logo text

Bab 87 Kebaikan yang Berlebihan

Je membawaku singgah di penginapan untuk mengambil barang-barang. Sebelum menuju kost, tak lupa dia mengajak singgah pada sebuah toserba.
 
“Di kost memang ada kamar mandi sama dapur umum, tapi kamu tetap perlu perlengkapan pribadi, kan?” jelasnya yang bahkan segera menjawab pertanyaan sebelum bibirku sempat terbuka.
 
Ucapannya memang benar, aku bahkan tak terpikirkan hal-hal sejauh itu.
 
Je mempersilakanku untuk berjalan lebih dulu. Aku pun menyusuri toserba dari sisi kanan karena kasir berada di sisi kiri. Setelah aku, tampak Je yang juga mengambil sebuah keranjang belanja dan membawanya.
 
Pergi belanja tanpa list bahkan rencana, membuatku hanya mengambil beberapa kebutuhan yang terlintas. Mulai dari sabun mandi, sampo, sikat dan pasta gigi. Sabun untuk mencuci pakaian dan piring. Juga beberapa bungkus mie instan dan sarden sebagai persediaan makanan sementara.
 
Sepanjang memilih, aku selalu memperhitungkan harga hingga perkiraan total belanja untuk menyesuaikan uang yang tersisa.
 
Setelah merasa cukup, aku pun mengajak Je untuk segera ke kasir. Isi kepalaku mendadak menjadi kalkulator darurat untuk menghitung ulang belanjaan. Karena itulah, aku sendiri baru menyadari saat Je juga ikut menaruh isi keranjang belanjanya yang ternyata isinya jauh lebih banyak dari milikku.
 
Menilik isi keranjangnya, tampak Je juga membeli hal yang persis sama dengan apa yang kuambil. Hanya jumlahnya saja jauh lebih banyak, dan juga ukuran bungkus-bungkusnya yang jauh lebih besar.
 
Pegawai kasir mulai memindai satu per satu barcode barang hingga pada layar yang menghadap ke arahku menunjukkan list harga dan total yang tertera dengan terus bertambah. Selesai pada isi keranjang milikku, Je turut menyodorkan keranjang miliknya.
 
“Yang ini juga sekalian,” ucapnya singkat.
 
Pegawai kasir itu pun mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Memindai harga satu per satu barang hingga isi keranjang milik Je pun kosong tak tersisa.
 
Ketika aku hendak mengeluarkan uang dari saku, Je menahan tanganku. Dia lebih dulu mengambil dompet dan menyerahkan sebuah kartu ATM miliknya. Aku menoleh padanya, tetapi sebelum sempat bertanya, dia lebih dulu meletakkan jari telunjuk di bibir sebagai isyarat.
 
Begitu menyelesaikan pembayaran dan belanjaan sudah dikemas, Je juga-lah yang membawa seluruhnya.
 
“Je, itu tadi total punyaku ….”
 
Belum selesai aku berucap, Je sudah lebih dulu menyela. “Gampang nanti.”
 
Aku mendengus. Sebenarnya mulai curiga dengan sikapnya. Seperti yang sudah-sudah terjadi, dia takkan memberiku kesempatan untuk membayar ataupun mengganti uangnya.
 
Tak hanya singgah pada toserba, dia juga berhenti pada sebuah toko besar yang tampaknya khusus menjual beras dan telur. “Kamu tunggu di sini aja,” perintahnya singkat sebelum tiba-tiba keluar dari mobil.
 
Aku pun menurut dan hanya menunggu di mobil. Memperhatikan dari balik kaca bagaimana dia melakukan transaksi hingga kemudian kembali dengan membawa sekarung beras dan juga dua rak telur ayam mentah. Selesai meletakkan di bagasi, dia kembali memasuki mobil dan mulai menyetir.
 
“Kita singgah satu kali lagi, ya, Nay,” ucapnya yang lebih terdengar seperti meminta izin.
 
Aku pun mengangguk. Sejak pagi, Je sudah menyetir untuk menemaniku pulang hanya demi menyempatkan diri melihat sosok Kak Rahmad yang terakhir kali. Karena itu, beberapa kali singgah sekali pun untuk menunggunya berbelanja juga bukan sebuah masalah.
 
Sekali lagi, dia berhenti pada sebuah toko elektronik. Sebelum aku sempat mencuri pandang pada apa yang dia beli, ponselku sudah terlebih dahulu berbunyi.
 
Kali ini bukan panggilan, melainkan beberapa pesan masuk dari Ibu dan juga Kak Yuni.
 
[Tadi ada yang bilang kamu melayat ke rumah Rahmad, Nay. Itu benar, ya? Kamu pergi sama siapa?]
 
Yang pertama terbaca olehku adalah pesan dari Kak Yuni.
 
Sebagaimana Kak Yuni yang bahkan mengetahui hal itu meski jauh dari keluarga besar, aku sudah tahu bahwa ayah ibu pun mengetahui hal yang sama.
 
[Kenapa ditelepon dari tadi nggak diangkat?]
 
[Apa gunanya punya HP kalau orang tua sendiri nelepon nggak dijawab!]
 
[Kamu pergi ke rumah Rahmad sama siapa?]
 
[Ada yang bilang lihat kamu di mobil sama om-om!]
 
[Sudah dibilang jangan pernah pulang lagi, malah makin bikin ayah ibu malu! Sebenarnya apa yang kamu mau?]
 
Tanpa sadar, tanganku gemetar ketika membaca isi pesan dari Ibu. Aku hanya bersyukur karena sebelumnya sudah mengabaikan telepon dari Ibu. Bagaimana perasaan Je jika ikut mendengar hal-hal yang tak seharusnya seperti itu?
 
Daripada merasa terluka, aku malah merasa jika aku sendiri akan semakin tak punya wajah di hadapan Je jika Je sendiri yang mendengar dan mengetahui bagaimana menusuknya ucapan Ibu. Bagaimana Ibu yang hanya merendahkanku … bagaimana Ibu yang hanya memiliki tatapan hina terhadapku.
 
“Lama nunggu ya, Nay?” Pertanyaan itu terdengar seiring dengan pintu mobil yang terbuka.
 
Aku tersentak, segera membalik ponsel dan mengunci layar ketika melihat Je sudah kembali. “Enggak, kok,” sahutku segera.
 
Je menyerahkan sebuah bungkusan berisi burger dan juga segelas es. “Ini aku sekalian beli tadi. Kamu diajakin makan nggak mau, padahal terakhir ngisi perut cuma sama pentol kuah beberapa biji,” jelasnya.
 
“Aku emang nggak lapar, kok. Kamu lapar, ya?” Aku pun tersadar bahwa Je juga sama sekali belum makan sejak tadi.
 
Je menyalakan mesin mobil. “Kalo kamu nggak lapar, aku juga nggak lapar,” jawabnya.
 
“Kumat! Kumat!” sungutku.
 
Namun, Je justru malah tertawa mendengarnya. “Kamu langsung ke kost?” tanyanya lagi.
 
Aku mengangguk. Selain kost, aku sendiri tak punya tujuan.
 
Sesampainya di kost, kami pun disambut oleh Bu Yanti. Bu Yanti pun menjelaskan beberapa peraturan kost hingga biaya yang harus dibayarkan per bulan.
 
Awalnya, aku mengira jika harga satu kamar per bulannya akan mahal. Namun, ternyata tidak semahal yang kubayangkan. Setidaknya, dengan uang gaji nanti, aku masih ada punya beberapa sisa untuk melanjutkan hidup setelah membayar kost.
 
“Kamu katanya baru mulai kerja sambilan juga setelah pulang sekolah, kan?” tanya Bu Yanti.
 
Aku pun mengangguk membenarkan.
 
“Kalau begitu, kamu bisa mulai membayarnya setelah gajian nanti saja,” lanjut Bu Yanti.
 
“Benar, Bu? Terima kasih banyak!” Aku tak bisa menyembunyikan rasa lega. Bayangan ibu kost yang galak itu, sama sekali tak ada pada sosok Bu Yanti di depanku ini. Beliau justru adalah sosok yang hangat, penuh aura keibuan bahkan begitu dermawan hingga membiarkanku tinggal lebih dulu dan baru membayarnya ketika ada uang.
 
Mungkin, aku memang terlihat memprihatinkan hingga Bu Yanti kasihan ….
 
Setelah mencapai kesepakatan, Bu Yanti menyerahkan kunci dan juga memberitahu nomor kamar yang akan kutempati. Aku pun meminta izin untuk membawa masuk barang-barang milikku yang sebenarnya tak seberapa banyak.
 
Namun, setelah tas berisi pakaian dan beberapa buku bekas sekolah SMP, tampak Je yang mengangkat seluruh barang belanjaan di toserba hingga beras, telur bahkan sebuah rice cooker kecil ke dalam kamarku.
 
“Je, ini apa?” tanyaku menatap semua barang yang bahkan tak kubeli itu.
 
“Supaya kamu nggak berniat cuma makan mie sama sarden selama sebulan ke depan,” jawabnya sembari menjitak pelan kepalaku.
 
Seketika, aku pun terperangah. Pria itu seolah selalu tahu isi pikiran yang bahkan tak kuutarakan sama sekali. Dia begitu pandai menebak, hanya dengan melihat.
 
“Tapi, Je. Buat bayar kost aja aku harus nunggu gajian nanti. Gimana aku ganti semua iniii?” Aku hanya bisa menggaruk kepala yang mendadak terasa seperti sarang semut.
 
“Aku rela jadi rentenir yang menunggu kamu bayar sekalipun itu baru akan lunas seumur hidup,” canda Je.
 
Antara merasa lucu, kesal, sebal, sekaligus terharu. Aku sampai tak tahu harus menjawab apa selain mengucap istighfar secara tanpa sadar.
 
“Ya udah, kamu mandi terus istirahat. Sekarang, aku udah bisa ngerasa tenang kalau kamunya udah di tempat aman. Aku pulang dulu, ya! Sebelum punggungku habis dibakar oleh tatapan Bu Yanti,” pamit Je yang masih saja sempat bercanda.
 
Aku pun kembali tersadar dan melihat bagaimana Bu Yanti bahkan tak melepaskan pandangannya dari kami karena keberadaan Je yang bahkan setelah mengantarkan barang masuk hanya berdiri di depan pintu kamar.
 
“Je … makasih buat semuanya,” ucapku. Bahkan, sekadar ucapan terima kasih pun rasanya masih kurang. Tapi aku juga tak tahu harus melanjutkannya dengan kalimat apa lagi.
 
“Bu, saya pamit dulu, ya! Jangan sampai ada cowok yang masuk ke kamar Nayla, ya! Bahkan, kalo ada yang mencari Nayla selain saya, jangan dikasih izin ketemu!” pesan Je yang terdengar begitu serius kepada Bu Yanti.
 
“Jangankan orang lain, kamu saja ke depannya nggak boleh masuk apalagi ke kamar Nayla!” tegas Bu Yanti.
 
Jelas aku melihat Je yang tersenyum lega. “Ibu memang yang terbaik! Saya titip Nayla, ya!” pujinya yang kemudian berpamitan.
 
Sebelum keluar dari pintu utama kost, Je masih sempat berpaling dan melambaikan tangannya ke arahku yang masih terpaku di pintu kamar. Ragu-ragu, aku membalas lambaian tangannya … dengan perasaan yang semakin tak kutahu arah dan bentuknya ….

Komentar Buku (55)

  • avatar
    R Fa R

    keren

    14/03/2024

      0
  • avatar
    GemoyDede

    kapan lanjut?

    14/03/2024

      0
  • avatar
    Z'AArvina Sheilla

    baguss

    04/04/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru