Sebelumnya... "Pakaian Nabila sudah. Perlengkapan sholat sudah. Pakaian Yusuf juga sudah. Oh iya buku, Yusuf memintaku untuk membawakan buku manhaj salaf" "Dimana ya. Manhaj sa-laf". Ucapnya sambil mencari sosok buku di rak buku Ibrahim. "Ah- ini dia!". "Semua sudah lengkap, sekarang aku tinggal pesan taksi online". "Eh!! apa sebaiknya aku kirim aja ya. Dengan begini mereka jadi bisa leluasa untuk berduaan. Ah betul itu, dari pada nanti aku kesana malah menganggu hihihii.". Tujuh menit kemudian... "Permisi, saya dari O-sand Bu. Benar ini kediaman ibu Hamidah?" "Oh, iya benar. Abang yang antar-antar barang ya?". "Iya Bu betul" "Ini barangnya ya bang antar ke rumah sakit ini..." "Baik ibu. Kira-kira barang ini isi nya apa ya? Khawatir jika ada barang yang mudah pecah". "Oh- iya benar, untung bertanya ya. Tidak ada barang yang mudah pecah. Tapi ada barang yang sangat istimewa, tolong agar dibawa dengan baik dan benar". "Boleh saya tahu barang istimewa apa ya Bu? Soalnya kami tidak menerima pengiriman berupa emas, uang, surat berharga seperti sertifikat, buku bank, perhiasan, dan segala jenis benda berharga lainnya". "Al-Qur'an, boleh?". "Oh-". Kikuk sang kurir sambil senyum-senyum. "Merupakan benda berharga bukan? Jika tidak diberitahu maka saya akan dzalim karena abangnya tidak tahu dan akan meletakkannya di sembarang tempat. Betul??" "Betul sekali ibu. Trimakasih sudah memberi tahu saya sebelumnya, sehingga saya bisa membawanya dengan baik dan benar. Kalau sudah tidak ada yang di tanyakan saya pamit undur diri". "Baik, itu saja. Trimakasih ya sebelumnya". *** Lagi-lagi keduanya saling membalas tatapan. Di kesunyian ruang IGD, tak satupun nada suara bergema, melainkan hanya mata dan hati yang berbisik seirama. Terasa hembusan angin yang entah dari mana ikut menerpa keduanya, seakan menghantarkan alunan melodi nun indah dan menggetarkan jiwa. "Tok!!, Tokk!!!". Suara pintu kamar diketuk seraya membubarkan tatapan mata keduanya. "Astaghfirullah". Ujar keduanya bersamaan. Nabila segera bergegas menuju suara pintu. "Paket! Dengan kak Nabila??". "Iya betul, dengan saya sendiri". "Ini titipan dari customer kami ibu Hamidah". "Oh-iya. Saya terima ya mas. Trimakasih". "Iya kak, terimakasih kembali". "Siapa??". "Jasa pengantar, ustadz". "Sudah sampai?!. Cepat juga ya". "Iya nih. Mmh- ustadz, boleh Nabila duluan yang berganti pakaian?". "Iya boleh, silahkan". Nabila melangkah menuju kamar mandi tatkala ia ingin masuk, ia dibingungkan dengan gaun yang dipakainya. "Kamar mandinya sekecil ini, tapi gaun ini terlalu panjang dan megar. Gimana caranya aku masuk?". "Pasti nanti jadi sempit karena masuk kamar mandi. Kalo sempit gimana cara buka gaunnya?". "Nabila! Apa ada masalah??". "Nabila gak bisa ganti baju ustadz". "Loh- kenapa?". "Gaunnya sih masuk, tapi nanti susah gerak. Nabila juga udah gak tahan mau pipis". "Um-- buka disini saja, gimana?". "Iiih, ustadz mesum!!!!". Pekik Nabila seraya menutupi dadanya. "Um-- bu-bukan gitu maksudnya. K-kamu bisa buka disini, dan aku janji akan menutup mataku dengan selimut dan tanganku". Ucap Ibrahim gugup. "Kenapa gugup gini sih. Aku gak salah kan?? Lagipula aku kan suaminya, masa iya perkataan ku tadi salah??". Gumam Ibrahim dalam hati. Nabila tak membalas seketika ia berfikir seraya celingukan ke seluruh ruangan. "Apa aman ku buka baju disini?? Apa di ruangan ini tidak ada cctv nya??". Gumam Nabila dalam hati. "Ada apa Nabila?? Apa yang kamu ragukan?". "Nanti jika perawat atau dokter masuk gimana??". "Terus, kalau ruangan ini ternyata dipasang cctv gimana??". "Oh-iya juga. Aku berusaha tidak melihat, tapi malah dilihat yang lain, bahaya juga". Ucap Ibrahim lirih. "Hah!!? Apa maksud ustadz dengan lihat melihat??". Pungkas Nabila yang tak sengaja mendengar sedikit ucapan Ibrahim. "Oh, t-tidak, t-tidak ada maksud apa-apa. Kamu hanya salah dengar saja". Ujar Ibrahim ngeles. "Begini saja Nabila, aku akan selimuti kamu gimana??". Ucap Ibrahim lagi mengalihkan pembicaraan. "Caranya??". "Kamu duduklah dibawah". Ujar Ibrahim menuntun sang istri. Nabila mengikuti instruksi dari Ibrahim dan mulai duduk di bawah tak jauh dari ranjangnya. "Aku akan menghampiri mu. Ahk-". "Aaa.. sakit kan???. Udah deh gak usah Nabila biar tetap begini saja, gak usah ganti baju". Ujar Nabila beranjak dari duduknya dan menghampiri sang suami. "Eh- jangan!! kamu tadi bilang mau pipis kan?". "Ya memang, tapi kalau buat ustadz jadi sakit, lebih baik tidak usah. Nabila tahan saja". "Jangan Nabila, kamu bisa sakit!" "Tapi ustadz". "Sudah tidak apa-apa". "Mari Nabila bantu bangun". "Trimakasih Nabila". "Terus apa?". "Maukah kamu membantu ku berdiri". "Baik ustadz". "Um-- Nabila, sebelumnya maaf, apa boleh ku letakan tanganku di pundak mu?". "Hah?! Mm- i-iya boleh ustadz". Nabila merangkul Ibrahim yang tengah berusaha berdiri. Tak luput Ibrahim pun ikut menarik selimut di ranjangnya. "Ustadz yakin tidak sakit??". "Tidak terlalu sakit Nabila". "Tapi sakit kan??" Ucap Nabila bertanya lagi sambil melirik sang suami. "Sudah ku bilang, jika bersamamu maka sakit ku hilang". Ucap Ibrahim menyisipkan senyum manisnya. "Iiih ustadz! Sedang seperti ini sempat-sempatnya menggombal". Nabila berusaha mendudukkan Ibrahim di sofa yang tak jauh dari ranjang, namun tiba-tiba. "Aaa" "Gubrakkkk". Keduanya jatuh bersamaan di sofa tersebut dengan posisi yang sangat mendukung (wkwkwk. Bayangkan dengan imajinasi masing-masing). Keduanya beradu tatap, dalam jarak dekat tanpa terhalang apapun. Nabila yang berada tepat di atas Ibrahim terhipnotis akan ketampanan sang suami dan juga kekarnya tubuh ideal Ibrahim. Begitupun dengan Ibrahim yang juga terpesona akan kecantikan sang istri yang dipandang dari dekat, bak terbius hingga luka yang masih basah itu tertindih sang istri sampai tak terasa sakitnya. 🎶 (Wahdak enta nasibi, nuril a’in ya habibi Ghairak maba’syak hada... Denyut jantungku berdebar Terasa indahnya Dunia ini kita yang punya Akulah mataharimu Kaulah kekasihku Kita kan bersama selamanya) "Nabila, kamu sangat cantik. Beruntungnya aku". Nabila tak bisa berkata-kata ia hanya merunduk terdiam mendengarkan pujian dari lembutnya suara sang suami. Terlebih lagi ia sudah tak mampu menahan debaran dahsyat yang ada di hatinya. "Maaf, boleh ku kecup kening mu?". Nabila hanya mengangguk pelan masih dalam tunduk nya ia di hadapan sang suami. “Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa audzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi.” ucap Ibrahim mendoakan sang istri sebelum mencium keningnya. Ibrahim mengusap kepala sang istri dengan penuh kasih sayang dan dikecup lembut kening Nabila. 🎶 (Denyut jantungku berdebar Terasa indahnya Dunia ini kita yang punya Akulah mataharimu Kaulah kekasihku Kita kan bersama selamanya) Mendapatkan perlakuan demikian Nabila merasa terenyuh. Dan mulai berani menatap Ibrahim, rasa ingin silaturahmi dengan bibir sang suami dan jari Nabila yang mulai melekat di dada bidang Ibrahim seakan ingin membalas kecupan manis tersebut lebih dalam lagi. Namun apalah daya, ia hanya bisa menelan silvanya menahan diri sebab malu untuk melakukannya. "Tok! Tokk!! Permisi!". Suara ketukan pintu lagi-lagi menganggu momentum hangat kedua insan pengantin baru tersebut. Ibrahim dan Nabila pun segera menjauhkan diri satu sama lain. "Loh, pasiennya kok ada di sofa?? Memang sudah membaik??". "Um-- masih sakit sedikit sus". "Lantas mengapa pindah tempat?". "Begini sus, tadi saya ingin membantu istri saya melepas gaun pengantinnya makanya saya pindah ke sofa untuk mempermudahnya melepas". "Caranya??" "Seperti ini..." Ibrahim memperlihatkan tutorial melepas gaun sang istri yang belum sempat dilakukan sebelumnya. Ibrahim menyelimuti tubuh sang istri mulai dari leher hingga menutupi tubuh Nabila dengan mempertemukan masing-masing ujung selimut lalu ia memegang bagian ujung tersebut agar tak tampak celah di belakangnya. "Mengapa tidak melepasnya di kamar mandi?". "Gak bisa gerak sus, gaunnya kelebaran". Ucap Nabila. "Ohiya kamar mandinya kecil ya". "Iya sus". Balas Nabila singkat. "Yasudah sini saya bantu buka!" "Eh jangan disini sus, ada suami saya". "Loh, dia suamimu kan??" "I-iya betul" "Lalu kenapa khawatir??". Heran sang suster. "Ohhh, pengantin baru ya, jadi masih malu malu. Hm?". Ujar suster baru tersadar. Nabila dan Ibrahim terdiam hanya merunduk tersipu malu. "Baiklah tuan Ibrahim, tunggulah dulu di ranjang anda. Ikhlas kah anda hadapkan pandangan anda sejenak ke arah tembok?" "Saya ridho suster". "Baiklah, selama membelakangi kami jangan dulu berbalik ya". Ucap suster memberi perintah kepada Ibrahim. "Baik sus". *** "Sepi juga ya gak ada anak-anak di rumah. Hmmm". Ucap Hamidah seraya mengitari pandangannya ke sekeliling ruangan. Dikediaman Hasan pun terlihat Asma yang tengah duduk melamun di bangku taman. "Hmmmpt... Huhft". Asma menarik nafas panjangnya. "Asma?!". "Bunda". "Ada apa sayang, hm??". "Gak pa-pa bun". Balas Asma tersenyum lebar. "Mmh, sepi ya Bun gak ada kak Nabila". Ujar Asma lagi menambahkan. "Kamu kesepian ya gak ada yang bisa diajak berantem, hm?!". Ujar Rahma menggoda Asma seraya mencubit pipi chubby Asma. "Ih, bunda. Suka bener deh. Haha". Rahma tersenyum hingga memperlihatkan gigi putihnya. "Padahal baru aja kak Nabila pulang, eh kakak sudah pergi lagi". "Hmm.. Asma, saat kamu juga sudah temukan jodohmu nanti di rumah yang besar ini cuma di isi bunda dan Abi saja". "Kan masih ada Asma loh Bun". "Mana bisa sayang". Balas Rahma sambil mencubit hidung mungil Asma. "Maksudnya nanti Asma gak boleh tinggal disini, gitu?". "Pintu rumah bunda selalu terbuka lebar untuk Asma dan Nabila". "Lalu, kenapa tadi bunda bilang gak bisa?". "Begini sayang, ketika anak perempuan menikah maka ia bukanlah lagi milik kedua orangtuanya, melainkan ia milik suaminya, jadi jika sang suami menginginkan istrinya untuk mengikutinya maka istri tidak boleh menolak dimana pun sang suami ingin tinggal". "Oh gampang lah, Asma akan paksa suami Asma nanti untuk tetap tinggal bersama bunda dan Abi". "Itu juga tidak bisa sayang". "Iiih kok tetap gak bisa sih. Oh Bunda tenang aja nanti Asma aka cari laki-laki yang sayang sama Asma juga sayang sama orang tua Asma supaya dia mau tinggal sama kita, oke". "Mmhh- sayang, tadi kan kalau wanita yang sudah menikah akan menjadi tanggungjawab suaminya bukan lagi tanggungjawab orangtuanya. Maka berbeda dengan laki-laki, kalau laki-laki menikah statusnya masih milik ibunya. Artinya laki-laki ini punya dua tanggungjawab atas istrinya juga ibunya". "Loh gak adil dong Bun kalau gitu". Rahma membalas senyum lebar mendengar jawaban lugu dari Asma. "Asma, jika suami mu nanti ingin kamu tinggal di rumah ibunya maka kamu gak bisa memaksa ataupun menolak suamimu untuk tinggal dengan keluargamu, hm". "Harus bisa bunda, kenapa laki-laki bisa, wanita tidak bisa??" "Karena surgamu terletak pada ridho nya seorang suami. Sedang surga suamimu terletak pada telapak kaki ibunya. Sudah paham?!". "Hm, Abi". Ujar Asma terkejut kala ada suara berat seorang laki-laki di belakangnya. "Bi...". Tutur Rahma. "Rumah sepi kirain udah pada tidur. Gak taunya di taman". "Lagi ngomongin apa sih?". "Ish, sudah menjawab tapi bertanya lagi ngomongin apa" "Ini loh bi, Asma jika nikah nanti mau ikut kita aja katanya". "Oohhh tidak bisa". "Oohhh harus bisa, wleee" Balas Asma bernada mengejek. "Mmmh- dasarrr anak ini. Pantas saja kakaknya sering sekali mencubit pipimu karena memang gemesin banget ya". "Aduh, aduh Abi sakit tauuu". Pekik Asma mengadu kepada Hasan. "Haha". Kekeh Rahma melihat keduanya. ~ "Yap, sudah selesai". "Huffttt, leganya. Makasih ya suster". "Baik, sama-sama". "Um-- tuan Ibrahim. Kami sudah selesai, silahkan anda sudah bisa berbalik". Ibrahim berbalik dan langsung menatap Nabila. "Sudah lebih baik?". Tanya Ibrahim "Hm". Balas Nabila singkat seraya mengangguk pelan. "Syukurlah". Ucap Ibrahim melempar senyum tipisnya kepada Nabila. "Tuan Ibrahim, tadi dokter menyampaikan jika esok sudah membaik, tuan sudah bisa pulang". "Alhamdulillah. Pulang sekarang juga gak pa-pa sus, karena sepertinya saya jauh lebih baik dari sebelumnya". "Loh tidak sekarang juga tuan, tuan Ibrahim harus menerima penanganan insentif lainnya secara bertahap sesuai dengan resep dari dokter". "Oh- gitu ya sus". "Betul tuan, kita perlu tau apakah ada cidera dalam atau tidak, karena kita masih harus menunggu hasil nya terlebih dahulu. Jadi untuk honeymoon nya mohon bersabar yah, sedikit agak di tunda". Celoteh sang suster menyisipkan candaan kepada sepasang pengantin baru tersebut. "Um-- b-baik sus, terimakasih". Balas Ibrahim kikuk. "Kalau begitu silahkan dilanjutkan aktivitasnya, saya pamit dulu yah. Kalau ada apa-apa perawat kami stand by 2x24 jam non-stop. Ok! Permisi". "Baik suster, sekali lagi terimakasih". Balas Nabila senyum-senyum dan melirik sang suami yang juga ikut tersenyum. Bersambung..
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
ziral28lenaa
sangat bagus
14/03/2025
1
rinjaniii
ini termasuk kategori crita yg update nya lama bgt lohh, jujur udh lebih dari 6bulan yg lalu gue trakhir baca krna stelah nya gue apus instalan apl nya dan skrng baru gue instal lagi, belom tamat juga ini crita 😌 seruu siii tapi kalo selamban itu jujur sii gimana gtu yak, bukan nya gmn² tapi tolonglah mengerti para readers mu yg setia menanti dirimu untuk up bab barunya. gue kira stelah lebih dari 6bulan yg lalu gue apus skrng udh kelar ini crita ehh taunya belom dong😔
sangat bagus
14/03/2025
1ini termasuk kategori crita yg update nya lama bgt lohh, jujur udh lebih dari 6bulan yg lalu gue trakhir baca krna stelah nya gue apus instalan apl nya dan skrng baru gue instal lagi, belom tamat juga ini crita 😌 seruu siii tapi kalo selamban itu jujur sii gimana gtu yak, bukan nya gmn² tapi tolonglah mengerti para readers mu yg setia menanti dirimu untuk up bab barunya. gue kira stelah lebih dari 6bulan yg lalu gue apus skrng udh kelar ini crita ehh taunya belom dong😔
23/12/2022
0wuhhh makin seru deh
14/11/2022
0Lihat Semua