Beranda/Cinta Terhalang Restu Abi/
Part 10. Perang Dingin
aku rindu momen-momen seperti ini bersamamu Isyah. Aku pastikan momen ini akan selalu aku rasakan setiap pagi, siang, dan malam," batin Malik dan melajukan mobilnya yang sudah terbebas dari padatnya jalanan ibu kota Jakarta.
Mobil masih bergerak. Keheningan terjalin di sepasang manusia yang duduk di dalam mobil itu. Hanya suara klakson mobil yang memadati jalanan kota yang terdengar ditelinga Malik dan Aisyah.
"Oh iya Isyah...."
"Ada apa?" Aisyah secepat kilat menoleh pada Malik. Pria yang masih menjadi raja dalam hatinya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku sayang," ujar lembut Malik dengan menoleh cepat ke arah Aisyah lalu kembali fokus ke jalanan yang padat dengan truk, dan kendaraan roda empat lainnya.
"Oh iya Malik. Apa restorannya masih jauh?" tanya Aisyah mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sebentar lagi," jawab Malik dengan pandangan masih fokus ke depan, "katakan ... Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan Tito? Setahuku kamu dulu tidak terlalu akrab dengan anak itu."
"Tito? Apa Tito yang kau maksud Bagas?. Sebenarnya tidak ada yang sepesial. Kami hanya sering berbalas pesan. Itupun karena Abi menyuruhku,' jelas Aisyah jujur dan kejujurannya itu membuat sedikit rasa kesal dan tidak suka bersarang di hati Malik.
'Bagas?' Malik menyinggung senyum misterius membuat Aisyah sedikit ada rasa takut.
"Ada apa? Kenapa kamu tersenyum seperti itu?"
"Tidak ada sayang. Aku hanya bingung dengan sikap Abi sialanmu itu. Kenapa dia mengizinkan Tito mendekatimu?" tanya Malik dengan pandangan fokus ke jalanan kota Jakarta yang masih padat di jam pulang kerja seperti ini.
"Malik bahasamu itu loh. Coba jika menyebut nama orang yang lebih tua itu dengan sopan. Apa didikan keluarga dan pak ustadz di pondok dulu tak pernah kau resapi?" ceramah Aisyah dan membuat Malik menghembuskan nafas.
"Baiklah sayang. Katakan, apa yang Tito lukakan sehingga membuat Abi tercintamu itu luluh?" ujar Malik dengan nada di baik-baiki membuat Alya menggelengkan kepala.
"Dia tidak berbuat apa-apa. Sebenarnya Abi yang memberikan nomer Tito padaku. Dulu waktu Abi memberikan nomer Tito, aku tak mengetahui nomer itu milik dia," jelas Aisyah panjang lebar membuat Malik mengetukkan jari telunjuknya di kemudi mobil.
"Apa kamu ada rasa padanya?"
"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku mencintai Pria la-"
"Bagus begitu lebih baik. Aku percaya padamu karena aku tahu hanya namaku yang ada di hatimu," potong Malik dengan nada lembut. Perkataannya itu berhasil membuat Aisyah memerah dan membuang pandangan ke luar.
"Apa kamu mengetahui nama lengkap Tito?" tanya Malik dan langsung mendapatkan anggukan dari Aisyah.
"Kalau tidak salah namanya Tito Bagaskara," jawab Aisyah dengan menyinggung senyum membuat Malik mengangkat satu ujung bibirnya.
"Apa hanya itu? Maksudku dia tidak memberitahukanmu nama setelah Bagaskara itu?" tanya Malik dan Pria itu langsung mendapat anggukan dari Aisyah, 'jangan mencoba merebut milikku brengsek,' batin Malik dengan masih setia mengangkat satu ujung bibirnya.
Pria itu memutar kemudi ke kanan tepat masuk ke sebuah restoran outdoor bernama Restoran Mentari.
***
Suasana restoran Mentari sudah dipenuhi banyak pengunjung. Termasuk Layla dan teman-temannya yang sudah duduk di tempat paling ujung restoran. Di sana Layla dan teman-temannya sudah berkumpul minus Malik dan Aisyah pastinya.
"Astaga kenapa mereka berdua lama sekali. Hampir adzan magrib mereka masih belum sampai," gerutu Layla.
"Kayak Lo puasa aja nunggu adzan," timpal Elsa membuat semua orang terkekeh.
"Oh iya Lay. Bukankah Aisyah akan berangkat bereng lo? Lalu kenapa Lo ada disini duluan?" tanya Tito dan membuat teman-temannya yang lain saling memandang.
Siapa yang tidak terkejut jika seorang Tito Bagaskara bicara sangat panjang. Padahal pria itu terkenal dingin, pendiam, pelit ngomong. Palingan Pria itu hanya bicara jika ada yang mengajaknya, dan dia akan diam jika tidak ada yang berbicara dengannya.
"Tumben lu ngomong panjang lebar To," cicit Rama dan langsung mendapatkan lirikan tajam disertai aura dingin yang terpancar dari mata pria itu, "biase aja tuh mata, serem bener," sindir Rama dan Pria itu langsung mendapat tatapan mengintimidasi dari Tito.
"Niatnya sih gitu. Tapi si Rama Dateng ke kantor gue dan ngajakin berangkat bar- eh itu mereka." Layla langsung melambaikan tangan saat melihat Aisyah celingak-celinguk.
Aisyah yang melihat Layla langsung ikut melambaikan tangan dan berjalan cepat ke sana. Malik yang melihat itu hanya menggelengkan kepal. Pria itu mengikuti langkah cepat Aisyah dengan langkah lebarnya.
Sementara Tito yang mendengar Layla menyebut mereka langsung menolehkan kepala ikut melihat siapa gerangan yang datang. Mata Pria itu berhasil membulat kala dia melihat Malik dan Aisyah datang bersamaan.
Pria itu langsung berdiri dari duduknya. Tatapan tajam langsung dia arahkan untuk Pria yang tengah berjalan di belakang Aisyah dengan terus menyinggung senyum sok tampan, walau memang Malik itu tampan. Tapi, percayalah ketampanan yang dimiliki Tito tidak kalah dengan Malik. Tito, Pria yabg dikenal duplikat kutub utara yang memilik rambut hitam sedikit bergelombang dengan cukuran rapi, mata hitam pekat yang selalu memancarkan tatapan dingin, bibir merah sensual, dan rahang yang kokoh dihiasi bulu halus itu membuat ketampanan Tito Bagaskara begitu nyata.
Berbeda dengan Malik Putra Narendra si Pria sombong, tengil, brengsek, dan tampan tentunya. Pria itu tersenyum sangat tampan saat ini
"Aisyah, kenapa berangkat dengan Pria?" tanya Tito dingin disertai aura keposesifan yang berhamburan keluar dari Pria itu.
Gadis yang tadinya ingin berjalan memeluk Layla itu berhenti tepat diantara Tito dan Malik. Aisyah menundukkan kepala mulai menautkan jari telunjuknya karena merasa gugup. Pasalnya dia tahu kalau Tito sangat dekat dengan Abi ya, walau gadis itu belum pernah melihat Abi dan Tito bertemu. Aisyah menyimpulkan kalau Tito sangat dekat dengan Abi ya, karena sikap Abi yang jika berduaan dengan Aisyah selalu membicarakan tentang Tito.
"Apakah salah Isyah datang dengan kekasihnya?" jawab Malik dengan pertanyaan dengan tatapan mata tak kalah tajam dengan Pria di depannya ini.
"Aisyah, aku bertanya padamu." Tito tak menggubris ucapan Malik dan memilih melihat Aisyah yg menunduk.
"I...iya, tol-...."
"Apa kamu tahu apa yang akan Abi lakukan padamu jika mengetahui berduaan dengan Pria asing?" tanya Tito dengan masih bernada dingin tanpa ekspresi. Namun percayalah Pria itu sekarang tengah khawatir. Pasalnya dia tahu betul sikap Abi jika Aisyah membelok dari ajarannya.
Aisyah terdiam. Hening semua pengunjung restoran jiga ikut terdiam dan teman-temannya juga diam menyaksikan perseteruan diantara Tito, Aisyah, dan juga Malik. Sunyi hanya suara pengajian dari masjid-masjid sekitar yang menandakan adzan magrib akan segera berkumandang.
"Pria asing? Kaulah yang Pria asing disini. Aku kekasih Isyah, dan bukan pria asing!" timpal Malik dan bergerak menggenggam jemari Aisyah yang sudah dipenuhi keringat dingin.
Tito mengangkat satu sudut bibirnya. Pria tanpa ekspresi itu menatap remeh Malik yang tengah menggengam jemari lentik Aisyah, "apa gue tadi nggk salah dengar? Kau tadi bilang pacar yah? Atau mantan pacar," senyum meremehkan terlihat jelas di wajah Tito.
Malik yang mendengar itu mulai mengepalkan tangan. Sudah cukup dia bersabar, sudah cukup dia menahan kesal dan orang yang ada di hadapannya ini sudah membuat dia merasa muak. Dia sudah bersiap melangkahkan kaki mendekat ke Tito, namun Aisyah mengeratkan genggaman tangannya dan membuat Malik terdiam menghentikan langkah. Pria itu menoleh ke arah Aisyah, dan matanya langsung melihat Aisyah menggelengkan kepala.
Aisyah mengurai genggaman tangan Malik. Gadis itu melangkah mendekati Tito yang masih berekspresi datar dan dingin tentunya, "Tadi aku sudah berniat menghubungi Abi saat aku tidak melihat mobil Layla disana. Tapi, Malik mengajakku untuk berangkat bersama. Percayalah aku sudah menolak, tapi Pria itu memaksaku ikut bersamanya."
"Aku percaya Aisyah. Aku hanya khawatir, bagaimana jika Abimu sampai tahu hah?" Ujar Tito dengan nada yang masih sama dan ekspresi yang datar. Apa pria itu aneh, baru saja dia mengatakan kalau tengah khawatir tapi, raut wajahnya tidak ada tanda-tanda kekhawatiran.
"Biar Abimu tidak curiga, pulang nanti akan aku antar bagaimana?" ajak Tito dan perkataannya itu langsung membuat Malik mengepalkan tangan kuat. Habis sudah kesabaran Pria bertemperamental itu. Dia sudah tidak bis lagi menahan hasrat ingin memukul wajah pria di depannya itu.
"Isyah datang dan akan pulang bersamaku!" teriak Malik menggelegar dan setelah teriakannya itu suara Adzan magrib berkumandang memenuhi kawasan kota Jakarta.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (130)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Cerita yang bagus sekali! Bisa dipelajari disini bahawa kita sebagai anak harus selalu jujur sama orangtua ✨
17/01/2022
1it's oky good bangt.. menarik
13/07/2025
0meloww sekalii
09/05/2025
0Lihat Semua