logo text

Bab 54 Persembunyian

Sepasang anak dan ayah itu memandang nanar sepasang kelopak mata Masma yang menguncup. Derap langkah kian memberat seiring jarak yang terpangkas, hampir sempurna terlewati. Lentera kehidupan hampir padam di pilar penyiksaan. Tak sekacau Devada, Nick merasakan gulungan luka diam-diam berdentum hebat di pusat jantung. Jemarinya terulur, menggapai wajah lipu syarat elegi. Kelopak mata yang kuncup itu tiba-tiba terbuka perlahan, menampilkan iris biru sebening lautan.
"Nick!" Bibir tipis Masma memanggil dengan isakan kecil.
"Ya!" Nick berbisik seraya menghapus air mata yang mengalir di pipi Masma.
"Kenapa kau ada di sini?" Nick menempelkan telunjuknya pada bibir kering wanita di depannya sambil mendesis.
"Aku akan melepas dulu tali yang mengikatmu." Lagi, Nick berujar. Dia menoleh pada Devada agar gadis itu bersedia membantunya.
"Ayo, kita pergi sebelum mereka kembali!" seru Nick setelah semua tali terurai dengan baik. 
"Aku mengetahui tempat persembunyian yang aman untuk sementara," ucap Masma.
Hening mengiringi langkah sampai setibanya mereka di tempat yang Masma maksud. Dahi Nick mengerut setelah mengedarkan penglihatannya ke segala penjuru. Hal yang sama dilakukan oleh Devada. Tempat itu seperti hutan pada umumnya. Dipenuhi pepohonan dan rerumputan yang rimbun. Sama sekali tidak menunjukkan adanya tempat persembunyian yang Masma maksud. Keduanya urung bertanya. Hanya berjalan mengekori Masma menuju sebuah tanaman besar nan indah. Sejenak, Devada terpaku pada kelopak-kelopak merah jambu yang tampak dipenuhi bulir-bulir bening pada tanaman berkelompok itu.
"Jangan menyentuhnya menggunakan tangan kosong!" Tiba-tiba Masma berseru dengan suara yang ditekan serendah mungkin. Sebuah ranting kecil yang berada di tangan kanannya melesat cepat ke mulut bunga. Secara ajaib, kelopak basah bunga cantik itu menguncup, membenamkan ranting yang menyentuh rongga mulut.
Andai wanita bertato naga itu tidak melakukannya dengan cepat, sudah dipastikan tangan Devada yang reflek terulur itu yang akan masuk ke dalam sana. Gadis itu mengernyit, memikirkan sesuatu, lalu mengikuti Masma yang berjalan memasuki terowongan gelap.
Perempuan itu membuka papan yang dipenuhi tumbuhan menjalar. Sebuah pintu masuk tersembunyi yang benar-benar sempurna. Rumpunnya semak-semak yang ada membuat siapa pun yang melintas akan mengira bahwa tempat itu adalah hutan biasa yang cukup berbahaya karena ditumbuhi tanaman perangkap. 
"Aku tidak tahu, kau memiliki tempat seperti ini." Nick berujar. Kegelapan membuatnya harus berjalan hati-hati menuruni tanah undakan.
"Aku membuatnya diam-diam, Nick." Masma menyahut. Wanita itu kemudian merapal mantra. Dalam sekejap, ruangan menjadi terang. Kilat api berpendar pada beberapa obor yang menggantung di dinding terowongan yang cukup luas tersebut.
"Apa kau baik-baik saja?" Pertanyaan Masma tertuju pada Devada. Gadis itu hanya mengangguk.
"Bunga yang ingin kau sentuh itu adalah tanaman karnivora yang sangat peka terhadap rangsangan. Enzimnya dapat mencerna makanan dalam beberapa jam saja. Getahnya pun mengandung racun yang berbahaya," terang Masma.
"Aku tidak tahu, terima kasih!" sahut Devada singkat.
"Aku ingin beristirahat sebentar saja. Aku sangat mengantuk setelah perjalanan kita." Devada mengalihkan perhatiannya pada Nick. Pria itu mengangguk, dan membiarkan anaknya meringkuk di sudut yang sedikit jauh darinya. Dari jarak itu terlihat Devada yang menguap berkali-kali. Dengkuran halus terdengar setelah gadis tersebut memejamkan mata beberapa saat. Pertanda bahwa perbuatannya bukan sekadar alibi untuk membuat Nick hanya berdua dengan Masma.
"Siapa dia, Nick?" Akhirnya pertanyaan itu muncul dari bibir Masma. Nick terdiam, memikirkan cara untuk mengatakan yang sebenarnya. Padahal, inilah waktu yang ditunggu-tunggu setelah mengingat tujuan awalnya datang ke hutan itu. Akan tetapi, keadaan sepertinya membuat semua terasa rumit.
"Kau menyembunyikan banyak hal dariku, Nick!" Pernyataan Masma membuat kepala Nick tertunduk sekilas. Seberkas sendu lalu bersinar di mata Masma. Dia berusaha meredupkannya dengan memeluk Nick.
"Apakah ada seseorang yang sudah mengganti posisiku di hatimu, Nick?" Pria itu memejamkan matanya yang tiba-tiba dipenuhi embun. Tangannya hanya bisa mengepal tanpa mampu membalas pelukan dingin wanita yang melahirkan putranya tersebut.
"Maafkan aku!" ucapnya parau. Sebuah jawaban yang membuat Masma melepas pelukannya seketika. Pandangan mereka bertemu, seperti sedang saling mengeja sebuah rasa yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata.
"Apakah gadis itu adalah anakmu?" tanya Masma amat lirih, tetapi penuh rasa yang menusuk dada.
"Ya, dia anakku!" Tawa kecil terurai dari bibir Masma, tetapi penglihatannya dipenuhi oleh genangan.
"Kau sudah bahagia, kenapa harus ada di sini?" Ada kegetiran yang menggelayut di sudut bibir Masma yang melengkung.
"Aku harus bagaiamana? Anakku menanyakan ibunya. Itulah sebabnya kami berada di sini."
"Apa maksudmu? Apa kau memiliki istri yang lain di hutan ini?" Nick menggeleng lemah. Pertanyaan konyol macam apa itu? Nick merutuki dirinya sendiri. Kenapa harus drama seperti ini?
"Lalu, siapa yang kau maksud?"
"Kau!" cetus Nick. Masma kembali tertawa dengan nada yang masih begitu rendah.
"Dev Sasaka, hanya dia yang kumiliki walau aku tidak pernah merawat dan bertemu dengannya setelah dia lahir." Dada bidang Nick bergerak. Ucapan Masma membuat ia membutuhkan banyak oksigen. Dalam satu tarikan napas, dia berkata, "Kau sudah bertemu dengannya." Masma memupus senyumnya yang ambigu, wajahnya diliputi tanda tanya.
"Dia adalah Dev Sasaka Erhan!" ungkap Nick seraya mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih terlekap di sana.
"Bagaimana mungkin?"
"Itu tidak mungkin, Nick!"
"Anakku laki-laki. Aku masih ingat betul saat dia menemuiku walau tidak mengenalku. Dia sangat tampan sepertimu!" Wanita itu tiba-tiba menjadi histeris. Nick dengan reflek membawa Masma ke pelukannya.
"Maafkan aku, itulah kenyataannya." Wanita penuh luka itu mematung dengan cengkeraman mata yang tak kunjung lepas dari Devada. Seluruh otaknya sibuk mengulas keadaan yang membingungkan. Bagaimana bisa? Belum menemukan jawaban dari segala pertanyaannya, wanita itu kemudian melihat segumpal asap kehitaman yang bergerak membentuk sesuatu. Nick yang merasakan tegangan di tubuh Masma segera melepas rengkuhannya, dan mendapati wajah pucat itu penuh kecemasan.
"Ada apa?" Lelaki itu bertanya. Masma tetap bergeming dengan sorot mata penuh gelisah. Karena penasaran, akhirnya Nick berinisiatif untuk mengikuti ke mana arah mata Masma tengah berpusat. Dia tertegun melihat seringai seseorang yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Seorang wanita cantik yang tidak akan pernah Nick lupakan sejak kejadian di mana wanita itu beserta kelompoknya mengincar Dev kecil. Bahkan, melukai Masma yang notabene bagian dari mereka.
"Ambrizza! Bagaimana mungkin kau bisa kemari?" Pertanyaan Masma disambut tawa oleh wanita di depannya.
"Kau lupa kalau kau tidak lebih kuat daripada aku?" Wanita berkulit sawo matang itu seolah mengingatkan. Tangannya kemudian terulur mencengkeran batang leher Masma hingga menimbulkan garis kemerahan di sekitar kulit yang terkena tekanan.
"Mencoba melarikan diri hanya akan menambah penderitaanmu, Masma!" Wanita bengis itu berkata lantang. 
"Lepaskan Masma, Sialan!" Nick berusaha mendorong Ambrizza, tetapi justru tubuhnya sendiri yang terpelanting. Ambrizza membalas serangan Nick dengan sekali tepis. Nick mengerang mendapati cairan merah di kepala belakang akibat terbentur permukaan dinding yang kasar dan tidak rata.
Namun, bukan Nick jika dia menyerah begitu saja. Ia segera bangkit dan menarik tangan Ambrizza yang sekeras besi. Walau berkali-kali ia gagal meski menggunakan cara yang lainnya. Wanita berambut ikal itu menusuk Nick dengan mata iblisnya. Seberkas sinar yang menyilaukan keluar dari sana. Tiba-tiba, penglihatan Nick melemah. Sejurus dengan itu, ia merasakan sebuah tarikan yang keras. Kecepatannya bahkan mampu menyengat syaraf jantungnya. Nick segera membuka kelopak matanya yang terpejam beberapa detik. Suhu hangat membuatnya sadar bahwa ia terjatuh bersama tumpukan obor yang telah padam. 
"Daddy, kau tidak apa-apa?" Devada bersuara.
"Aku tidak bisa melihat apa-apa, Dev! Di mana Masma?"
"Wanita itu berhasil membawanya. Maafkan aku. Semua terjadi begitu cepat. Aku tidak bisa menyelamatkan kalian dengan bersamaan."
"Kita harus cepat membawanya kembali atau kalau tidak ...."
"Iya, 'tapi aku harus mengobati matamu dahulu. Pejamkan matamu!" Nick mengangguk dan menuruti permintaan anaknya. Gadis itu juga menutup kelopak matanya seraya mengusap mata Nick dengan kedua ibu jarinya.
"Buka matamu!" Nick perlahan membuka mata. Seketika itu wajahnya menjadi cemas.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Devada.
"Aku tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan."
"Jelas saja karena semua obor sudah mati. Lihat ini!" Devada menjentikkan jari.
"Api? Astaga, Dev! Jarimu terbakar!" Nick berteriak. Dia bergegas memadamkan api di jari Devada dengan tangan kosong.
"Ayo, Dad. Kita harus segera keluar mencari ibu!"
"Apa dia benar-benar ibuku?" tanya Dev sekeluarnya mereka dari terowongan.
 

Komentar Buku (79)

  • avatar
    Zaenab yahyaSyarifah

    lanjutannya mana?🥺🥺

    06/07

      0
  • avatar
    Edo

    keren jio

    31/03

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    serem yaaa

    11/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru