Bab 37

Ujian hari pertama di mulai. Seluruh murid XII di SMA Unasa masuk ke ruang ujian masing-masing.
Argatha, Ayana dan Azka menempati baris pertama, karena nama mereka berawalan A.
Soal demi soal dikerjakan dengan teliti. Tidak ada yang berani menoleh sedikitpun. Suasana ruang ujian pun sangat hening.
Dua jam kemudian..
Ujian pun selesai, semua murid SMA Unasa keluar dari ruang ujian dengan wajah frustasi.
“Gila soalnya susah banget. Yang dipelajarin materi apa, yang keluar ujian apa,” protes Aldi yang merasa tertekan dengan soal ujian yang diberikan.
“B aja,” ucap Argatha sembari membuka salah satu kancing di lengan kemejanya.
“Iya tau lo pintar!” cibir Aldi.
“Gimana tadi, bisa nggak ngerjainnya?” tanya Argatha pada Ayana dengan lembut.
“Bisa dong, kan udah diajarin sama Argatha,” jawab Ayana.
“Gue mau dong diajarin juga,” pinta Aldi.
“Gue ogah ngajarin lo,” sahut Argatha ketus.
Aldi mendesis pelan. Kalau tidak mengingat Argatha adalah temannya, mungkin Aldi sudah menghajarnya.
“Waktu pembagian otak, orang tua lo datang belakangan sih,” goda Farah.
“Sabar, nggak boleh emosi,” ucap Aldi seraya mengelus dadanya.
Sepulang sekolah mereka langsung pulang ke rumah masing-masing, tidak ada berkumpul ataupun menyempatkan diri ke makam Arken. Mereka sibuk belajar dan menyiapkan diri mereka untuk bertempur dengan ujian selanjutnya.
Ayana membolak-balikan lembaran bukunya, ia merasa sangat bosan sekali, walaupun sudah diselingi dengan menonton drakor di sela-sela belajarnya, tetap saja gadis itu merasa bosan.
“Ah, bosan banget,” Ayana menutup bukunya lalu menaruhnya di rak buku.
Ayana melemparkan tubuhnya ke tempat tidur, ia bingung harus melakukan kegiatan apa agar rasa bosannya hilang.
Drtttttt!
Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Ayana. Tertera sebuah chat dari Argatha.
Argatha Bumi Y: Semangat belajarnya cantik.
Ayana merasa ini waktu yang tepat untuk meminta Argatha menemaninya untuk menghilangkan rasa bosannya.
Ayana R Udara: Ayana bosan belajar terus.
Tak perlu waktu lama menunggu waktu lama, dalam kurun waktu kurang dari semenit, Argatha langsung membalas pesan singkat Ayana.
Argatha Bumi Y: Gue otw.
Ayana R Udara: Kemana?
Argatha Bumi Y: Rumah lo.
Kedua sudut bibir Ayana mengembang, mungkin kalau ia melihat cermin, ia dapat melihat kedua pipinya yang memerah.
“Argatha peka banget sih,” ucap Ayana dalam hati.
°°°°°
Tok! Tok! Tok!
Ayana melempar remote tv yang tengah ia pegang dan berlari ke arah pintu. Kedua sudut bibirnya terbentang saat melihat sosok Argatha yang berada di depan pintu.
“Ayo masuk,” ajak Ayana sembari menarik pergelangan tangan Argatha.
Argatha duduk di sofa dan melihat drama Korea yang tengah Ayana tonton.
Argatha menoleh sedikit ke gadis yang berada di sampingnya, “Udah belajar?” tanyanya.
“Udah, tapi lebih banyak nontonnya,” Ayana menyeringai tak berdosa.
Argatha menghela napasnya, lalu pandangannya beralih lagi ke tv. “Itu cowoknya tentara?” tanya Argatha yang mulai asyik menonton.
“Iya, gemoy banget kan?”
“Ceweknya?” tanya Argatha lagi.
“Dokter.”
Argatha menganggukan kepalanya seolah mengerti.
“Argatha emang ngerti alur ceritanya?”
“Nggak.”
Mereka berdua asyik menonton drama tersebut tanpa sadar kalau drama tersebut sudah selesai.
Argatha mematung sejenak. Kedua sorot matanya hanya berkedip tanpa bersuara sedikitpun.
“Argatha kenapa?”
Nggak nyangka gue bisa nonton drama Korea sampai ending,” ucap Argatha polos.
Ayana terkekeh sembari mencubit pipi Argatha dengan gemas. “Lucu banget sih. Emang Argatha nggak pernah nonton drakor sampai ending?”
Argatha menggeleng seperti anak kecil.
“Serius belum pernah nonton drama Korea sampai ending? Jadi ini first time?”
“Paling gue Cuma liat sedikit aja kalau kak Echa lagi nonton, gue nggak tertarik buat nonton sampai ending,” jelas Argatha.
Ayana menahan senyumnya. “Mungkin tergantung sama siapanya kali ya nontonnya,” ucap Ayana.
“Maksudnya?”
“Nonton sama Ayana ngebuat Argatha terbawa suasana, mangkanya jadi asyik nontonnya,” jelas Ayana.
“Jangan geer.”
Ayana menepuk pipi Argatha pelan. “Susah banget sih ngakuinnya,” decak Ayana.
Perlahan kedua sudut bibir Argatha mengembang. Tangannya merangkul Ayana dengan lembut. “Iya, iya, terlalu nyaman sama lo.”
“Argatha mau nonton lagi nggak?” tanya Ayana.
“Emang ada lagi?”
“Ada dong. Kali ini bukan romance,” jawab Ayana.
“Terus?”
“Kita nonton film zombie.”
“Boleh.”
Ayana segera memutar film zombie tersebut dan menontonnya berdua dengan Argatha ditemani dengan sound yang membuat mereka seperti di bioskop.
“Zombie nya mana?” tanya Argatha polos.
“Sabar, mereka naik kereta dulu,” jawab Ayana.
“Zombie nya di kereta?” tanya Argatha seperti anak kecil yang sedang bertanya pada mamanya.
Ayana menghela napasnya, menatap Argatha tajam. “Argatha kenapa jadi banyak tanya sih kayak Dora?”
Argatha terkekeh. Ia langsung mengacak-acak pucuk rambut Ayana dengan pelan. “Sekarang udah bisa balikin omongan gue ya?”
“Lagian Argatha nanya terus. Ayana sebagai orang yang udah nonton film ini puluhan kali, bahkan sampai hafal diluar nalar itu nggak boleh spoiler,” ucap Ayana sembari menyandarkan kepalanya di pundak Argatha.
“Gue penasaran aja, soalnya gue belum pernah nonton,” sahur Argatha pasrah.
Setelah dua jam satu menit..
Argatha menoleh ke gadis yang berada di sebelahnya, gadis itu tertidur dengan pulas.
Kedua sudut bibir Argatha mengembang, tangannya mengelus pipi Ayana dengan sangat lembut. “Cantik,” ucapnya.
Ayana membuka matanya yang masih sayup-sayup, lalu mengalihkan pandangannya ke tv. “Kok udah abis filmnya? Argatha nggak kenapa nggak bangunin Ayana?”
“Kata mama, kalau bidadari lagi tidur jangan dibangunin,” ucap Argatha.
Ayana mendesis pelan. “Ih, Ayana baru bangun udah digombalin aja,” decak Ayana.
“Jujur gue nggak pernah kepikiran untuk pacaran di masa putih abu-abu gue, Ay. Tapi tiba-tiba Tuhan mempertemukan gue sama lo, cewek yang pantang menyerah untuk dekatin gue, cewek yang punya tingkat kesabaran yang tinggi saat ngadepin gue, dan cewek yang selalu buka hatinya saat hatinya seringkali gue bikin hancur. Gue sayang banget sama lo, Ay.” Argatha mengecup kening Ayana dengan lembut.
Untuk beberapa saat Ayana hanya terdiam saat Argatha mengecup keningnya, hingga Argatha menjauhkan dirinya dari Ayana.
“Getaran sekolah benar-benar luar biasa,” ucap Argatha.
“Kalau Ayana udah dewasa nanti, Ayana pasti akan kangen banget sama masa sekolah, apalagi saat ngejar-ngejar Argatha,” ucap Ayana terkekeh.
Argatha tersenyum dengan hangat sembari menatap Ayana sangat lekat.
“Argatha jangan ngelihatin Ayana kayak gitu dong,” gerutu Ayana.
“Kenapa emang?” Argatha semakin mendekatkan dirinya pada Ayana.
Ayana mendorong wajah Argatha untuk menjauh darinya. “Argatha tau nggak sih kalau jantung Ayana tuh nggak aman kalau ditatap Argatha.”
Merasa gemas dengan sang kekasih, Argatha mengacak-acak pucuk rambut Ayana pelan.

Komentar Buku (271)

  • avatar
    SalsabilaMutiara

    cerita nya seru, menarik, tentang remaja sma gituu

    30/04

      0
  • avatar
    bksatiqah

    sangat menarik dan perfect

    29/06/2025

      0
  • avatar
    Nissa Ayu

    bagus cerita nya

    02/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru