logo text

20. Permudahlah Niat Hamba.

Mungkin bagi semua orang baik-baik dalam tanda kutip, mereka paling takut atau cenderung untuk tidak mau berurusan dengan yang orang yang biasa berkutat dalam dunia hitam atau yang biasanya dikenal dengan sebutan mafia.
Sisi gelap kehidupan mereka yang identik dengan kekerasan, free sex dan minum-minuman keras adalah merupakan hal yang biasa dalam komunitas mereka. Tetapi satu hal Lily kagumi dari mereka adalah mafia sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya. Bagi mereka janji itu adalah jati diri dan harga mati. Bukan mafia abal-abal kelas teri seumpama preman pasar ya? Itu mah lain lagi ceritanya. Begitu pula dengan Axel, kakak tercintanya.
Lily tahu kakaknya itu khawatir setengah mati saat melihat luka-lukanya tadi pagi, walau pun dia sudah berusaha keras mencoba untuk menutupi kecemasannya dengan topeng wajah datarnya seperti biasa. Lily juga tahu kalau kakaknya itu sebenarnya begitu tidak rela kalau adiknya menjadi ART dirumah orang, sementara saat dirumah mereka adiknya itu dilayani bagaikan seorang putri raja.
Tetapi berhubung kakaknya telah berjanji untuk melepasnya supaya bisa jadi orang, maka dengan amat sangat terpaksa kakaknya itu pun menahankan semua kecemasannya itu dalam diam. Lily hanya menyesali satu hal dalam hidupnya yaitu kesepakatan menjadi partner sex term and condition only nya dengan Heru. Entah bagaimana kecewanya kakaknya itu bila dia tahu bahwa adik kesayangannya sudah menjadi barang mainan laki-laki lain.
Lily baru saja masuk kedalam lift dan memijit angka 11, saat tiba-tiba saja seseorang langsung membekap wajahnya dan menempatkannya pada pangkal lengannya. Lily yang gelagapan tidak bisa bernafas langsung memukul-mukul punggung sekeras tembok yang seolah-olah tidak merasakan sakit sama sekali atas beberapa pukulan dahsyatnya.
"Gimana Sis aroma ketek gue? Masih sama seperti yang dulu kan? Lo inget kagak, dulu kalo tidur lo suka banget nyiumin ketek gue. Tangan kanan gue sampe kesemutan gara-gara lo jadiin bantal sambil ngendus-ngendusin ketek gue sepanjang malem. Hayo ngaku lo!!"
Arkan sepupu laknat nya baru menjauh kan kepala Lily dari pangkal lengannya setelah melihat sepupu somplaknya itu megap-megap kehabisan nafas.
"Anjayyyy lo sepupu laknat. Nggak mandi berapa hari lo sampe itu ketek bau asem semeriwing tuing-tuing begitu? Untung gue nggak mati kena virus aroma ketek bau naga lo itu! Sana jauhan dikit! Masih keleyengan ini kepala gue kena racun ketek basah lo itu!!"
"Enak aja lo bilang bau. Deodorant gue ini Marks n Spence* tau nggak lo? Seger gini aromanya. Idung lo sumpung kali nggak bisa bedain mana yang bau sama mana yang seger aromanya."
Lily dengan kesal mulai mendorong-dorong tubuh kekar jagoan Alcatraz itu kesamping dan...ternyata tubuh besar Arkan tidak bisa digesernya walau seinchi pun.
"Lo sakit-sakit begini masih mau ngebabu juga di apartemen orang? Udah lo istirahat aja di apartemen gue, bilang sama Boss lo kalo lo itu lagi sakit, jadi mau istirahat." Lily menggelengkan kepalanya.
"Gue ogah makan gaji buta. Cuma lecet-lecet dikit gini, kecik lah itu."
"Lo kalo gengsi nerima duit kakak gila lo itu, kan lo bisa minta sama gue? Daripada lo ngebabu di apartement orang. Demi apa coba seorang Delacroix jadi babu?" Arkan menoyor pelan kepala Lily.
"Demi sesuap nasi dan harga diri. Esehhhhhh..Eh Ar, Gue rasa lo bener waktu bilang ntar suatu hari mungkin aja gue bakalan mati dimutilasi orang. Soalnya kemarin dulu itu jujur Gue merasa itu mobil emang sengaja mau nabrak gue. Cuma Gue nggak berani aja bilang sama kak Axel, ntar dia cemas trus gue nggak dibolehin kerja lagi dan ujug ujug gue dikawinin deh. Amit-amittttt!!!!"
Lily membuat gerakan mengetok-ngetok dinding lift dan juga kepalanya sendiri sebanyak tiga kali, seolah-olah sedang membuang sial.
"Lo yakin itu orang emang niatnya mau nabrak lo? Bukan mau nabrak itu abang gojek?"
"Ya kalo gue mau menghibur diri sendiri sih bisa aja gue bilang itu orang emang mau nabrak si abang gojek karena dendam, pernah ngorder gojek tapi di reject sama driver nya jadi dia dendem. Tapi gue tahu, kemungkinan seperti itu kecil bego, makanya gue rasa gue deh yang diincer. Abis gue ini kan syantik-syantik seksih gimana gitu kan? Ye kan?"
"Si Bego." Dan sepupu laknatnya itu pun keluar dari lift saat angka 9 terlihat disana setelah terlebih dulu menoyor kepalanya. Sembarangan aja noyor-noyor. Kalo ntar dia amnesia terus lupa kalau dia punya tanggungan anak-anak bagaimana? Kan repot!
"Ntar kalo lo perlu ada apa-apa telepon aja Gue. Kadang Gue bingung, yang anak papa itu lo atau gue? Karena begitu ngedenger lo keserempet mobil aja, bokap gue nggak bisa tidur semaleman." Pungkas Arkan sebelum pintu lift menutup kembali dan berdenting diangka sebelas.
Lily baru saja meletakkan tasnya disofa saat suara serak-serak basah berlapis bon cabe level sembilan sudah menyambutnya di ruang tamu.
"Jangan mentang-mentang saya ini polisi, jadi kamu fikir bisa membuat BAP tentang Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tetangga itu disini ya? TIDAK BISA!!! Saya ulangi, tidak bisa! Kamu harus membuat surat pengaduan itu dikantor polisi sekitar, berikut sambil membawa hasil visum dari rumah sakit. Faham kamu?"
Saolohhhh ini Badai angin puting beliung mulutnya bener- bener pengen banget gue cabein ya? Rasanya kayak pedes-pedes gurih gimana gitu dikupingnya.
"Eh Pak itu mulut apa cobek sambel? Koq pedes bener? Orang baru dateng harusnya dikasih salam, ditawarin minum terus disuruh duduk dulu. Bukannya malah dituduh-tuduh mau buat BAP."
"Iya betul kalau yang datang itu tamu. Lah ini kamu kan pembantu? Mana mulutnya nggak ada sopan-sopannya lagi. Yang ada juga saya yang minta dibuatin minum. Buatin saya kopi pahit segelas, terus antar keruang kerja saya ya?"
"Ya udah saya buatin. Tapi inget ntar waktu mau minum kopinya panggil aja saya ya Pak? Biar jadi manis kopinya karena waktu bapak minumnya kan sambil mandangin kemanisan hakiki wajah saya. Oke pak?"
"Kadang saya bingung kamu itu orangnya kelewat PD atau memang rada-rada stress. Beda tipis saya lihat."
"Jangan dilihat aja dong Pak, tapiiii... di raba dan diterawang juga." Lily menjawab seperti jingle iklan membedakan antara uang palsu dengan uang asli.
"Cepatttt!!!"
"Iyaaaa!!! Sabar kenapa sih Pak? Ngomel-ngomel mulu ntar tambah lebat itu brewok nya baru tahu rasa. Dasar ular sawah! Tokek jelek! Buaya buntung!" Lily mengeja nama-nama margasatwa yang paling dibencinya dalam hati.
"Ini Pak kopinya. Cepet diminum. Mumpung saya masih disini, biar bisa sekalian bapak nikmati juga." Badai diam saja sambil menatap Lily dalam-dalam.
"Koq tidak enak sekali sih ini kopinya? Pasti kamu waktu buatnya sambil memaki-maki saya dalam hati ya?" Ketusnya lagi. Lah si Boss tahu!! Beneran ada turunan dukun ini sepertinya si Boss mah.
"Bapak bohong pasti. Tadi pas saya cobain enak koq. Makanya waktu mau minum lihat dulu kesini."Badai diam lagi, kali ini dia mendekati Lily yang sedang berdiri sambil mengelap rak buku dengan kemoceng.
Cup cup cup!!!
"Eh iya ya, jadi manis kopinya. Lain kali kalau saya pas mau minum kopi, Saya akan panggil kamu kesini ya? Benar-benar spektakuler ternyata ide kamu itu."
Dan Lily pun sesaat terdiam karena terkejut atas aksi nekad Pak Polisi gila ini. Oke anda jual, saya beli. Kita lihat saja siapa yang lebih kuat bertahan.
"Koq cuma di kecup-kecup manjah aja sih pak? Bapak nggak pande ya ciuman? Habisnya bapak mainnya sama penjahat mulu sih, kan jadinya umur udah bangkotan pengalaman masih nol besar. Mau saya ajarin cara berciuman yang baik dan benar nggak pak? Hmmm.."
Bisik Lily mesra sambil mendekatkan wajah cantiknya pada Badai yang seketika terlihat menelan saliva nya sendiri dengan susah payah. Dalam kebingungan akan perasaannya sendiri Badai pun akhirnya menyeret Lily keluar sambil membanting pintu kamar kerjanya sekuat-kuatnya. Hah kalah kan?!! SUDAH KUDUGA!!!
CiaraFedeorova: Ly, ini tas-tas authentic branded yang dibawain sama Bang Gultom udah Gue pajang di butik. Gila ya lo Ly, satu tas Hermes Birkin, Kelly atau Togo aja sebijinya ratusan juta. Ini lo punya lima warna berbeda di tiap type nya. Gue sungkem deh ama lo saking amazing nya.
LibertyDA : Tolong lo jualin semua ya say? Karena lo juga udah tau berapa pasaran harganya gue serahin semuanya sama lo aja deh. Gue terima duitnya aja. Kalo bisa lusa ya? Gue mau DP in ruko buat anak-anak panti. Nggak enak mereka semua kelamaan numpang di rumah orang.
CiaraFedeorova :Siap Sis, ini udah terjual hampir setengahnya. Gue yakin besok bakal ludes nih semua tas-tas branded lo. Gue sama sekali nggak nyangka, di muka angel dan mulut evil lo itu ternyata hati lo selembek agar-agar terhadap mereka yang kurang beruntung. Lo baek, Ly. Sumvahhh ane kagum Cuy!
LibertyDA : Daripada lo muji-muji gue terus, mendingan lo puji-puji noh costumer-costumer tajir melintir lo itu, biar bisa naikin harga tas-tas gue hehehe...Selain beliin mereka ruko, gue juga mau buat usaha toko kue untuk kelangsungan hidup mereka. Mana tau tetiba gue mati gitu aja kan?hehehehe..
CiaraFedeorova : Lo becandanya nggak lucu ah. Serem gue dengernya.
LibertyDA : Tar kalo duitnya udah bulet semua, lo tolong transferin ke rekening gue ya? Thank you ya Cia.
Setelah mendengar bahwa tas-tas brandednya sudah laku setengahnya, Lily sungguh lega sekali. Kalau tas-tas itu laku semuanya. dia bisa membeli ruko dan memulai usaha toko roti kecil-kecilan untuk kelangsungan hidup anak-anak panti.
Jujur Lily takut sekali kalau kakaknya sampai tahu bahwa Lily telah menjual harga dirinya demi kelangsungan hidup anak-anak panti. Kakaknya pasti akan marah besar! Jadi sebelum ketahuan mendingan dia berusaha untuk memindahkan anak-anak panti itu secepatnya dari rumah Heru.
Tolong permudah niat hamba ini, Ya Allah.

Komentar Buku (27)

  • avatar
    Mustabsyirah Bintu Rustam Ambal

    Seru banget deh saya suka sama ceritanya

    17/01/2024

      0
  • avatar
    MukhlisohElis

    lanjut nyiptain cerita2 lainnya kak

    15/07/2023

      0
  • avatar
    KuweraHermanto

    bagus

    01/07/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru