logo text

Insiden Kecelakaan

Perubahan yang dilakukan Nisya nampaknya berdampak pada kehamilannya. Nisya merasa nyeri yang berpusat pada perut bagian bawahnya di mulai dari kemarin. Karena terlalu keras berpikir tentang kemungkinan yang sempat ia curi dengar dari obrolan Yasa dengan suaminya. Hal itu mengakibatkan Nisya yang menjadi murung dan melupakan asupan nutrisi yang seharusnya dia berikan untuk janin di dalam kandungannya.
Dan ketika tersadar rasa nyeri itu semakin kuat dirasakan, sehingga pada akhirnya Nisya memutuskan untuk pergi memeriksakan diri. Takut jika sesuatu yang buruk akan menimpa calon anaknya. Sayang usahanya menghubungi Ryan tidak membuahkan hasil, sehingga terpaksa ia menghubungi Sena untuk menemaninya ke rumah sakit.
"Jam berapa dokternya, Nis?"
Sena membuka obrolan ketika mulai melajukan mobilnya di jalan raya. Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, kedua mata Sena seolah terkunci pada jalan di depannya agar bisa selamat sampai tujuan.
"Selepas istirahat, Sen. Nggak papa kan kita nunggu di sana?"
"Itu lebih baik dari pada terburu-buru. Sekalian aku juga mau periksa deh, Nis. Kali aja ada sesuatu yang menyulitkanku untuk mempunyai momongan."
"Masih meributkan itu kalian? Sen, dengar aku baik-baik bahkan usia pernikahan kalian masih hitungan bulan. Kamu lupa bahkan aku baru hamil di usia pernikahan yang ke dua tahun."
"Tapi Mas Ryan tidak pernah mengungkit tentang itu kan, Nis. Sementara aku, hampir setiap hari Mas Biru bicara tentang keinginannya yang mau punya banyak anak. Katakan dari segi mana aku harus merasa tenang, Nisya?"
"Mungkin kamu yang kelewat baper, Sen. Mas Biru hanya mengungkapkan perasaannya yang ingin memiliki banyak anak, bukan berarti menyuruhmu untuk cepat punya anak, kan?"
"Kamu nggak ngerti, Nis. Jika kamu diposisiku apa yang akan kamu lakukan jika setiap waktu selalu tentang anak yang dibahas. Sedangkan aku sudah berusaha untuk itu, tapi sampai saat ini masih belum juga ada tanda-tanda dia akan datang di rahimku."
Kedua sahabat itu menghabiskan waktu diperjalanan dengan berbincang masalah kehamilan. Sampai tak terasa perjalanan mereka pun berhenti ketika Sena sudah memarkirkan roda empatnya di halaman parkir sebuah rumah sakit.
Keduanya berjalan beriringan dengan masih melanjutkan obrolannya. Lorong yang sepi menandakan jika seluruh pegawai sedang beristirahat untuk makan siang, atau pun melakukan ibadah.
"Sepertinya masih lama, Nis. Mau aku belikan minuman? Kali aja nanti haus, kasian baby jika kelamaan nahan haus."
"Boleh, Sen. Minta tolong, ya."
Sepeninggalan Sena, Nisya berusaha tetap tenang. Nyeri itu masih bisa dirasakan lebih lagi calon anak yang sedari pagi menunjukkan penurunan aktivitas pergerakannya. Itu lah yang membuat Nisya khawatir.
Beberapa orang sudah mulai berdatangan dan mengambil nomor antrian di poli kandungan sepertinya. Dari beberapa ibu hamil mereka semua datang berpasangan, kecuali dirinya. Ada sedikit perasaan iri dalam diri Nisya melihat mereka semua. Meraih ponsel di dalam tas untuk mencoba menghubungi nomor suaminya, masih sama tidak ada jawaban dari seberang sana.
Hah! Nisya menghela lesu, merutuki kesibukan Ryan yang semakin kesini menjadi lebih parah. Nisya bahkan sangsi jika suaminya itu ada disisinya saat melahirkan nanti.
"Sendirian saja, Bu?" tanya seseorang di samping Nisya.
"Iya," jawab Nisya terpaksa menarik ujung bibirnya membentuk seulas senyum tipis.
Suasana hatinya sedang tidak bagus, oleh sebab itu Nisya menjadi murung dan tidak bersemangat untuk memulai obrolan dengan sesama pasien ibu hamil lainnya.
Sampai ketika Nisya mendengar suara yang tidak asing masuk ke telinganya. Untuk memastikan itu Nisya menoleh ke arah ujung lorong yang merupakan arah suara itu terdengar. Benar saja, di sana sedang berjalan pria yang sialnya adalah suaminya sendiri. Lebih sialnya lagi suaminya itu tidak sendirian, ada wanita di sebelahnya yang sedang menggendong balita perempuan.
"Tetap tenang, ya. Pasti dia akan baik-baik saja bukankah dokter sudah melakukan yang terbaik selama ini." Ryan bak menjelma sebagai suami, serta ayah yang siaga bagi wanita itu.
Melewati Nisya begitu saja sambil terus menenangkan si wanita. Hati Nisya hancur melihat pemandangan menyesakkan di depan matanya. Mengabaikan semua panggilan telepon, faktanya mereka dipertemukan di tempat yang sama namun dengan tujuan yang berbeda.
'Jadi ini kesibukan kamu, Mas. Sepenting itukah mereka dari pada aku?'
Untuk seperkian detik napasnya tercekat di ujung tenggorokan, dadanya teramat sesak, genangan lahar panas memenuhi pelupuk mata. Mencoba tetap tenang tapi tidak bisa, ekor matanya terus saja menyaksikan derap langkah suaminya menuju ruangan poli anak yang memang berdekatan dengan poli kandungan tempatnya menunggu.
'Ya Tuhan.. apa yang sebenarnya sedang terjadi? Siapa perempuan dan juga anak yang sedang bersama Mas Ryan?'
Setitik bulir bening mulai lolos dari pelupuk matanm. Kemudian diausul dengan titik-titik lainnya yang menyeruak tanpa permisi. Pun dengan isakan yang ikut keluar dari bibir yang senantiasa tertutup rapat.
'Jadi semua yang aku dengar itu benar-benar nyata? Kenapa Mas Ryan merahasiakan ini semua dariku?'
Segala kemungkinan-kemungkinan itu memenuhi kepala Nisya. Sehingga membuatnya sudah tidak berminat lagi untuk memeriksakan diri. Nisya bangkit dan mencoba menguatkan hatinya. Kakinya dipaksa untuk tetap kuat menyangga bobot tubuhnya, agar dapat secepatnya pergi dari tempat ini.
Sementara Sena yang datang tidak lama selepas kepergian Nisya terlihat bingung mencari-cari keberadaan sahabatnya.
"Bu maaf, apa Ibu lihat perempuan hamil yang duduk di sini, nggak?" tanya Sena kepada salah satu pasien yang menunggu antrian di bangku depan poli kandungan.
"Tadi saya lihat Mbak-nya pergi ke arah sana, Mbak," tunjukknya ke arah yang berlawanan dari kedatangannya.
"Baik, terima kasih, Bu. Saya permisi ingin menyusulnya."
Sena setengah berlari menyusul ke arah kepergian Nisya, tetapi langkahnya dipaksa berhenti ketika melihat suami dari sahabatnya yang juga berada di tempat ini.
"Mas Ryan!" Panggil Sena lumayan kencang.
Langkahnya di percepat untuk mengahampiri Ryan, sedangakan sang empunya nama tidak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya atas kedatangan Sena, sahabat istrinya.
"Syukurlah Mas akhirnya datang juga, Nisya sudah menunggu Mas dari pagi katanya ponsel Mas susah dihubungi. Dan ini tadi dia minta dibelikan minum tolong Mas saja yang berikan, aku tunggu di luar saja."
Sena yang belum sadar situasi mengoceh tanpa jeda, sembari mengulurkan minuman yang tadi dibelinya kepada Ryan.
"Memang Nisya ada datang ke sini?"
"Lhah Mas Ryan ke sini buat apa kalau tidak menemani Nisya cek kandungan? Tadi aku yang antar Nisya ke sini, lalu meminta untuk dibelikan minumam. Tapi setelah aku kembali Nisya sudah tidak ada di tempatnya lagi."
"Sen, em.. kalau boleh Mas tahu kalian kapan datangnya?" tanya Ryan masih berusaha menyembunyikan perasaan paniknya.
Sampai akhirnya datang wanita dengan masih menggedong anaknya lantas menghampiri Ryan bermaksud untuk mengajaknya pulang. Sedangkan Sena yang melihat adanya keganjilan mulai merasa ada yang harus dipastikan.
"Sekitar 30 menit yang lalu. Dan, Mas siapa mereka?" tunjuk Sena kepada seorang wanita  yang berdiri di samping Ryan.
Jawaban yang didapat dari Sena, sudah dapat diartikan oleh Ryan jika istrinya pasti sudah melihatnya. Untuk itu dia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Sena.
"Mas harus secepatnya mencari Nisya, bisa minta tolong Sen antarkan mereka berdua pulang, Sen?"
Jangan kira Sena akan menurut, sebab wanita satu profeai dengan Nisya itu telah paham akan situasi yang sebenarnya.
"Aku pikir kedatangan Mas Ryan ke sini untuk Nisya, nyatanya ada hal lain yang sepertinya lebih penting dari itu."
Dengan tatapan tajam yang ditujukan untuk dua orang di hadapannya.
"Dan apa tadi, Mas menyuruhku untuk mengantar wanita itu pulang?" Sena tertawa sumbang. "Maaf Mas, karena aku tidak sedermawan itu untuk mementingkan orang lain dari pada sahabatku yang mungkin saja sekarang sedang dalam keadaan hancur. Melihat suami yang diharapkan datang untuknya, nyatanya datang untuk wanita lain."
Setelah meluapkan kekesalannya, Sena langsung berlari mencari keberadaan Nisya. Disusul juga dengan langkah Ryan di belakangnya.
Sementara Nisya terus berusaha agar secepatnya bisa keluar dari rumah sakit ini. Tentunya dengan diiringi isak tangis yang tertahan sehingga membuat dadanya kian terasa sesak.
Ryan dengan menajamkan pandangannya menelusuri setiap ujung lorong yang dilewatihya. Perasaanya sudah tidak menentu, rasa takut kehilangan kian terasa nyata dirasakannya.
'Sayang mas mohon jangan bertindak gegabah. Semua yang kamu lihat bukan seperti yang kamu bayangkan.'
Mencoba untuk tetap tanang langkah Ryan berikut Seba kian dipercepat ketika netranya menangkap sosok Nisya sedang berjalan dengan tergesa-gesa menuju arah jalan raya.
"SAYANG!"
"NISYA!"
Teriakan kedua orang itu semoat menghentikan langkah Nisya untuk beberapa saat, selanjtnya memilih untuk sedikit berlari agar dapat pergi dari suami yang sangat ingin dihindarinya.
"Sayang! Tolong berhenti Mas mohon. Mas akan jelaskan apa yang sudah kamu lihat tapi tolong berhenti lah dan tetep di sana."
Dan Nisya sama sekali tidak berniat untuk mengabulkan permintaan suaminya, dan semakin nekat untuk menyebrangi jalan raya.
"SAYANG AWAS!"
"NISYA AWAS!"
Terlambat, tabrakan pun tidak terelakkan lagi, dengan tubuh Nisya yang lantas terpental. Kedua matanya masih terjaga begitu pun kesadarannya yang masih dapat melihat suasana yang berubah menjadi ricuh.
Pun dengan dirinya yang perlahan dapat merasakan ada yang keluar dari inti bawahnya. Sampai perlahan kesadarannya mulai hilang dan sudah tidak dapat melihat, dan merasakan apa pun lagi.
"Mas Ryan.. tolong Nisya."
Kata terakhir yang diucapkan Nisya sebelun akhirnya benar-benar tidak sadarkan diri.

Komentar Buku (78)

  • avatar
    TeriAdit

    bagus

    13/08

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    baguss

    27/03

      0
  • avatar
    1902823728

    kingkong

    15/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru