Zahra memaksakan tetap berusaha untuk tersenyum, meskipun itu sulit. "Angkat saja, Mas! aku tak apa-apa," ucap Zahra dengan nada suara yang lemah. Sejenak Guntur memandang wajah Zahra, mencari ketulusan dikedua bola matanya. "Benar aku tak apa-apa, Mas. Cepat sana angkat!" imbuh Zahra dengan senyuman yang samar. "Benar kamu tak apa-apa?" Guntur sedikit ragu dengan perkataan Zahra. "Iya, Mas." Zahra menganggukkan pelan kepalanya. Untuk yang kesekian kalinya dia berusaha untuk tersenyum. Guntur mencium kening Zahra, lalu beranjak dan melangkah meninggalkannya seorang diri di dalam kamar. Sepeninggal Guntur, Zahra langsung meraih bantal dan membenamkan wajahnya. Sungguh dia tak kuasa menahan rasa sesak di dadanya. Sesulitkah ini untuk ikhlas? Perlahan air matanya keluar menerobos memaksa untuk keluar, membasahi wajahnya. Rasa sakit di tubuhnya tak seberapa rasa sakit di hatinya. Ya, meskipun Guntur sudah memperlakukan dirinya dengan baik. Namun tetap saja, jika harus berbagi cinta sang suami rasanya sulit. Bagaikan ada sesuatu yang mengikat dirinya untuk berikrar ikhlas. Perih, cemburu, kesal itulah perasaannya yang bersarang di hati Zahra saat ini. Seharusnya ini adalah masa-masa bahagianya dengan Guntur. Mengecap dalam memadu kasih dan sayang dalam suasana pengantin baru. Namun itu sirna dalam pernikahan Zahra, karena ada orang ketiga yang telah hadir dalam pernikahannya. Semakin lama tangis Zahra pecah, sesenggukkan berderai air mata. Rasa sepi menjalar di dalam hatinya. Tanpa Zahra sadari ternyata suara tangisnya lambat-lambat sampai terdengar keluar kamar. Hingga mengundang perhatian orang lain, untuk mengetahuinya. Terdengar suara ketukan pintu dari luar dan diikuti dengan suara panggilan lembut yang menyertainya. "Zahra, Nak, kamu tak apa-apa?" Terdengar suara perempuan memanggil Zahra. Yang tak lain adalah Siska, secara tak sengaja berjalan melewati kamar Zahra dan mendengar tangisan seorang perempuan. Suara panggilan itu membangunkan Zahra dari tangisannya. Sekarang dia tersadar jika suara tangisannya mungkin agak sedikit keras. Lalu dia mengangkat wajahnya dan cepat menyeka air matanya yang masih menempel di pipinya. "Iya, Bu," sahut Zahra di dalam kamar, sambil membenahi wajah dan pakaiannya yang sedikit berantakan. Berusaha berusaha setenang mungkin, berpura-pura jika semuanya baik-baik saja. Ceklek, suara pintu terbuka. Terlihat Siska, sang ibu mertua sudah berdiri di ambang pintu, lalu masuk melangkah menghampiri Zahra yang sedang duduk di atas tempat tidur. Siska mengedarkan pandangannya ke ruangan kamar, seperti mencari seseorang. "Nak, kamu baik-baik saja?" Selidik Siska sambil mengamati wajah Zahra. Lalu dia memilih duduk di samping Zahra. "Zahra tak apa-apa, Bu," jawab Zahra yang terpaksa harus berbohong di hadapan ibu mertuanya, menutupi segala kemelut di hatinya. "Benar kamu tak apa-apa?" tanya Siska tak percaya. Bahkan guratan di keningnya, menunjukan dia sedikit tak percaya dengan jawaban menantunya. Jelas-jelas di luar kamar dia mendengar suara perempuan menangis, yang tak lain itu pasti Zahra. Untuk memastikannya Siska meraba kening Zahra, barangkali dia sakit berkelanjutan. Merasa sedikit bersalah karena dokter pribadinya tidak bisa datang memeriksa keadaan Zahra, karena ada sesuatu yang lebih penting di luar sana. "Sungguh Zahra tak apa-apa, Bu." Zahra menyakinkan kembali perkataannya dengan memasang sebuah senyuman manis di wajahnya, agar ibu mertuanya tak terus curiga kepadanya. Namun jujur sebenarnya hati Zahra perih, ketika harus berbohong menutupi kemelut hidupnya. Ingin rasanya dia menghambur memeluk ibu mertuanya. Menumpahkan segala rasa perih di hati-hatinya. Namun lagi dan lagi Zahra lemah tak mempunyai keberanian untuk mengatakan sebenarnya. Ya, mungkin dunia akan mencaci dan menertawakan atas kebodohan Zahra tersebut. "Benarkah itu? tadi ibu mendengar kamu menangis." Zahra menatap lekat wajah menantunya. Seketika raut wajah Zahra pias bagaikan mayat. Bingung entah apa yang harus dia katakan kepada ibu mertuanya. "Engg, ta-tadi mungkin Zahra mengigau, Bu," ucap Zahra gugup dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ya, Allah, Nak, kamu pasti shock karena kejadian itu, sampai ketakutanmu terbawa mimpi. Lalu Guntur dimana? ibu tak melihatnya." Siska memeluk tubuh menantunya penuh hangat. Lalu kedua matanya mencari keberadaan sosok Guntur yang sejak tadi tak dilihatnya. "Mas Guntur tadi bilang mau ke depan, katanya mau nyari angin." Zahra tertunduk lemah. Meremas ujung bajunya, menyalurkan rasa kesedihan di hatinya. Dia teringat jika Guntur pasti sedang berbincang dengan madunya. "Dasar bocah gendeng, istri sedang sakit malah ditinggal sendirian," sungut Siska geram akan kelakuan anaknya tersebut. Dia mengepalkan bulat kedua tangannya, seperti akan menghabisi Guntur saat itu juga. "Nggak apa-apa, Bu. Kasihan Mas Guntur dari tadi ngejagain Zahra terus. Mungkin Mas Guntur bosan di kamar terus." "Ya, memang tugas suami harus ngejagain istrinya. Sudah sekarang kamu istirahat lagi. Biar ibu suruh Guntur untuk segera kembali ke kamar lagi. Kalau gak diingetin, nanti dia akan kebiasaan seperti itu," ucap Siska yang siap beranjak. Tak lupa dia mencium menantu kesayangannya itu. "Iya, bu," sahut Zahra dengan senyum yang samar, karena perkataan ibu mertuanya sedikit menyentuh hatinya. Kemudian Siska berlalu meninggalkan Zahra di dalam kamar dan melangkah menuju luar. Zahra menarik nafasnya, merasa lega dan terbebas dari kepura-puraannya bersikap tegar di hadapan ibu mertuanya. Zahra melirik jam yang tertempel di dinding tembok. Sudah hampir setengah jam Guntur meninggalkannya sendirian di dalam kamar. Pikirannya mengarah jika Guntur pasti sedang berbincang mesra dengan Luna. Mungkin inikah rasanya berbagi cinta suami? hati terasa pedih dan matanya pun lelah untuk menangis. Zahra kembali merebahkan tubuhnya menarik selimut, hingga menutupi ujung dada. Menatap langit-langit kamar, membayangkan Guntur sedang berbincang dan tertawa lepas. *** Guntur menghembuskan nafas berat, mengeluarkan segala beban di hatinya. Luna merajuk agar dirinya segera cepat pulang dengan alasan takut di rumah sendirian. Dia menyandarkan kepalanya di ujung kursi sambil menatap lepas pemandangan hamparan hijau yang ada di depan matanya. Ditemani dengan semilir angin lembut dan dingin yang menerpa wajahnya. Sesekali terdengar bunyi gesekan ranting pohon, hingga memberikan irama kesunyian di tempat itu. Terlintas di benaknya kedua istrinya sedang menyandarkan kehidupan kepada dirinya. Ada dua tanggung jawab yang sedang dia pikul di pundaknya. Ya, memang ini adalah kesalahannya. Nafsu telah memperbudak hatinya. Hingga kini dia terjebak dalam dua pernikahannya. Penyesalan tak berguna untuk saat ini, hanya keadilan lahir batin yang harus dia lakukan. Yang entah kedua istrinya itu akan menerima segala keadilan yang akan dia berikan. Teringat sosok Zahra yang dulu harus menangis tersedu-sedu, manakali hatinya akan berbagi dengan Luna. Tanpa sedikitpun dulu Guntur memperdulikan perasaan Zahra, jika dia terluka. Nafsu telah membawanya dalam kubangan cinta Luna, hingga membuatnya terlena akan kecantikan dan sikap manis seorang Luna. Sekarang dia harus menerima kenyataan, jika di usianya yang masih muda dia sudah memiliki dua istri. Bukankah di mata dunia dia seperti penjahat cinta dan nafsu? Ya, Guntur menyadarinya jika dirinya adalah penjahat nafsu. Di pernikahannya yang baru menginjak 3 bulan, dia memutuskan menikah lagi dengan Luna. Dimana hati nuraninya? dimana akal sehatnya?. "Ahhhhh." Guntur mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Kenapa dia melakukan kebodohan ini?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (195)
Ernaa RM
kisah cinta yang romantis walaupun ada duri di dalamnya
kisah cinta yang romantis walaupun ada duri di dalamnya
10/05/2022
0bagus banget
12/07
0Bagus
13/06
0Lihat Semua