Setelah percakapan itu ada pada titik temunya. Guntur bergegas mempersiapkan dirinya untuk kembali pulang ke Jakarta. Dia mengambil baju yang tergeletak di atas tempat tidur, lalu membuka kaos yang menempel di tubuhnya dan menggantinya dengan baju tersebut. Cepat Zahra memalingkan wajahnya, tak ingin hatinya terjerat dengan pesona sosok seorang Guntur. Dia berjanji tak akan membiarkan hatinya hadir adanya cinta. "Kenapa? malu?" sudah lama masih saja malu." Guntur mengerutkan keningnya, dengan dibumbui senyum nakalnya. Namun Zahra tetap memperkuat pertahanan hatinya. Tak merespon sikap Guntur tersebut. Zahra cepat beranjak, lalu mempersiapkan dirinya, mengambil tasnya yang berisi hanya beberapa stel baju gantinya. Sedangkan Guntur cepat memakai sepatu dan mengenakan jaketnya, tak lupa memasang kacamata yang nangkring di hidung mancungnya. Ah, sangat terlihat begitu keren penampilan Guntur. Meskipun sederhana, tapi jika dikenakan pada tubuh dan wajah yang pas akan terlihat bagus. Begitupun yang ada dalam diri Guntur, selalu bagus dan keren apapun yang dia kenakan. Sekilas Zahra menengok ke arah Guntur dan itu membuat degup jantungnya tak terkontrol, berirama kencang. Sampai-sampai dia menelan salivanya, demi melihat pemandangan indah di depan matanya. Namun beberapa saat kemudian Zahra dapat menguasai dirinya. Beberapa kali dia menghembuskan nafas. "Kamu kenapa?" tanya Guntur yang pura-pura tidak tahu jika Zahra sembunyi-sembunyi memperhatikan dirinya. "Emang kenapa denganku? tak ada apa-apa," jawab Zahra ketus dan jutek seraya menyunggingkan bibirnya ke samping. "Tak usah bohong, jujur saja!" Goda Guntur sambil menyisir rambutnya. "Dasar aneh, siapa juga yang bohong?" Zahra mendelikkan matanya, lalu melangkah melewati Guntur. "Jangan begitu! kita keluar bersama-sama. Malu dilihat ayah dan ibuku, jika kita terlihat bertengkar terus." Guntur menyambar pergelangan tangan Zahra. "Lepaskan! aku bisa jalan sendiri." Zahra berusaha melepaskan pegangan erat tangan Guntur. Namun sia-sia saja, Guntur malah semakin mempererat pegangannya. "Menurutlah, kalau tidak aku tinggalkan kamu di sini," ancam Guntur dengan pelototan kedua matanya, hingga mampu membuat Zahra terdiam. Lalu Guntur menarik tangan Zahra agar berjalan melangkah bersamaan dengannya. Meskipun Zahra berat untuk melangkah, namun akhirnya terpaksa mengalah akan kemauan Guntur. Guntur dan Zahra keluar dari dalam kamar. Berjalan beriringan menuju tempat dimana Siska dan Bambang berada. Ternyata kedua orangtua Guntur sedang duduk di depan rumah sambil melihat pemandangan di saat pagi hari. Sejurus kemudian Guntur dan Zahra menghampiri dua orang yang tengah duduk santai itu. "Bu, Yah, hari ini kami akan pulang kembali ke Jakarta," ucap Guntur. Siska dan Bambang menengok ke arah Guntur. "Kenapa harus terburu-buru sih? ibu masih kangen sama kalian," sahut Siska seraya memandang ke arah tangan Guntur dan Zahra yang saling berpegangan. Terlihat guratan senyum dari wajahnya, melihat anak mantunya kembali rukun. "Iya, benar kata ibumu. Menginaplah beberapa hari lagi di sini!" timpal Bambang membenarkan perkataan istrinya. Sejenak Guntur dan Zahra saling berpandangan. Dan terlihat Guntur menghembuskan nafasnya. "Banyak pekerjaan yang harus cepat Guntur selesaikan, Yah. Lain kali kami berkunjung lagi ke sini," sahut Guntur. "Baiklah kalau itu maumu. Ingat dua minggu lagi kami akan segera ke Jakarta!" ucap Siska mengacungkan jari telunjuknya. Seperti memberi sebuah ultimatum kepada Guntur. "Iya, bu," ucap Guntur dengan wajahnya yang masam. Merasa bosan dengan perkataan ibunya itu. Sedangkan Zahra hanya senyum-senyum kecil saja, tak banyak mengeluarkan komentar. Mengikuti saja bagaimana maunya keinginan suami dan kedua mertuanya. "Dan jangan lupa kamu harus menjaga menantu ibu ini. Jangan sampai kamu membiarkannya kesepian di rumah." Siska beranjak, lalu mencium kedua pipi Zahra. "Ingat kamu tidak boleh bersikap seperti tadi lagi. Jika sampai terdengar Zahra mengadu sikapmu itu terulang lagi. Maka tak segan-segan ayah akan mengambil perusahaanmu." Kini giliran Bambang yang mengancam anak semata wayangnya itu. Seperti kompak saja Siska dan Bambang memberondong Guntur dengan berbagai ancaman. "Iya, ya, Guntur paham dan mengerti. Tenang saja menantu kesayangan kalian ini bisa dipastikan aman denganku," Guntur mendengus kesal, seraya melirik ke arah Zahra, dengan raut wajahnya yang terlihat cemberut. Dan dibalas Zahra dengan cebikkan bibirnya. "Nak, baik-baik, Ya, di sana. Jangan terlalu banyak pikiran agar kamu cepat hamil! dan jangan sungkan bilang saja pada kami, jika Guntur berulah lagi menyakitimu." Siska memeluk erat tubuh Zahra. Sepertinya dia berat membiarkan Zahra kembali lagi ke Jakarta. "Iya, Bu, jangan khawatir! Zahra pasti akan baik-baik saja bersama Mas Guntur di Jakarta," ucap Zahra yang membalas kembali pelukkan hangat mertuanya. Sungguh hati Zahra merasa hangat akan kebaikan dan perhatian kedua mertuanya. Ah, betapa beratnya Zahra berpisah dengan kedua orang yang sebaik mereka. Dan bagaimana jadinya, jika suatu saat dirinya dan Guntur berpisah? betapa terlukanya hati kedua mertuanya itu. Andai saja dulu Guntur sebaik kedua orangtuanya, tak mungkin akan ada pernikahan yang kedua dalam biduk bahtera rumah tangganya. "Iya, hati-hati, Nak, di sana. Ayah titip Zahra kepadamu," ucap Bambang kepada Guntur. Lalu memeluk Guntur dan Zahra bergantian. "Kami berangkat ya, Bu, Yah." Guntur dan Zahra berpamitan. Berjalan melangkah ke tempat mobilnya berada. Mobil pun melaju pelan. Tak lupa Guntur dan Zahra melambaikan tangannya, sebelum pintu mobilnya ditutup kembali. Dan dibalas dengan lambaian tangan pula dari dua orang yang begitu bersahaja dalam kehidupan mereka. Jujur di dalam hati, Zahra enggan meninggalkan rumah mertuanya. Di sana dia mendapat perlakuan yang khusus dan istimewa dari Siska dan Bambang. Dan sekarang dia harus kembali ke kediaman Guntur, berarti dia akan bertemu lagi dengan wanita yang ada di sebagian hati suaminya. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, melewati keramaian kota yang dipenuhi dengan bermacam kesibukan manusia. Guntur dan Zahra pun sudah sampai di depan rumah besar bergaya modern eropa. Mobil melaju memasuki halaman rumah. Guntur dan Zahra keluar dari dalam mobil. Berjalan melangkah menuju pintu utama. Zahra tampak enggan untuk melangkah. Malas akan bertatap muka kembali dengan madunya. "Ayo! kenapa berhenti?" Guntur menarik tangan Zahra, manakala melihatnya berhenti melangkah. Zahra menghembuskan nafas beratnya, mengeluarkan segala perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya. Namun baru saja Guntur dan Zahra melangkahkan kakinya kembali. Sejurus kemudian pintu terbuka. Terlihat wanita dengan pakaian serba terbuka berlari menghambur ke arah Guntur, yang tak lain adalah Luna, menyambut mesra kedatangan Guntur. "Sayang, aku kangen kamu." Luna memeluk erat tubuh Guntur dan menghujaninya dengan beribu-ribu ciuman. Tanpa sedikit pun memperdulikan perasaan Zahra, yang sudah jelas ada di samping Guntur. Zahra memalingkan wajahnya, tak ingin melihat adegan yang membuat dadanya terasa sesak. Sedangkan Guntur tampak bingung. Berada di antara dua istrinya. Entah perasaan mana yang harus dia terdahulukan?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (195)
Ernaa RM
kisah cinta yang romantis walaupun ada duri di dalamnya
kisah cinta yang romantis walaupun ada duri di dalamnya
10/05/2022
0bagus banget
12/07
0Bagus
13/06
0Lihat Semua