Beranda/Ketika Kita Menikah/
Bab 40
“Aku minta maaf,” kata Amora sesampainya di tempat loundry. “Aku tidak bermaksud membentak ibumu.”
Gery tetap bermuka pias, tapi tidak menunjukkan raut amarah. “Jangan dipikirkan. Ibuku hanya asal bicara. Jangan kau masukkan ke hati.”
Amora mengangguk. “Aku masuk dulu.”
“Aku jemput sekitar pukul tiga sore.”
Gery berlalu dan Amora masuk ke dalam. Di sana sudah ditunggu Lela yang mulai mengurusi setumpuk pakaian dari customer. Belum terlalu banyak memang, akan tetapi bisa terbilang lumayan untuk tempat laundry yang baru buka.
“Maaf aku telat,” kata Amora sambil meletakkan tas di gantungan. “Aku ada sedikit masalah tadi.”
“Tidak apa,” sahut Lela sembari menuang deterjen ke dalam mesin cuci. “Aku juga baru beberapa menit.”
Amora mendekat dan ikut mengangkat setumpukkan pakaian berwarna putih dan memasukkannya ke dalam mesin cuci yang lain.
“Apa kau sudah sarapan?” tanya Amora.
“Sudah. Ibuku masak nasi goreng tadi pagi,” sahut Lela. “Kau sendiri sudah makan?”
Amora mendesah kemudian duduk di kursi usai menyalakan mesin cuci. “Hanya beberapa suap saja.”
Lela berkerut dahi dan ikut duduk. “Kenapa? Em, kau ngidam ya?” jari telunjuk sudah menuding-nuding.
“Sembarangan!” sembur Amora. “ Bagaimana aku mau hamil, malam pertama saja belum?” tentunya Amora hanya berkata di dalam hati.
“Lalu kenapa?” tanya Lela. “Kau sakit?”
Amora menggeleng. Sekali lagi Amora mendesah lalu menatap wajah Lela. “Kau pernah lihat sinetron tentang ipar dan ibu mertua yang menyebalkan kan?”
Lela mengangguk-angguk. “Kenapa memangnya?”
“Aku ada di posisi itu.”
“Tunggu, tunggu.” Lela memepet Amora. “Maksudmu ipar dan ibu mertuamu menyebalkan?”
“Awalnya ibu mertuaku ramah padaku, tapi entah apa yang Belva bisikkan sehingga ibu mertua bisa membenciku.”
“Belva?” Lela ternganga. “Nama itu tidak asing bagiku.”
Amora berdecak keras. “Siapa lagi kalau bukan Belva si wanita menyebalkan yang selalu bersama saudara tiriku.”
“Astaga!” Lela mendaratkan dua telapak tangan pada bibirnya yang terbuka. “Bagaimana bisa dia menjadi saudara iparmu?”
“Entahlah!” Amora angkat bahu. “Aku tidak peduli. Selama suamiku tidak mempermasalahkannya, aku tidak takut dengan mereka.”
Obrolan terus berlanjut sampai hampir satu jam. Kalau saja tidak ada pengujung, mungkin saja perbincangan akan berlanjut sampai petang.
“Aku cari makan siang dulu.” Amora berdiri dan mengambil tasnya. “Kau mau apa?”
“Belikan aku gado-gado saja,” kata Lela.
Amora menautkan kedua jari dan menyisakan tidak jarinya tetap berdiri.
Amora berjalan menyusuri jalanan beraspal. Terik matahari, secara terang-terangan mulai membuat peluh Amora menetes di setiap lekuk tubuhnya yang tersembunyi.
Sampai di sebuah warung, langkah Amora terhenti. Ada seseorang di sana yang sepertinya juga sedang memesan gado-gado. Karena tak mau sampai bertemu, Amora urungkan niat dan memilih berbalik.
“Amora!”
Terlambat sudah untuk pura-pura tidak melihat. Pria itu mengetahui Amora berada di sana. Dan sebelum Amora berbalik, pria itu sudah lebih dulu berdiri di hadapan Amora.
“Kenapa pergi? Apa kau menghindariku?” tanya Andy. “Melihatku saja kau langsung pergi.”
Amora menyingkirkan tangan Andy yang mendarat di pundaknya. “Maaf, aku hanya tidak mau ada yang salah paham.”
Andy mendecih. “Memangnya siapa yang akan salah paham? Oh, atau kau datang ke sini bersama suamimu?”
Amora merasa ngeri melihat senyum tipis Andy. Pria itu terlihat seperti bukan Andy yang dulu kenal.
“Di mana suamimu?” tanya Andy sembari mengedarkan pandangan di belakang Amora.
“Dia tidak bersamaku,” acuh Amora. “Kalau sudah tidak ada perlu, aku permisi.”
Amora berbalik. Ia urung pergi ke warung gado-gado tersebut. Di belakangnya, Andy tengah menyeringai sambil melipat kedua tangan di depan dada.
“Aku akan cari tahu kenapa kau bisa menikah dengan pria angkuh itu.”
Sementara Andy pergi, Amora sudah sampai di tempat laundrynya lagi. Di sana ada beberapa pengunjung yang sedang bercengkerama dengan Lela. Karena sudah merasa tidak nyaman, Amora memilih masuk ke ruangan belakang tanpa menyapa.
Lela sempat melirik, tapi belum bisa mengejar karena harus melayani pelanggan dulu.
“Kenapa aku merasa takut saat bertemu Andy?” gumam Amora. “Awalnya aku takut dengan Gery, tapi sekarang aku sudah bisa bersikap biasa dengan dia.”
Amora melangkah mendekati jendela kaca persegi di setiap bagiannya. Pandangannya lurus ke luar entah apa yang sedang ia lihat.
“Kenapa?”
Amora menoleh saat suara Lela terdengar.
“Kau tidak jadi beli gado-gado?” Lela mendekat.
Amora masih termenung kemudian duduk di kursi panjang yang menghadap ke arah televisi yang menempel di dinding.
“Tadi aku bertemu Andy.”
“Apa?” Lela ternganga dan langsung ikut duduk. “Di mana? Apa dia mengganggumu.
Amora menggeleng. “Tidak juga. Aku hanya risih saat melihatnya.”
Lela menepuk pundak Amora. “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku memang tidak terlalu tahu lebihnya tentang dirimu dan Andy, tapi aku tahu memang ada sesuatu.”
“Aku tidak ingin bertemu dia lagi,” kata Amora. “Rasa bersalah dan takut, terus menghantui kalau aku bertemu dengannya.”
Lela mengajak Amora duduk lebih berdekatan. "Sudahlah, Andy itu hanya masa lalu. Dan lagi, sekarang dia sudah menjadi istri adikmu. Sebentar lagi juga dia tidak ada waktu untuk menemuimu."
Amora mendesah berat. "Aku hanya tidak mau Putri salah paham. Aku tahu bagaimana dia mencintai Andy. Bisa dikatakan dia rela menunggu sampai hubunganku dan Andy benar-benar berakhir."
Obrolan harus tertunda karena ada pengunjung. Amora berdiri dan menemui orang itu. Di dalam sini, Lela hanya memandangi Amora yang tengah melayani pengunjung tersebut.
"Masalah hidupmu sepertinya lumayan rumit ya Amora," gumam Lela.
Saat Lela masih termenung, tiba-tiba terdengar ponsel di dalam tas berdering. Lela tidak berani melihat, karena berada di dalam tas Amora.
"Kenapa tidak diangkat!" dengus seseorang yang melakukan panggilan ke ponsel Amora. Gery tengah duduk di ruang kerjanya bersama Dion.
"Siapa? Istrimu?" tanya Dion.
Gery berdecak lalu melempar ponsel di atas meja.
"Apa kau mulai ada rasa?"
Gery yang sedang meraup wajah langsung menatap Dion. "Apa maksudmu?"
Dion angkat bahu dan mencebik. "Kupikir kau mulai jatuh cinta dengan wanita itu."
"Sembarangan!" umpat Gery. Meski ingin mengelak, tapi wajah Gery tidak bisa menipu.
"Kalaupun kau suka padanya, itu tidak masalah kan? Toh, apa yang kau harapkan dari Belva? Aku tahu kau sama sekali sudah tidak ada rasa pada Belva."
Gery meraup wajah lagi sambil mendesah. "Aku tahu. Aku juga bingung kenapa sampai kepikiran menikahi Amora hanya untuk menghindari Belva. Semua melenceng dari rencana awal."
"Itu kan karena kau tidak tahu masalah Tania yang sebenarnya. Jadi kau sampai menggila dan salah ambil keputusan."
"Benar. Kalau Lina tidak memberitahuku, mungkin aku masih menyimpan dendam pada ayah Amora."
***Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (95)
Share
Selesai
Rekomendasi untuk Anda
bagus dan berkualitas
10/06/2025
0good
12/01/2025
0bagus
08/10/2023
0Lihat Semua