Hari pernikahan, adalah hari yang di anggap moment sepesial dan terindah bagi sebagian pasangan yang saling mencinta. Hari dimana semua bersatu penuh haru biru, semua menangis karena bahagia. Namun pernikahan Nabila bukanlah seperti khayalan banyak pengantin, melainkan mimpi buruk baginya. "Brukkk". Tubuh Nabila tumbang ia tak sadarkan diri tatkala netranya mendapati Ibrahim yang tak tahu apakah calon suaminya dalam keadaan hidup atau mati. "Nabilaaa!!!". Pekik seluruh orang yang ada di aula masjid berhamburan ke arahnya. Semua sigap menghampiri Nabila dan Ibrahim tak lama datanglah ambulan keduanya dimasukan kedalam ambulans yang berbeda dan segera dilarikan kerumah sakit terdekat. #Flashback "Nisa! Ada apa dengan mu??! Ya Rabb apa yang terjadi padaku??. Nabila adalah sahabatku, ia membutuhkan ku dan aku masih saja berkelit dengan egoku. Sadarkan aku ya Allah, lapang kan lah dada ku. Aku tidak mau menjadi orang yang jahat". Ujarnya menepis bisikan dalam hatinya. Nisa segera tancap gas dan melajukan motornya menuju alamat akad Nabila dan Ibrahim. Benar saja firasat Nisa bahwa Niko tengah menghajar Ibrahim habis-habisan. "Ustaaaadzzz!!! "Astaghfirullahaladzim. Ya Allah apa yang harus aku lakukan, kalau aku gak kesana secepatnya bisa-bisa ustadz tak tertolong". Gumam Nisa seraya menutup mulutnya. "Tapi jika aku kesana Niko pasti akan langsung melarikan diri". "Aku harus telepon polisi secepatnya" "Halo!!, Kantor polisi?! Tolong saya pak, seseorang tak dikenal tengah memukuli kakak saya". "Kamu yang tenang ya! Bisa sebutkan detail alamat lengkap tempat kejadian perkara?". "Saya tidak tahu persis ini dimana, tapi disini sepi dan ini dikelilingi pesawahan. Oh ya! satu lagi, ini tidak jauh dari masjid Al Akbar". "Mohon jangan panik! Carilah orang terdekat untuk membantu kakakmu. Lokasi kantor kami tidak jauh dari masjid tersebut. Kami akan tiba secepatnya disana". "Baik pak" "Ya Allah ustadz.." "Aku harus cari bantuan kemana??. Mengapa belum ada yang lewat jalan ini sedari tadi". "Ya Allah tolonglah ustadz Ibrahim". "Aku masuk ke perkampungan saja barangkali ada warga yang mau menolong ustadz". Nisa beranjak menuju perkampungan untuk mencari bantuan warga setempat. Namun karena jalan tersebut di kelilingi persawahan, rumah warga belum jua dapat di temui nya. "Duh, pada kemana sih. Kok gak ada warga yang lewat. Bahkan di sawah pun tak ada". "Ah, itu ada warga. Akhirnya.." "P-permisi pak.." "Ada apa nak?". "Maaf bapak-bapak. T-tolong". "Bicara perlahan saja nak, apa yang terjadi?". "Iya dek jangan tergesa-gesa". "Ka-kakak saya pak dipukulin orang". "Astaghfirullahaladzim". Ujar kedua warga tersebut bersamaan. "Dimana nak??" "Tak jauh dari sini pak". "Ayo kita segera temui kakak mu". Nisa beserta kedua warga tersebut segera menemui Ibrahim yang masih di pukuli Niko. Disaat yang bersamaan pula mobil polisi pun ikut sampai di tempat lokasi. "Hey!!!". Teriak dua warga yang di ajak Nisa tadi. Di belakang mereka telah tiba dengan sirenenya yang ikut serta mengiringi teriakan kedua warga tersebut. "Sial!". Umpat Niko seraya menjatuhkan tubuh Ibrahim ke tanah dan segera ia lari tunggang-langgang dengan sepeda motornya. Niko berhasil melarikan diri, polisi memang sengaja tak melakukan pengejaran sebab Ibrahim lebih membutuhkan pertolongan. Akan tetapi namanya juga polisi, sudah tugas mereka melacak pelaku kejahatan, dan plat nomor kendaraan Niko sudah berhasil di catat olehnya, terlebih ada Nisa sebagai saksi. #Flashbackoff Keadaan masjid di selimuti duka, hari pernikahan yang diharap menjadi momentum kebahagiaan kedua mempelai, penyatuan yang harusnya haru biru tak menyangka berubah menjadi pilu membiru. Pernikahan di batalkan, kedua mempelai pun segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Beberapa jam kemudian... Suara tetesan air infus membangunkannya, seketika Nabila tersadar bagaikan seseorang yang sedang tenggelam dalam mimpi buruk. "Hh.." "Nabila!" "Kak Bila!!! Kak Bila, sadar!". Ujar Asma spontan langsung berdiri. "Kak Nisa!, titip kak Bila sebentar ya. Aku mau keluar panggil bunda dan Abi". Pungkas Asma kembali berbicara dan bergegas keluar mencari kedua orangtuanya. "Hmm". Jawab Nisa singkat. "Dimana aku??". "Bil, kamu istirahat aja dulu ya". Ujar Nisa mencegah Nabila yang ingin beranjak dari tempat tidurnya. "Bukankah ini, rumah sakit?? Ada apa denganku mengapa aku disini??". "Kamu gak pa-pa kok. Cuma butuh istirahat aja, hmm". Pungkas Nisa kembali menenangkan Nabila seraya mengusap lembut kepala Nabila yang terbalut hijab. Sejenak Nabila terdiam sembari mengingat kejadian sebelumnya. Ia mengangkat tubuhnya perlahan yang tengah terbaring dan menyandarkannya kebelakang tempat tidur. "Ustadz..." Ujar Nabila lirih teringat kejadian tadi. "Nisa! Bukankah tadi aku dan ustadz-". Ujar Nabila lagi tak meneruskan tatkala menatap netra Nisa. "Mm- Ustadz Ibra, masih ditangani dokter di ruang IGD". "Nis- um--aku, aku ingin menyampaikan suatu hal ke kamu. Tapi yang ada dipikiran ku saat ini Ustadz-". "Tenanglah Nabila, kamu jangan dulu banyak gerak. Kita tunggu dokter kesini ya. Setelah itu, baru kita temui ustadz Ibrahim, ok!". Ucap Nisa lembut memotong ucapan Nabila. "Kak Bila". "Nabila, nak". Suara lirih bersahutan dari balik pintu menuju kedalam ruangan Nabila. "Masya Allah, sayang. Bagaimana keadaan mu?". Tanya Rahma lembut seraya mengusap pucuk kepala Nabila. "Bun, Bu dokternya sudah datang". Panggil Hasan kepada sang istri. "Permisi sebentar ya Bu" "Ah iya dokter silahkan". "Hai, Nabila. Permisi saya periksa ya". "Ya dok". "Gimana keadaannya sekarang, apa sudah lebih baik?". "Saya baik dokter". "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan pak, bu. Nabila hanya syok saja. Tidak ada hal serius-". "Berarti aku sudah boleh keluar kamar kan dokter?". Potong Nabila langsung mengambil alih ucapan dokter. "Iya boleh". Jawab dokter sambil tersenyum mengiyakan pertanyaan Nabila. "Abi, bunda. Bila izin ke IGD ya". "B-bil". "Nak" "Kak Bila" "Sayaaanggg. Perlahan saja, kamu masih lemas". Ujar ke empat orang yang menjaga Nabila saat Nabila bergegas hendak beranjak dari tempat tidur. Nabila mulai berjalan keluar dengan kondisinya yang masih lemah sebab syok tadi. Perlahan langkahnya mulai sampai keruang IGD, dimana kamar tersebut tengah menangani calon suaminya. Nisa dan Asma tak luput menemani dan membantu langkah Nabila. "Umi". Lirih Nabila memanggil calon mertuanya. "Ah.. Nabila sayang". Jawab Hamidah menahan tangis menoleh dan tertatih menghampiri Nabila. Hamidah memeluk erat Nabila dan menangis di pelukannya. "Nabila, nak". "Umi, tidak boleh menangis. Ustadz didalam pasti baik-baik saja, hm". Pungkas Nabila menguatkan hati seorang ibu yang tengah hancur meratapi nasib sang anak. Tak lama dokter yang tengah ditunggu-tunggu pun akhirnya keluar. "Umi, dokter sudah keluar". "Ah, dokter. Bagaimana keadaan putra saya". "Alhamdulillah, putra ibu telah melewati masa kritisnya. Kini ia tengah istirahat". "Alhamdulillah". Ucap lega serentak oleh semua orang yang tengah menanti kabar baik dari sang dokter. "Dokter boleh saya melihat anak saya?". "Maksimal dua orang saja yang menjenguknya. Yang lain bisa menunggu di luar. Sementara ini pasien harus istirahat dan jangan dulu diganggu banyak orang!". "Baik dokter". Jawab Hamidah mengiyakan perkataan dokter. "Abi, bunda. Bila mau temui ustadz dulu. Um- Nis". Nisa hanya memberi isyarat anggukan kepada Nabila tanpa berkata satu patah pun. Hamidah dan Nabila langsung menuju masuk keruang IGD. Di lihatnya Ibrahim yang belum sadarkan diri tengah berbaring lemah di atas hospital bed. "Yusuf! Nak, umi disini sayang". Lirih Hamidah seraya menahan bendungan air mata yang sudah tak sanggup lagi menahan diri untuk jatuh. Hamidah pun akhirnya terisak di bahu putranya yang tak sadarkan diri. "Umi". Ujar Nabila menghampiri Hamidah. "Ustadz pasti akan segera bangun. Umi jangan sedih ya". "Nabila sayang. Apa yang terjadi kepada Yusuf?? Sudah umi katakan padanya agar tidak mengendarai sendiri. Tapi ia tetap bersikeras mengendarai sepeda motornya". Ujar Hamidah kembali terisak dan kali ini di pelukan Nabila. Tak satu patah pun keluar dari bibir Nabila, air matanya yang bebas ikut terjun sambil netranya tak lepas dari memandangi wajah sang ustadz. "Nabila, umi mau keluar sebentar. Kamu tetaplah disini ya! Tolong jaga Yusuf sampai umi kembali!!". Nabila masih terdiam dan hanya menjawab anggukan kecil. "Yusuf, umi keluar sebentar ya. Cepatlah bangun nak. Kami semua mencemaskan mu, hm!". Ujar Hamidah lembut dengan sisa isak tangisnya, seraya membelai lembut kepala Ibrahim. Kini tinggal Nabila saja yang berada di ruangan tersebut bersama dengan sang ustadz. Nabila perlahan melangkahkan kakinya memberanikan diri mendekati Ibrahim. Ia menduduki kursi yang berada di depan ranjang tersebut. Tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut Nabila, melainkan hanya air matanya saja yang terus mengalir tanpa henti. "Ustadz! Bangun!!" "Bangunlah ustadz!!!Ini aku Nabila" "Ada apa ustadz??, bukankah ustadz telah berjanji akan melindungi ku?!". "Bangunlah!! Ini hari pernikahan kita. Ustadz harus segera menepati janji ustadz kepadaku. Bangun ustadz!!, Banguuunn!!!". Pecah tangis Nabila, ia bersimpuh dan menundukkan kepalanya ke ranjang tersebut seraya kedua tangannya mengepal pinggiran ranjang. Nabila menangis sesenggukan suaranya terdengar keras dan tak tertahankan. "Hayyy..." Terdengar suara berat yang sontak membuatnya segera mengangkat kepalanya. Dengan wajah polos Nabila dan air mata yang masih berserakan di wajahnya ia celingukan mencari asal suara tersebut, dan sampailah netranya pada wajah Ibrahim. Dan ternyata benar saja, asal suara tersebut adalah suara Ibrahim yang memanggilnya. "Haaa,, hiks, hiks, hikss". Masih dalam keadaan bersimpuh di sisi Ibrahim tangis Nabila makin kencang. "E-ehh, Nabila". Suara lembut Ibrahim mencoba menenangkan Nabila. Akan tetapi tak membuatnya berhenti menangis. Nabila malah menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan semakin menjadi-jadi. "Nabila, sudah". Panggil Ibrahim lagi. "Nabil- a-ah". Panggil Ibrahim lagi merengek kesakitan. "Ustadz!!! Ada apa?? Gapapa kan?-". Nabila panik seketika terhenti tangisnya ia langsung berdiri dan menyingkirkan kedua tangannya dari wajahnya tatkala mendengar keluh Ibrahim, "Nabila.." Potong Ibrahim, namun langsung ter "Aduh ustadz sakit ya?? Dimana sakitnya??". Tutur Nabila bernada khawatir. "Ustadz!! Gimana ini, Nabila panggil dok-". "Nabila ku sayang". "Hah- s- apa?" "Hm, sudah ya. Aku baik-baik saja" "Hah!! Aku gak salah dengar kan?? Kok tadi Ustadz bilang sayang?". Ujar Nabila bergumam dalam hatinya. Tiba-tiba suasana hening keduanya saling menatap satu sama lain. "Maaf". "M-maaf?, Untuk apa ustadz??". "Maaf, karena aku sudah mengacaukan semuanya". "Sebenarnya, apa yang terjadi ustadz?". "Aku sudah hampir sampai Nabila, namun seorang pria yang tak ku kenal tiba-tiba saja menendang motorku, aku terjatuh dan ia langsung memukuli ku tanpa ampun". "Tapi siapa pria itu ustadz. Dan apa motifnya??". "Aku tidak tahu Nabila, ia tak melepas helmnya". "Maaf ustadz, tapi apakah ustadz punya musuh??". "Tidak Nabila. Hanya saja dari postur tubuhnya, aku seperti mengenalnya". "Hm??". Balas Nabila heran. "Nabila! Apa kamu terluka??". Ujar Ibrahim melotot tak sengaja netranya melihat bekas jarum suntik yang terbalut plester dipergelangan tangan Nabila. "Ah-, ini.." "Krekkk" Ucapan Nabila terputus tatkala keduanya mendengar suara pintu kamar di buka. "Yusuf, nak!!!. Masya Allah. Kamu sudah sadar?!!!". "Nabila sayang, kok kamu tidak keluar panggil umi, atau dokter kalau Yusuf sudah sadar". "Ah, i-iya, t-tadi..." Balas Nabila gelagapan. "Umi!!, Aku baru saja sadar kok. Tadi Nabila ingin keluar tapi, aku tahan karena aku lihat Nabila terluka". Sahut Ibrahim menimpali jawaban gugup Nabila. "Yusuf! Sebetulnya Nabila juga tadi sempat di bawa ke UGD. Dia-" "Astaghfirullah, Nabila kamu benar terluka juga?? Ah-". Panik Ibrahim seraya berusaha mengangkat tubuhnya yang masih terbaring. "Ustadz.." Lirih Nabila bernada khawatir. "Aduh Yusuf!!! Sudah tiduran saja nak! Kamu jangan dulu banyak gerak!". "I-iya ustadz, lagi pula Nabila gak apa-apa kok". Ujar Nabila tersipu malu. "Hmm, istrimu tadi shock lihat kamu, makanya dia pingsan dan sempat di bawa ke UGD". "Luka yang kamu lihat ini, (sambil mengangkat pergelangan tangan Nabila) luka bekas suntik infusan. Sudah, tenang. Hm??!". Pungkas Hamidah panjang kali lebar menjelaskan kepada Ibrahim untuk menenangkannya. Ibrahim tak membalas satu patah katapun ia hanya tersenyum malu sambil mengusap belakang lehernya. "Um-, maaf umi, Nabila keluar panggil dokter ya". "Mmh, Nabila. Biar! biar umi saja yang panggil". "Eh- tapi umi...". "Yusuf itu butuh kamu, bukan umi. Jadi biar umi saja yang panggil, kalau kamu yang panggil nanti Yusuf bisa-bisa tak sadarkan diri lagi". Guyon Hamidah mengejek kedua sejoli tersebut. "Eh-". Lirih Nabila terkejut mendengar ucapan Hamidah dengan tatapan matanya yang hampir keluar. "Umi!!!". Pungkas Ibrahim menahan malu. "Okey ya, umi tinggal kalian sebentar. Tapi jangan dulu macam-macam ya! Karena kalian masih belum di sahkan. Ha-ha-ha". Ejek Hamidah lagi seraya meninggalkan keduanya. Suasana kembali hening setelah kepergian Hamidah. Keduanya sama-sama saling menundukkan pandangan. Nabila yang paling terlihat salah tingkah, terlihat dari gerak tubuhnya dan juga pipinya yang sudah merah karena blush-on yang di pakainya bertambah merekah merahnya karena rasa malu. Ibrahim mencoba memberanikan diri memandang Nabila yang masih mematung di sisi ranjangnya. "Kamu cantik". "Hah-". Sontak Nabila terkejut dan mengangkat kepalanya memberanikan diri memandang Ibrahim. "Kamu cantik Nabila. Apa sudah jelas perkataan ku?". Nabila kembali menundukkan kepalanya karena tersipu malu ketika Ibrahim menatapnya hangat. "Sihir apa ini???. Dan perkataan macam apa barusan??. Ya Allah kenapa rasanya dah Dig dug ser gini sih". Gumam Nabila dalam hati. "Huhftt, panas ya. Rumah sakit sebagus ini kok gak ada fasilitas AC nya yah". Pungkas Nabila mengalihkan ucapan Ibrahim seraya mengibas-ngibaskan tangannya menyerupai kipas. Ibrahim tersenyum lebar mendengar ucapan Nabila. "Padahal aku hampir menggigil Nabila, karena ruangan ini nampaknya terasa lebih dingin dari ruangan yang lain". "Hah- masa sih. Kok aku ngerasa panas gini ya". "Mmh, mungkin karena luka-luka ini, jadi suhu tubuhku belum normal sepenuhnya". "Ah- iya ustadz benar! Itu sebabnya ustadz kedinginan yah?!. Syukurlah, ada untungnya juga rumah sakit ini tidak pakai AC. Kalau ber-Ac kasihan ustadz pasti sudah membeku. Hehe". Pungkas Nabila menyisipkan tawa kaku. Tak lama seseorang datang dari luar. "Nisa!!!". Bersambung...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
ziral28lenaa
sangat bagus
14/03/2025
1
rinjaniii
ini termasuk kategori crita yg update nya lama bgt lohh, jujur udh lebih dari 6bulan yg lalu gue trakhir baca krna stelah nya gue apus instalan apl nya dan skrng baru gue instal lagi, belom tamat juga ini crita 😌 seruu siii tapi kalo selamban itu jujur sii gimana gtu yak, bukan nya gmn² tapi tolonglah mengerti para readers mu yg setia menanti dirimu untuk up bab barunya. gue kira stelah lebih dari 6bulan yg lalu gue apus skrng udh kelar ini crita ehh taunya belom dong😔
sangat bagus
14/03/2025
1ini termasuk kategori crita yg update nya lama bgt lohh, jujur udh lebih dari 6bulan yg lalu gue trakhir baca krna stelah nya gue apus instalan apl nya dan skrng baru gue instal lagi, belom tamat juga ini crita 😌 seruu siii tapi kalo selamban itu jujur sii gimana gtu yak, bukan nya gmn² tapi tolonglah mengerti para readers mu yg setia menanti dirimu untuk up bab barunya. gue kira stelah lebih dari 6bulan yg lalu gue apus skrng udh kelar ini crita ehh taunya belom dong😔
23/12/2022
0wuhhh makin seru deh
14/11/2022
0Lihat Semua