Setelah kejadian kedatangan Malik dengan riangnya waktu terus berjalan, diikuti hari yang juga terus berganti, serta bulan-bulan juga ikut berubah hingga tak terasa sudah satu tahun Tito dan teman-temannya bersekolah di pondok pesantren Khaliyah itu. "Bro Tito," panggil Reno yang saat ini tidur di kasur bagian atas dibawah Tito. Di asrama pondok pesantren ini. Setiap kamar asrama pria atau wanita diisi oleh dua orang santri seperti saat ini Tito dan Reno sudah sekamar selama satu tahun lamanya. "Apa," jawab Tito biasa saja sembari menghilangkan fokusnya dari buku yang ada di pangkuannya. Reno memunculkan bagian kepalanya dari atas untuk melihat Tito yang tengah duduk sembari bersandar di kepala ranjang, "Benarkah kau dan Rendra sepupuan?" Tito hanya mengangguk sebagai jawabannya dan membuat Reno juga ikut mengangguk. "Tapi aku tak melihat kau akrab sedikitpun," ujar Reno lagi dan membuat Tito mengangkat satu alis matanya. "Kami berdua memang tak terlalu akrab tapi, kami sering bertemu saat pertemuan keluarga," jelas Tito dan kembali fokus dengan buku catatannya. "Sudah setahun kita saling mengenal dengan anak itu. Apa kelakuannya dari dulu sudah seperti itu?" tanya Reno dan membuat Tito kembali menaikkan satu alisnya bingung. "Maksud lo?" "Ma...maksud gue yah, bajingan. Lo tahukan Rendra itu bersikap sangat bajingan, apa dia sedari kecil seperti itu?" tanya Reno penasaran. Mendengar itu Tito menaikkan satu sudut bibirnya. "Setahu gue sih gitu. Kakekku bilang kalau sikapnya itu menurun pada ayahnya. Dulu sewaktu remaja ayahnya nggk kalah bajingan dengan dirinya tapi, sudahlah gue nggk mau mengurus kehidupan orang lain," jelas Tito dengan wajah datar. "Aku juga penasaran ... aku penasaran kenapa bisa kau berwajah datar seperti itu bro Tito?" tanya Reno dengan terkekeh di akhir membuat Tito menyinggung senyum. "Kurang ajar, jaga bicaramu Ren," ujar Tito dan mereka berdua terkekeh, "dari pada lo ngomong nggk jelas seperti itu ... lebih baik lo tidur." Dengkuran langsung menyambut perkataan Tito dan membuat Pria itu menggelengkan kepala. Tito kembali fokus melihat ke arah buku. Dengan tersenyum Tito mulai menorehkan pena bertinta hitam di atas buku berwarna putih tanpa noda. Senyumnya semakin tersinggung saat mengingat kejadian awal di mana dia tak sengaja berpapasan dengan Aisyah. 03 Januari. Hai gadis bercadar tapi, kenapa kau harus melepas cadarmu hanya karena perintah dari dia pujaan dirimu. Padahal kau terlihat sangat cantik saat menutupi wajahmu dan hanya memperlihatkan mata hitam legam mu itu. Aisyah ... sudah satu tahun telah berlalu, dan sudah satu tahun pula aku hanya bisa melihatmu secara diam-diam. Aku hanya bisa melihat senyummu yang tersinggung tapi, senyum itu bukan untukku. Aisyah ... apakah dirimu tahu kalau ada seorang Pria lagi yang lebih mencintaimu dari Pria yang bersamamu sekarang ini? Mungkin kau tidak mengetahuinya tapi, melihat senyummu itu saja aku sudah merasa senang. Aisyah ... untuk saat ini aku diam tapi, jika dia mencoba menyakitimu atau membuat senyum di wajahmu itu luntur. Aku akan mengambil dirimu darinya. To: Aisyah Putri Rasyid, cintaku, hidupku, duniaku. Tito menutup buku diary miliknya dan langsung meletakkannya dibawah bantal. Pemuda berparas tampan itu berbaring dengan kedua tangan berada diatas bantal. Tito memejamkan mata. Bibirnya bergerak seolah berbisik pada sang angin. Tito kembali membuka mata dan kedua tangannya langsung memeluk guling. Dengan tersenyum Tito perlahan menutup kelopak matanya. Dalam hati Pemuda itu berharap kalau pesan yang dia titipkan pada sang angin sampai pada penerimanya. Tito bergerak tidur menyamping, "Aisyah selamat malam dan mimpi indah." Dengan masih memejamkan mata Tito bergumam. Suasana kamar kedua orang pemuda itu menjadi sunyi. Hanya dengkuran saja yang terdengar di dalam kamar mereka berdua. *** Setelah kejadian malam itu Tito masih setia menjadi seorang pemuda yang hanya bisa melihat pujaan hatinya bersama seorang Pria yang pujaan hatinya cintai. Hingga dimana hari kelulusan telah tiba tapi, Tito masih tetap sama. Pria itu masih menyukai apa yang dia lakukan saat ini walau hatinya sedikit serasa sakit saat melihat itu semua. Malam yang sunyi, di sebuah asrama yang sama seperti malam di mana Tito mengirimkan pesan untuk Aisyah pujaanny yang pemuda itu titipkan di angin malam yang kala itu. Tito masih duduk di kursi belajarnya ditemani remang lampu yang hanya menyinari area meja belajarnya. Pemuda itu menolehkan kepala saat mendengar dengkuran halus yang keluar dari Reno, pemuda yang sudah menjadi temannya tiga tahun terkahir ini. Tito sangat berhutang pada pemuda itu. Karena pemuda itu Tito mempunyai teman, dan tidak merasa kesepian seperti waktu dia bersekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Tito kembali fokus pada buku yang setahun yang lalu dia gunakan untuk menulis tentang Aisyah. Pemuda itu mulai bergerak mencoret-coret buku putih bersih itu, dengan tinta pulpen hitam. 09 Mei Hai Aisyah ... kau tahu aku tidak pernah absen menyapamu dari tulisan. Sebenarnya aku ingin sekali menyapamu dan mengatakan "hai gadis cantik. Aku suka kau memakai cadar seperti awal kita bertemu" tapi aku tak bisa mengatakan hal itu karena pujaanmu itu. Aisyah ... tidak terasa pekerjaan menguntitku ini akan berakhir besok. Pasti aku akan sangat rindu saat membuntutimu seperti itu. Sebenarnya aku sangat ingin menemuimu lalu bercerita bahwa besok aku akan melanjutkan sekolahku di luar negeri. Tapi, apa kau akan mau duduk bersama dan mendengarkan ceritaku disaat kau tak mengenalku. Ironi sekali bukan, aku tahu semua tentangmu tapi kau tak tau tentangku. Lewat tulisan ini aku akan mengucapkan selamat tinggal. Aku berharap bertemu denganmu kembali, walau aku tau saat bertemu kelak kau mungkin sudah bersama dengan dia. Aisyah ... percayalah walaupun aku pergi dan tak menetap disini. Aku pasti akan selalu mengingatmu, mengingat kau wanita yang aku cintai namun tak bisa aku miliki. Sampai jumpa dan selalu bahagia dengan dirinya yah Aisyahku. To: Aisyah Putri Rasyid, wanita yang tak bisa aku gapai. Malik menutup bukunya. Pria itu memejamkan mata dengan punggung bersandar di sandaran kursi, "Kata-kata yang indah," ujar Reno membuat Tito tersentak. "A...apa yang lo lakukan? Sudah berapa lama lo berdiri disini?" tanya Tito terkejut. "Tidak perlu terkejut dan mengeluarkan ekspresi jelek itu. Sudah aku mau bertemu Linda dulu. Semangat sobat, aku mendoakan semoga Lo bertemu jodoh yang lebih baik dari Aisyah," ujar Reno dan langsung melangkah keluar. Sebenarnya pria itu terbangun karena tadi mendapatkan pesan dari Linda untuk menemui dirinya. Reno sedikit terkejut saat melihat Tito yang masih duduk di kursi meja belajarnya. Merasa penasaran, pemuda itu mendekati Tito dan Tito yang fokus merangkai kata tak mengetahui kehadiran Reno. Tito menyinggung senyum saat tubuh sahabatnya tidak lagi terlihat, "bagiku tidak akan ada wanita yang melebihi Aisyah," ujar Tito pasrah dengan nasib cinta pertamanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (130)
Shazarina
Cerita yang bagus sekali! Bisa dipelajari disini bahawa kita sebagai anak harus selalu jujur sama orangtua ✨
Cerita yang bagus sekali! Bisa dipelajari disini bahawa kita sebagai anak harus selalu jujur sama orangtua ✨
17/01/2022
1it's oky good bangt.. menarik
13/07/2025
0meloww sekalii
09/05/2025
0Lihat Semua