Putih abu-abu adalah masa dimana para remaja mencari jati diri. Masa dimana para remaja mulai berteman lebih dekat dengan dunia luar. Sekarang LIVE COALS sedang berada di kantin. Menikmati nasi goreng dan Es Milo buatan bi Surti. Cewek berambut sebahu itu masuk ke dalam kantin yang saat ini sedang ramai-ramainya. Berjalan dengan badan tegap dan di lengkapi dengan senyum yang terus mengembang. Clara Natalia, cewek bule yang selalu menjadi pujaan para siswa di SMA Unjulan Bangsa. Sifat ramah yang ia miliki semakin membuat dirinya di sukai banyak orang. Setelah memesan makanan, Clara berjalan menuju meja kosong. Bermain ponsel sembari menunggu pesanannya jadi. "Sendiri aja?" tanya Rafi, teman kelasnya. "Kan dari dulu sendiri bego," jawab Clara sedikit tertawa. "Cari pacar makanya biar gak kesepian." "Gak mau pacaran maunya langsung nikah," ucap Clara ngaur. Banyak yang kedua lnya bahas sampai-sampai Clara dan Rafi tertawa, Clara adalah wanita yang Humble sehingga jika orang berbincang dengannya tidak merasa canggung. Semua yang Clara lakukan sejak tadi terus dalam pengawasan Arkan. Jika saja bukan di sekolah maka Arkan akan mematahkan kaki Rafi karena beraninya membuat Clara tertawa. Tidak ada yang boleh menjadi alasan Clara tersenyum apa lagi tertawa selain diri nya. Egois? Memang Arkan sadar kalau dia Egois. Tapi ini lah faktanya, fakta bahwa Arkan tidak ingin miliknya di miliki oleh orang lain. Arkan merasa panas di tempatnya. Ia pun mengeluarkan ponsel kemudian mengetik pesan untuk Clara. Pindah tempat sekarang juga atau tidak gue buat Rafi gak bernapas lagi. Begitulah pesan yang Arkan kirimkan untuk Clara. Dari tempatnya Arkan melihat Clara langsung pindah tempat setelah membaca pesan yang ia kirim. "Egois," sindir Bima. Karena terlalu fokus pada Clara, Arkan tidak menyadari ternyata gerak-geriknya sedari tadi di perhatikan oleh sahabatnya. "Kenapa lo pada liatin gue kayak gitu." Arkan kesal jika ia harus mendapat tatapan tajam dari sahabatnya. "Sampai kapan sih Ar lo terus berkelana di dunia lo?" ucap Reklin. "Lo udah punya pacar sekarang, sampai kapan lo mau main terus?" Bima menatap datar Arkan. "Andai saja semua orang tau kalau si mantan ketua osis yang sangat mereka dambakan dan puja-puja ternyata si bangsat yang tidak mempunyai hati, pasti udah lama lo di santet masal," ucap Nabil asal. "Kalo lo gak bisa bahagiain Chika mending lo putusin dari sekarang, kalau gak bisa buat anak orang bahagia setidaknya jangan buat anak orang terluka," Kata Arga. "Gue sayang dan cinta Chika sama seperti gue sayang dan cinta pada Clara," ucap Arkan enteng. "Lo gak bisa mengistimewakan dua nama dalam satu hati secara sekaligus," ujar Nabil. Arkan diam. Arkan sendiri tidak tau apa yang sedang terjadi. Semua yang ia katakan benar, ia mencintai Clara dan Chika. Arkan ingin keduanya, Arkan tidak bisa melepas Chika maupun Clara. Kenapa semuanya menjadi serumit ini. ~~~ Malam minggu adalah malam yang paling ditunggu-tunggu untuk orang yang memiliki pacar. Malam ini Arkan dan Chika akan jalan jalan berdua. Pasar malam adalah tempat mereka malam ini. Keduanya mencoba berbagai macam wahana, tertawa lepas di bawah langit malam yang di hiasi bintang dan rembulan. "Jangan pernah tinggalin gue Chik, gue cinta banget sama lo," ucap Arkan menatap lekat wajah cantik Chika. Saat ini keduanya sedang berada di wahana biang lala. Wahana itu terus berputar membawa manusia ke titik paling tinggi dan titik paling rendah. "Harusnya gue yang bilang gitu ke lo. Jangan pernah hadirkan wanita lain di hati lo, karena sekarang di hati lo hanya boleh ada satu nama, yaitu gue, Chika Lutfi." Arkan mengangguk kemudian memeluk Chika seakan tidak ingin melepaskan wanita itu. "Disini," Arkan membawa tangan Chika menyentuh dada bidang miliknya. "Hanya ada nama lo, Chika Lutfi." Chika hanya diam tidak berkata apapun, mempercayakan semua pada Arkan, memepercayakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mempercayakan bahwa Arkan tidak akan bermain wanita tanpa sepengetahuannya. Bianglala adalah wahana penutup yang Arkan dan Chika coba malam ini. Setelah makan keduanya memutuskan untuk pulang karena sekarang sudah menunjukan pukul 10.00 malam. "Langsung pulang ya, jangan belok sana belok sini lagi," ucap Chika saat keduanya sudah tiba di depan rumah. Arkan mencium singkat bibir Chika karena gemas melihat Chika yang terlalu banyak mengomel. "Iya sayang, masuk sana," titah Arkan. Chika pun keluar dari mobil Arkan. Setelah memastikan Chika benar-benar sudah masuk, Arkan pun menancapkan gas menuju sebuah apertemen. Setelah tiba di tempat yang ia inginkan, Arkan pun segera masuk kedalam kamar yang selalu menjadi favoritnya. Gelap, hening. Dua kata yang mendeskripsikan suasana pada saat Arkan masuk ke dalam kamar apertemen tersebut. Tidak ada orang, sunyi. Sekarang sudah jam 10.45 malam, tapi kenapa Clara tidak ada di kamarnya. Arkan berulang kali menelpon wanita itu, tapi hasil nya nihil, tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Arkan memutuskan menunggu si pemilik Apertemen pulang. 20 menit menunggu akhirnya orang yang Arkan pikirkan sedari tadi pun tiba. "Dari mana lo!" tanya Arkan tajam. "Ngapain lo disini," Clara balik bertanya. "Gue tanya, dari mana?!" "Apa penting buat lo?" Malam ini penampilan Clara berantakan, mata Clara sembab, sepertinya ia baru saja menangis. "Lo nangis?" "Jangan peduliin gue lagi Ar, lo main terlalu jauh, lo gak boleh gini, lo udah punya pacar, lo harus pergi jauh dari hidup gue Faisal Arkananta!" ucap Clara berteriak kemudian menangis. Arkan tidak mengerti apa yang terjadi, tadinya Arkan ingin marah karena Clara pergi tanpa memberi kabar padanya, tapi setelah melihat Clara sedang tidak baik-baik saja Arkan memilih mengalah. "Clara, lo kenapa? Cerita ke gue." "Pergi dari hidup gue Ar, menjauh dan menghilang. Jangan buat gue semakin menjijikan karena terus dekat dengan pacar orang." Arkan diam. "Lo tau gak? Gue hancur Ar. Sakit banget rasanya saat liat orang yang disayang dan dcinta ternyata sudah menjadi milik orang lain." "Lo pernah bilang ke gue kalau lo gak akan pacaran karena takut bikin anak orang terluka, trus lo pikir dengan merenggut keperawanan gue itu gak menyakitkan Arkan?" "Gue kasih perawan gue untuk cowok yang sama sekali tidak bisa di pegang ucapan dan janjinya, gue tidur dengan lo, gue layani lo dan ujungnya lo malah bahagia dengan yang lain." Clara terus berteriak sambil menangis, menumpahkan rasa sakit yang ia rasa kan saat ini. "Dari kelas 10 gue udah gak perawan Ar, lo renggut hal yang paling di jaga oleh orang tua gue, saat itu rasanya begitu menyakitkan karna di lecehkan oleh sahabat sendiri." "Awalnya gue mau benci sama lo, orang yang paling gue percaya, orang yang gue anggap bisa menjaga gue saat gue jauh dari orang tua gue ternyata orang yang juga merusak kohormatan gue. "Clara," ucap Arkan pelan. "Gue pernah tanya sama lo, sebenarnya perasaan lo ke gue itu gimana, dan lo jawab kalo lo cinta sama gue, lo sayang sama gue, tapi lo gak mau merubah status dari sahabat menjadi pacar karna lo takut bikin gue terluka, tapi sekarang apa? Bullshit, lo pacaran dengan wanita lain." Arkan mengusap kasar wajahnya. Bukan ini yang Arkan inginkan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
beeeest
23/03/2025
0msnrap
23/03/2025
0bagus
09/08/2024
0Lihat Semua