logo text

Bab 81 Sigil Lilith di Bawah Ranjang Elfara

"Elfara!" Dev tergopoh-gopoh ke kamar rawat kakaknya. Gadis itu tampak sangat ketakutan.
"Apa ada yang menyakitimu?" Dev berusaha menenangkan Elfara.
"Nania! Nania menerorku!" Elfara menjawab setelah beberapa lama terpaku sejak kedatangan Dev. Genggaman Dev terlepas dari bahu kakaknya.
"Tenanglah! Aku akan memastikan dia tidak akan mengganggumu lagi." Sekeluarnya Dev dari kamar rawat Elfara, dia memutuskan keluar dari gedung rumah sakit.
"Cari tahu kebenarannya terlebih dahulu sebelum kau melakukan sesuatu." Langkah Dev terhenti di halaman depan rumah sakit.
"Kau mendengar semuanya. Apa kau tidak percaya pada Elfara?" Dev bertanya dengan tatapan lurus ke depan.
"Orang cerdas akan bersikap bijak, bukan?"
"Ya, aku mengamati Nania sejak lama. Aku harap kau tidak keberatan, Paman Mehmet!"
"Tentu. Aku selalu berpihak pada kebenaran."
Dev menyiram tubuhnya yang lengket di bawah shower. Sejak dikejutkan oleh perubahan bentuk fisiknya, dia belum merasakan segarnya sentuhan air. Di bawah guyuran air, dia mengingat kembali semua yang terjadi. Termasuk perseteruannya dengan iblis yang mengganggu keluarganya.
"Dewi Lilith? Bahkan, aku tidak mengenalnya. Membunuh siapa saja yang melindungi klien-nya, itu artinya dia datang atas dasar kerjasama. Nania!" Mengingat nama itu, Dev menyudahi mandinya. Dia berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Nania.
"Nania!"
"Nania!" Dev menerobos masuk.
"Siapa kau? Lancang sekali masuk rumah orang tanpa izin." Nania berujar marah. Sama sekali tak mengenali bahwa orang di depannya adalah Devada.
"Tidak perlu tahu! Kau hanya perlu mempersiapkan kematianmu!" Dev melayangkan tatapan penuh kebencian.
"Apa maksudmu? Siapa kau, apa masalahmu?" Nania bertanya lantang, tetapi sorot matanya tetap teduh, membuat Dev seketika terpaku.
"Tidak! Bagaimana mungkin aku bisa luluh hanya dengan melihat matanya? Nania adalah penjahat." Setelah Dev bermonolog, serangan segera meluncur.
"Lepaskan! Apa yang kau lakukan?" Nania kemudian terbatuk merasakan cekikan Dev makin lama makin mengencang.
Setelah puas membuat Nania lemas, Djev menghempas gadis itu hingga terbentur sudut meja. Gadis itu meringis menahan rasa sakit di bagian perut yang terantuk. Dev tidak memberikan Nania kesempatan untuk berdiri. Dev terus menyerang tanpa memandang.
"Kenapa kau tidak melawan?"
"Untuk apa?" Nania berkata lemas.
Tidak mendapat jawaban yang puas, Dev menarik rambut ikal Nania. Gadis eksotis itu terlihat pasrah ketika banyak sekali rambutnya yang tertinggal di telapak tangan Dev. Kondisi yang membuat Dev bertanya-tanya.
"Kau lemah sekali!" ejek Dev. Tak lama, Nania pingsan.
"Sial!" Dev mendesah berat. Seberkas surat yang berserak di lantai menarik perhatiannya. Dia memungutnya.
"Kanker darah stadium akhir?" Dev menatap Nania yang terbaring di lantai. Dia baru menyadari, betapa pucatnya gadis yang dia lukai. Dev yang jatuh iba segera membaringkan gadis tersebut di kamar.
"Aku tidak akan membunuhmu. Biar penyakit itu yang membunuhmu secara perlahan."
***
Di perjalanan menuju rumah sakit, Dev tak sengaja melihat orang bertopeng perak. Pakaiannya sama persis dengan orang-orang yang mengganggu Mehmet dan menculik Michele. Orang itu berjalan di gang setapak. Dev mengikutinya dengan hati-hati. Sebuah bangunan terbengkalai terpampang di depannya. Beberapa orang dengan jubah serupa sedang berdiri di teras sedangkan orang yang dia ikuti mulai memasuki gedung.
"Siapa mereka?" Dev bergumam, lalu mengendap masuk melewati bangkai-bangkai truk.
Dev menahan diri saat mencapai kepala truk. Dari sana dia dapat melihat dengan jarak yang lebih dekat. Sedikit terkesiap ketika seseorang di antara mereka tiba-tiba berjalan menuju truk persembunyiannya. Wajah pria tersingkap saat orang itu melakukan tindakan cerobohnya yakni melepas topeng di sembarang tempat.
Dev tidak mengenali pria berkulit hitam itu. Namun, itu akan menjadi langkah awal untuk mengambil tindakan. Dev memundurkan langkah ketika posisi pria itu sudah ada di depan kemudi. Di saat yang sama, sampah kaleng tak sengaja terinjak. Bunyinya memancing pria itu untuk segera memeriksa. Dev segera melarikan diri sebelum tertangkap.
Dev termenung di kamarnya yang temaram. Larutnya malam tak membuatnya mengantuk. Semua misteri itu selalu berkelebat di kepala, merenggut hak-hak tubuhnya untuk beristirahat. Semua kepelikan yang ada hampir membuatnya hilang kewarasan.
Air mata keluar dari celah mata. Dev mengunyah beberapa pil dengan gusar. Beberapa waktu, tubuhnya menjadi sempoyongan. Dev meracau.
"Tidak berguna!"
Dia melangkah gontai menuju lantai bawah. Saat akan melintasi kamar Elfara, dia melihat ruangan kakaknya berasap. Dia bergumam, "Siapa yang menyalakan api?" Dev berkeliling dan sama sekali tidak menemukan api.
Dia mencebik dan bermaksud untuk keluar. Akan tetapi, asap halus berarak melewati penglihatannya. Ketika berbalik, Dev menemukan sumber asap itu berasal dari bawah ranjang. Bertiarap, Dev mengambil selembar kertas yang sebagiannya sudah hangus.
"Apa ini?" Karena merasa sangat lemas, dia tidak mampu lagi mempertahankan kesadarannya. Hanya beberapa saat setelah memadamkan kepulan asap pada kertas itu, Dev langsung tertidur tanpa sempat memindah posisi.
Saat membuka mata, Dev merasakan sakit di kepala. Dia bangkit untuk duduk dan menemukan kertas itu masih ada di tangannya. Lekat, dia mengamati, lalu berkata, "Ini gambar sigil, tapi ini tidak sama seperti sigil Asmodeus yang ada padaku. Kenapa benda ini ada di kamar Elfara?" Tiba-tiba pacuan jantungnya mengencang. Tanpa berpikir lama, Dev menggeledah kamar itu. Tidak menemukan apa yang dia cari, dia bergegas ke rumah sakit.
"Aku menemukan ini di kamar Elfara." Dev menyodorkan sigil itu kepada Mehmet.
"Apa kau mengetahui pengetahuan tentang itu?"
"Aku tidak tahu ini simbol apa. Apa kau membawa ponsel?" tanya Mehmet. Dev mengangguk seraya menyerahkan ponselnya kepada Mehmet. Mereka segera menemukan jawaban setelah  memotret gambar sigil dan memasukkannya ke dalam mesin pencarian.
"Sigil Lilith?" gumam Mehmet.
"Lilith? Aku seperti pernah mendengar nama itu." Dev tampak berpikir. Setelah itu, dia mengingat sesuatu. Iblis yang menenggelamkan Jess yang menyebutnya. Namun, tidak mungkin Dev mengatakannya pada Mehmet.
"Paman, siapa Lilith?"
"Ada berbagai macam pendapat yang berbeda tentang Lilith."
"Maksudnya?"
"Dia sosok dalam mitologi Yahudi, yang dikembangkan paling awal dalam Talmud Babel. Pada umumnya dianggap sebagian diturunkan dari semacam setan betina dalam kisah lebih kuno (līlīṯu) dalam agama Mesopotamia sebagaimana ditemukan dalam teks kuneiform dari Sumer, Akkad, Asyur, dan Babel. Namun, menurut kepercayaan Hindu nama aslinya hanyalah Lil yang berarti iblis serupa malaikat seorang ibu dari Nabi Adam. Ada yang mengatakan bahwa Lilith adalah seorang dewi malam dari legenda Babel yang diketahui oleh orang Yahudi yang dibuang ke Babel. Ada pula yang mengatakan bahwa Lilith hanyalah binatang malam, burung hantu pemekik, juga hantu malam. Apapun itu, dia dianggap sebagai sosok misterius yang sangat berbahaya." Mehmet menjelaskan.
"Kau harus mencari tahu, siapa pemilik sigil itu! Apa kau menemukan sesuatu yang lain di kamar Elfara?"
"Tidak!"
"Aku berharap semua keburukan ini akan cepat berakhir. Dev, berhati-hatilah terutama kepada emosimu sendiri." Mehmet memberikan pesan sebelum Dev pergi dari kamar rawatnya.
"Dokter, bagaimana kondisi ibuku?" tanya Dev saat melihat dokter keluar dari ruangan di mana Jess dirawat.
"Belum ada perkembangan apa pun. Kuharap kau dapat berbesar hati, anak muda. Berdoalah."
"Baiklah, terimakasih." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Dev.
Kini, dia berjalan bingung ke kamar inap kakaknya. Dokter mengatakan bahwa Elfara bisa melakukan masa pemulihan di rumah. Dev menghela napas. Walau pun semuanya terasa begitu rumit, setidaknya dia lega karena kondisi Elfara yang tidak begitu mengkhawatirkan.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" Pertanyaannya tidak ditanggapi oleh Elfara. Gadis itu sibuk mempersiapkan kepulangannya.
"Aku membawa pakaian bersih untukmu. Pakailah, biar aku yang membereskan semuanya." Dev berhasil membuat kakaknya mengalihkan wajah dan menjatuhkan pakaian kotor yang hendak dimasukkan ke dalam paper bag. Elfara mendekati Dev, tetapi hanya untuk mengambil pakaian bersihnya, kemudian berlalu tanpa sepatah kata.
"Aku tahu ini tidak mudah bagimu, tapi percayalah aku akan mengembalikan semua yang terrenggut darimu. Wajahmu akan baik-baik saja. Dokter mengatakan bahwa lukamu tidak begitu parah." Dev berkata setelah Elfara selesai mengganti pakaiannya.
"Apa kau sungguh-sungguh bisa melakukannya? Apa kau tidak sadar bahwa apa pun yang kau lakukan hanya akan membawa sial bagi orang lain. Bahkan, kesialan itu ada sejak kau lahir ke dunia. Dengar! Aku sama sekali tidak butuh simpati atau empatimu. Jadi, berhentilah berpura-pura peduli padaku. Aku bisa mengurus diriku sendiri tanpa dirimu." Elfara menjawab dingin.
"Setelah kematian daddy, aku bertanggung jawab penuh atas kehidupanmu juga mommy!"
"Tanggung jawab? Tahu apa kau tentang tanggung jawab? Kau jangan pernah bermimpi untuk menggantikan posisi daddy dalam hidupku. Bagiku kau hanyalah parasit." Elfara tersenyum miring.
"Kenapa kau begitu membenciku, Elfara? Bahkan, untuk kesalahan yang tidak pernah kulakukan. Aku sudah cukup mendengarkanmu selama ini. Sekarang kau yang harus mendengarkanku! Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Aku tidak pernah terlibat dalam permasalahan orang tua kita di masa lalu. Selama ini kau cemburu padaku. Cemburu untuk sesuatu hal yang tidak jelas. Ketika mommy memberiku daging dan kau hanya diperbolehkan memakan beberapa jenis sayuran dalam porsi yang kecil, apakah kau berpikir daging apa yang mommy berikan padaku dan mengapa mommy membatasi asupan nutrisimu? Apa kau bisa bayangkan jika daging yang kumakan setiap hari itu bukanlah daging yang bisa dimakan?" Wajah Dev memanas. Kata-kata Elfara sangat menyakitinya. Namun, Dev berusaha mengontrol emosinya.
"Apa maksudmu?" 
"Apa kau pernah memeriksa kesehatanmu? Apa kau tahu kalau kau penderita alergi protein yang cukup serius? Apa kau tahu tentang pil yang setiap hari mommy berikan padaku? Kau selalu mengira bahwa itu suplemen, bukan? Tidakkah kau mencari tahu, pil apa yang aku minum? Tidakkah kau bertanya daging apa yang kumakan. Kau memiliki kecerdasan yang luar biasa, bukan? Seharusnya aku yang memiliki perasaan cemburu seperti itu karena yang kau bayangkan sangat jauh dari kenyataan." Elfara diam seribu bahasa. Tatapan matanya seolah mengatakan bahwa perkataan adiknya itu sangat masuk akal.
Hening, Dev melihat Elfara yang makin tercengang dan memundurkan langkah. Dev tahu arah mata kakaknya. Saat dia mengikutinya, dia baru mengerti bahwa Elfara bukan sedang memikirkan kata-katanya, tetapi melihat saku kemejanya mengeluarkan asap. Dev merogoh saku dan mendapati asap aneh itu berasal dari sigil Lilith.
"Apa ini milikmu?" tanya Dev tiba-tiba.

Komentar Buku (79)

  • avatar
    Zaenab yahyaSyarifah

    lanjutannya mana?🥺🥺

    06/07

      0
  • avatar
    Edo

    keren jio

    31/03

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    serem yaaa

    11/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru