logo text

Dalang Penculikan Nisya

"Eengghh!"
Nisya sudah mulai tersadar dari efek obat bius yang diberikan oleh perawat yang membawanya pergi dari rumah sakit. Untuk sesaat Nisya melihat sekeliling ruangan yang ditempatinya. Otaknya berpikir keras apa saja yang diingatnya, sampai ia sadar jika saat ini dirinya sedang dalam bahaya.
Nisya ingat terakhir dia berada di basment yang tiba-tiba kesadaranya menghilang karena perawat yang membawanya membekapnya sehingga dia tidak sadarkan diri.
Entah sudah berapa lama ia tertidur karana kini efek obat bius sudah mulai terasa efek sampingnya. Nisya merasa pusing yang teramat, berikut mual yang tak tertahankan. Ia ingin mengeluarkan isi perutnya saat ini juga. Tapi keadaan yang memaksa Nisya untuk menahannya, kedua tangan serta kakinya sudah terikat dengan erat menyatu pada sebuah kursi.
Ceklek!
Suara pintu yang terbuka dari luar membuat Nisya lantas menatap seseorang itu, seorang pria berjalan ke arahnya dengan tatapan yang memancarkan permusuhan.
"Reno, kamu pasti datang ingin menolong Mbak, kan? Alhamdulillah ternyata ...,"
"Menolong Mbak?! Hahaha.. bahkan dalam mimpi sekali pun aku tidak akan sudi untuk melakukannya!"
Perlahan pria yang ternyata adalah Reno, adik dari Alvin. Reno berjalan mendekati Nisya. Ia jongkok tepat dihadapan Nisya, memandang wajah dari mantan kekasih Kakaknya dengan penuh dendam.
"A-apa maksudmu, Ren? Bukankah hubungan kita baik-baik saja?"
"Itu menurut Anda sendiri, sampai kapan pun aku tidak akan pernah berdamai dengan orang yang sudah membuatku dan ibuku hidup menderita!"
"Ren, bukan kah Mbak sudah menebusnya? Kamu juga Ibu juga sudah menikmatinya, 'kan? Bukan kah sudah tidak ada kesalah pahamam lagi diantara kita?"
"Itu semua tidak sebanding dengan penderitaan yang kita alami, karena kehilangan. Anda mungkin akan merasakan itu sebentar lagi, dan silahkan nikmati seperti apa rasanya kehilangan."
"Ren, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Tapi tolong lepaskan Mbak, Ren. Suami Mbak sedang butuh Mbak saat ini, dia sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan, Reno."
"Ya, aku tahu bahkan sangat tahu karena aku lah yang sudah menabrak suamimu itu. Sejujurnya aku kasian dengannya, tapi mau gimana lagi dia terlalu bodoh mengorbankan nyawanya hanya demi melindungi perempuan seperti Anda ini. Harusnya Anda lah yang berada di posisi pria itu."
Nisya jelas terkejut mendangar fakta ini, bagaimana bisa? Batinnya ingin menolak tapi fakta yang ia dengar langsung dari mulut Reno seakan membenarkan segalanya.
"Ren ini bukan kamu, Mbak tahu kamu tidak akan setega itu. Mbak sudah kenal kamu lama bahkan sejak remaja, dan ini sama sekali bukan sifat asli yang kamu miliki."
"Waktu sudah merubah segalanya termasuk diriku jika itu yang ingin Anda tahu!"
"Ren, tolong bebaskan Mbak. Setidaknya biarkan Mbak tahu kondisi suami Mbak yang sedang di rawat, Ren."
"Anda ingin tahu kondisi suami yang sudah aku tabrak itu? Baik akan saya beri tahu, kalau dia sedang kritis saat ini. Benturan akibat tabrakan itu sangat keras, menurut Anda apa suami Anda itu bisa dengan mudah selamat dari maut?"
Perdebatan dua orang itu terhenti dengan datangnya pria yang menjadi dalang dari aksi penculikan yang dialami oleh Nisya.
"Kerja bagus anak muda, sekarang biarkan saya yang mengurus sisanya. Keluar lah bayaranmu sudah aku kirim sesuai dengan jumlah yang sudah kita sepakati."
Reno pun akhirnya pergi dari ruangan itu dan menutup pintunya dari luar. Tugasnya sudah selesai dan selanjutnya ia sudah tidak ada urusan lagi di sini.
"Sudah ingat siapa saya? Jika belun saya beri kesemparan buat kamu untuk melihat dengan jelas wajah saya." Ujar pria itu yang kini menggantikan posisi Reno.
"Danis Anggara Putra."
"100 untuk kamu, perempuan pembunuh!"
"Saya bukan pembunuh! Kau lah pembunuh yang sesungguhnya!" Balas Nisya dengan suara lantang.
Aksinya itu membuat nyeri di perutnya, Nisya seolah lupa jika dirinya sedang mengandung sehingga tidak dapat mengontrol emosinya ketika berhadapan dengan pria di depannya itu.
"Kenapa dengan calon anakmu? Apa dia sudah ingin keluar? Kalau iya mari saya bantu untuk mengeluarkan dia dari sana."
Nisya menepis kuat-kuat tangan Danis yang hampir menyentuh permukaan perutnya.
"Kau! Jangan berani-beraninya menyentuhku!"
"Baik lah saya tidak akan menyentuhnya. Karena tanpa saya sentuh pun dia yang saat ini masih bisa hidup dengan nyaman di dalam perutmu itu sebentar lagi pasti akan kehilangan nyawanya."
Danis mengeluarkan suntikan dari dalam saku hoodynya, mengangkatnya tinggi-tinggi sebuah suntikan itu dengan cairan berwarna hijau di dalamnya.
"Saya mungkin tidak bisa membalas perbuatanmu dulu seperti apa yang kau lakukan terhadap Caca. Tapi saya akan pastikan jika kau akan merasakan sakit yang berkali-kali lipat dari apa yang dirasakan Caca dulu saat meregang nyawa."
Mencoba untuk tetap tenang, Nisya berusaha untuk tidak terpancing emosi. Kandungannya sedang dalam keadaan tidak bisa menerima tekanan dalam bentuk apa pun.
"Kau jelas tahu jika itu bukan kesalahanku, tapi kau hanya ingin berusaha mencari pembenaran akan kesalahan yang sejujurnya ada pada dirimu sendiri. Kau merasa tidak terima atas meninggalnya Caca, tapi kau sendiri lah yang sudah mengantarkan Caca pada takdir kematiannya."
"Omong kosong!"
"Kau yang lari dari tanggung jawab atas kehamilan Caca, lalu ketika kau mendapati raganya sudah terbujur kaku di dalam tanah kau lantas mencari penyebab kematiannya dengan Saya yang menjadi sasaran utamanya? Harusnya kau berkaca sebelum bertindak pria bodoh!"
Plak!
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di wajah Nisya, menimbulkan sensasi perih yang teramat juga rasa anyir dapat dirasakan Nisya. Setetes darah keluar dari ujung bibirnya akibat terlalu kerasnya tamparan yang diterima dari pria di depannya ini.
"Harusnya jika kau ingin membalaskan dendam Caca, maka balaskan itu pada dirimu sendiri. Bukan kah kau yang paling tidak tahu diri di sini? Setelah menikmati tubuh sahabatku lalu menanamkan benih padanya kau lantas pergi dan menolak bertanggung jawab atasnya dan setelah semua itu terjadi apa kau masih layak disebut sebagai seorang pria?"
"Tutup mulutmu wanita sialan!"
"Kau lah yang seharusnya melakukan itu!"
Keributan yang terjadi antara Nisya dan Danis nyatanya dapat didengar dengan jelas oleh dua orang yang semula ingin pamit undur diri karena tugasnya sudah selesai. Namun setiap kata yang mereka dengar nyatanya perlahan mulai mengusik ketentraman batin keduanya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?!"
Kedua orang itu jelas merasa terkejut mendengar suara itu. Mereka tidak menyangka jika aksi mengupingnya diketahui oleh Danis.
"Ki-kita hanya mau pamit, Bos." Ucap salah satu dari mereka.
"Pergilah, bukan kah saya sudah menyuruh kalian untuk itu?"
"I-iya, ya sudah kalau begitu kita langsung balik, Bos."
Keduanya meninggalkan tempat itu dengan tergesa, membawa rasa tak menentu di hati keduanya. Namun mereka pun tidak dapat melakukan apa-apa lagi, sebab urusannya dengan Danis, pria yang sudah membayarnya mahal sudah selesai.
Selanjutnya mereka bisa hidup tenang tanpa perintah dari Danis lagi. Karena tugas utamanya untuk menculik korban sudah dilaksanakan keduanya dengan baik. Dan mereka juga sudah mendapatkan bayaran akan jerih payahnya itu, dengan nominal yang sangat fantastis. Sesuai dengan risiko yang mungkin diterimanya jika saja aksi penculikan itu tidak berjalan dengan mulus.
"Saya bahkan bisa berikan kalian bayaran sepuluh kali lipat, dari yang kalian dapatkan dari pria itu. Asal kalian mau bekerja sama dengan saya."

Komentar Buku (78)

  • avatar
    TeriAdit

    bagus

    13/08

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    baguss

    27/03

      0
  • avatar
    1902823728

    kingkong

    15/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru