Sejak pertama kali masuk ke dalam aparetmen Bhaga dan Jessica, Atma tak bisa berhenti memandangi betapa cantiknya furnitur yang ada di dalam apartemen mereka. Untuk kepribadian Jessica yang unik, desain interior apartemen itu memang terlihat terlalu tawar. Atma berasumsi apartemen itu didominasi oleh selera Bhaga yang lebih suka ketenangan dan kesederhanaan. Tak banyak yang bisa dilihat sebetulnya, ada ruang tamu sekaligus tempat menonton TV, dua kamar tidur, serta sebuah dapur kecil, semuanya tertata rapi dengan dominasi warna krem dan coklat muda. Di dekat dinding kaca yang sekaligus pintu ke balkon, terdapat dua buah meja kerja kecil yang berseberangan. Satu milik Bhaga, satu lagi milik Jessica. "Ga, aku nanti mau pergi beli sesuatu ke Mal, mungkin sore. Kamu temani aku, ya?" "Ya. Kita bisa sekalian ajak Atma, bisa sekalian liat-liat, atau mau beli sesuatu mungkin." Bhaga menjawab sambil membawa tas Atma ke dalam kamar tamu. Air muka Jessica langsung masam, tentu dia tak suka dengan ide Bhaga. "Hei, aku cuma mau pergi berdua sama kamu. Atma bisa pergi besok-besok. Nggak apa-apa kan, Atma? Kamu juga pasti masih capek, kan? Istirahat aja dulu." Jessica menatap Atma, menunggu responsnya. "Ya ..., lain kali aja. Mbak. Nggak apa-apa." Atma menjawab kikuk. Bhaga cuma bisa menghela napas kesal. Entah apa yang sedang dipikirkan atau direncanakan oleh Jessica, namun ketara sekali dia sedang ingin membuat Atma tak betah, atau sengaja ingin membuat keributan. Padahal dia sendiri pula yang kemarin setuju untuk membawa Atma bahkan menguliahkan dirinya di Jakarta. *** Saat Jessica sibuk bersiap-siap di kamar, Bhaga menghampiri Atma yang sedang memeriksa bahan masakan di kulkas. "Aku minta maaf ya, Atma, atas sikap Jessica." "Nggak apa-apa, Mas. Lagian kan, Mbak Jessica juga nggak berbuat salah." Atma menyahut sekadarnya, seperti biasa menutupi perasaan yang sebenarnya. "Babe, yuk pergi, aku udah siap." Suara Jessica mengurungkan niat Bhaga untuk bicara lagi. "Masak yang enak ya, Atma. Nanti kami balik, baru kami makan. Oke?" Jessica menatap Atma, lekat, seperti sedang mengarahkan mata pedang ke lehernya. "Iya, Mbak. Siap. Aku akan masak yang enak," ujar Atma agak takut-takut. Bhaga menarik tangan Jessica cepat. "Dah, Atma!" Setelah berada di koridor menuju lift, Bhaga langsung berhenti. "Yang kamu lakukan itu keterlaluan, Jessica! Atma datang ke sini bukan untuk jadi pembantu. Kamu ingat itu." Dia beri satu peringatan yang cukup jelas. Jessica tertawa kecil, pura-pura bodoh. "Memang aku berbuat apa, Sayang? Kalau Atma masih canggung kayak gitu, itu bukan salah aku dong. Lagian, dia kan emang pintar masak. Dia juga memang pembantu ibu kamu, apa salahnya sekalian dia bantu-bantu kita?" "Oke, dia emang pembantu ibu aku. Tapi dia bukan pembantu kamu. Tau bedanya, kan? Aku nggak suka liat kamu memperlakukan dia kayak pembantu pribadi kamu." "Kenapa? Itu melukai hati kamu? Karena dia orang yang kamu cintai?" "Jangan lewati batas kamu, Jessica. Kamu tau siapa dia bagi aku." "Ya benar kan apa yang aku bilang? Aku kan udah bilang juga, aku ngerti, Babe. Aku juga nggak masalahin, aku nggak ada maksud menyakiti dia, kamu jangan terlalu sensitif. Aku menerima dia, kok. Seratus persen, aku menerima dia. Aku nggak bohong." Bhaga berlalu begitu saja, tanpa merespons perkataan Jessica. Dalam hati dia masih dongkol, dia yakin Jessica tidak bersungguh-sungguh. *** Usai memasak, Atma tak langsung makan, dia putuskan menunggu Bhaga dan Jessica pulang lebih dulu untuk makan bersama, meski dia sendiri tak tahu kapan mereka akan pulang. Untuk membunuh waktu yang kian membosankan, Atma berkeliling apartemen Bhaga dan Jessica, melihat-lihat gambar atau lukisan yang dipajang di dinding. Dinding apartemen itu seperti sejarah, di mana ada kolase foto-foto Bhaga dan Jessica, sejak mereka masih kuliah, masih tampak seperti remaja di awal usia dua puluhan. Senyum mereka, mendadak membuat dada Atma sesak. Dia tidak naif. Dia tahu itu perasaan cemburu. Terlebih saat matanya terfokus di satu foto yang menunjukkan Bhaga sedang memeluk Jessica dari belakang, mengecup pipinya, sedang Jessica tersenyum lebar, mereka berada di sebuah taman yang tampaknya bukan di Indonesia. Tampak seperti eropa di akhir musim gugur, dengan latar belakang gedung-gedung tua. Kebahagiaan inikah yang akan hancur? Yang akan aku rusak? Tiba-tiba pikiran asing hinggap lagi di benak Atma. Tak bisa dia tahan, air matanya jatuh, dia ambruk ke lantai, bersandar pada dinding itu, meringkuk, memeluk lututnya lalu menangis. Kenapa semua ini bisa terjadi? Kenapa akhirnya jadi begini? Atma terus berpikir, menyalahkan dirinya. Namun meski hatinya bimbang, dia pun tak akan mau bila ditinggal Bhaga. Dia ingin bersama pria itu, pria yang dia cintai, meski itu berarti dia harus menjadi rival bagi Jessica. Seperti dalam perang, harus ada yang keluar sebagai pemenang, dan ada pihak yang kalah. Kalau tak mau dibunuh, maka harus membunuh. Terdengar salah, tapi kita tidak hidup di dunia yang ideal, kan? Pikiran Atma berputar-putar, makin banyak berpikir, kantuk makin menyerang dirinya. Sejak datang memang dia belum istirahat, ketimbang pusing memikirkan Bhaga dan Jessica, lebih baik dia tidur sebentar sembari menunggu mereka. *** Suara klakson mobil dari luar membangunkan Atma. Kepalanya terasa pening, berat. Dia paksa untuk bangkit dari tempat tidur, membuka gorden jendela, melihat sebuah mobil di luar gedung apartemen, sepertinya mobil salah satu penghuni apartemen. Sedetik kemudian, Atma terperanjat, dia baru sadar kalau langit mulai gelap kelabu, sudah lewat petang. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara Azan. Benar, pikir Atma, mungkin sudah lewat pukul enam. Atma keluar dari kamar tamu. Gelap. Hanya lampu dapur yang menyala. Bhaga dan Jessica belum pulang juga. Atma tak tahu mesti berbuat apa, dia kembali ke kamar untuk mandi. Lebih baik mandi dulu saja, membersihkan diri dan pikiran sejenak. Bahkan setelah dia mandi, Bhaga dan Jessica belum pulang juga. Pikiran aneh kembali meringsut masuk ke dalam benaknya. Ke mana mereka? Lauk dan sayur yang dia masak sebentar lagi akan dingin. Atma menyalakan TV, duduk di sofa, menunggu dengan bosan, perut yang mulai lapar, dan otak yang mulai sulit berpikir jernih. Ponsel pintar Atma berbunyi, masuk sebuah pesan Whatsapp. Atma mengira itu pesan berisi kabar baik dari Bhaga, namun justru sebaliknya: Atma, kamu makan duluan, ya. Jangan nunggu kami. Jessica tiba-tiba pingin makan pasta. Nanti juga tidur aja duluan, ya. Jessica masih mau jalan-jalan kayaknya. Aku benar-benar minta maaf ya, Atma. Darah di sekujur tubuh Atma serasa tiba-tiba tidak mengalir.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (151)
a******5@gmail.com
Cerita nya bagus banget.. sempat ikut meneteskan air mata..karena ikut larut dalam cerita nya .. ada bab bab yg terasa mengajak sy kembali kemasa lalu.. terus berkarya ya kak.. semangat..semoga sukses ..🙏
Cerita nya bagus banget.. sempat ikut meneteskan air mata..karena ikut larut dalam cerita nya .. ada bab bab yg terasa mengajak sy kembali kemasa lalu.. terus berkarya ya kak.. semangat..semoga sukses ..🙏
20/12/2021
3baguss
11/11
0ceritanyaa bagusss, suka banget
12/06/2025
0Lihat Semua