Bhaga tak bisa langsung pulang keesokan harinya. Ada pekerjaan yang mesti dia kejar pagi-pagi sekali. Atma pulang menumpang taksi, dia duga Jessica pun telah berangkat kerja pagi itu. Cuek saja Atma masuk ke dalam apartemen. Namun, ternyata Jessica masih belum berangkat. Spontan jantung Atma berdegup ganjil. "Baru pulang, Atma?" Jessica menyapa dengan sebuah senyum simpul. Majalah di tangan dia tutup. "Ya, selamat pagi, Mbak. Mbak sudah sarapan? Mau saya masakin apa?" Atma bertanya gugup. "Nasi goreng." Jessica berdiri sembari menjawab. Senyum Jessica terlihat jauh lebih menyeramkan dari senyum hantu di film horor mana pun yang pernah ditonton Atma. Jelas dia sedang bersikap pura-pura bodoh dan baik. Dia bahkan belum bertanya kemarin Atma ke mana saja, dan kenapa tidak pulang, yang paling penting mungkin, kenapa Bhaga tidak pulang bersamanya. Pergelangan tangan Atma melemah, jemarinya sedikit bergetar memegang gagang kuali. Jessica duduk di mini bar dapur, mengawasi Atma seperti seekor ular mengintai tikus sawah. "Kenapa Bhaga nggak pulang sama kamu?" Akhirnya Jessica bertanya. Siapa pun akan tahu kalau Atma sedang dilanda ketakutan, tangannya bergetar cukup kuat saat menuang minyak di atas kuali yang panas. Pelipisnya mulai basah oleh keringat. "Semalam ..., sebetulnya kami nggak bareng-bareng, Mbak. Mas Bhaga ada urusan, makanya kami berpisah semalam. Eh ..., terus, kalau aku ..., aku mengunjungi salah satu kerabat Mas Adam di sini. Mas Adam itu guru aku di sekolah. Ya ..., dia tanya aku di mana, dan ..., aku bilang --" "Bhaga yang nyuruh kamu ngarang semua cerita sampah ini?" potong Jessica dengan suara yang terdengar sangat dingin. "Mbak Jessica, aku nggak bohong." Atma berusaha meyakinkan Jessica, meski ketara dia tak jujur. "Ya, oke. Lanjut tuh masaknya, jangan lupa pake sosis, telur sama sayur sawi sedikit, ya!" Jessica kembali memasang wajah cerah, seolah tadi tak terjadi apa-apa. Atma menduga, Jessica barangkali sengaja, memberinya kelonggaran, setidaknya sampai nasi goreng siap dia hidangkan. Tak etis bila ribut saat seseorang harus memasak saat ini. Mata Jessica tak beralih dari wajah Atma, lamat-lamat dia pandangi, entah apa yang sedang dia pikirkan. "Kamu tau, Atma?" Jessica membuka mulut lagi. "Ya, Mbak?" sahut Atma sembari terus mengaduk bumbu nasi goreng di kuali. "Bhaga itu punya selera yang jelek, kan?" Suara Jessica amat pelan, terdengar seperti mendesis. "Selera soal apa, Mbak?" Atma mencium bau yang tak enak lagi. "Ya. Kamu tau. Soal apa pun. Soal makanan, film, musik. Kamu liat rumah ini, hampir semua selera Bhaga. Rumah ini mati, menyedihkan. Nggak ada gairah, nggak ada warna merah! Nggak ada lukisan mahal, sentuhan Eropa kek, gitu! Aku kenal sama mantan-mantannya Bhaga, semuanya juga jelek! Murahan! Kampungan! Udik! Bau!" Sedetik spatula sempat lepas dari genggaman Atma. Apakah Jessica mengira Atma sebegitu bodohnya sampai tak akan sadar kalau dia sedang disindir habis-habisan? Atau memang sengaja ingin menguliti Atma? Bagi Atma saat ini, rasanya lebih baik mukanya diludahi sekalian saja, perkataan menghina Jessica lebih menyakitkan dari apa pun yang pernah dia alami. "Aku nggak ngerti apa yang diliat Bhaga dari cewek-cewek murahan dan jelek itu. Percaya sama aku, kamu nggak akan suka sama mereka. Tapi, aku pengecualian. Bhaga juga bisa punya minat sama cewek berkelas kayak aku. Dan ..., syukurnya aku selalu jadi pemenang. Beberapa mantan Bhaga masih suka menghubungi dia, mengganggu kami. Tapi nggak ada satu pun yang berhasil mendapatkan Bhaga. Aku selalu keluar sebagai pemenang. Kamu tau kenapa?" Atma menggeleng pelan. Tubuh Jessica sedikit mencondong ke depan, lurus menatap Atma. "Karena aku akan selalu menyingkirkan siapa aja yang berani merusak hubungan kami, sekalipun itu kamu, Atma." Sejenak jantung Atma seolah mau berhenti. Mata Jessica nyalang, memerah, tak ada lagi sinar di wajah cantiknya yang biasa cemerlang. "Mbak Jess--" "Kamu kira aku ini bodoh, Atma?!" Prang!!! Naik pitam, Jessica melempar kuali berisi nasi goreng panas sampai berhamburan ke lantai. Atma spontan menjauh agar tak terkena kuali panas itu. "Kamu ke mana semalam sama Bhaga?! Hah?!!!" teriak Jessica berang. Mata Atma mulai berkaca-kaca, berharap Bhaga ada di sini sekarang untuk menjauhkannya dari amukan Jessica yang bermata gelap. "Jawab aku, pembantu nggak tau diri!" bentak Jessica lebih kasar lagi. "Bukannya kebaikan Bhaga sudah cukup buat kamu?! Kamu disekolahkan, kamu mau dikuliahkan, kebutuhan kamu dipenuhi. Dikasih baju bagus, hape bagus, kamu mau apa lagi?! Ternyata, kamu itu gatal! Kamu serakah! Kamu mau tubuhnya juga?! Semalam kalian ke mana ...?!!" Jessica mendekat, mengguncang bahu Atma. Intimidasi ini tak bisa dibiarkan Atma begitu saja. Atma tak mau dia kembali ke desa dalam kondisi tak bernyawa. Dia harus berdiri kokoh membelanya dirinya sendiri. "Mbak Jessica ..., aku dan Mas Bhaga saling mencintai. Kalau Mbak Jessica mau marah, marah sama Mas Bhaga, kenapa dia bisa lebih memilih aku ketimbang Mbak?" Jessica mundur perlahan. Kepalanya serasa digebuk palu godam, kenyataan yang pahit baru saja dia telan paksa. Cinta yang bertahun-tahun dia bangun bersama Bhaga, rubuh sudah. Hancur. "Ya. Aku paham. Aku tau soal itu ..., tapi ..., tapi aku tetap nggak terima!! Kalian pergi berdua bermalam di luar!! Kurang ajar!!" Jessica meraung lagi. "Mbak Jessica juga tau kan, kalau sebetulnya Mas Bhaga juga mau berpisah dari Mbak, cuma belum nemu waktu yang tepat aja. Seharusnya Mbak Jessica yang mengerti situasinya. Kalau aja Mbak Jessica paham, keadaan nggak akan kayak gini." "Lancang kamu, pembantu udik!" sergah Jessica. "Mbak marah bukan karena pacar Mbak nggak mencintai Mbak lagi. Tapi karena, pacar Mbak jatuh cinta sama seorang pembantu udik kayak aku. Dan Mbak kalah. Itu melukai harga diri Mbak, Mbak kalah dari seorang pembantu udik." Atma tak gentar. Lebih baik diakhiri sekarang, sekalipun nanti Bu Sona mungkin akan membencinya pula. Tak mungkin Jessica membiarkan dirinya dikuliti balik oleh Atma, sudah cukup harga dirinya terluka. Makin lama dia sana, makin teriris dia tipis-tipis. Jessica mengumpulkan tenaga yang tersisa, masuk ke kamar, mengambil koper, menyusun barang-barang dan pakaiannya. Dia keluar lagi, Atma masih berada di dapur. "Ini yang kamu mau, kan? Oke, Atma. Aku akan mengalah. Aku paham kondisi kamu. Pembantu kayak kamu pasti sulit cari jodoh yang di atas kamu. Beda dengan aku, seribu laki-laki kayak Bhaga bisa aku dapatkan! Aku nggak butuh dia, cuih! Kamu makan tuh sisa-sisa aku!" Jessica menarik kopernya keluar dari apartemen. Atma akhirnya bisa menarik napas lega, namun hatinya masih tetap gelisah, dia tahu ini belum berakhir.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (151)
a******5@gmail.com
Cerita nya bagus banget.. sempat ikut meneteskan air mata..karena ikut larut dalam cerita nya .. ada bab bab yg terasa mengajak sy kembali kemasa lalu.. terus berkarya ya kak.. semangat..semoga sukses ..🙏
Cerita nya bagus banget.. sempat ikut meneteskan air mata..karena ikut larut dalam cerita nya .. ada bab bab yg terasa mengajak sy kembali kemasa lalu.. terus berkarya ya kak.. semangat..semoga sukses ..🙏
20/12/2021
3baguss
11/11
0ceritanyaa bagusss, suka banget
12/06/2025
0Lihat Semua