logo text

Bab 20 BUNTING

Aroma obat yang dibenci Panji menyerang dari tiap sudut lorong ruang tunggu rumah sakit. Kalau bukan karena Kirana pingsan, Panji sudah sejak tadi kabur dari sana. Rumah sakit adalah salah satu tempat yang paling dia benci. Dia cemas, berharap Kirana baik-baik saja. Dia sedikit banyak sudah bisa menebak kalau akhir dari touring ini akan buruk. Fisik Kirana memang tidak terlalu fit, di atas motor berjam-jam tentu lumayan berat baginya.
“Keluarga ibu Kirana?” Suster melongok dari pintu ruangan Dokter, Panji langsung berdiri dan ikut masuk.
Sekilas dia menengok Kirana yang sedang berbaring di atas kasur pasien, dia sudah siuman tapi matanya masih tampak sayu. Panji duduk di hadapan Dokter, keduanya siap mendengar hasil pemeriksaan.
“Ibu Kirana hanya kelelahan, efek dari sengatan matahari,” ucap Dokter sesuai dugaan Panji. Baik Panji maupun Kirana sama-sama lega, untuk sesaat mereka bisa menarik napas sebelum Dokter melanjutkan penjelasannya. “Tapi sebaiknya hati-hati dalam bergerak, karna kandungannya sudah memasuki usia dua minggu.”
PRANG!!!!!
Kalau adegan terbelalak Kirana dan Panji ini terjadi dalam sinetron atau FTV, tentu ada latar suara piring yang pecah. Terutama Panji, muka cowok itu langsung pucat pasi tak percaya.
“Maksud dokter ... hamil?” Muka Panji melongo.
“Iya, tapi masih dua minggu, masih sangat rentan ....”
Sementara Panji fokus mendengar penjelasan Dokter, Kirana di atas ranjang pasien mesem-mesem sendiri, berkali-kali dia mengusap perut datarnya. Bahagia campur terharu. Rasanya seperti ada setetes air mata yang hendak menitik. Harapannya terkabul, dia sungguh sedang mengandung anak Panji sekarang.
Bagai kutub utara dan selatan, respons Panji dan Kirana mengenai hadirnya si janin sangat bertolak belakang. Setelah keluar dari rumah sakit, Kirana menengok muka Panji, niatnya ingin mengucap kata selamat malah kaget menemukan muka Panji yang tampak sangat tidak senang.
“Nji ... Sebentar lagi kita bakal punya anak, itu artinya ... kita harus menikah.” Dengan cuek Kirana malah membahas pernikahan. Pemilihan waktu yang sama sekali tidak tepat.
“Aku gak mau bahas itu sekarang, Ran. Kalo nanti kita pulang aja baru dibahas,” ucap Panji sedingin es batu.
Mereka kembali ke hotel tanpa bicara sepatah kata juga, bahkan sampai keesokan hari ketika mereka telah pulang pun, Panji masih tak juga bicara. Mukanya merengut seperti tampang anak kos menunggak sewa 6 bulan, kusut dan pahit. Belum juga Panji membahas soal kehamilan Kirana. Gadis itu jadi bingung dan waswas sendiri, akhirnya dia lebih dulu angkat bicara ketika Panji sedang mencuci sepeda motornya.
“Kamu kenapa sih, Nji?! Kamu diamin aku loh sejak kemarin!” Kirana protes.
“Jangan dibahas dulu, Ran. Aku butuh waktu buat berpikir sendiri.” Panji menggoyang-goyang selang yang mengucurkan air membilas sabun di badan motornya.
“Gara-gara soal aku hamil?!” Kirana tetap kekeuh ingin menyelesaikan saat ini juga.
Panji bergerak mematikan keran air. “Kamu bohong sama aku! Kamu bilang kamu gak lagi masa subur! Lagian baru berapa kali sih kita berhubungan?! Kok bisa kamu langsung hamil?!” Akhirnya dia rilis juga emosi yang telah ditahan.
“Soal masa subur itu bisa aja kesalahan, Nji. Aku salah hitung mungkin.” Kirana berbohong. “Kamu nuduh aku macam-macam?! Kamu sendiri tau kamu yang pertama dan satu-satunya! Sejak malam itu kamu kan jadi lebih sering ngajak aku!” beber Kirana.
“Tapi kamu menolak pake kondom dengan alasan kamu lagi gak masa subur! Sekarang gini akibatnya!”
“Ya memang kenapa sih, Nji?! Kita kan bisa nikah!”
“Nikah kamu bilang?! Aku gak siap nikah!” teriak Panji tegas.
“Keterlaluan kamu, Panji! Terus maksud kamu, aku mesti gugurin anak kita?! Itu yang kamu mau?!” Kirana mendekati Panji, darahnya telah mencapai puncak kepala.
“Ya jadi ada cara lain gak?! Mumpung masih kecil, masih dua-,”
PLAK!!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Panji. “Manusia macam apa sih kamu?!” Kirana menjerit dengan air mata telah berurai jatuh sampai dagu.
Panji kaget mendapat tamparan sampai pipi kirinya memerah. Ditatapnya Kirana tajam, sampai cewek itu juga lumayan menciut takut. “Yang dari awal maksa tinggal di sini siapa?! Ngajak tidur bareng!! Gak mau pake pengaman!! Sekarang aku yang kamu salahkan!” Panji mengamuk, suaranya menggelegar, mukanya membara.
“Apa yang udah terjadi ya udah terjadi, Nji! Yang penting sekarang gimana ke depannya!” isak Kirana setengah membujuk.
“Jangan-jangan kamu sengaja menjebak aku? Dari awal kamu memang mau punya anak supaya aku menikahi kamu?” tanya Panji sinis, suaranya pelan tapi lebih menakutkan. Skenario Kirana mulai terbayang di benaknya. "Belakangan ini yang kamu bahas selalu tentang pernikahan! Itu yang kamu kejar?!"
“Terserah apa kata kamu!” Kirana berlari masuk ke dalam rumah, lalu masuk ke kamar dan membanting pintu.
Menangis menjadi satu-satunya hal yang bisa dia lakukan sekarang. Menangis dan menyesali apa yang telah dia perbuat. Dia teringat pada apa yang sejak semula dikatakan Mila dan Akbar, dia telah diperingatkan sejak awal. Begitu juga dengan peringatan dari Terry semalam. Kirana hanya mampu terisak-isak sambil terus menepuki kepalanya, dia merasa sangat bodoh telah menginvestasikan seluruh hidup dan masa depannya pada Panji. Sekarang apa yang harus gue lakukan? Batin Kirana perih.
***
“Cup ... Cup ... Tenang, Na, semua bakal baik-baik aja.” Berkali-kali Mila membelai lembut rambut Kirana. Dalam lubuk hati terdalam, sebetulnya dia dongkol, kepingin menjitak Kirana dan mengucap kata 'mampus', tapi berhubung Kirana sedang hamil muda, dia tak mau umpatannya malah berdampak pada si jabang bayi. Saat ini kondisi Kirana betul-betul memprihatinkan, apalagi psikisnya.
Kepala Kirana masih berada di meja, matanya yang terus menjatuhkan air mata menatap kosong ke luar pintu kaca kafe. Akbar, Mamut, dan Fitri sama sekali tidak mau terlibat, tak mau menambah beban pikiran Kirana. Saat ini gadis itu sedang dalam keadaan paling terpuruk. Beban yang dia tanggung tak main-main, masa depan menjadi taruhan. Akbar sesekali mengerling tajam pada Fitri, menyalahkan dia yang telah memberi ide bahkan pil biru pada Kirana.
“Buat apa lagi gue hidup? Gue manusia gak guna ...” Kirana meratap pedih.
“Buat anak lu lah. Gila aja, lu bentar lagi bakal jadi mamah muda, Na, mahmud mahmud ....” Mila berusaha menghibur.
“Kalo Panji gak nikahin gue gimana ya, Mil? Gue takut ...” Suara Kirana bergetar hebat.
“Ha ... Lu sih juga ...” Mila mengembuskan napas panjang. “Gue juga gak bisa salahin Panji, sih. Soalnya kan lu berdua mau sama mau, tanpa paksaan. Terus yang nolak pake kondom juga elu, bukan Panji. Walaupun anak itu anak kalian berdua, dan tanggung jawab berdua. Tapi menurut gue dia gak ada kewajiban juga mesti ngawinin elu, Na.” Mila tetap bersikap rasional meski dia tahu itu bagai menyiram air garam di atas luka Kirana.
“Gue pantas mati, lebih baik gue mati sama anak gue aja ...” Kirana meraung-raung seperti di adegan telenovela.
“Hus, ah! Jangan ngomong gitu.” Mila menepuk pelan tangan Kirana. "Makanya, Na. Stop cari penyakit buat diri lu. Sekali-kali dengerin omongan orang, jangan melulu ngejar kemauan lu sendiri." Mila memberi nasihat.
“Kalo si brengsek itu gak mau tanggung jawab, gue bakal tanggung jawab!” Tiba-tiba Akbar buka mulut, mengeluarkan sebuah kalimat yang membuatnya seakan jadi pahlawan kesorean.
“Ngaco lu, bego!” bentak Kirana sebal.
Meski dalam keadaan kepepet begini, ogah deh dia dinikahin Akbar. Mau menikahi Panji kok malah dapatnya Akbar, jangankan balik modal, itu sih buntung bagi Kirana. Tapi tiba-tiba Fitri ikut ambil bagian lagi, tapi kali ini idenya lumayan mumpuni tidak seperti sebelumnya, “Gimana kalo pura-pura aja? Misal Bos Akbar pura-pura mau nikahin lu, Na? Gimana respons Panji? Masa iya dia diam aja? Dan biarin anaknya punya bapak lain?”
Kirana, Mila, Akbar dan Mamut saling lempar pandang. Dalam hati mereka memuji ide absurd tapi oke punya jitu keluaran Fitri.
“Mantap juga otak lu!” puji Mila terang-terangan.
Sudah bisa Kirana bayangkan bagaimana muka Panji nanti saat tahu dia akan dinikahi Akbar yang siap menggantikan posisinya! Tidak ada pilihan lain, Kirana terlanjur hamil, dan dia tidak mungkin menanggungnya sendirian.

Komentar Buku (103)

  • avatar
    johanJohan

    sangat menarik

    25/09/2025

      0
  • avatar
    Noor Fariza

    Terbaikk

    13/07/2025

      0
  • avatar
    EmaSaputri

    bagus bgttt

    01/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru