logo text

Aku atau dia?

”Dasar pria aneh.” Hanna bergegas menutup pintu. ”Sikapnya itu semakin menjadi-jadi. Ah, sudahlah. Aku harus bergegas pergi, jika tidak nanti tuan acara akan marah.”
Saat Hanna kembali ke ruang makan, tidak ada ibunya di sana. Hanna mencari Nyonya Mery di setiap ruangan sembari memakan anggur yang baru saja dia comot dari meja makan.
”Ibu! Ibu di mana?”
”Di sini! Aku di halaman belakang!” sahut Nyonya Mery dengan suara keras.
Segera Hanna beranjak ke halaman belakang. Di sana, Nyonya Mery tengah menggunting daun-daun bunga yang kering. Juga merapikan beberapa tanamanan anggrek dan mawar. 
”Lihatlah anak nakal ini. Bunga-bunga ini seharusnya kau perhatikan. Aduh! Anggrek yang malang. Tuanmu sakit dan tidak ada yang mengurusmu.”
”Hentikan itu, Bu! Kau terlihat menakutkan berbicara kepada tanaman. Lagipula Will tidak pernah mengizinkan aku mendekati tanamannya. Aku tidak peduli jika semua bunganya layu.”
”Pria saja bisa menghargai bunga dengan baik. Kau wanita sangat tidak menyukai bunga. Ah, jangan-jangan kau bukan anakku? Terkadang aku jadi iri dengan si keriting Jane. Walau ia menyebalkan, tetapi ia memiliki putri yang penurut.”
Hanna memalingkan wajahnya sambil melipat tangannya di depan dada. ”Kalau begitu, angkat saja putrinya bibi Jane jadi anak ibu. Biar ibu senang dan aku juga tenang tidak mendengar omelan ibu setiap hari.”
Nyonya Mery hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya. ”Ck!ck! Kau selalu tidak mau kalah. Aduh, untung saja kau cantik. Jika tidak, Will mana mau samamu.”
”Ibu, sudah cukup. Aku tidak mau berdebat dengan ibu. Ah, aku mau keluar sebentar—hmm, mungkin agak lama. Jadi tidak masalah kan, jika ibu merawat Will?” Hanna menelisik ekspresi wajah Nyonya Mery, berharap sang ibu tidak mengomeli dirinya lagi.
”Pergi? Ke mana?”
”Hari ini aku akan menjadi relawan di acara bright day di rumah sakit tempat George bekerja. Ya, acara untuk menghibur anak-anak yang sedang sakit keras.”
”Ya, sudah. Pergilah. Ingat, jangan lama pulang!”
Will Greyson merasa hatinya sedikit aneh. Entah mengapa ia begitu gelisah. Padahal Hanna hanya ingin bertemu George dan itu mengusik pikirannya. Berulang kali ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mencintai Kimberley. Jadi tidak ada alasan untuknya memikirkan Hanna. 
Will menyibak gorden, ia melihat Hanna pergi dari jendela. Sedikitpun pandangannya tidak bergeser. 
”Gadis rubah itu benar-benar tidak bisa dilarang. Seharusnya ia mendengarkan aku. Aku kan suaminya. Ha! Aku bisa gila. Tidak! Dia bukan siapa-siapa bagiku.” Will menarik napas panjang. ”Kau harus berpikir jernih. Ya …”
Will Greyson bergelut dengan pikirannya. Dia berusaha menyingkirkan pikiran tentang Hanna dalam kepalanya. Beberapa saat kemudian Will mendengar suara gaduh dari luar kamar. Will mengira Hanna tidak jadi berangkat. Wajahnya tersenyum puas.
Namun, sekejap ia menjadi kecewa. Itu bukan Hanna, tetapi Kimberley yang mengunjunginya. Untuk pertama kalinya, Will murung melihat Kimberley. Jantungnya tidak lagi berdebar seperti dulu. Tentu saja itu membuat Will semakin bingung dengan dirinya.
”Hai, Will.” Kimberley masuk ke dalam kamar. ”Aku senang kau sudah sehat.” Kimberley memberikan buket bunga mawar kepada Will dan berkata, ”kau tahu aku merindukanmu.”
Kimberley duduk di depan Will sembari menggeser mangkuk sup yang sudah kosong ke tepi meja. 
”Aku juga senang melihatmu, Kim.”
”Bagaimana keadaanmu? Apakah kakimu masih sakit?”
”Ya, seperti yang kau lihat.”
”Aku sudah tidak sabar untuk mengajakmu ke pantai. Kau ingat tidak, kita pernah berjanji akan pergi ke pantai itu sekali lagi saat sudah dewasa.”
Will tidak melupakan janjinya itu. Janji yang pernah mereka buat kala mereka masih anak-anak. Will terdiam sejenak lalu tersenyum tipis. Ia memutar kursi rodanya dan menuju bufet putih yang berada di sisi kiri tempat tidur. Will terlihat sedang mengambil sesuatu dari dalam bufet. Sebuah album hitam berukuran sedang dalam genggamannya. Kemudian ia kembali menghampiri Kimberley.
”Apa ini?” tanya Kimberley penasaran.
”Masa kecil kita.”
Kimberley terkesiap. Bola matanya melebar dan penuh binar bahagia. Ia tidak menyangka  Will masih menyimpan kenangan mereka.
”Kau menyimpannya? Sangat menyentuh sekali.” Ia meraih album dari tangan Will. ”Wah, coba lihat ini kau terlihat polos dan lucu. Kau selalu membawa sapu tangan biru ini. Aku penasaran. Apa kau masih menyimpan sapu tangan itu?”
”Ehm, tidak. Untuk apa aku menyimpan benda itu. Aku pria dewasa dan tidak suka hal yang sentimentil,”sanggah Will.
Sapu tangan biru milik ibunya. Hanya itu yang selalu ia bawa-bawa dulu. Sebagai pengingat dan pengobat rindu kepada ibunya. Kini sapu tangan biru itu masih tersimpan rapi di dalam kotak kayu. Will tidak mau menunjukkan sisi dirinya yang rapuh.
Kimberley mendelik. ”Benarkah? Aku tidak percaya. Mengingat, kau pernah menangis berhari-hari ketika sapu tangan itu hilang.”
”Kau masih saja mengingat itu. Kim, ehm, bukankah lusa hari pernikahanmu dengan pria pilihan paman?”
Kimberley bangkit berdiri, berjalan mengitari meja dan menuju jendela. Ia melihat pemandangan di luar dan kemudian berbicara lirih. Seolah suaranya hampir habis.
”Entahlah, Will. Aku tidak ingin. Aku tidak mencintai pria itu. Yang kuinginkan hanya dirimu, tetapi kau menikah dengan gadis itu.”
Will menghela napas. ”Kim, bukankah kita sudah membicarakan ini sebelumnya? Kau juga mengetahui itu.”
”Ya, aku tahu. Tapi bagaimana bisa aku tenang melihatmu bersamanya setiap hari. Bersentuhan dan yang terakhir aku masih sakit hati dengan perbuatan kalian waktu itu.” Kimberley menatap Will dengan penuh arti. ”Kau tepat di depanku, tetapi terasa jauh. Aku ingin memelukmu, menyentuhmu seperti masa kecil kita. Kini kita seperti orang lain. Kau tahu, setiap hari aku selalu cemas. Khawatir kalau-kalau kau jatuh cinta dengannya. Hanya membayangkannya saja membuatku serasa hampir mati.”
Will Greyson terdiam. Ia tidak punya kata-kata untuk menyanggah semua ucapan Kimberley. Ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Will juga bingung dengan perasaannya. Apakah ia masih mencintai Kimberley? Pertanyaan itu yang selalu muncul dalam pikirannya. 
Kimberley memperhatikan Will yang membisu. Pria yang di hadapannya itu adalah impian terbesar Kimberley. Namun, melihat Will hanya diam dan menundukkan muka, Kimberley kecewa. Bibirnya berkedut. Lalu ia tersenyum kecut.
”Atau jangan-jangan kau sudah mencintai dia, benarkan?”

Komentar Buku (265)

  • avatar
    ShaputraDharma

    lumayan kak aku suka

    16/09/2025

      0
  • avatar
    TasyaDian

    ceritanya sangat menarik

    13/09/2025

      0
  • avatar
    CabarYohanes

    sangat seru

    12/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda