Sahara dan Fikri saling tatap sejenak. Keduanya lalu menunduk merangkum kenangan tentang mereka. Sama seperti kafe yang sedang mereka singgahi sekarang yang memiliki nama ‘Tentang Kita’. Sebuah kafe depan pengadilan agama yang memiliki konsep minimalis bernuansa mocca. Satu setengah tahun berlalu sejak Sahara pulang dari Korea. Hubungan Sahara dengan Fikri sama sekali tidak ada perubahan. Tetap dingin meski musim bersalju di Korea telah berganti musim semi sekarang. Hingga kemudian, pada musim yang seharusnya cinta tumbuh bersemi. Yang datang menghampiri Sahara justru serupa musim gugur, yang mana daun-daun ingin melepaskan diri dari rantingnya. Fikri melayangkan surat cerai untuk Sahara. Sahara yang seharusnya panas membara menjelma kembali menjadi hamparan padang es di kutub utara. Sahara membeku. Meski hatinya telah terbiasa terbungkus di dalam kulkas, tetapi tetap saja permintaan Fikri agar mereka bercerai secara resmi membuatnya mati rasa. “Baiklah.” ucap Sahara kala itu via sambungan telepon. Dan kini keduanya telah resmi bercerai setelah melalui proses yang panjang. Sahara mendesah, “Kenapa kita jadi terdampar di sini?” ucapnya melagukan pertanyaan, namun tak ingin mendapatkan jawaban dari lawan bicara. Seperti sedang bergumam sendiri. “Maaf Ra,” ucap Fikri lemah menatap Sahara dengan sayu. “Bukan itu maksudku.” tanggap Sahara segera. “Kenapa setelah bercerai kita justru minum bersama di kafe Tentang Kita?” Sahara tersenyum. “Jadi bias kan, ini kafe untuk mengenang kisah cinta masa lalu, atau tentang cinta kita yang sekarang.” Pesanan minuman cokelat Sahara datang. Pun dengan kopi pesanan Fikri. Keduanya kompak menghirup cangkir masing-masing. “Aku sama sekali tidak bisa menolak permintaan ibu.” kata Fikri setelah meletakkan cangkirnya. “Ya, kamu sudah bilang itu berkali-kali padaku. Aku mengerti kok, kamu tidak boleh jadi anak durhaka.” “Dan mungkin sebentar lagi, aku akan menikah lagi.” sambung Fikri seolah kata-katanya tadi belum tuntas. “Syukurlah, kalau begitu.” Sahara mengatakan itu dengan spontan. Meski dalam hatinya terasa diremas-remas. “Mas Fikri akan dipindahkan lagi?” “Benar,” “Kemana?” “Kalimantan.” “Oh,” tanggap Sahara. “Perempuan yang akan Mas Fikri nikahi tidak bekerja?” Fikri mengangguk, “Dia wanita pilihan ibu.” “Baguslah, berarti dia nanti bisa mengikutimu ke mana pun kamu berada.” “Tujuan ibu memang seperti itu, atau kalau nanti kami punya anak, setelah menginjak usia sekolah. Ibu menginginkan istriku menetap di rumah menemani mereka.” “Yah, aku bisa memahami keinginan orang tua yang seperti itu.” balas Sahara. “Kamu baik-baik saja?” tanya Fikri. “Bohong kalau aku bilang baik-baik saja. Hatiku tetap berasa ada yang hilang.” “Maaf,” ucap Fikri lagi. “Kenapa minta maaf terus?” ujar Sahara. “Semua ini terjadi bermula karena kesalahanku, kan?” “Tidak. Aku juga memiliki andil dalam perpisahan ini, Andai saja aku bisa lebih menahan diri, tidak selalu terkurung rasa sedih─.” “Sudahlah, Mas.” potong Sahara. “Yang lalu tidak perlu disesali. Mari kita memulai hidup masing-masing dengan bahagia.” “Benar, semoga kamu berbahagia, Ra.” “Kamu juga, Mas.” Keduanya saling tatap lama lalu menguntai senyum ikhlas. Begitu menenangkan, seperti tidak ada lagi ganjalan. Sahara menghirup lagi minuman cokelatnya untuk mendapatkan lebih banyak asupan theobromine, kafein, phenylethylamine, anandamine agar kesedihan, kegundahannya hilang. Tatapannya mengarah ke jalan di sisi kanan yang bersekat kaca bening lebar. “Mengenai rumah, meski pengadilan memutuskan sebagai harta gono-gini, tapi aku ingin memberikan itu padamu.” ucap Fikri di sela keheningan. “Tidak,” Sahara segera memaling pada Fikri dengan menggeleng. “Itu tetap harta gono-gini yang harus dibagi dua. Kita bisa menjualnya.” “Kamu tidak sayang dengan rumah itu?” tanya Fikri yang sebenarnya tidak rela kalau rumah itu sampai dijual. “Aku juga harus me-restart hidupku. Kalau aku tetap tinggal di sana, kupikir tidak akan ada yang berubah.” jelas Sahara tentang keinginannya. “Lalu kamu nanti mau tinggal di mana?” “Menyewa rumah mungkin. Atau beli rumah baru.” jawab Sahara. “Ya, kamu bisa beli rumah lagi dengan uang penjualan rumah kita itu.” Sahara tersenyum. Mendengar kata-kata rumah kita terasa melambungkan angan. Seakan rumah itu pondok cinta yang bertaburan kasih sayang. Kenyataannya rumah itu sekarang mirip kuburan. Sepi, gelap, dingin dan mencekam. “Pulang yuk!” ajak Sahara seolah mereka datang dan pulang bersama. Fikri meraih cangkir yang masih ada air kopinya. Gerak selanjutnya dia berdiri seiring anggukan kepala untuk Sahara. Sampai tempat parkir yang berada di samping kafe, keduanya menuju kendaraan masing-masing. Sahara menghampiri motornya, sementara Fikri segera masuk ke dalam mobilnya. Bunyi klakson mobil Fikri mendahului laju motor Sahara. Meninggalkan debu tipis yang membuat hati Sahara berjelaga.
***
“Kapan kalian pindah?” tanya Sahara sambil menggendong anak laki-laki Naya. “Uh, sayang...” “Kenapa jadi mengusirku begitu, lagian kami masih punya kontrak enam bulan di sini.” tanggap Naya sambil meletakkan minuman untuk Sahara. “Aku sudah ingin segera pindah kemari.” ucap Sahara yang tampak senang bisa menggendong Nanggala. “Rumah Mbak Sahara belum laku, kan?” tanya Samudera yang duduk manis menemani tamu kehormatan rumahnya. “Belum sih, tapi aku sudah merasa tidak enak tinggal di sana. Kamu tahulah, berbagai kenangan terus membanjiri benak. Belum lagi pandangan tetangga kiri-kanan terasa mengancam.” “Lagian kenapa mesti bercerai?” lontar Naya. “Dia yang menginginkan. Kalau aku sih, dia mau menikah lagi tak masalah. Lagi pula mengurus perceraian itu tidak mudah. Harus minta ijin ke Dinas Pendidikan dulu. Ribet plus malu.” “Mau dipoligami gitu?” perjelas Naya. Sahara mengangguk. “Demi status yang tidak berubah.” “Kalau aku jelas enggak mau.” ujar Naya sambil menatap Samudera dengan sengit. “Apa?” tanggap suaminya. “Lagian siapa yang mau poligami.” “Yah, siapa tahu aja.” sergah Naya. “Kamu saja sudah cukup Sayang,” Samudera bangkit dari duduk lalu mencondongkan tubuh ke Naya dan mencium keningnya. Naya kaget, tapi sekaligus merona. “Hadeuh, kalian ini lihat sikon kenapa?” tegur Sahara yang melihat adegan tersebut. “Di sini ada adik kecil, di sini juga ada wanita yang baru saja kehilangan cinta. Kok pada tega, ya.” Samudera dan Naya tertawa. “Maaf,” lontar Naya. “Tapi menurutku lebih baik memang Mbak Naya pisah saja dengan Mas Fikri. Daripada saling mengekang kebahagiaan. Bukankah dengan demikian semua bisa melangkah menuju gerbang suka cita masing-masing. Mas Fikri memulai dengan yang baru. Dan aku harap Mbak Sahara juga segera menemukan seseorang yang tulus pada Mbak.” Mendengar penuturan adiknya, entah mengapa mata Sahara jadi menggenang. “Makasih Sam, doanya.” Air mata Sahara akhirnya jatuh berguguran. Naya segera bangkit mengambil Nanggala. Dia ingin memberi ruang bagi Sahara untuk membuang kesah yang tak terucap. Sahara lalu duduk dan menyeka air matanya dengan menggunakan ujung kerudung. Kepalanya kemudian mengangguk-angguk pada Samudera yang telah menggenggam tangannya. “Bu Dhe, jangan nangis terus.” ucap Naya mengubah suaranya menjadi kecil seolah Nanggala yang bicara. Tangan kecil Nanggala juga Naya gerakkan untuk menyentuh pipi Sahara. “Enggak Sayang,” Sahara melepaskan genggaman tangan Samudera. Dia lalu meminta Nanggala kembali. Merengkuh dan menciuminya hingga bocah satu tahun itu gelagapan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (83)
ayunovitasari
Seru banget
15/06/2025
0
YogaYoga pranata
mantap
03/02/2025
0
KEDIRIAREK
cerita ini baik sekali saya ingin dijadikan cerita terbaik
Seru banget
15/06/2025
0mantap
03/02/2025
0cerita ini baik sekali saya ingin dijadikan cerita terbaik
03/08/2024
0Lihat Semua