Chapter 25

Semua tempat terkunci dengan lapisan sihir, di mana sihir sebagai penunjang orang-orang yang berada di dalam agar bisa bernapas, minum serta makan namun, karena rasa khawatir, mereka tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal seperti itu.
Altair marah dan geram melihat seekor monster lolos masuk menembus lubang pelindung, giginya bergemeretak tidak ada waktu lagi baginya untuk basa basi mereka harus cepat melumpuhkan naga yang menjadi penyebab utama bencana terjadi.
Duke Stuart berada di dekat Duke Leon mendekat untuk memberikan penyemangat agar dia tetap tersadar. Jika Duke Leon kehilangan kesadarannya maka Mana pelindung serta sebagai sumber kekuatan akan menghilang dan mereka dalam bahaya.
Pelindung tameng sihir Duke Stuart diberikan agar bisa sedikit membantunya beristirahat dari serangan monster. Nicon yang berada di bawah lapisan pelindung menembaki monster-monster yang ingin merambat masuk.
“Bisa kah engkau membuat cambuk untuk Saintess?” tanya Altair dengan memandang kepada Duke Elrica dengan penuh harap.
Duke Elrica hanya mengangguk setuju Altair berusaha memperluas ruang gerak mereka berdua agar para monster tidak masuk untuk mengganggu sembari mendekati ayahnya. Altair berusaha dengan keras menangkis seekor kalajengking yang hampir saja menancapkan sengatan ke kepalanya.
Sengatan itu mengeluarkan tetesan racun yang hampir saja membahayakan nyawanya, beruntung dengan cepat Altair menebas bagian ekor kalajengking yang beracun dan mengalir di pangkal ekor membuat Altair meringis.
“Ayah kau tidak apa-apa?” tanya Altair yang saat itu tiba mendekati ayahnya yang hampir terduduk lesu. Salah satu tangannya berusaha memapah badan Duke Leon dan yang lain tetap menembakkan api ke arah monster.
“Bertahanlah ayah ... lihat!” ucap Altair sambil menunjukkan jarinya ke arah pelindung sihir yang hampir memudar.

Duke Leon mendongakkan kepala yang terasa pusing melihat ke arah yang ditunjuk Altair dan mengalihkan pandangannya ke arah Altair.

“Kau sangat mirip dengan ibumu.” ucap Duke Leon dalam hati.

“Bagaimana kau bisa menguasai sihir penembak? Dan lagi kau menggunakan kedua tanganmu,” tanya Duke Leon dengan senyum.

“Entahlah ayah seperti ada yang menuntunku untuk melakukan hal ini,” jawab Altair sambil memegangi ayahnya.

Duke Leon melihat Altair dan tersenyum, Altair melihat senyum ayahnya yang masih terlihat penat dia berusaha memapah ayahnya untuk berdiri, beberapa kali ayahnya terjatuh.

Melihat pelindung sihir mulai berkedip Altair memutuskan jalan pintas setelah membiarkan ayahnya terduduk sendiri dan menciptakan pelindung sihir untuk melindungi mereka.

Altair berada di depan untuk melindungi ayahnya di belakang dengan mengendalikan tameng milik Duke Stuart untuk berputar cepat menghalau monster yang akan masuk menyerang mereka mengambil pisau di belakang baju miliknya yang dia gunakan untuk memanggil Pino.

Menggoreskan tangan di tempat yang sama lalu mengucapkan mantra lingkaran sihir muncul di bawah kaki Altair, mereka berputar pelan. Lingkaran yang bersusun lima saling berputar berlawan arah lalu muncul juga pelindung tembok melindungi mereka berdua di dalam.

Angin keluar dari lingkaran sihir di bawah kaki rambut dan pakaiannya berkibar Duke Leon menahan rasa lemah serta gemetar Altair membalikkan badan meletakkan kedua tangan di hadapan ayahnya. Sebuah lingkaran sihir yang lain muncul di tangan Altair dan lingkaran sihir mengeluarkan partikel kecil berwarna biru terbang mendekati Duke Leon.

Perlahan masuk terserap ke dalam tubuh Duke Leon Altair mengingat partikel yang kecil itu membuatnya tersenyum warnanya sama dengan Pino yang berwarna biru muda.

Meskipun agak menyebalkan namun, Altair merasa Pino banyak membantu dirinya untuk bertemu dengan Saintess.

“Sekarang kau berada di mana Wahai Peliharaan Dewa Yang Agung,” ujar Altair dalam hati.

Setelah mengeluarkan energi yang cukup banyak untuk disalurkan kepada ayahnya dengan cepat Duke Leon berdiri sihir pelindung mulai terlihat melapisi dan kembali terbentuk.

Nicon yang melihat sihir pelindung mulai membaik dan kembali terbang menembus pada bagian yang berlubang tadi dia melewati lapisan yang mengkilap serta bergelombang oleh Mana membuat pelindung menjadi kuat.

Altair melihat perubahan pada ayahnya serta lapisan pelindung yang mulai membaik memutuskan untuk menghentikan penyembuhan sihir kepada ayahnya menarik tangan kembali dan seketika lingkaran juga pelindung segi empat juga menghilang.

“Ada banyak hal yang harus kau jelaskan kepadaku nanti.” ujar Duke Leon sambil melihat ke arah Altair dan menepuk pundaknya.

Altair tahu bahwa ayahnya merasakan bahwa dia menyembunyikan sesuatu.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Duke Leon yang mulai berjalan mendekati lubang milik naga.

“Ketika Duke Elrica selesai dengan Saintess mereka akan mengikat leher naga itu,” ujar Altair.

“Lalu ayah akan menutup lubang di mana para monster muncul nanti dan yang lain akan menebas tubuh naga itu.” ucap Altair dengan wajah serius.

“Kalian dengar apa yang dikatakan oleh anakku?” tanya Duke Leon kepada yang lain.

“Dari mana dia begitu yakin jika rencana seperti itu berhasil?” tanya Duke Stuart dalam hatinya sembari melihat ke arah Altair yang begitu percaya diri.

Tatapan mata yang penuh dengan kepercayaan yang tinggi membuat semua orang yang berada di sana merasa takjubAltair berdiri dengan yakin pergi mengarah ke lain untuk membantu membasmi para monster.

Tali cambuk sangat bersinar karena terbuat dari batu keras membuat Saintess merasa bahwa serangan kali ini akan berhasil. Duke Elrica yang sudah melakukan tugasnya berlari menyerang naga sekeras mungkin.

Benar, bahwa tubuh yang terkena batu keras tidak kembali menyatu dengan begitu keyakinan penuh Saintess berlari mendekati naga tersebut berusaha untuk mengincar leher naga agar bisa mengendalikannya.

Beberapa kali serangan cambuk Saintess berhasil dihindari oleh naga itu, Duke Elrica yang melihat usaha Saintess tidak membuahkan hasil mencoba menyerang juga bagian mata naga.

Berharap serangannya bisa membantu Saintess dengan menggunakan kedua tangannya, setiap jari-jarinya mengeluarkan batu keras seukuran pecahan kaca berlapis Mana. Kini Duke Elrica tidak segan-segan menyalurkan Mana miliknya di masing-masing batu.

Mana tersebut seperti api biru yang terkena angin. Duke Elrica melompat mendekati naga dengan menginjak ke bagian tubuh para monster, setiap kali kakinya menginjak mereka telapak kaki Duke Elrica merasa seperti ditusuk jarum kecil.

Duke Leon yang merasa pelindung sihir untuk melindungi para Pengendali Mana mulai mengendur akhirnya ditingkatkan kembali menjadi dua kali lebih kuat. Ketika Duke Elrica sudah tidak merasakan rasa sakit dengan cepat dia berlari mendekati naga dan menggerakkan salah satu tangannya untuk mengarahkan ke sisi mata naga tersebut.

Naga itu berteriak kesakitan namun, tidak mengeluarkan suara auman yang keras hanya angin kencang Saintess melihat kesempatan itu berusaha untuk mengincar kembali leher naga dan berhasil. Kini naga itu sudah bisa dikendalikan dengan kekuatan kudus Saintess mencoba untuk mengendalikan naga cambuk yang berada di tangannya dialiri sebuah cahaya berwarna emas.

Cahaya itu adalah karunia kekudusan sehingga sangat berbeda dengan Mana naga berhasil dijinakkan saat itu pula Saintess berbicara dengan naga untuk menghentikan portal keluarnya monster-monster.

Setelah portal yang berada di balik punggungnya tertutup Duke Leon melihat bahwa ini adalah kesempatan dia untuk mengunci portal tersebut terdengar suara rantai yang bergerak melilit tubuh naga mengikat tangan serta kaki lalu mengunci portal.

Monster-monster berhenti bermunculan.

Duke Stuart dan Duke Owen yang melihat aba-aba dari Duke Leon akhirnya mengarahkan kekuatan mereka dengan sekuat tenaga Duke Owen dengan senjata api yang digunakan untuk menembaki para monster sekarang dia berusaha mengarahkan kepala naga yang berada jauh darinya.

Cahaya Mana masuk ke moncong senapan hingga penuh setelah memenuhi senapan pelatuk ditarik peluru mengarah melesat ke sasaran sangat cepat seperti sebuah roket peluru Mana bersarang di kepala naga.

Naga mulai bergeliat dengan beringas Saintess berusaha menahan gerakan naga yang mulai memuncak Duke Stuart tidak ketinggalan mengayunkan pedang ksatria miliknya untuk menebas badan naga menjadi dua dan peluru mulai membesar dan meledak.

Naga itu hancur dan hanya tersisa asap yang tidak berarti. Duke Leon dengan cepat menyegel lalu meletakkannya di dalam peti penyegel untuk diteliti dan dipelajari. Apa penyebab naga asing itu muncul?




Komentar Buku (173)

  • avatar
    15Heranim

    Suka banget sama ceritanya. Bikin emosiku gak karuan..Semangat! Mari mampir juga ke ceritaku ^^

    16/01/2022

      4
  • avatar
    Ssraah

    saya sangat menyukai cerita ini, mempunyai jalan cerita yang menarik dan tata bahasa yang rapi dan mudah dimengerti.

    21/12/2021

      0
  • avatar
    MekaPetrus Benediktus

    sangat bagus dan menarik

    27/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru