logo text

Patah dan tenggelam

”Mobil Will Greyson terperosok ke dalam jurang. Saat ini beberapa petugas polisi sudah turun ke bawah dan berusaha menyelamatkan Will yang sudah tak sadarkan diri. Situasi di sini juga ramai dari kerumunan orang-orang yang penasaran. Saya Gracia Belle melaporkan dari tempat kejadian.”
Berita tentang kecelakaan Will wara-wiri di seluruh saluran televisi. Sendok yang sedari tadi Hanna pegang berdentang di atas piring. Berita itu berhasil membuatnya bergeming. 
”Will—” ucapnya dengan lirih.
Tetiba ponsel Hanna berdering. Nomor asing terpampang di layar ponselnya. Hanna sempat ragu untuk menjawab, tapi bisa saja itu kabar tentang Will.
[”Ya, halo.”
”Aku Ryan manajernya Will. Hmm, Will kecelakaan. Saat ini dia sudah dibawa ke Green Hospital.”
”Apakah dia baik-baik saja?”
”Hmm, dia tidak sadarkan diri. Aku tidak bisa bilang dia baik-baik saja. Kondisinya sangat—sebaiknya kau lihat saja sendiri. Segeralah kemari.”
”Ya, baiklah. Aku akan ke sana. Terima kasih sudah menghubungi aku.”]
Walaupun Hanna tidak menyukai sifat Will, namun tak bisa dipungkiri rasa cemas Hanna sangat lah besar. Ia segera berlalu ke rumah sakit tanpa menghiraukan rambutnya yang masih diikat berantakan dengan piyama yang masih menempel di badan.
Halaman Green Hospital penuh sesak dengan para pengejar berita. Mereka terlihat berusaha masuk ke dalam loby, namun dihalangi oleh petugas keamanan. Saat Hanna tiba di sana, seorang paparazi mengenalinya. Dalam sekejap Hanna dikerumuni dan diberondong dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
”Nyonya Hanna, bagaimana kondisi Will Greyson saat ini?” tanya salah satu dari mereka, sambil menyodorkan mic-nya ke depan wajah Hanna.
Hanna terperanjat dengan serbuan paparazi yang lebih terlihat seperti 'ayam yang melihat jagung'. Pet! Pot! Sangat berisik.
”Eh, aku—tidak tahu. Aku belum melihatnya. Jadi kumohon berikan jalan untukku. Aku sangat mencemaskan suamiku yang sedang sekarat di dalam sana,” Hanna menangkupkan kedua tangannya, lalu ia memberikan senyuman.
Kemudian Hanna meneruskan langkahnya menerobos gerombolan 'kuli tinta' itu, tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan mereka. Di depan ruang operasi, Ryan menunggu dengan gusar. Sesekali ia mengelus keningnya, terduduk kemudian kembali berdiri. Perhatiannya teralihkan saat ia melihat Hanna berlari menghampiri dirinya.
”Bagaimana kondisi Will?” tanya Hanna dengan cemas, deru napasnya tidak beraturan. 
Ryan menghela napas, ”sangat buruk. Ia mengalami patah kaki, retak tulang leher dan pendarahan di kepala. Saat ini kita hanya bisa berdoa agar Will bisa melewati masa kritis ini.”
”Ya, Tuhan. Itu sangat mengerikan. Will—” Hanna menatap kosong pintu ruang operasi. 
Ia tidak pernah menduga Will akan mengalami hal buruk seperti ini. Hanna merasa sedih karena pagi tadi sempat berkata jelek tentang Will. Tiba-tiba saja Hanna teringat dengan keluarga Will. Menurutnya orangtua Will harus mengetahui kondisi anaknya.
”Apa kau sudah menghubungi orangtua Will? Kenapa mereka tidak ada di sini? Harusnya kau mengabari mereka alih-alih diriku,” Hanna menatap Ryan sembari melepaskan ikatan rambutnya.
”Dia tidak punya keluarga. Satu-satunya keluarga dia yang aku tahu hanya kau, istrinya.”
”Apa? Tidak mungkin ia tidak memiliki keluarga seorang pun,” sanggah Hanna.
”Ya, aku juga berpikir seperti itu sebelumnya. Tapi pria ini sangat malang. Ayahnya sudah lama meninggal dan ibunya—entah di mana,” sahut Ryan lirih.
Hanna kembali menatap pintu kaca besar itu, hatinya tersentuh mendengar kisah Will. Hanna baru menyadari di balik arogansi Will, ia adalah pria yang kesepian dan malang. Seketika Hanna merasa simpati dengan Will yang tumbuh sendirian. 
”Aku tidak mengira ia punya kehidupan menyedihkan seperti itu. Walaupun ia memiliki popularitas dan kekayaan, tapi ia tidak memiliki keluarga. Itu sangat menyakitkan—”
Air mata Hanna bergulir dari pelupuk matanya. Dulu ia selalu beranggapan kalau dirinya orang yang paling tidak beruntung di dunia ini, tetapi sekarang Hanna menyadari sesuatu yang berharga. Kini ia merasa bersyukur memiliki ibunya walaupun sang ibu selalu mengomeli Hanna.
Sudah dua jam berlalu, tetapi Will belum keluar dari ruang operasi. Hanna dan Ryan semakin cemas. Mereka takut sesuatu yang buruk terjadi. Hanna menangkupkan kedua tangannya dan berdoa memohon kesembuhan Will.
”Will! Will!” teriakan Kimberley menggema di seluruh ruangan.
Kimberley baru saja tiba, tetapi sudah membuat keributan. Hanna bangkit berdiri saat melihat Kimberly datang. Sedangkan Kimberley menatap tajam bola mata Hanna. 
”Di mana Will?!” suara Kimberley terdengar tegas namun sarat rasa cemas.
”Dia masih di dalam. Bisakah kau tidak berisik? Ini rumah sakit bukan pasar.”
”Aku tahu itu,” ketus Kimberley.
Kemudian Kimberley duduk di kursi tunggu sambil berlipat tangan. Hanna tidak ingin berdebat dengan Kimberley. Ia berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok dingin yang berlapis keramik putih. Pandangannya fokus mengamati jemari kakinya yang tersembul dari sandal biru yang ia kenakan.
Beberapa menit kemudian pintu kaca di buka, seorang dokter keluar dari dalam sana. Hanna segera menghampiri sang dokter disusul Kimberley dan Ryan.
”Bagaimana keadaan Will, dok?” tanya Hanna.
Dokter melepaskan masker hijaunya dan menjawab pertanyaan Hanna, ”operasinya berjalan lancar,” sang dokter menghentikan ucapannya dan menatap Hanna dengan cemas, ”tapi—”
Kimberley menyambar ucapan sang dokter, ”kenapa dok? Ada apa dengan Will!?”

Komentar Buku (265)

  • avatar
    ShaputraDharma

    lumayan kak aku suka

    16/09/2025

      0
  • avatar
    TasyaDian

    ceritanya sangat menarik

    13/09/2025

      0
  • avatar
    CabarYohanes

    sangat seru

    12/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru