logo text

23. Laga Panas di Alcatraz

Suasana panas dan suara-suara teriakan riuh dari 99,9% penonton laki-laki yang mendominasi arena gladiator Alcatraz mulai menghidupkan euphoria duel yang sebentar lagi akan berlangsung.
Lily heran apa asyiknya coba menikmati pemandangan orang yang saling baku hantam sampai berdarah-darah dengan tulang patah-patah, dan itupun masih saja disemangati oleh para coach, pendukung, promotor bahkan fans-fans mereka.
Bukannya diteriakin disuruh berhenti karena wajah mereka sudah babak belur tidak jelas antara bentuk oval, bulat, persegi, trapesium sampai jajaran genjang. Eh ini malah disuruh bangun lagi dan lagi. Lily merasa kelamaan duduk disini akan tidak baik bagi kesehatan mata dan jantungnya.
Walaupun ehm, memang benarlah kata pepatah lama, dibalik suatu kejadian pasti akan ada hikmah yang bisa dipetik didalamnya. Dalam hal ini hikmah yang didapat Lily adalah matanya jadi segar terus karena disirami oleh pemandangan menyejukkan hati dan memanaskan hormonnya.
Tubuh-tubuh liat berotot dan hawt milik para petarung yang wara wiri disana sini, dengungan teriakan penyemangat dan obrolan cabul
khas para pemilik hormon testoteron, makin membawa Lily pada suasana ngeri-ngeri sedap menyaksikan pertarungan sepupu laknatnya itu nanti.
Kalau bukan karena merasa hutang budi pada Ciara yang ngebet beut pengen ngeliat Arkan, Lily mah ora sudi menginjakkan kakinya dimari. Kadang Lily heran melihat Ciara, wanita sedewasa yang sefaham dan seideologi dengannya bisa suka sama anak baru mateng seperti Arkan yang usianya sama seperti dirinya. Padahal Ciara itu umurnya sepantaran dengan Axel kakaknya. Emang otak temennya itu rada gesrek juga sepertinya. Tante-tante pengidap brondongisme juga sepertinya itu si Ciara.
Ciara juga mengancam kalo Lily beneran kawin dengan Arkan, dia akan menyabotase EO dan akan meledakkan gedung pernikahan mereka. Untung aja pas si Cia ngancam-ngancam gitu nggak ada anggota DENSUS 88 disana, coba kalau ada? Bakalan dikira cikal bakal anggota ISIS itu si Cia.
"Ladies and gentlemen, on my right is Arkansas Delacroix Bimantara. The defending champion of the Alcatraz Club.
And on my left is Tegar Putra Mahameru. The challenger of our defending champion. Let's watch their fight!!!"
Lily langsung lemas saat melihat siapa penantang Arkan yang sesungguhnya. Untuk pertama sekali diusia dewasanya, Lily langsung menadahkan kedua tangannya keatas seketika khusyu berdoa, memohon dengan harap-harap cemas pada yang kuasa agar semoga sepupu laknatnya itu memenangkan pertarungan ini. Dia nyaris tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya apabila dia benar-benar diperistri oleh trenggiling berwajah muram itu.
"Ly, lo berdoa sampe segitunya sampe mirip pawang nolak hujan begini pasti demi mengharapkan kemenangan Arkan ya? Jangan gitu dong Ly? Soalnya gue juga baru aja tadi berdoa supaya si Arkan -Arkan itu kalah. So dia bisa jadi cem-ceman kinyis-kinyis gue dan bukannya bakalan jadi laki lo! Kalo doa kita berdua bertolak belakang kek gini, yang ada ntar Allah malah bingung lagi mau ngabulin doa yang mana."
Ciara mulai menarik-narik lengan Lily yang mulai terasa begitu dingin seketika. Si lele dumbo ini beneran ketakutan rupanya, batin Cia. Dia bahkan sama sekali tidak merespon pertanyaannya saking tegangnya.
Selama ini Lily memang lebih sering melihat penampilan kedua pria berbeda generasi ini dengan pakaian jas formal mereka. Tetapi saat ini didepan matanya, Lily melihat mereka berdua bertelanjang dada. Tubuh Heru tampak begitu liat dan berotot. Tidak ada sedikit pun lemak disana. Bentuk tubuh seperti ini dicubit pun akan susah saking liatnya. Belum lagi bulu-bulu halus yang menutupi mulai dari dada dan menyebar halus sampai kesekujur tubuhnya. Para wanita pasti bisa langsung orgasme mata bila memandangnya.
Lain Heru lain pula Arkan. Arkan yang lebih muda sekitar 13 tahun dari Heru, tampak begitu sexy dan mempesona dengan tubuh kekar mudanya. Apalagi ditambah dengan adanya tattoo bergambar sepasang sayap dipunggungnya.
Mata Lily tiba-tiba berkaca-kaca. Arkan menepati janjinya rupanya. Dulu setiap dia menangis karena teringat kepada kedua orang tuanya dan ingin mempunyai sayap agar bisa menyusul kesurga, Arkan pasti mengatakan kelak bila dia sudah dewasa, dia akan membuat sayap dipunggungnya agar bisa membawa Lily terbang dan mengunjungi kedua orang tuanya disurga bersama-sama. Saat ini setulus hati Lily berharap semoga sepupunya yang tampak lebih cocok menjadi model untuk majalah olah raga pria dewasa ini bisa memenangkan pertarungannya. Saat ini semua mata tertuju pada mereka berdua yang berdiri saling bertatapan dan berhadap-hadapan di dalam arena. Mereka berdua tampak begitu indah dan lezat dalam dua versi berbeda.
"Gentlemen, show a clean fight. When I say fight--fight. When I say break--break. I need to obey unconditionally. Is this clear?!!" Lily mendengar wasit mulai memberi arahan pada Heru dan Arkan. Saat keduanya mengangguk dan bersiap dengan kuda-kuda masing -masing, wasit pun mulai memberi aba-aba."
"FIGHT!!!"
Langsung saja dua pria yang memiliki stamina diatas rata-rata itu saling jual beli pukulan. Jab, hook, low elbow, upper cut, straight, swing mulai dipraktekkan oleh Heru dan Arkan. Semua orang terpesona. Penampakan tubuh yang begitu kekar dan jantan, pukulan-pukulan penuh perhitungan sampai gerakan-gerakan cepat penuh tenaga yang begitu indah dan berseni bela diri tingkat tinggi, tampak tersaji untuk memanjakan mata semua audience yang sudah membayar mahal disini.
Setelah pertarungan memasuki babak-babak akhir, Heru mulai melontarkan beberapa pukulan straight ke sisi kiri dan kanan wajah Arkan. Setelah Arkan terlihat agak goyah, Heru pun langsung memberikan hook kanan tepat lurus kearah wajah Arkan yang seketika membuatnya menundukkan wajah, mencoba bertahan dari serangan bertubi-tubi dari Heru.
Penampilan kedua petarung ini tampak sudah sama-sama babak belur dan berdarah-darah. Lily tidak tahan, dia bahkan sampai menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Tidak sanggup rasanya dia melihat bagaimana sepupunya yang biasanya usil dan jahil tampak babak belur dengan bau amis darah yang terus saja menguar dari setiap penjuru arena. Hidung Arkan bahkan sudah mengeluarkan darah segar. Sementara Heru, darah tampak menetes-netes dari pelipisnya yang tampak robek.
Lily menjerit kencang saat melihat Heru melakukan teknik uppercut dengan cara memukul secara vertikal dari bawah dan menggunting keatas dengan keras kearah wajah Arkan yang terus menunduk. Arkan sampai jatuh terlentang akibat kerasnya pukulan kombinasi upper cut dan hook kanan Heru. Kali ini Lily tidak mampu menahan tangis histerisnya. Lily pun langsung merangsek kedepan, saat wasit mulai menghitung didepan tubuh Arkan yang tengah terkapar. Tepat pada hitungan ke tiga, Arkan kembali bangkit berdiri dengan susah payah dan mulai melanjutkan kembali pertarungannya.
Begitu Heru melihat Arkan sedikit lengah karena melihat ke arah si wanita reseh, Heru langsung memberikan beberapa variasi pukulan straight dan hook secara cepat dan bertubi-tubi sehingga Arkan yang sedang memandangi Lily yang sedang menangis histeris pun langsung terjatuh seketika. Teriakan membahana terdengar seketika di dalam arena. Mereka takjub bahwa Heru seorang penantang yang dianggap underdog, ternyata bisa meng-knock out seorang jagoan Alcatraz seperti Arkansas.
"One...two...three..four-"
"Arkan hikss..hiks...udah ya Kan?udahhhh!!! Jangan dilanjutin la-lagi. Gu--gue nggak sanggup liat lo berdarah-darah begini. Udah ya Kan?!!"
Lily si keras hati yang hampir tidak pernah menangis dalam hal apapun, tampak begitu susah payah menahan isakkan yang terasa begitu menyesakkan dadanya. Pandangannya nyaris kabur oleh air mata yang terus saja berderaian saat memandang ketidak berdayaan Arkan. Lily tahu, Arkan seperti ini karena dia tidak ingin mengecewakannya. Arkan ingin berjuang sampai titik darah penghabisannya demi dirinya.
Saat Arkan cuma manatap dalam diam wajah penuh air mata Lily dan mulai mencoba bangkit pada hitungan ke delapan, Lily langsung berlutut didepan Arkan diluar ring. Gerakan tanpa suara bibir Lily yang terus saja maneriakkan kata sudah tanpa henti kepada Arkan, menjadikan suaranya begitu serak dan lemah.
Lily tidak tahu sudah berapa lama dia berlutut, sampai Arkan tiba-tiba muncul didepannya begitu saja dan memeluknya erat.
"Maapin gue ya Lele Dumbo, gue kalah." Bisik Arkan pelan. Lily bisa merasakan ada cairan hangat yang menetes di punggungnya. Lily tahu Arkan menangis dalam diam karena merasa gagal mewujudkan keinginnya. Lily tidak tahu bagaimana dia tadi terus saja ingin melanjutkan pertarungan, namun wasit sudah tidak mengizinkan. Sehingga mau tidak mau Arkan harus memberikan kemenangan mutlak pada Heru.
"Hikss...hikss..hiksss.. Nggak papa Kan, palingan lo musti siap-siap aja buat gue suling aroma ketek lo. Dan siapapun nanti calon laki gue, mereka harus tidur memakai aroma sulingan ketek lo sepanjang malam kalo mau tidur sama gue. Pembalasan yang sepadan bukan, MaBro?"
Dan Lily pun merasakan jitakan lembut dikepalanya.
"Hikss..hikss...hiksss..Gue bingung musti senang ato sedih ya sekarang ini. Mau dibilang gue sedih, tapi gue juga senang karena Arkan kalah yang artinya dia gugur sebagai kandidat calon laki lo. Tapi mau dibilang gue senang, gue sedih juga ngeliat ayang beib idola gue babak belur begini macam habis dikeroyok massa. Jadi gue mesti bersikap gimana dong?"
Ciara kebingungan harus bersikap bagaimana saat ini.
"Ya udah tante nyemplung aja diempang biar adem sekaligus hilang sedihnya." Sahut Arkan sadis.
"Ebusettt dikata gue udang apa ya, disuruh nyemplung ke empang. Untung lo ganteng, coba kalo muka lo pas-pas an, elo tuh yang bakal Gue ceburin ke empang!!!" Balas Ciara gusar.
"Kamu tidak memberikan ucapan selamat buat saya, Perempuan?!!" Heru muncul sambil mengedipkan sebelah matanya pada Lily.
"Oh iya. Selamat ya Pak. Selamat bertemu kembali di neraka."

Komentar Buku (27)

  • avatar
    Mustabsyirah Bintu Rustam Ambal

    Seru banget deh saya suka sama ceritanya

    17/01/2024

      0
  • avatar
    MukhlisohElis

    lanjut nyiptain cerita2 lainnya kak

    15/07/2023

      0
  • avatar
    KuweraHermanto

    bagus

    01/07/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru