logo text

Bab 24 Buku Nikah Hilang

Aku pagi ini sengaja izin untuk masuk setengah hari pada Putra. Aku akan mengurus pengajuan cerai ke pengadilan.
Aku bingung saat menyiapkan berkasnya, ternyata buku nikah yang sudah aku siapkan tidak ada. Padahal saat aku pergi dari rumah Mas Arfan aku sudah menaruhnya di dalam tas baju.
"Kinan, kamu kenapa bingung?" tanya Mama.
"Buku nikahku hilang, Ma," jawabku. "Padahal aku udah taruh di tas baju," sambungku.
"Mungkin udah kamu ambil, tapi kamu lupa naruh," kata mama.
Seingat aku, buku nikah itu belum aku ambil dari tas. Aku menjadi takut jika aku gagal ngajuin cerai karena buku nikah hilang.
Aku tetap berangkat ke pengadilan agama. Dan mereka memintaku untuk mengurus duplikat akta perkawinan ke kantor KUA. Jadi aku segera ke kantor KUA.
Setelah mendapatka duplikat akta perkawinan dari KUA, aku kembali ke pengadilan agama untuk mengajukan gugatan.
Aku bahkan sudah menyenangkan hasil visum, ya aku pernah melakukan visum secara diam-diam saat Mas Arfan melakukan KDRT.
"Syarat pengajuannya saya terima, Bu. Untuk selanjutmya nanti kami hubungi," kata pegawai pengadilan agama.
Aku langsung menuju ruko Putra. Di sana mereka sedang istirahat. Setelah makan dan salat kami melakukan penyebaran brosur ke jalan-jalan.
***
"Kinan, kamu sekarang jadi SPG?" tanya seorang wanita.
"Mira, emang kenapa dengan pekerjaan saya?" tanyaku balik.
"Seorang Kinan yang dulu pintar dan selalu juara satu, masa iya sih jadi SPG. Aku aja udah jadi manager di sebuah restauran," jawab Mira.
"Maaf saya harus kembali bekerja. Apapun pekerjaan saya, itu bukan urusan kamu," ucapku.
Mira merupakan teman SMA ku, kami dulu selalu bersaing dalam urusan nilai sekolah. Namun, dia selalu kalah unggul dibanding aku. Jadi dia menaruh iri padaku sampai saat ini.
Dia belum menikah karena dia tipe wanita yang pilih-pilih. Dia hanya mah menikah dengan pria mapan saja.
Entah berapa kali lamaran para pria dia tolak mentah-mentah. Jadi di dalam angkatan sekolah dia tergolong perawan tua.
Aku kembali bekerja memberikan brosur pada para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor.
Sudah sore, Putra mengajak kami untuk segera pulang.
"Bagaimana urusan kamu di pengadilan?" tanya Putra.
"Aku harus minta duplikat akta perkawinan ke KUA. Buku nikahnya hilang padahal sudah aku bawa di tas baju waktu aku pindah," jawabku.
"Kok bisa, apa ada yang mencurinya?" tanya Putra.
"Entahlah, tapi aku sudah mengajukannya," jawabku. "Oh ya aku pulang dulu, capek banget badanku," kataku jujur.
Kami semua pulang dengan kendaraan masing-masing.
***
"Kinan, kamu tidak akan bisa lakukan gugatan cerai. Karena buku nikah ada padaku semua," ucap Mas Arfan saat menelfonku malam itu.
"Apa? Jadi kamu yang mencuri buku nikah dari tasku?" tanyaku kesal.
"Bukan aku, tapi Ana yang mengambilnya," jawab Mas Arfan.
"Dasar madu gak tahu diri," umpatku lalu mematikan panggilan bersama Mas Arfan.
Aku benci sekali dengan Ana. Dia telah membuatku kesal. Aku gak akan maafkan dia lagi. Ku datangi rumah Mas Arfan.
"Mas Arfan...Mas Arfan," teriakku.
"Mbak Kinan, kenapa teriak-teriak?" tanya Ana. "Gak enak kalau di dengar tetangga," sambung Ana.
"Ana, kenapa kamu curi buku nikahku?" tanyaku. "harusnya kamu senang aku dan Mas Arfan cerai, bukan malah menghalangiku," sambungku.
"Mbak, aku gak mau kalian bercerai. Kasihan Kiara, dia butuh papanya," ucap Ana.
"Selama ini dia udah kehilangan papanya apalagi dengan adanya anak kamu nanti, Mas Arfan pasti akan lupa sama Kiara," bantahku.
"Mbak, anakku tidak bersalah. Kalau mau nyalahin, salahin aku saja. Aku sadar aku sudah menjadi orang ke tiga. Tapi aku mohon kembalilah sama Mas Arfan," kata Ana.
"Bagaimana kalau aku kembali dengan Mas Arfan, asalkan kamu mau pisah dari Mas Arfan?" tanyaku.
"Itu tidak mungkin, Mbak. Anakku juga butuh papanya nanti," jawab Ana.
"Ya udah terima saja," bentakku.
Kesabaran menghadapi Ana sudah habis. Dia dulu terlihat baik tapi sekarang sangat menyebalkan.
"Kinan, kamu tidak berhak mengatakan seperti itu pada Ana. Dia itu orang baik," bela Mas Arfan.
"Oh iya dia memang baik, saking baiknya dia mudah kamu bohongi, Mas," ucapku. "Berikan buku nikah itu padaku!" pintaku.
"Kinan, aku gak akan ceraikan kamu. Aku mau kita tetap bersama," ucap Mas Arfan.
"Terserah aku tidak mau bersama kamu lagi," balasku.
Aku pulang dari rumah Mas Arfan dengan perasaan kesal dan kecewa. Aku terlalu capek karena harus menghadapi dua orang tak tahu diri.
"Belum tidur ya," kata Mama saat melihat aku duduk di ruang keluarga.
"Gak bisa tidur, Ma. Padahal aku capek banget loh," ucapku.
"Jangan terlalu memikirkan kelakuan Arfan! Semua hanya akan membuat kamu kesal dan marah," kata mama.
"Aku lelah, Ma. Aku ingin semua berakhir," ucapku.
Mama memelukku, dia tahu saat ini aku butuh support yang banyak.
***
Pagi itu mendadak tubuh Kiara panas. Aku kembali izin pada Putra, ku antar Kiara ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanyaku.
"Tenang saja, Bu. Kiara baik-baik saja. Dia hanya butuh banyak istirahat," jawab Dokter. "Dia bisa dirawat 2-3 hari, setelah itu baru bisa pulang," sambung Dokter.
Terpaksa aku tidak berangkat kerja. Ku kabari Putra jika Kiara sakit demam. Siangnya, Putra datang menjenguk Kiara.
Entah dari mana Mas Arfan tahu jika Kiara sakit. Dia datang ke rumah sakit dan memarahiku.
"Kinan, semua salah kamu. Kamu tidak memperhatikan Kiara lagi makanya dia sakit," tuduh Mas Arfan.
"Arfan, jangan asal menuduh. Kinan bukan seperti kamu yang tidak becus mengurus anak. Kamu mengurus dua istri saja tidak becus apalagi ngurus anak," ucap mama marah. "Kalau kamu datang hanya untuk menyalahkan Kinan, mendingan kamu pulang saja," kata mama.
"Papa kenapa salahin mama, papa udah gak sayang sama Kiara, kan?" tanya Kiara.
"Kiara, papa sayang sama Kiara. Mama yang gak sayang kita, mama mau pisahkan kita, sayang," jawab Mas Arfan.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu? Kita memang alan bercerai, tapi kamu harus ingat kewajiban kamu untuk menafkahi Kiara," bantahku.
"Mana dia mampu nafkahi, Kiara. Dia aja pelit, paling tidak berapa lama lagi Ana juga gugat cerai dia," sahut mama.
"Ana bukan seperti Kinan, dia istri yang penurut," kata Mas Arfan.
"Jangan membandingkan putriku dengan siapapun!" ucap mama. "Bagiku, Kinan lebih baik dari siapapun. Dan saya yakin, Kinan akan dapat pria yang lebih segalanya dibandingkan kamu," bantah mama.
"Alah, anak sendiri di bela terus," ucap Mas Arfan.
Mama yang terlanjur emosi melayangkan sebuah tamparan di pipi Mas Arfan.
Plak
"Itu tidak seberapa dengan apa yang kamu lakukan pada Kinan dan Kiara. Pergi dari sini!" usir mama sambil mendorong Mas Arfan.

Komentar Buku (360)

  • avatar
    Dewik Uye

    sangt bgus

    03/01

      0
  • avatar
    lidax

    bagus

    03/05/2025

      0
  • avatar
    KaniaNia

    bagus

    19/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru