logo text

Bab 16 CEMBURU

Kilat menyambar-nyambar di atas kepala Kirana tatkala dia saksikan dengan kedua bola mata hitamnya, Panji sedang duduk berdua bersama seorang perempuan muda yang tak dia kenal. Bajingan betul si Panji, baru pergi sebentar menemani Ladia ke Mol, eh dia di rumah sendiri malah asyik-asyik dengan perempuan lain! Kirana meracau dalam hati. Tangan sudah dilipat Kirana di dada, menyiapkan diri untuk aksi cekcok telenovela jilid ke sekian. Tapi perempuan itu malah berdiri dan tersenyum sok ramah pada Kirana.
“Ran, ini Raras, temenku dari Malang.” Panji memperkenalkan cewek berambut keriting kriwil itu.
Raras?! Itu kan nama mantan yang disebut Ladia tadi! Pekik Kirana dalam hati. Level toleransinya makin berkurang. “Temen?! Atau mantan?!” sambar Kirana.
Mata Panji terbelalak. “Kok kamu ...” Kalimatnya menggantung, dia sudah langsung tahu, pasti Ladia yang telah memberi tahu. “Ladia!” Panji melototi Ladia yang langsung membuang muka pura-pura tidak mendengar.
“Ah, jangan mikir aneh-aneh. Kita udah lama putus, kok. Hubungan kita sekarang hanya sebatas teman bisnis. Saya bertugas menyuplai dan menjual karya-karya Panji di Malang.” Raras menjelaskan. Sampai berbuih pun mulutnya, Kirana mana bakal percaya begitu saja.
“Oh.” Kirana menyahut pendek. “Ini belum selesai urusannya?” tanya Kirana bernada mengusir.
“Bentar lagi, Ran. Kami masih ngobrolin soal niat Raras buka toko baru di Jakarta,” jawab Panji santai. “Kamu kalo mau makan, makan aja, tadi Raras bawa dendeng, enak banget buatan dia.” Malah bisa-bisanya lagi Panji memuji Raras di depan muka Kirana.
“Udah kenyang! Makan hati!” Kirana menekankan jawabannya, lalu langsung berlalu ke dalam kamar.
Brak!!
Dibantingnya pintu sampai Panji dan Raras tersentak kaget. Mereka saling melempar pandang bingung. Sementara Ladia mengendap-endap melipir menuju dapur, kepingin makan. “Kamu kira mas gak bisa liat kamu?! Jangan cerita yang aneh-aneh ngapa, sih?” omel Panji sambil menoyor pelan kepala Ladia. Ladia hanya nyengir seadanya, lalu lanjut ke dapur tanpa bicara.
Panji dan Raras menyambung obrolan mereka yang sempat tertunda. Kirana gengsi mau menguping, tapi rasa keponya lebih tinggi dari gunung. Dia tempelkan kuping ke dinding, berusaha menangkap apa-apa saja yang dibicarakan dua mantan kekasih itu.
"Ternyata kamu tinggal sama pacar, ya sekarang, berani banget." Raras tertawa menyindir.
"Dia yang minta kok, Ras. Lagian ya gak papalah ..."
Minta?! Kesannya gue kok kayak gak ada harga dirinya banget, sih?! Kayak pengemis cinta gue! Kirana merutuk dalam hati, belum sadar juga kalau dia memang persis pengemis cinta.
"Belum mau nikah juga kamu?" Raras menanyakan sesuatu yang penting bagi Kirana, dia pasang baik-baik telinganya.
"Ada, sih, rencanaku tapi belum dalam waktu dekat."
"Cepetinlah, apa lagi sih yang kamu tunggu? Jangan sukanya lari-lari mulu ...."
Kirana tidak mau mendengar lebih lanjut lagi, dia sudah cukup sebal. Kirana mengacak-acak rambut kesal, dia mau marah melihat keakraban mereka, tapi apa daya, dia mesti menahan diri. Kirana menjatuhkan tubuh ke atas kasur, mending tidur ketimbang makin sakit hati sendiri.
***
Sampai Ladia pulang esok harinya. Kirana masih ngambek. Mogok bicara sudah beberapa jam dia lakukan. Masih panas hati dan otaknya karena Raras. Panji sama sekali tidak bertanya, dia bahkan tidak sadar kalau Kirana ngambek. Pikiran kacau Kirana terbawa sampai ke tempat kerja. Hasil kerjanya berantakan, kacau, alhasil dia ditugaskan membuat kopi lagi. Kendatipun hanya membuat kopi, Kirana tetap saja teledor.
"Ini kopi apa bumbu tauco?! Asin banget!" hardik Nicho, salah satu rekan kerja Kirana.
Nicho bukan karyawan sembarangan, dia adalah anak emasnya Pak Yayuk. Karena itu dia sering berlagak bossy pada OB, bahkan pada karyawan magang seperti Kirana. Tampangnya culun, dengan perut buncit dan kacamata tebal, tapi mulutnya sepedas omongan tetangga. Ada kabar burung beredar yang menyebut kalau Nicho adalah seorang maniak yang menggemari animasi, dia sange nya pada cewek-cewek 2 dimensi. Hiii, Kirana geli sendiri. Pokoknya dia adalah salah satu orang yang paling sering bergesekan dengan Kirana (rival maksudnya, rival!).
"Kalo mau kopi enak, beli di starbak, dong! Jangan ngarepin gue yang bikinnya dari kopi saset!" Kirana tidak terima dipersalahkan.
"Melawan lagi lu! Udah syukur lu masih dimaklumi Pak Yayuk!"
"Ya trus kenapa?! Lu sirik?! Lu iri?! Dasar orang aneh!"
"Lu yang orang aneh!!"
Perdebatan sengit tak bisa lagi terhindarkan, mereka berhasil menyedot perhatian karyawan-karyawan lain, sampai Pak Yayuk keluar dari ruangannya. Ditepuk-tepuknya dadanya yang berlemak agar jangan sampai terkena serangan jantung gara-gara keributan Kirana VS Nicho.
"Ini apa, sih?! Kalian gak malu apa, berantem di kantor kayak anak SD?!" damprat Pak Yayuk menengahi.
"Si Nicho nih, Pak! Masa saya bikinin kopi malah marah-marah karna kopinya asin!" adu Kirana merengut.
"Ya emang asin, sih," desis Pak Yayuk yang membuat seisi ruangan tertawa pelan. "Tapi kamu juga jangan semena-mena gitu, Nich!" Pak Yayuk menunjuk muka Nicho tegas. "Hukuman atas keributan yang kalian bikin ini, kalian harus lembur berdua! Kerjain laporan yang tadi saya kasih!"
Nicho dan Kirana langsung saling tatap. "Tapi, Pak ..." Kirana mau protes.
"Tapi apa?! Kamu juga jarang lembur, kan?! Sesekali lemburlah!" putus Pak Yayuk tak mau menerima protes. Dia bergegas kembali ke ruangannya.
Karyawan-karyawan lain juga kembali ke tempat masing-masing, lanjut mengerjakan tugas mereka. Sedang Nicho dan Kirana saling adu pandang, mendengus pasrah. Apalagi bagi Kirana, sepertinya hari ini adalah hari sial baginya.
Sepanjang hari Kirana terus bersungut-sungut tak bersemangat. Sampai satu demi satu teman kerjanya telah pulang.
"Jodoh gak ke mana, good luck ya sis!" goda Welas sebelum berlalu keluar.
"Kampret lu!" seru Kirana jengkel.
Saat jam dinding Spongebob telah menunjuk pukul 6, hanya tersisa Kirana dan Nicho. Tidak ada pilihan lain bagi Kirana selain harus fokus bekerja, supaya bisa cepat pulang. Saking fokusnya kerja, dia sampai lupa mengabari Panji.
***
" ... Woi! Woi!"
Kirana merasakan sebuah tangan menyenggol pundaknya, dan ada suara yang terus memanggil. Mata Kirana terbuka berat. Sontak dia langsung bangkit, ternyata dia telah tertidur di atas meja kerja. Dilihatnya jam dinding, jarum pendek tepat menunjuk pukul 11. Dan yang membangunkan dirinya adalah Nicho.
"Ya ampun! Gue belum ngabarin Panji!" pekik Kirana panik sambil memegang kepalanya. "Kok lu baru bangunin gue sekarang, sih?!"
"Justru karna baru selesai gue kerjain! Lu mah enak-enakan tidur gak bantuin!" gerutu Nicho.
"Gue mesti pulang! Gawat, nih! Gawat!" Kirana panik. Bergegas dia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, takut Panji berpikir dia telah pergi entah ke mana. Apalagi kalau sampai Panji mengira dia tak berniat untuk pulang.
Kirana ngebut berlari keluar disusul Nicho yang berjalan santai di belakang. Keduanya turun bersama, tapi baru keluar dari pintu, Kirana terkejut bukan main melihat ada Panji di luar, menunggunya.
"Panji? Kamu sejak kapan di sini?" tanya Kirana tak enak hati.
Panji menatap sinis Nicho yang berada di belakang Kirana. Pikiran aneh juga telah bersarang di dalam otaknya. "Jadi ini yang bikin kamu sampe pulang jam 11 malem? Tanpa kabar?" Nada Panji terdengar sangat ketus dan dingin.
Kirana melongo, baru kali ini Panji menunjukkan sinyal-sinyal cemburu, tapi justru karena Nicho?! Masa iya Panji cemburu pada makhluk astral seperti Nicho? Kirana tidak habis pikir. "Aku disuruh lembur sama Pak Yayuk, makanya pulang larut," jawab Kirana sekenanya.
"Lembur tapi sampe hape juga gak nyala, gitu?" sahut Panji sinis.
"Ya karna Kirananya tidur!" Niat Nicho sebetulnya untuk membeberkan kinerja payah Kirana, tapi bagi Panji itu adalah alasan untuk melindungi Kirana.
"Gue gak ngomong sama lu, bro!" Panji menunjuk Nicho dengan ekspresi garang, Nicho kecut dibuatnya, padahal dia tidak tahu menahu.
"Udah ah, Nji. Aku ngantuk, ayo kita balik." Sebelum Panji mode iblis keluar dan menciptakan kericuhan, Kirana buru-buru menggandeng tangan cowoknya, mengajaknya pulang.
Panji tak bicara apapun lagi, dia nyalakan sepeda motor antiknya dan pergi membonceng Kirana. Diam-diam Kirana tersenyum di belakang sambil memeluk erat punggung Panji.. Ternyata Panji bersedia mencari dirinya, bahkan dia telah menunjukkan tanda-tanda cemburu. Semua itu adalah pertanda bagus.

Komentar Buku (103)

  • avatar
    johanJohan

    sangat menarik

    25/09/2025

      0
  • avatar
    Noor Fariza

    Terbaikk

    13/07/2025

      0
  • avatar
    EmaSaputri

    bagus bgttt

    01/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru