Ekstra Part

Tidak ada yang berubah di dalam diri pria yang sedang masuk ke dalam sebuah tempat yang sering dijadikan rumah selama dua tahun ini.
Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk bangkit dari rasa terpuruk. Terbukti dari tatapannya yang tidak pernah hidup.
Dulu, dia dikenal sosok yang gila dalam bertindak. Namun, masa lalu memberinya pelajaran berharga. Memang benar kalau orang mengatakan bahwa guru terbaik adalah pengalaman.
Dari situ dia banyak belajar tentang hidup. Cara bertindak cepat, tetapi tidak gegabah. Dia sudah mempelajari itu dari seorang wanita yang sampai saat ini  hilang bak ditelan bumi.
"Denuca, kau tidak ingin ikut denganku ke Indonesia? Aku ada transaksi di sana," ujar Axelio.
Pria itu memperbaiki tatanan bentuk dasinya. Lalu, ia mengancing rapi tuxedo miliknya.
Dia menghela napas melihat sahabatnya selama ini banyak diam. Padahal sudah banyak cara yang dia lakukan untuk menari perhatian Denuca, nyatanya nihil.
Bukan hanya dia yang mencoba menghibur. Bahkan Mr. Waston dan sahabatnya yang lain ikut. Anggota Black Hold pun tidak terkecuali. Mereka ada untuk Denuca.
"Aku akan ikut. Akan tetapi, temani aku ke suatu tempat," ujarnya.
Axelio mengangguk semangat. Ini pertama kalinya Denuca ingin keluar. Dua tahun ini, dia gunakan waktunya hanya berdiam diri. Bahkan dia berhenti mengoperasikan program Tes-Tube Baby D miliknya.
"Kau mau ke mana?" tanya Axelio.
Denuca berdiri. "Kau akan tahu."
***
Embusan angin begitu menenangkan. Dia seolah tahu bahwa di sini membutuhkan sebuah kesunyian dan ketenangan.
"Daddy, datang lagi, Nak. Andai kamu masih hidup. Mungkin sekarang kamu sudah berlari di halaman rumah kita."
Axelio hanya diam di belakang Denuca. Menyimak ucapan sahabatnya yang membuat hatinya terenyuh.
"Daddy hanya tahu menghancurkan kalian. Tidak bisa menjaga kalian. Daddy tidak pantas untuk kalian, tetapi Daddy tidak ingin berhenti memperjuangkan kalian," ujar Denuca mengelus nisan anaknya.
Ekor matanya memanas. Dia begitu mencintai anaknya yang belum sempat ia timang-timang. Belum sempat dia berikan bahagia.
"Namun, Daddy berjanji padamu. Sampai kapan pun, Daddy tidak akan pernah menyerah memperjuangkan Mommymu," ucap Denuca penuh tekad.
Dia berdiri. Menghapus air matanya. Sebelum benar-benar pergi dari sana.  Angin berembus membelai wajahnya lembut. Dia tersenyum tipis. Merasa anaknya memberi restu.
"Kita ke Indonesia."
***
"Ladies and gentlemen, welcome onboard Flight 302 with service from New York to Indonesian. We are currently third in line for take-off and are expected to be in the air in approximately ten minutes time ... thank you for choosing The Airlines. Enjoy your flight."
Begitulah terdengar dari suara pramugari yang mengantar kepergian Denuca dan Axelio menuju negara yang terkenal memiliki banyak pulau itu.
Ini bukan kali pertama Denuca menginjak Indonesia, berbeda dengan Axelio ini menjadi hari pertama dia akan menginjakkan kakinya.
Selama perjalanan mereka hanya diam. Menikmati sajian yang diberikan pramugari. Lalu, tidur.
Mereka tentu bebas karena ini merupakan pesawat pribadi milik Mr. Waston.
"Aku akan tidur. Bangunkan jika Mr.  Waston mencari," gumam Denuca seraya menutup matanya.
***
Setelah menempuh perjalanan selama 20 jam 45 menit mereka tiba di Indonesia. Denuca menyeret koper hitam, sambil membenarkan kacamatanya.
Sontak Denuca dan Axelio menjadi pusat perhatian di bandara. Mereka sangat tampan dan berkharisma. Walau usianya sudah kepala tiga.
"Kita akan menginap di hotel terdekat  tempat club untuk transaksi nanti malam," ujar Axelio.
"Hm."
Mereka kini meninggalkan bandara setelah bertemu dengan supir yang sudah menunggu kehadirannya sejak tadi.
Hanya tiga jam untuk sampai di hotel.  Mereka berpisah untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.
Denuca menghempaskan tubuhnya. Dia merasa letih setelah melewati perjalanan yang macet. Dia merasa Jakarta begitu padat walau hampir tengah malam.
"Ah, kenapa juga perutku minta diisi," resahnya.
Dia bangun karena perut kosongnya terasa melilit. Dengan malas dia meraih telepon ganggang di meja nakas.
Tuttt ....
"Bawakan saya menu makan malam di kamar VVIP 07."
" ...."
"Baik."
Denuca menutup telepon. Pegawai hotel akan segera meminta pelayan restoran hotel mereka memberinya menu makan malam. Kelebihan hotel ini, di lantai dasarnya menjadi restoran buka 24 jam.
Tok-tok!
Denuca yang habis mandi hanya mengenakan handuk, tetapi memilih berbaring. Mendengkus malas.
"Masuk," ujarnya setelah bangun dan membuka pintu.
Dia berbalik badan memberi jalan kepada pelayan restoran untuk mengantarkan masuk makan malamnya.
"Selamat malam dan silakan dinikmati menu spesial dari Red Twister Restoran. Apabila Anda masih membutuhkan--" Ucapan pelayan itu berhenti.
Begitupun dengan Denuca yang sedang berdiri kaku. Tubuhnya menegang. Suara itu membuat ia segera berbalik dan betapa kagetnya melihat siapa pelayan yang masuk ke dalam kamarnya.
"De--Denuca," lirih pelayan itu.
Dia menunduk. Sungguh dia tidak menyangka akan bertemu dengan Denuca kembali. Bisakah dia menyebutnya sebagai mantan suami? Tetapi, surat cerai mereka tidak pernah ada.
Dia hanya pergi. Tanpa membawa apapun. Bahkan pakaiannya saja masih ada di apartemen Denuca.
"Alana," lirih Denuca. Di mendekat membuat Alana mundur.
Tangan Denuca mengambang di atas. Dia menurunkannya. Menelan pil kekecewaan. Sepertinya Alana masih marah dan benci kepadanya.
Dengan gemetar, Alana melewati Denuca. Namun, sampai dia meraih ganggang pintu, ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh menyesal," bisik Denuca.
Alana mendongakkan kepala menghalau butir kristal yang ingin jatuh di pelupuk matanya.
"Aku sungguh menyesal. Dua tahun menyiksaku tanpa hadirnya kamu di sisiku. Tolong jangan tinggalkan aku lagi," pinta Denuca.
Alana melepas tangan Denuca. Dia membuka pintu kamar dan mengambil seribu langkah.
Tubuh Denuca terkulai lemas. Pertemuannya dengan Alana tidak pernah dia duga. Namun, dua tahun ternyata masih tidak cukup banyak untuk Alana membencinya. Istrinya masih marah.
"Bagaimana cara Daddy bisa meluluhkan hati Mommymu, Nak?" batin Denuca.
Dia menutup pintu dan berganti pakaian kasual. Ia memutuskan berjalan di sekitar hotel untuk melepas pikiran yang terbelenggu di tempurung kepalanya.
Saat berjalan di sekitar hotel. Dia melihat sebuah kolam renang. Dia mendekat. Lalu--byurrrr!
Tubuhnya jatuh ke dalam kolam renang. Mengambang dengan mata tertutup. Membiarkan dingin menusuk kulitnya. Berharap pedih di hatinya sedikit berukurang.
Di sisi lain, Alana menangis di dalam kamar mandi setelah bertemu dengan Denuca. Dia melewati dua tahun dengan berat.
Kehilangan buah hatinya dan sahabatnya bagai pukulan telak untuknya, juga bayangan kebohongan suaminya sering menghantuinya.
Alana memilih kembali ke negaranya. Dia juga sudah mendapat kabar kalau paman dan bibinya meninggal dunia.
Ketika orang mengatakan bahwa paman dan bibinya mati terbunuh, hanya satu nama yang langsung terlintas di kepalanya.
Denuca.
Ya, hanya suaminya.
"Hufhhh ... sebenarnya kenapa aku harus menangis lagi? Bukankah sudah lama aku berdamai dengan masa laluku?" gumam Alana berusaha tegar.
Dia berjalan keluar mencari angin. Berharap lelah yang ia rasakan terangkat. Mungkin dia ada kesamaan dengan Denuca.
Hingga kakinya membawanya di sebuah kolam renang. Dia berniat menurunkan kaki untuk merasakan dinginnya air malam, tetapi matanya justru terbelalak melihat sosok yang dikenalnya di sana dengan wajah pucat pasi.
"Tidak!" batinnya.
"Denuca, hiks!"
Byurrrr!
Dia melompat ke dalam air. Mendekati Denuca dan memeluk tubuh Denuca. Dia menangis histeris.
"Hiks, Denuca bangun! Hiks, aku mohon." Alana mengguncang tubuh Denuca.
Menyentuh sisi wajah suaminya. "Hiks, aku akan membencimu seumur hidupku jika kamu juga meninggalkanku, hiks," isak Alana.
Ia bisa merasakan tubuh Denuca teramat dingin.
"Aku mohon," isak Alana.
"Uhuk ...." Denuca membuka matanya.
"Apakah rasa bencimu akan hilang jika aku bertahan untukmu?" tanya Denuca.
Alana bukan berhenti menangis. Dia semakin terisak. Denuca bangun dan memeluk tubuh istrinya erat. Dia membiarkan Alana melepas tangisnya.
"Cup ... cup ... sudah, ya, Sayang. Jangan menangis lagi," ujar Denuca seraya mengelus punggung istrinya.
"Hiks, aku pikir kamu mati," cicit Alana polos.
"Aku sedang berenang," jawab Denuca.
"Ta--tapi, kamu tidak bergerak sama sekali," ujar Alana. Dia menarik dirinya.
Denuca mengusap air mata istrinya. "Aku memang hanya berendam saja. Awalanya aku kaget mendengar teriakanmu, tetapi saat mendengar ucapanmu selanjutnya aku memilih tidak membuka mata karena takut itu hanya ilusi," papar Denuca.
Alana menunduk malu. Dia sudah meruntuhkan ego di depan suaminya. Ia sangat malu sekarang.
"Jangan pergi lagi," pinta Denuca dengan tatapan sayu saat Alana mencoba menjauh.
"Aku tidak pergi. Kita harus keluar dari sini. Lihat wajahmu sangat pucat," ujar Alana khawatir.
Denuca tersenyum membuat Alana bingung.
"Kenapa kamu terlihat senang?"
"Kalau sakit bisa membuatmu kembali, aku rela sakit selamanya."
Alana langsung mendelik. "Jangan coba-coba untuk sakit. Aku benci melihatmu sakit, itu menyakitiku. Andai kamu tahu, malam itu ...."
Alana mendekat. "Malam itu, aku ingin sekali memelukmu. Ingin mengambil beberapa pelatuk dalam tubuhmu agar dia bersarang saja di tubuhku. Melihatmu merelakan timah panas itu menembus kulitmu demi melindungiku, itu lebih menyakitkan dari 100 timah yang menembus kulit," ujarnya.
Alana memegang sisi wajah suaminya. Terlihat air mata Denuca jatuh. Ia ikut menangis.
"Malam itu ... membuatku sangat takut. Kehilangan Aundrey dan juga anak kita membuatku melampiaskan rasa kecewa, marah, rasa bersalah dan ketakutan tidak bisa melihatmu lagi," aku Alana.
Malam itu dia merasakan takut luar biasa. Meronta saat Axelio memilih menyelamatkannya. Berulang kali dia berteriak memanggil Denuca, tetapi tubuh pria itu mematung kaku.
"Sampai, aku terlalu larut dalam kesedihanku. Mengambil langkah salah dengan menghakimi tanpa memberimu waktu untuk menjelaskan. Aku tahu ... kamu pasti ada alasan melakukan itu semua.  Walau jujur yang telah kamu perbuat untukku sangat menyakiti batinku," papar Alana.
Malam ini dia memutuskan untuk menceritakan kesedihan dua tahun yang dia pendam sendiri.
"Aku merasa, kamu adalah laki-laki paling jahat di hidupku. Tega merampas bahagiaku demi harta. Aku bertanya-tanya, apa harga kebahagiaanku senilai 5 miliar? Sehingga kamu tega menjadikan hidupku sebagai bahan lelucon."
Alana menarik napas dalam. Dia melihat suaminya semakin terisak. Bisa dia lihat dan rasakan betapa menyesalnya suaminya sudah memperlakukannya buruk.
Alana membelai lembut wajah Denuca. Dia menghapus air mata Denuca.
"Namun, aku menyadari satu hal. Itu membuatku memilih pergi karena malu denganmu. Aku tahu, meski anak kita hadir dengan cara yang salah, tetapi selama ini kami mendapat cinta dan kasih sayang yang luar biasa darimu." Sudut bibir Alana terangkat membentuk lengkungan indah.
"Maaf," lirih Denuca dengan suara serak. Tidak ada kata lain yang bisa dia ucapkan selain itu.
"Kamu mau bertanggung jawab dan aku yang sedang terpuruk telanjur malu, karena tidak bisa menjaga buah hati kita dengan baik. Dia pergi meninggalkan kita berdua," ujar Alana meneteskan air mata.
"Dia pergi ...."
"Itu bukan salahmu. Ini salahku," sanggah Denuca cepat.
Alana menggelengkan kepala. Dia mengalungkan tangannya di leher Denuca.
"Tidak ada yang salah di antara kita, tetapi takdir kita memang seperti ini. Aku ingin dia tetap kita kenang, simpan di dalam hati kita," ujar Alana.
Denuca mengangguk. Dia memejamkan mata saat bibir Alana menyentuh bibirnya.
Malam itu mereka membiarkan tangis pilu mereka lepas. Biarkan rasa sakit itu pergi dengan tetes-tetes air mata yang keluar bercucuran mengalahkan derasnya hujan.
"Maukah kamu memberiku kesempatan memperbaiki kesalahanku?" tanya Denuca.
Alana mengangguk. "Tolong, bahagiakan aku, karena satu-satunya yang aku percaya bisa membuatku bahagia adalah kamu, suamiku--Denuca Christoper."
"Aku bersumpah akan selalu membuatmu bahagia."
***
Byee, Guys!
See you next time. 🤗💜
Eak, enggak jadi sedih.😂🤣
See you di ceritaku yang bakal rilis baru Axelio Nasution, Mr. Waston dan juga jangan lupa baca Perfect Uncle 😘💜

Komentar Buku (294)

  • avatar
    JumayuningsihPera

    bagus luar biasa

    26/07

      0
  • avatar
    yuliani Waruwu

    mantap

    20/04

      0
  • avatar
    SlebewDika

    kreatif

    04/11

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda