Bab 33

Bel pulang sekolah kini sudah berbunyi. Para murid mulai meninggalkan lingkungan sekolah.
Ayana berdiri di depan gerbang sekolah. Saat ini pukul dua siang. Matahari bertengger seolah tepat di atas kepala.
Tin..!
Suara klakson terdengar nyaring, membuat Ayana menoleh.
“Nungguin Argatha?” tanya Arken ketika berada tidak jauh dari Ayana.
“Nggak. Lagi nunggu ojek online,” jawab Ayana.
“Argatha kemana? Nggak bareng Argatha?” tanya Arken.
“Argatha harus jemput kak Echa, jadi Ayana nggak bareng,” jelas Ayana.
Arken berpikir sejenak, apakah ia harus mengantar Ayana pulang? Atau membiarkan gadis itu pulang sendiri?
“Udah dapat driver ojek onlinenya?”
“Belum, dari tadi susah banget.”
Arken menghela napas. Ia akhirnya mengambil sebuah keputusan yang menurutnya sedikit gila.
“Ayo gue antar pulang,” ajak Arken.
Ayana terdiam. Ia menatap Arken dengan lekat.
“Daripada lo di sini terus, mau sampai sore?”
Ayana tidak menjawab apapun, ia malah mengalihkan pandangannya ke arah kendaraan yang berlalu-lalang di depannya.
Arken menarik napasnya panjang. Ia mengerti apa yang ada dipikiran Ayana saat ini.
“Ay, anggap aja gue nggak pernah ngungkapin perasaan gue ke lo, dan anggap aja kejadian dia aula nggak pernah ada,” bujuk Arken.
“Ayo pulang, nih pakai.” Arken memberikan satu helmnya pada Ayana.
Dengan sedikit ragu Ayana mengambil helm tersebut dan naik ke motor Arken.
°°°°°
Sepanjang perjalanan Ayana melihat wajah Arken yang terlihat di spion. Muncul sebuah pertanyaan dalam hatinya, kenapa ia tidak bisa menyukai pria sebaik Arken?
“Arken,” ucap Ayana membuka pembicaraan.
“Iya, Ay,” sahut Arken lembut.
“Maafin Ayana ya,” lirih Ayana.
“Kenapa?”
“Ayana benar-benar merasa bersalah.”
Arken menepikan motornya, lalu menoleh ke belakang menghadap Ayana.
“Lo nggak salah Ay,” ucap Arken seraya tersenyum.
“Ini semua cuma masalah waktu aja, gue terlambat ketemu lo, gue terlambat buat ngungkapin semuanya,” tambah Arken.
Ayana melihat senyum Arken yang sangat tulus. Ia semakin merasa bersalah pada pria itu.
“Gue nggak apa-apa kok,” jelas Arken.
Tanpa disadari, air mata Ayana terjatuh membasahi pipi halusnya.
“Kalau lo emang ditakdirkan buat gue, sama siapapun lo sekarang, pasti nanti di akhir lo akan sama gue,” ucap Arken sembari menghapus air mata Ayana.
“Perlu lo tau Ay, hidup itu punya banyak kejutan. Bahkan, hidup akan ngasih hal yang nggak pernah kita bayangin sebelumnya,” tambah Arken.
Ayana berusaha mengembangkan senyumnya. “Ayana beruntung banget ketemu sama orang sebaik Arken.”
Arken tersenyum sembari mengelus rambut Ayana dengan lembut. “Udah jangan nangis lagi. Ayo kita pulang.”
Ayana mengangguk semangat.
°°°°°
Ayana dan Arken tidak langsung pulang, melainkan ke tempat pecel lele yang pernah Argatha dan Ayana datangi.
“Mas pecel lele sama es the manis dua ya,” pesan Arken.
“Baik mas,” ucap penjual pecel lele yang sesekali melirik ke arah Ayana.
Tak berselang lama, makan yang dipesan pun datang. Tanpa ragu, Ayana dan Arken langsung menyantap makanan tersebut.
“Lo pernah kesini?” tanya Arken.
“Pernah sama Argatha,” jawab Ayana.
Arken mengangguk mengerti.
Beberapa menit kemudian pun Ayana dan Arken telah selesai makan dan beranjak pergi.
“Makasih mas,” ucap Arken.
“Iya sama-sama mas,” sahut penjual pecel lele yang masih melirik Ayana.
Ayana dan Arken pun meninggalkan tempat pecel lele tersebut. Tak lama kemudian Argatha pun tiba di tempat tersebut.
“Mas, pecel lele satu dong, dibungkus ya,” pesan Argatha.
“Loh, kok mas Argatha nggak bareng sama cewek yang waktu itu kesini?” tanya si penjual.
Argatha mengerutkan keningnya, ia tak mengerti dengan ucapan si penjual.
“Maksudnya mas?” tanya Argatha.
“Kok mas Argatha datangnya nggak bareng sama cewek yang waktu itu kesini? Padahal tadi dia kesini,” jelas si penjual.
“Kesini? Sama siapa?” tanya Argatha penasaran.
“Sama cowok mas,” jawab si penjual sembari melayani pesanan Argatha.
“Oh, paling itu papanya,” ucap Argatha.
“Mas Argatha ini positif thinking banget toh, wong ceweknya datang kesini sama cowok, masih mudah, ganteng, kayaknya seumuran sama mas Argatha,” jelas si penjual.
Raut wajah Argatha berubah seketika, nafsu makannya mendadak hilang. Argatha yakin pasti Ayana kesini bersama dengan Arken.
“Nih mas pesanannya udah jadi.”
Argatha mengambil pesanan tersebut dan memberikan uang kepada penjual. “Makasih mas informasinya.”
Argatha langsung meninggalkan tempat pecel lele tersebut menggunakan motornya dengan kecepatan tinggi.
°°°°°
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar, dengan cepat Ayana membuka pintu tersebut, melihat tamu yang datang.
Kedua mata Ayana membulat saat melihat orang yang berada di hadapannya saat ini.
“Ar.. Argatha ngapain disini?” tanya Ayana terbata-bata.
“Mau numpang makan,” jawab Argatha sembari menunjukkan bungkusan yang ia pegang.
“Ayo masuk,” ajak Ayana.
“Sebentar ya Ayana ambilin piring dulu,” ucap Ayana sembari berjalan ke arah dapur.
Ayana pun kembali dari dapur membawa satu piring dan satu gelas air putih dingin.
“Lo mau makan nggak?” tanya Argatha dingin.
“Ayana udah kenyang,” jawab Ayana.
“Oh iya ya, tadi lo abis makan pecel lele,” ucap Argatha masih dengan nada dingin.
Ayana terdiam. Ia menatap Argatha dengan lekat, raut wajah pria itu sangat dingin, bisa dipastikan bahwa pria itu sedang mengontrol emosinya.
Argatha menyantap makanan tersebut dengan lahap, tidak peduli dengan Ayana yang terus menatapnya.
“Argatha lapar banget ya?” tanya Ayana.
“Iya.”
“Kok pecel lele gue agak asin ya? Tadi punya lo asin nggak?” tanya Argatha.
Ayana merasakan jantungnya berdegup tidak karuan, keringat dingin pun mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Ia yakin bahwa Argatha mengetahui kalau ia tadi pergi bersama Arken.
“Kok diam? Gue lagi nanya bukannya dijawab,” ucap Argatha.
“Pecel lele lo tadi asin nggak?” tanya Argatha lagi.
“Pecel lelenya enak kok,” jawab Ayana ragu.
“Oh iya ya enak, soalnya makan ditempatnya sih ya,” ucap Argatha.
“Argatha tau ya kalau Ayana abis makan disana sama Arken?” tanya Ayana memberanikan diri.
“Tau.”
“Argatha marah ya?”
“Nggak.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Pasti Argatha marah nih, soalnya Argatha jawabnya singkat banget,” ucap Ayana.
Argatha bangkit, berjalan ke dapur meninggalkan Ayana.
“Argatha mau kemana?” tanya Ayana.
“Cuci tangan.”
“Emang Argatha tau dimana wastafelnya?” tanya Ayana.
“Dari sini belok kanan, posisinya ada di sebelah kiri dekat kulkas,” jawab Argatha.
“Oke, Argatha hapal, jadi nggak akan nyasar,” ucap Ayana.
Argatha menggelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan pikiran sang pacar.
Ayana menarik napasnya panjang, ia merasa takut melihat Argatha yang sedari tadi bersikap dingin.
Argatha kembali dan duduk disamping Ayana.
“Ayana minta maaf ya,” ucap Ayana.
“Kenapa minta maaf?” tanya Argatha.
“Ayana nggak jujur sama Argatha,” jawab Ayana.
“Argatha marah ya?” lirih Ayana.
Kedua sudut bibir Argatha mengembang sedikit. “Gue pengen banget marah, tapi nggak bisa,” ucap Argatha lembut.
“Ayana minta maaf ya,” lirih Ayana.
Argatha merangkul tubuh mungil Ayana. Perlahan tangannya mengelus pucuk rambut Ayana. “Lain kali kalau pergi harus bilang ya, apalagi kalau sama Arken,” ucap Argatha.
Ayana menahan senyumnya. “Argatha cemburu ya?” goda Ayana.
Dengan cepat Argatha melepas rangkulan tangannya dari pundak Ayana.
“Lo jangan geer ya,” ucap Argatha dan Ayana berbarengan.
Ayana terkekeh pelan. “Ayana udah hapal, pasti Argatha mau ngomong itu ke Ayana,” goda Ayana.
Argatha mengacak-acak pucuk rambut Ayana gemas. “Untung sayang,” ucapnya.
“Sayang siapa?” tanya Ayana.
“Sayang lo,” jawab Argatha tersenyum.
Ayana tersenyum senang. Ia tidak pernah membayangkan kalau Argatha bisa menjadi pria seperti saat ini, mengingat bahwa Argatha sangat susah sekali untuk di dekati.
“Lo kenapa senyum-senyum?” tanya Argatha.
“Senang aja,” jawab Ayana.
“Senang aja apa senang banget?” goda Ayana.
“Senang banget lah,” ucap Ayana dengan senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya.

Komentar Buku (271)

  • avatar
    SalsabilaMutiara

    cerita nya seru, menarik, tentang remaja sma gituu

    30/04

      0
  • avatar
    bksatiqah

    sangat menarik dan perfect

    29/06/2025

      0
  • avatar
    Nissa Ayu

    bagus cerita nya

    02/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru