanjut masih berteman Gunung Merbabu yang makin menghilang. Setelah melewati dua gerbang tol yaitu, Gerbang Tol Boyolali dan Gerbang Tol Kertosuro menurut Naya rumahnya sudah makin dekat.
Tepat pukul enam sore, sebuah rumah dengan bangunan terbuka di depan yang kata Naya sebagai pendopo joglo menimbulkan decak Ji Min. Pasalnya di Semarang, hampir tidak ada rumah tradisional semacam itu.
“Ini seperti hanok di Korea.” terang Naya yang mengacu pada rumah tradisional Korea. “Sama seperti di sana, kan. Sudah sangat jarang rumah yang berbentuk hanok. Hampir semua orang tinggal di apartemen.”
“Benar itu,” tanggap Ji Min kemudian mengabadikan rumah Naya yang masih mempertahankan tradisi. 
“Yang di dalam itu apa?” tanya Na Young saat melintasi pendopo joglo yang berisi kotakan yang mewadahi besi dengan berbagai bentuk.
“Gamelan, alat musik tradisional Jawa.” jawab Naya.
“Untuk menampilkan wayang juga?” tanya Ji Min saat melihat layar putih dan gunungan wayang yang terpajang.”
“Benar, Romoku itu dalang.” jawab Naya. “Ayo, masuk. Sudah Magrib.” ajak Naya menuju rumah induk yang ada di belakangnya. Di sana terlihat sepasang suami istri yang telah berumur menanti di teras rumah yang luas. Rumah berbentuk joglo dengan dinding kayu tanpa polesan cat.
Naya mengumandangkan salam, lalu segera mencium tangan Romo dan Maminya. 
“Monggo, mari masuk.” sambut Mami Naya pada dua teman anaknya.
Saat melewati pintu rumah, Ji Min harus membungkukkan tubuhnya dalam. Sudah menjadi ciri khas rumah joglo selalu memiliki pintu yang rendah.
“Awas kepala!” seru Naya hampir tertawa melihat Ji Min yang jangkung harus berdiri terbungkuk-bungkuk ketika mulai masuk teras depan.
“Rendah sekali,” gumam Na Young.
“Itu ada maknanya.” ujar Naya yang mendengar komentar Na Young.
“Oh, begitu.”
“Jadi kenapa atap depan dan pintu rumah dibuat rendah, itu agar tamu secara otomatis menghormati si pemilik rumah. Kira-kira sama seperti di Korea, yang selalu membungkukkan badan sebagai sopan santun.” terang Naya sambil membimbing dua tamunya masuk ke ruangan yang besar. 
Mata Ji Min menyapu ke seluruh ruang. Dia tidak menyangka di dalam rumah atapnya ternyata tinggi. Di tengah ruangan agak ke kiri terdapat seperangkat meja kursi yang lengannya melengkung. Terlihat kuno menurut Ji Min. Lalu bagian tengah sebelah kanan terhampar tikar berwarna cokelat cenderung krem dengan nuansa tradisional. 
Ruangan itu dikelilingi pembatas kayu berpintu. Ada lima pintu yang berhasil terpindai oleh mata Ji Min. Dua pintu pada sisi sebelah kiri, dua pintu pada sisi kanan dan satu pintu yang terbuka lebar hampir segaris lurus dengan pintu masuk tadi. Dan saat ini Ji Min telah dibimbing oleh ayah Naya menuju salah satu pintu yang berada di sisi sebelah kiri.
“Silakan, kalau mau beristirahat.” Ayah Naya membukakan pintu yang tadi setengah tertutup untuk Ji Min.
“Terima kasih,” balas Ji Min memasuki kamar dengan luas 3 x 3 meter dengan dipan kayu berukir yang elegan.
Sementara itu Mami Naya telah menyeret tangan Na Young menuju kamar yang berada di sebelah Ji Min, kamar yang lebih masuk ke dalam. “Mari sini,”  
Na Young mengangguk mengikuti. 
“Ini kamarmu, Nduk.” kata Mami Naya mempersilakan Na Young masuk. 
“Silakan, kalau mau istirahat dulu. Kalau mau mandi kamar mandi ada di dalam sana.” tunjuk Mami Naya pada arah luar kamar.
“Baik, terima kasih.” balas Na Young.
“Nanti kalau mau mandi bisa telepon aku.” kata Naya yang melongok ke dalam kamar Na Young. “Saya tinggal, ya.” lanjut Naya berpamitan sembari menggamit tangan maminya.
Setelah Ji Min dan Na Young mandi, mereka semua makan bersama di tikar yang kata Naya terbuat dari daun pandan kering. Tikar yang sudah makin langka keberadaannya. 
“Ayo, makan yang banyak. Jangan sungkan.” kata Romo Naya pada dua tamunya. 
Kata-kata itu mengingatkan Ji Min pada Pak Haryo yang selalu menyuruhnya makan yang banyak. Ji Min pikir, pastilah ini cara orang Indonesia menjamu tamunya agar tidak sungkan memakan hidangan yang ada.
“Baik,” tanggap Ji Min lalu mengambil nasi tetap pada porsi makannya. 
Bagi Ji Min dan Na Young yang terbiasa makan di meja makan, makan dengan cara lesehan dan tanpa meja cukup merepotkan. Kalau di Korea meski makan lesehan tetapi tetap ada meja yang menjadi tumpuan tangan.
“Disangga begini,” Naya mengajari Ji Min dan Na Young agar memegang piring dengan tangan kiri sementara tangan kanan menyuap makanan.
Na Young mencoba cara makan Naya dengan menyangga piringnya. “Susah,” keluhnya lalu meletakkan piring di lantai lagi. 
Demikian juga dengan Ji Min yang memilih meletakkan piring di depan kakinya yang bersila lalu makan dengan membungkuk-bungkuk. Bagi Ji Min, ini akan menjadi satu pembelajaran baru. Mengenal budaya Indonesia khususnya orang Jawa secara lebih dalam.

Komentar Buku (83)

  • avatar
    ayunovitasari

    Seru banget

    15/06/2025

      0
  • avatar
    YogaYoga pranata

    mantap

    03/02/2025

      0
  • avatar
    KEDIRIAREK

    cerita ini baik sekali saya ingin dijadikan cerita terbaik

    03/08/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru