Altair melihat asap naga menatap ke arah mereka, tanpa henti dia mengeluarkan monster-monster untuk menyerang. Rakyat Rhodes masih banyak yang belum menyelamatkan diri. Semua orang menyerang para monster dengan kemampuan yang sangat hebat, begitu juga para rekan sebayanya mereka juga menggunakan senjata dan kemampuan mereka mengendalikan Mana sangat lihai. Nicon tidak menggunakan senjata hanya mengendalikan kedua tangannya untuk mengeluarkan bola api dan berdiri di atas naga kesayangannya. Naga itu sebesar gajah sehingga masih lebih kecil daripada naga di depan mereka namun, kemampuannya tidak kalah hebat untuk menyerang dengan menghembuskan semburan api. Saintess berusaha mengikat asap naga dengan menggunakan tali panjang berupa cambuk yang dialiri Mana hendak menangkap leher naga. Sering kali gagal karena Saintess tidak luput dari serbuan para monster. Adir ingin membuka jalan bagi tali milik ayahnya untuk bisa melesat ke arah asap naga di sana, dia menyerang para monster yang menghalangi dan akan menyerang ayahnya dengan tangan kosong. Adir menembus mulut ular raksasa yang sedang membuka mulutnya dengan sangat lebar. Tangan yang dialiri oleh Mana berbentuk seperti pedang panjang, Adir berlari dengan cepat hingga tembus ke bagian ekor monster tersebut. Zhi berusaha membantu Adir untuk menyerang mereka dengan tombak berMana. Gerakan lincah dan luwes Zhi seakan sedang menari dengan tombak, tidak terlihat seperti menyerang mereka. Dengan satu ayunan ujung tombak yang kuat mampu membelah seekor kadal raksasa.
Altair dan Duke Leon juga menyerang para monster dengan lingkaran sihir, dengan salah satu tangan mereka muncul sebuah lingkaran sihir yang dikelilingi mantra-mantra. Ukuran lingkaran yang berbeda itu berputar pelan berlawanan dan mantra sihir mengeluarkan adalah bola api berwarna biru muda milik Duke Leon, sedangkan Altair mengeluarkan bola api berwarna merah darah di tangannya. Duke Leon melihat ke arah putranya yang bisa menggunakan bola api yang Altair gunakan saat ini. “Bagaimana bisa dia mempelajari sihir itu?” tanya Duke Leon dalam hati. Altair sibuk menembakkan bola api ke arah mereka dan melihat Adrion sedikit kewalahan menghadapi beberapa monster kecil yang mulai mengerumuninya. Altair mengarahkan lingkaran sihir ke arah monster-monster didekat Adrion dan menembakkan bola-bola api ke mereka seperti sebuah peluru yang maju melesat dengan bola api tepat mengenai sasaran ke tubuh. Adrion terkejut dengan serangan bola api yang melintas di sebelah pelipisnya sehingga mata Adrion terbelalak melihat Altair sedang membantunya hanya saja hampir mengenainya. Altair menembakkan bola api dari arah yang cukup jauh dengan napas terengah-engah dan Adrion yang dikelilingi oleh para monster dia hanya tersenyum melihatnya dari jauh. Tidak cukup dengan satu tangan Altair mengeluarkan tangannya yang lain untuk mengeluarkan lingkaran sihir, bola sihir yang ditembakkan sama dengan warna milik ayahnya. Altair melihat Saintess sedang mengincar leher naga berusaha juga untuk membantu. “Saintess apa kau punya rencana?” tanya Duke Leon yang sedang sibuk mengurus bagian belakang naga. Sumber para monster keluar dari balik tubuh naga, terlihat seperti kabut kosong namun, terdapat sebuah putaran arus hitam seperti portal. Duke Leon beberapa kali menembakkan bola api untuk menghentikan naga asap namun, sia-sia hanya bisa membunuh beberapa monster yang keluar dari tubuh naga. Bola api itu akan menembus ke bagian lain sehingga tidak menimbulkan efek apapun kepada naga paling tidak bisa meminimalisir monster-monster yang keluar dengan sangat banyak. “Aku ingin mengikat lehernya, leluhurku mengikat leher makhluk magis jika ingin mereka bisa dikendalikan.” jawab Saintess dengan jelas. Dari bawah orang-orang melihat pertarungan di atas dengan penuh harap para monster itu bisa segera dibunuh. Cahaya-cahaya yang berwarna warni menerangi langit yang gelap seperti gemuruh. Para Pengendali Mana dan juga keturunan mereka sedang berdiri melayang dengan lingkaran sihir menyerang balik para monster, mereka mengerahkan kemampuan untuk melindungi rakyat Rhodes. Para penyihir dari bimbingan Duke Leon juga sedang membantu warga yang terluka, ada juga yang berusaha membuat lapisan pelindung lain sehingga akan terlihat lebih tebal. Para pendeta sibuk berdoa memohon keselamatan untuk rakyat Rhodes dan warga yang ketakutan memeluk orang-orang yang mereka sayangi saling menguatkan agar semuanya baik-baik saja. Raja Benedict memberi perintah untuk mempercepat evakuasi agar Duke Leon segera mengunci tempat persembunyian mereka. “Kalian semua dengar? Apa yang diincar oleh Saintess,” ucap Duke Stuart berbicara. “Alihkan para monster agar semua menjauh dari naga sehingga ruang gerak Saintess bisa lebih leluasa.” perintah Duke Stuart. Semua Pengendali Mana mengalihkan pergerakan monster-monster dan memancing mereka agar menjauh dari naga dan mereka juga berpencar ke arah mata angin. “Anak-anak lindungi Saintess agar tali cambuknya bisa mengarah ke arah leher naga!” teriak Duke Stuart dengan suara lantang. Keturunan mereka berlari mendekati Saintess untuk melindunginya dari segala sisi. Altair memperbesar skala lingkaran sihir di kedua tangannya. Sehingga setiap satu lingkaran sihir bisa mengeluarkan tiga bola api dengan sekali tembak. Duke Leon khawatir dengan apa yang dilakukan anaknya sudah melewati batas namun, di raut wajah Altair tidak sedikit pun terlihat seperti orang yang patut di kasihani. Altair yang memimpin barisan di depan untuk melindungi Zhi yang sedang lari menyerang, sedangkan Nicon dan Adrion melindungi Saintess dari sisi kiri serta kanan. Adir melindungi ayahnya di bagian belakang. Altair sempat melihat ke arah Duke Elrica yang sibuk melawan para monster, terkadang lemparan batu Mana miliknya meleset mengenai monster yang dia serang lalu menghindar dan batu itu mengenai asap naga membuat celah yang tidak kembali. Tidak seperti yang dilakukan Duke Leon ayahnya ketika menyerang asap naga yang dia akan kembali menyatu. Altair yang teringat ketika Kakek pendahulu mereka menyerang naga berkepala tiga kelemahannya adalah Mana yang dikeluarkan dan lalu terperangkap pada batu keras Mana. Mungkin jika hanya serangan Mana tidak akan berdampak, bisa jadi karena lawan mereka sekarang tidak memiliki tubuh penampung yang bisa menahannya. Sehingga ketika dia berwujud asap naga tidak bisa diserang. Altair berlari mendekati Duke Elrica, meninggalkan pertahanan melindungi Saintess semua rekannya menoleh ke arahnya sehingga mereka kehilangan konsentrasi saat Altair menghilang dari hadapan mereka, serang serbuan membabi buta. Altair menarik tangan Duke Elrica untuk ikut bersamanya namun, Duke Elrica yang tidak paham dengan rencana Altair menolak untuk ikut dengannya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Duke Elrica yang sedang memarahinya. “Kita harus menebus nya, tidak ada waktu lagi menjelaskan.” jawab Altair yang masih menembakkan bola api ke bagian terdekat Zhi. Melihat Duke Elrica tidak paham akan maksudnya akhirnya Altair berteriak. “Lihat!” ujar Altair sambil mengarahkan salah satu tangannya ke arah batu keras Mana yang mengenai bagian sisi asap. Duke Elrica melihat dengan jelas celah yang menembus asap tidak kembali menutup Duke Elrica paham maksud dari Altair dan segera berlari mendekati Saintess. Saat mereka berdua mendekati Saintess, sisi tempat Duke Elrica menjadi kosong sehingga membuat salah seekor monster besar berbentuk ular menggigit pelindung sihir. Pelindung itu mulai retak dan akan pecah semua orang melihat apa yang dilakukan monster itu. Duke Owen segera menembaki ular besar itu dari jauh asap keluar menguap dari moncong senjata yang digunakan. Retakan pelindung sihir cukup besar sehingga monster lain berusaha mendekati sisa retakan, tangan Duke Leon terasa panas karena sihir pelindung mulai retak. Orang-orang yang akan dievakuasi tinggal sedikit lagi. “Leon bertahanlah!” teriak Duke Stuart dari jauh melihat kondisi Duke Leon yang gemetar. Adir berlari mendekati posisi kosong Duke Elrica yang sedang bersama dengan Altair. Mereka memposisikan sejajar dengan Saintess dan Altair mengarahkan Duke Elrica kepada Saintess. Saintess juga kebingungan dengan rencana Altair beruntung Duke Elrica membantu mengarahkan besar batu keras Mana ke arah kepala naga di sana dan asap itu tidak menutup. Naga mengaum dengan kuat seperti kesakitan namun, yang dikeluarkan hanya hembusan angin yang sangat keras tanpa suara. Semua orang berada di depan mereka berusaha berdiri tegak agar tidak terdorong ke belakang. Pelindung sihir pecah membentuk sebuah lubang, rakyat Rhodes panik berebut untuk menyelamatkan diri Adir menebas monster-monster yang akan masuk ke dalam lubang yang berada di bawah kakinya. Para penyihir yang kebetulan sudah membuat segel di sisi lain berusaha memperbaiki segel milik Duke Leon, meskipun mereka menggunakan sihir yang sangat jauh berbeda dengan milik Duke Leon namun, paling tidak bisa menutupi dari masuknya para monster buas. Adir kesulitan untuk melindungi lubang tersebut meskipun, Adir mahir dalam mengendalikan Mana Spirit dari jarak sedemikian jauh namun, karena masih belum menjadi penyegel Mana kekuatan yang dia miliki terbatas. Ada seekor monster kecil berhasil lolos masuk ke dalam lubang di bawah kakinya tanpa diketahui oleh Adir, dengan cepat dia merambat masuk dan menyerang menara sihir milik Onder de di mana saat ini digunakan untuk tempat evakuasi. Monster itu terjun dengan cepat melesat lalu menyerang salah satu warga yang masih menyelamatkan diri, semua orang berlari berhamburan untuk menghindari serangan monster itu beruntung dia terjatuh sehingga lolos untuk dimakan. Merasa gagal menyerang orang-orang di sana monster itu berbalik berusaha menyerang kembali segerombolan orang-orang yang berlari tanpa arah untuk menyelamatkan diri. Monster menyerang ke arah seorang pelayan Duke Leon yang di mana dia ikut membantu evakuasi dan menunjukkan jalan menuju menara, kepalanya digigit hingga terlepas begitu saja dari badannya, monster itu sangat menikmati makanannya. Semua orang berteriak dan langsung berlari menuju menara sihir kesempatan mereka menyelamatkan diri. Akhirnya mereka sadar bahwa nyawa mereka sekarang sudah sangat terancam. Setelah menyadarinya mereka mulai masuk berdesakan ke tempat aman, para penyihir mengunci menara sihir tempat berlindung kediaman semua Pengendali Mana. Bangunan itu bergerak ke dalam tanah, getaran yang dikeluarkan mirip seperti gempa bumi. Wajah-wajah mereka mengarah ke arah pembantaian itu dari jauh mayat yang hanya tersisa badan dan lumuran darah dilihat oleh mata kepala mereka sendiri. Dari jauh di atas langit, Nicon melompat turun dengan cepat dari punggung naga. Memusatkan bola api untuk membentuk ukuran yang sangat besar dengan menyatukan kedua tangan tegak lurus, lalu sebuah tembakan besar seperti laser melesat menembus kepala monster itu hingga mati.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (173)
15Heranim
Suka banget sama ceritanya. Bikin emosiku gak karuan..Semangat! Mari mampir juga ke ceritaku ^^
16/01/2022
4
Ssraah
saya sangat menyukai cerita ini, mempunyai jalan cerita yang menarik dan tata bahasa yang rapi dan mudah dimengerti.
Suka banget sama ceritanya. Bikin emosiku gak karuan..Semangat! Mari mampir juga ke ceritaku ^^
16/01/2022
4saya sangat menyukai cerita ini, mempunyai jalan cerita yang menarik dan tata bahasa yang rapi dan mudah dimengerti.
21/12/2021
0sangat bagus dan menarik
27/11
0Lihat Semua