Dev menyelam ke dalam air. Dia melihat ibunya tenggelam sangat jauh. Akan tetapi, iblis yang mencelakai Jess menahannya dengan kekuatan sihirnya. Dev adalah siluman naga dengan ukuran tubuh yang cukup besar sehingga segala gerakannya membuat danau bergejolak cukup mengerikan. Pertarungan sengit pun terjadi di antara keduanya. Seolah memiliki kekuatan yang sebanding, waktu 20 menit adalah waktu yang berbahaya untuk keselamatan Jess. Dev mengecoh musuh dengan naik ke permukaan air. Saat bayangan hitam itu terpancing untuk mengejarnya, Dev menjebaknya untuk masuk ke halaman gereja. Dev berpikir, tempat ibadah akan membuat kekuatan jahat takluk. "Matilah, kau!" Dev mengutuk. Akan tetapi, bayangan hitam berwajah menyeramkan itu tertawa terbahak-bahak. "Immortality cannot be killed, haha!" Dev terkejut. Apa yang terjadi di luar dugaan. Upayanya gagal total. "Kamu!" Dev menggeram, tetapi dia tidak melakukan serangan. Dia segera enyah dan berpikir keselamatan ibunya lebih penting. Akan tetapi, dia ditahan oleh serangan yang tiba-tiba. Mau tidak mau, Dev meladeninya. Lebih cepat lebih baik. Akibat pertarungan magis, banyak bangunan menjadi rusak. Pemandangan di sana tak ubahnya sebuah bencana. Kebisingan melangit. Hal itu memicu pulihnya kesadaran Mehmet. Erangan kecil keluar dari mulut Mehmet. Pria itu tidak menemukan tempat berlindung yang aman sehingga dia hanya bisa bersilang kaki, menunggu takdir apa yang akan diberikan Tuhan untuknya. Berpindah ke pinggir danau, di sana Dev terlihat belum mampu mengontrol emosi dan kekuatannya serta belum bisa beradaptasi dengan wujud naganya. Hal itu menyebabkan Dev beberapa kali terjatuh. "Menyerahlah, niscaya Dewi Lilith akan memberkatimu." Iblis itu berucap saat berhasil membuat Dev tidak berdaya. "Aku tidak akan tunduk kepada siapa pun!" tegas Dev. Dia kembali bangkit, tetapi serangan bertubi-tubi membuatnya makin tidak berdaya. "Then welcome your death!" Tepat saat iblis itu kembali melancarkan serangan, suasana berubah. Udara menjadi sangat panas hingga mampu membuat mereka kesakitan. Bahkan, kulit tebal Dev perlahan mengelupas. Iblis itu menjadi gelisah. Dia tahu, kekuatan lain menghentikan segalanya. "Argh!" Jeritan terurai dari mulut mereka. Tubuh iblis perempuan itu perlahan menghilang sedangkan Dev tidak sadarkan diri. Suasana kembali tenang. Hanya tersisa angin sepoi yang menggoyang semua material ringan. Mehmet membuka mata dan melihat sekeliling. Mata pria itu bertaut pada seseorang yang tergeletak di pinggir danau. "Dev!" lirihnya. Mehmet tertatih-tatih menghampiri Dev. "Dev! Dev!" Mehmet mengguncang tubuh Dev. Dia tidak peduli dengan rasa sakit di wajahnya. "Dev, bangun!" Dia berteriak lebih keras. Seketika itu, Dev tersadar dan mendapati wajah Mehmet yang mengerikan. "Paman! Wajahmu ...." "Akan kuceritakan nanti. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kulitmu melepuh? Apa ... Apa semua ini ulah dua iblis yang tadi kulihat?" Mehmet mengajukan banyak pertanyaan. "Paman Mehmet tidak tahu kalau naga itu adalah aku." Dev berkata dalam hati. "Apa Paman yang menyingkirkan mereka?" tanya Dev. "Aku hanya mencoba mengusirnya dengan merapal doa-doa yang diajarkan dalam agamaku. Segala puji bagi Tuhan. Kekuatan-Nya dengan mudah menyingkirkan mereka." Dev terdiam. Sepertinya dia memikirkan sesuatu. "Mommy!" "Ada apa dengan Jess?" Pertanyaan Mehmet tidak dihiraukan oleh Dev. Dev berenang panik ke dasar danau. Entah sejak kapan dia memiliki kemampuan berenang. Entahlah. Semua bisa terjadi karena sebuah keajaiban. Setelah lima belas menit, Dev akhirnya menemukan sang ibu. Dev berhasil membawa ibunya ke permukaan setelah melalui kesulitan. Mehmet yang tercengang segera membantu Dev. "Mommy! Mommy!" Terlalu lama tenggelam membuat organ dalam Jess dipenuhi air. Mehmet segera melakukan pertolongan pertama. Banyak air yang keluar dari mulut Jess saat Mehmet menekan dada wanita itu. Akan tetapi, hal yang demikian tak serta merta membuat Jess sadar. "Mommy!" "Tenanglah, Dev! Ibumu akan baik-baik saja. Aku akan menghubungi ambulance. Kau harus mencari Elfara. Aku tidak yakin kakakmu akan baik-baik saja." Dev menggangguk dan segera berlari ke dalam rumah. "Elfara!" "Elfara!" Seruan Dev tidak disahuti. Dia mendapati semua tempat yang dilewatinya terlihat biasa kecuali kamar Jess. Dev mengendus jejak magis di kamar berantakan itu. Pikirannya langsung tertuju pada kamar Elfara. Namun, sesampainya di sana, Elfara tidak ada. Kamar itu masih rapi. Dev menduga, sang kakak ada di ruangan lain. "Elfara!" "Di mana dia?" Sampai di dapur, langkah Dev terhenti. "Elfara!" Dev berjalan cepat mengetahui Elfara bersimbah darah. *** Di rumah sakit, Elfara, Jess, dan Mehmet mendapatkan perawatan intensif sedangkan Dev menolak untuk dirawat inap. Mengalami luka adalah hal biasa baginya. Jess mengalami koma. "Nyonya Jess mengalami kerusakan otak karena terlalu lama tenggelam dalam air. Namun, ini adalah sebuah keajaiban karena beliau mampu bertahan dalam kurun waktu lebih dari dua puluh menit. Biasanya seseorang yang tenggelam dalam waktu empat sampai enam menit tanpa resusitasi akan mengalami kematian. Berdoalah, kami akan melakukan tugas kami sebaik mungkin." Dev terdiam mendengar penjelasan dokter laki-laki itu tentang kondisi ibunya. "Bagaimana dengan kakak dan pamanku?" Dev bertanya dengan nada yang lirih, seolah tidak siap dengan kabar selanjutnya. "Nona Elfara hanya mengalami syok. Luka di wajahnya tidak terlalu serius sedangkan tuan Mehmet, aku sungguh meminta maaf. Dengan sangat menyesal aku harus mengatakan bahwa beliau mengalami kerusakan jaringan kulit karena tidak mendapatkan pertolongan pertama sejak cairan berbahaya itu mengenai wajahnya. Akibat dari insiden itu, tuan Mehmet juga beresiko mengalami kerusakan pada kornea matanya. Aku harap kau berbesar hati, Tuan Dev." Tulang-tulang Dev melunak. Dia meninggalkan dokter berwajah tegas itu tanpa sepatah kata. Di toilet rumah sakit, Dev mengasingkan diri. Merasa sangat sedih dengan musibah yang menimpa keluarganya. Dia menangis tanpa suara. Menyesali segalanya. "Tidak berguna! Semua tidak akan terjadi jika aku tidak menuruti amarahku. Dad ... Ibu!" "Sial! Sial! Argh!" Dev menjambak rambut french crop-nya. Merasa sangat marah terhadap dirinya sendiri. "Seharusnya aku lebih bisa mengontrol emosiku." Dev berjalan gontai ke ruang rawat Jess. Hatinya tercabik tiap kali menatap wajah Jess. Wanita malang itu sudah mengalami penderitaan dan ketidakadilan sejak darah Erhan mengalir di tubuhnya. "Maafkan aku, Mom." Dev melenggang karena tidak sanggup berlama-lama berada di sana. Dev menghela napas dalam-dalam. Berusaha meredam prahara di hati. Sebagai manusia yang terhitung dewasa muda, dia harus belajar bersikap sesuai dengan usianya yang sudah kepala dua. "Paman Mehmet!" Tubuh Dev kembali tegak saat mengingat sahabat ayahnya. "Apa kau baik-baik saja?" Dev bertanya kepada pria yang tengah duduk di ranjang rawat. "Tidak ada yang perlu dicemaskan. Aku baik-baik saja." Pria itu menjawab dengan senyuman. "Apa kau sudah gila, Paman Mehmet? Baru saja dokter mengatakan padaku kalau kulit wajahmu rusak dan kau beresiko mengalami gangguan mata." Mehmet kembali tersenyum setelah beberapa detik terdiam. "Aku bisa melakukan operasi rekontruksi, bukan? Semua musibah ada hikmahnya. Setiap masalah ada jalan keluarnya. Dan Tuhan tidak menurunkan sakit kecuali dengan obatnya. Kita hanya perlu berlapang dada, berusaha, dan tetap berprasangka baik." Dev memutar bola matanya. Merasa tidak nyaman dengan ceramah Mehmet. "Apa yang diinginkan oleh orang-orang bertopeng itu darimu?" "Entahlah! Mereka datang bukan untuk merampok, tetapi ingin melukai kami. Sepertinya mereka mengenalku dan mereka memiliki alasan yang kuat. Dev, aku mencemaskan dokter Michele." "Aku akan segera menemukannya!" Tepat setelah Dev mengatakan yang demikian, suara jeritan mengalir ke pendengarannya. "Elfara?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lanjutannya mana?🥺🥺
06/07
0keren jio
31/03
0serem yaaa
11/09/2025
0Lihat Semua