Aku yang masih mematut diri di depan cermin rias terkesiap saat mendengar bunyi langkah mendekat. Terlebih saat menyadari pemilik langkah yang ternyata telah memasuki kamar dan berdiri tepat di belakang. “Ini di luar kesepakatan kita sebelumnya,” keluhku yang mengingat bahwa malam ini bukanlah saat yang tepat untuk dia datang. “Aku gak suka kalau ada bekas sentuhan tangan lain,” ungkapnya berjalan semakin mendekat dan memegangi kedua bahu, sedikit meremas pelan seolah tengah memijat. Meski begitu, aku cukup merasakan ketidaksukaannya yang tersampaikan. “Dari awal aku memang hanya barang bekas, kan? Kakak sendiri berani melewati batas karena mengetahui hal itu, kan?” Aku bertanya datar, walau pandangan hanya tertuju pada pantulan bayang wajahku sendiri. Sigap, pria itu beralih ke samping, tanpa izin mengangkat dan membawa tubuhku ke ranjang. Tak seperti biasanya, sikapnya kali ini terasa lebih kasar saat melepaskan satu per satu pakaian. Jeda berikutnya, dia yang juga sudah sama tak memakai apa-apa menduduki kedua paha. “Coba ulangi lagi ucapan kamu sebelumnya, Nay!” perintahnya bertepatan penyatuan kasar yang dilakukan. Aku menggigit bibir bawah dengan cukup keras untuk menahan suara. Membiarkan derit ranjang menjadi satu-satunya bunyi menggantikan lenguhan yang mustahil kukeluarkan. Perlahan, tubuh yang semakin membungkuk mulai memeluk meski masih menyisakan sedikit jarak di antara kami berdua. “Jangan lupa siapa yang selama ini selalu menolong kamu, Nay. Kalau bukan karena aku, kamu pasti masih terus tersiksa. Aku yang membebaskan kamu. Apa yang kudapatkan selama ini, kamulah yang memberikannya secara sukarela,” bisik Kak Makmur yang mengantarkan panas di bagian belakang telinga hingga leher. Di antara ritme permainan yang dinikmati pria itu, aku hanya menjadi bayang-bayang. Menjadi pengikut yang berusaha secepat mungkin beradaptasi pada setiap keinginan tuannya, tak lebih dan tak kurang. Dengan kepala yang terasa kosong, aku mampu hanya menunjukkan ekspresi sebagaimana yang diminta. Jika itu diminta tersenyum dan menikmati setiap sentuhannya, aku akan bersikap seperti seorang pelacur yang haus kehangatan. Jika itu diminta menunjukkan kepuasan, aku akan berpura-pura tak berdaya seolah-olah baru selesai melayaninya tanpa henti dalam jangka waktu yang cukup panjang. Tubuh yang dahulu hanya sebatas harga sisa harapan untuk bertahan hidup, kini hanya sebatas harga ketakutanku yang tak berani menghadapi kehidupan keras di jalanan. Walau di bawah atap yang teduh pun, aku hanya dapat meminjam pijakan dari sebuah kegilaan. Cukup lama hingga peranku selesai, Kak Makmur beralih duduk di pinggiran ranjang dengan memunggungi. Aku masih berbaring berusaha mengatur napas tanpa berani sedikit pun menatap punggungnya yang terbuka. Pria yang bangkit dari duduknya itu semula kupikir karena hendak mandi seperti biasanya, tetapi ternyata dia malah meraih ponsel milikku dan tanpa izin menyalakan. Gegas aku duduk hingga selimut yang semula menutupi dada jatuh terlepas. Meski mendapatkan tatapan tajam dariku, Kak Makmur tak menanggapi sedikit pun dan kemudian duduk pada kursi di depan meja rias. Jari jempolnya bergerak, yang tentu saja mungkin tengah membuka salah satu menu di dalamnya. Aku bergerak menuruni ranjang, bukan untuk menghalanginya, melainkan balas meraba salah satu kantong celananya dan sama meraih ponsel yang ada. Tampak raut kesal dari Kak Makmur yang mengisyaratkan agar aku mengembalikan benda ini pada tempatnya. Dan aku hanya balas bersikap yang sama seperti dia sendiri. “Aku hanya ingin tahu sedekat apa kamu sama Je,” cegahnya yang berjalan mendekat. Suaranya terdengar lebih seperti bisikan karena mustahil untuk berbicara secara normal yang hanya akan memperbesar potensi kami ketahuan berdua di kamar. “Aku sudah lebih dari sekadar tahu bagaimana Kakak sama Kak Aulia, apalagi yang Kakak khawatirkan?” Aku terkikik kecil melihat ekspresinya yang tampak ketakutan. “Jelaskan saja, apa sebenarnya hubungan Je sama kamu? Buat apa dia membelikan semua itu?” Kak Makmur merebut ponsel miliknya dari genggamanku, tak lupa mengembalikan ponselku yang tampak terbuka pada ruang obrolan dengan Je. “Apa Kakak tahu? Aku benci kenyataan bahwa aku dipandang hanya sekadar sebagai objek seksual. Mungkin, di mata Kakak aku memang seperti pelacur yang memerlukan uang. Tapi, gak semua barang yang kudapat itu selalu ditukar dengan keringat saat bercinta!” tegasku menatapnya datar. Tangan kanannya semula dengan cepat terangkat, tapi beberapa saat setelahnya kembali bergerak turun dengan sendirinya. Kak Makmur membungkuk memunguti pakaian dan memakainya satu per satu. “Maaf, Nay. Lebih baik kamu segera tidur,” ucapnya meninggalkan kamar setelah hanya membisu selama berpakaian. Aku tak menjawab apa-apa, membiarkan saja bunyi langkah pelan itu menjauh hingga benar-benar menghilang dari pendengaran. Sepeninggal Kak Makmur, sesak dengan cepat menguasai di luar kendali. Setiap tarikan napas terasa panas. Debar-debar menjelma serupa saat pecahnya kaca yang menghamburkan kembali tusukan-tusukan tajam di dada. Namun, yang mengalir bukan lagi darah, melainkan nanah. Aku kehilangan cara untuk merasakan sakitnya, tetapi terus mengingat bagaimana jelas rasanya. Aku kembali berbaring dan berpejam, melepaskan ponsel hingga terempas ke lantai, lalu membiarkan begitu saja kedua mata terlelap meski tubuh masih tak dilindungi sehelai pun pakaian. Perlahan-lahan, kamar yang remang-remang berubah menjadi ruang asing. Begitu luas dan terang. Kesunyian dipecahkan suara tangis yang jelas dari seorang wanita. Aku melangkah tanpa arah, dan ketika sampai pada tempat yang terasa begitu familiar, pemilik suara tangis itu tampak menoleh dengan wajah sembabnya. “Kenapa kamu tega sama aku?” tanya Kak Lily dengan sorot mata penuh kebencian. Terlepas dari itu, di belakangnya muncul Kak Aulia yang tak tahu datang dari mana. Aku melangkah mundur saat mereka berdua terus mengulurkan tangan hendak menjangkau. “Dasar pengkhianat!” “Rendahan!” “Kenapa diam-diam merebut suamiku?” “Perebut suami orang!” Dengan gemetaran aku terus berusaha menjauh dari dua wanita yang sedang menangis itu. Langkahku terhenti saat punggung seolah menabrak sesuatu, tapi saat menoleh tak hanya di belakang, daerah sekitarku pun berubah kosong. Begitu luas, tanpa batas, tapi aku tak bisa lagi beranjak menjauh dari mereka. Saat tangan-tangan itu berusaha mencapai, berangsur-angsur pandanganku diselimuti cahaya yang menusuk tajam. Sejenak, aku seperti dilanda kebutaan karena cahaya itu dengan cepat berubah menjadi kegelapan yang pekat. Keringat mulai membasahi telapak kaki, tangan punggung bahkan sekujur tubuh. Namun, saat membuka kedua mata, yang menyambutku hanya kamar yang sebelumnya menjadi tempat berpejam. Dengan napas tersengal dan tubuh yang benar-benar berkeringat dan gemetaran, aku bangkit duduk memeluk kedua lutut. Semua itu hanya mimpi, tetapi seakan benar-benar nyata dan membuatku sangat ketakutan. Tatap-tatap penuh kebencian itu, bagaimana jika benar-benar kudapatkan nantinya? Cukup lama hingga aku berhasil mengontrol diri. Niat untuk segera mandi untuk mendinginkan kepala sesaat kuurungkan saat melihat sebuah pesan dari Kak Yuni. [Bagaimana kabar kamu, Nay? Pendaftaran sekolahnya lancar? Kalau perlu bantuan, jangan sungkan bilang sama Kakak, ya.] [Semua aman karena bantuan dari Pak Je, Kak. Sekarang, aku hanya perlu cari kerja sama kost baru aja secepatnya,] balasku tak lupa menyematkan beberapa emoticon tersenyum. Selain handuk, ponsel pun kujinjing mengarah ke kamar mandi. Sambil mengisi air, aku menunggu balasan pesan dari Kak Yuni agar sempat membalasnya terlebih dahulu. [Kaya terburu-buru banget, Nay? Kakak gak masalah kalau emang kamu mau cepet cari kerja, tapi soal kost. Kamu, kan, bisa tinggal sementara di sana sampai masa sewanya selesai. Lumayan uang gaji nanti buat beli keperluan sama ditabung dulu, kan?] Aku berjongkok dan menyandarkan punggung pada dinding kamar mandi. Sedikit tersenyum kecil karena menyadari dari isi pesan Kak Yuni kalau sampai detik ini pun Ibu benar-benar tak mengirimkan uang bulanan. Jari bergerak cepat membalasnya. [Kalau dapat kerjaan pun, uang gajiku juga belum tentu cukup buat bayar sewa bulan ini, Kak. Aku gak mau ngerepotin terus, jadi mending cepat siap-siap pindah sebelum utang sewaan rumah numpuk.] Nomor dari Kak Yuni masih terlihat aktif, tak perlu waktu lama, pesan yang kukirim pun sudah tampak dua centang biru. Dahulu, setiap pagi begini Kak Yuni akan sibuk mengurusi anak-anaknya, mandi, mencuci hingga memasak. Dia hanya bisa duduk saat menyuapi Nisa, Via dan Roby untuk sarapan. Namun, setelah menikah sepertinya dia bisa menikmati pagi yang cukup santai hingga bebas bermain ponsel dan berbalas pesan denganku. [Astaga, kemaren karena terlalu banyak yang diurus buat pindahan Kakak sampai lupa ngasih tahu kamu, Nay. Tahun lalu, aku udah lunasin biaya sewa buat setahun, jadi bulan Oktober nanti baru habis. Kalau dihitung dari sekarang, uang hasil kerja kamu nanti lumayan buat ditabung dulu, kan?] Seketika, kedua tangan yang memegang ponsel berubah gemetaran. Kran yang terus menyala membuat air meluber membanjiri lantai kamar mandi, tetapi tubuhku malah mematung sama sekali tak bisa bergerak.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
keren
14/03/2024
0kapan lanjut?
14/03/2024
0baguss
04/04/2023
0Lihat Semua